Dendam Masa Lalu ( PTSD Part 1 ) Tagur hari ke 31
#TantanganGuruSiana
.
Mata Dion menatap ke lapangan futsal yang berada di samping sekolah. Anak-anak yang berkerumum melihat suatu tontonan membuat dia tersenyum. Sebagian anak-anak ada yang bersorak memberi semangat melihat pertunjukan gratis siang itu dan sebagian lagi ada yang menjerit-jerit ketakutan. Teriakan dan sorak-sorai anak-anak berseragam abu-abu itu sangat heboh lebih heboh dari suara pasar malam
Ada perasaan senang dan puas di hati Dion melihat kehebohan siang itu. Betul-betul suatu tontonan yang sangat menarik dan menghibur bagi Dion
Beberapa orang anak perempuan nampak keluar dari kerumuman dengan wajah kelelahan, mereka berlari menuju ruang majelis guru. Tak lama kemudian Ibu Siska wakil kesiswaan, Pak Andi pembina OSIS dan beberapa orang guru keluar menuju lapangan futsal tempat pertunjukan berada. Ibu Siska yang berlari tergopoh-gopoh membawa badannya yang banyak lemak kelihatan sangat lucu. Senyum Dion tambah melebar melihat pemandangan itu. Betul-betul menggelikan, guman Dion.
“Dion, loe nggak ke sana,” Radit yang tiba-tiba datang mengagetkan Dion.
“Ngapain ke sana? Harus emangnya?.” Dion mengalihkan tatapannya ke wajah Radit. “Ada apa di sana?” sambungnya lagi.
“ Loe nggak tahu ya Dion, itu si Alexa dan Gendis berkalahi karena loe.”
“Emang gue pikirin, salah mereka sendiri. Ngapain berkelahi gara-gara gue,” Dion menjawab cuek.
“Mereka tu berkelahi memperebutkan loe, Dion. Masa loe nggak tahu. Loe kan ikut terlibat. Bentar lagi loe dipanggil sama Ibu Diah,” Radit berkata lagi. Ibu Diah adalah guru konseling di sekolah mereka.
Dion diam tak menjawab perkataan Radit. Netranya mengarah ke arah lapangan futsal. Kerumuman yang tadi ramai nampak sudah mulai bubar. Beberapa orang anak nampak bergerombol membahas tontonan seru tadi. Alexa dan Gendis bintang utama perkelahian tadi digiring oleh Bu Siska dan Pak Andi menuju ruang konseling. He...he.. pasti mereka disidang. Dion tersenyum puas.
Dion kelihatan sangat senang. Setiap melihat ada perkelahian antara perempuan Dion merasa paling bahagia. Yap... sudah lama Dion merasakan keanehan seperti ini dalam dirinya. Dion tak tahu entah ini penyakit apa bukan.
Melihat anak-anak perempuan mendapatkan masalah hatinya gembira. Melihat anak-anak perempuan berkelahi dia akan tertawa. Apalagi jika perempuan itu berkelahi memperebutkan dirinya. Dion merasa sangat bangga.
Terlahir dengan wajah yang ganteng, kulit putih bersih dan mata yang hitam membuat Dion banyak disukai teman-teman perempuan di sekolahnya. Bodinya yang atletis dan bintang basket sekolah menambah nilai plus Dion.
Tidak itu saja otaknya yang encer dan pandai berorganisasi melengkapi kesempurnaanya. Dion Aji Prayoga adalah bintang di sekolahnya. Tak heran banyak anak-anak perempuan di sekolah itu yang berusaha menarik hatinya. Pesona Dion betul-betul melenakan sabagian dari siswa perempuan di sekolah itu.
Penggemar Dion tidak saja yang seangkatan dengan Dion siswa kelas XI. Adik-adik kelas dan kakak-kakak kelas juga ikut berlomba menarik hati Dion. Bermacam cara mereka praktekan untuk memikat Dion.
Tapi tak sedikitpun Dion menampakan sikap menerima salah satu rasa dan pengharapan dari penggemarnya. Dion selalu ramah kepada semua fans-fansnya
Sikap Dion yang seperti itu sering disalah artikan sama penggemarnya. Sebagian dari mereka ada yang salah mempersepsikan sikap Dion, mereka beraggapan bahwa Dion juga mempunyai rasa yang sama seperti mereka.
Dihati kecil paling dalam sejujurnya Dion sangat benci dengan yang namanya kaum perempuan. Bagi Dion perempuan itu tidak lebih dari makhluk lemah yang menyebalkan dan hanya pandai menyakiti perasaan saja. Tapi tak ada seorangpun yang tahu apa yang ada dibalik pikiran Dion. Dion sangat pandai menutupi perasaanya.
Dari masih sekolah taman kanak-kanak setiap melihat anak-anak perempuan bersedih, menangis atau menjerit Dion sangat senang, tidak ada sedikitpun rasa iba dan empati dihatinya. Bagi Dion itu memang pantas didapatkan anak perempuan.
Tidak ada yang membuat Dion merasa bangga dan hormat kepada makhluk yang bernama perempuan. Termasuk kepada guru-guru perempuan di sekolah. Sikap hormat dan patuh pada guru-guru perempuan diberikan Dion hanya kamuflase saja. Kepura-puran yang sempurna dimainkan Dion.
.
bersambung
Dumai, 29-04-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan