Dendam Masa Lalu ( PTSD ) Part 2 Tantangan hari ke 32
#Tantangangurusiana
Perut yang dari tadi bernyanyi membuat Dion mengajak Radit ke kantin. Suasana kantin cukup ramai karena jam istirahat belum usai. Langkah mereka menuju kantin terhalang karena Delia, Devia dan Sisil. Tiga cewek cantik yang terkenal dengan trio D2S menghadang jalan Dion dan Radit.
“Hai Dion,” Sisil menegur dengan gaya centil. Dion tersenyum menatap tiga bidadari di depannya.
“Eh.. Sil, kok loe cuma negur Dion doang, kan gue juga ada disamping Dion, tegur gue juga dong, Sil” Radit yang berjalan dengan Dion protes kepada Sisil.
“Hei... loe tak penting, ngapain gue tegur loe,” Sisil menjawab sambil mencibir ke arah Radit
“Awas loe ya, ntar gue pelet loe biar ngemis-ngemis minta jadi cewek gue,” Radit menjawab sewot.
Ketiga cewek itu cekikikan mendengar jawaban Radit.
“Loe mau jadi cowok kami ya Radit..., tuh muka loe di oplas dulu biar kece kayak Soon Joong Ki atau Lee Ming Hoo, baru daftar jadi cowok kami.” Delia berkata diiringi tawa dua sohibnya. Radit nampak keki sekali mendengar ucapan Delia. Dia tak rela disamakan dengan dua cowok Korea tadi. Karena Radit merasa lebih ganteng dari bintang film Korea tersebut.
“Udah....udah jangan berkelahi. Princes yang cantik-cantik, izinkan saya dan Radit lewat ya kami mau ke kantin ,” Dion dengan senyum menawannya menegur tiga cewek centil yang menghalangi jalan mereka berdua.
Ketiga cewek itu tersenyum senang. Devia mendengar Dion mengatakan mereka princes cantik hampir tumbang mendengar pujian Dion, untung cepat dipapah oleh Sisil dan Delia.
“Kita-kita boleh bareng nggak ke kantinnya, Dion?” Devia dengan gaya menggoda merayu Dion.
Dion menatap sahabatnya. Radit yang ditatap Dion memperlihatkan wajah keberatan . “Gimana ya.... Lain kali aja ya Devia, soalnya ada yang mau saya bicarakan dengan Radit. Secret soalnya.” Dion menolak halus.
Ketiga cewek itu menatap Dion kecewa. Tapi mereka tak bisa memaksa Dion. Sebagai teman sekelas mereka paham sifat Dion. Dion tidak suka dipaksa. Dengan menahan rasa kecewa mereka bertiga mempersilahkan Dion dan Radit berlalu dari hadapan mereka.
*****
Dion dan Radit makan berdua tampa suara. Dalam segala hal Dion selalu kompak dengan Radit. Dimana ada Dion disitu ada Radit. Banyak kesamaan antara mereka berdua. Selera makanan, musik dan gaya berpakain Radit mirip Dion. Hanya satu yang tidak mirip Dion memliki wajah yang ganteng lebih banyak sedangkan Radit gantengnya lebih sedikit.
“Gue heran sama loe lho Dion, ngapa tak loe pacarin saja salah satu anak perempuan itu biar aman nih sekolah, loe senang dan bangga ya melihat anak-anak perempuan tu berkelahi memperebutkan loe, “ Radit bertanya sambil mengaduk kuah bakso di mangkoknya.
“Kalau loe udah pilih salah satu dari bidadari-bidadari di sekolah ini, bidadari yang lain akan paham dan tahu diri jadi tak mengharapkan loe lagi,” suara Radit terdengar lagi. “Jadi gue bisa mendekati salah satu cewek-cewek cantik di sekolah ini buat dijadiin pacar. Tak enak jomblo terus ” lanjutnya.
Dion terkekeh mendengar ucapan Radit. “Loe itu isi kepalanya cewek aja, sekolah yang benar biar bokap loe bangga.” Radit terdiam.
Dion benar juga dia harus buat papanya bangga. Kematian mama Radit waktu dia tamat SMP membuat papanya bekerja keras membesarkan Radit dan kedua adik-adiknya. Sebagai singel parent Radit tahu bagaimana repot dan susahnya papanya. Radit akan buat papanya bangga dengan dirinya. Radit menyadari itu, bagi dia cewek-cewek cuma penyemangat tak lebih dari itu. Study is number one, batin Radit.
“Yuk... Radit ke kelas,” Dion menyudahi suapan terakirnya dan mengajak Radit ke kelas. “Ntar terlambat, mau loe dipelototin sama Bu Ratna?” Dion beranjak meninggalkan Radit. Radit buru-buru menyudahi santapannya dan mengekori Dion dari belakang.
*****
Suara ketukan pintu kelas menghentikan anak-anak kelas XI IPA-2 sedang mengerjakan ulangan harian matematika yang diberikan Ibu Ratna. Aktifitas menulis dan berpikir berhenti sesaat. Berpuluh pasang mata menatap ke pintu. Ibu Diah guru Bimbingan dan Koseling yang terkenal kecantikannya di seantero SMA tempat Dion belajar berdiri di depan pintu.
Wajah siswa laki-laki tak berhenti memandang ibu Guru BK yang cantik menawan ini. Bagi siswa laki-laki kehadiran Ibu Diah bagaikan oase di tengah gurun tandus. Kehadiran Bu Diah bisa sedikit mengendorkan sedikit urat syaraf yang tegang mengerjakan soal ulangan matematika yang rumit bin sulit.
Wajah Ibu Diah sangat cantik, kulitnya putih dibalut baju kerja yang fashionable , badan yang proportional dan lesung pipit di pipinya menambah sempurna kecatikannya. Betul-betul Perfect.
Beberapa siswa laki-laki mulai usil mencari perhatian Bu Diah. Mereka tak peduli kertas ulangan yang belum terjawab. Usia mereka yang lagi masa pubernya membuat hormon testoteron mereka menjadi meningkat melihat perempuan cantik.
Tapi mereka segera terdiam sewaktu wajah Ibu Ratna yang terkenal galak seperti macam betina itu mempelototi mereka. Suasana kelas kembali hening semua siswa sibuk kosentrasi mengerjakakan ulangan.
Ibu Ratna dan Ibu Diah berbicara pelan di depan pintu kelas. Tak kedengaran apa yang dibicarakan. Beberapa siswa yang punya jiwa “kepo” tingkat tinggi berusaha menajamkan telinga setajam-tajamnya menguping pembicaraan kedua orang guru mereka. karena sudah menjadi rahasia umum setiap kehadiaran Ibu Diah ke kelas pasti akan ada siswa yang dipanggil ke ruangan BK.
Ada dua penyebab siswa terpanggil “membuat masalah” atau “membuat prestasi”. Suara Ibu Ratna dan Ibu Diah yang berbicara dengan suara pelan membuat mereka gagal menguping pembicaraan . Selesai berbicara dengan Ibu Ratna, Ibu Diah meninggalkan kelas.
Suara bel menghentikan aktivitas anak-anak mengerjakan ulangan. Semuanya mengumpulkan kertas ulangan ke depan.
“Dion, sebelum pulang kamu jumpai, Ibu Diah dulu,ya,” pelan terdengar suara Ibu Ratna kepada Dion. Dion hanya menganggukan kepala. Kenapa Ibu Diah memanggilku, apakah ini ada hubungan dengan perkelahan Alexa dan Gendis tadi? Sejuta tanya bergelayut di kepala Dion.
bersambung
Dumai, 30-4-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan