Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Empati Terhadap Guru Honorer (Tantangan Guru hari ke 18)

#TantanganGuruSiana

.

Work From Home (WFH) membuat aku punya banyak waktu berinteraksi dengan gawai. Media sosial menjadi salah satu hiburan ditengah kejenuhan menjalani stay at home dan tugas-tugas sekolah. Komunitas-komunitas di media sosial yang selama ini aku ikuti dan jarang kubaca jadi terbaca.

Sewaktu membuka sebuah komunitas grup jual beli di kotaku, mataku tertuju pada sebuah akun yang menyediakan jasa Cash On Delivery (COD) beberapa sayur-sayuran untuk keperluan dapur.

Yang membuat aku tertarik bukan jualannya, tetapi akun yang menawarkan barang-barang itu. Yah... itu adalah akun temanku. Pemilik akun tersebut adalah teman sesama guru di sebuah sekolah swasta yang ada di kotaku. Kenapa dia jualan bahan dapur dan bersedia COD? batinku.

Hati kecilku memerintahkan aku untuk mengorder sayuran yang ditawarkannya. Tanganku lincah menekan tombol di gawai memesan beberapa sayuran, padahal aku tahu stok yang ada di kulkas masih banyak.

Aku kenal betul dengan si pemilik akun tersebut karena aku sempat mengajar di sekolah tempat dia mengajar untuk memenuhi syarat sertifikasi. Umurnya 10 tahun lebih muda dariku. Sikapnya yang ramah, sopan dan suka membantu membuat dia disenangi oleh teman-teman guru yang lain. Disamping guru dia juga beprofesi sebagai ustadz yang sering memberi tausiah agama dibeberapa mesjid dan majlis taklim.

Penasaran aku menelpon adikku, kebetulan istri guru tersebut adalah teman adikku. Adikku dan istri guru tersebut berteman akrab, karena dulu pernah sama-sama kuliah di sebuah PT yang ada di kota kami. Dari informasi adikku aku mengetahui kalau keluarga mereka memang ada masalah dengan keuangan.

Pemberlakuan tidak boleh berkumpul membuat temanku tidak bisa memberikan tausyiah di beberapa mesjid dan majlis taklim yang sering meminta jasa beliau. Yang otomatis mempengaruhi pemasukan buat rumah tangga mereka. Sekolah tempat mengajar juga belum memberikan gaji, karena situasi libur tidak memungkinkan pihak sekolah untuk meminta uang sekolah kepada siswa. Karena gaji guru-guru yang mengajar dari iuran sekolah siswa-siswanya.

Kenapa tidak dibantu ? Aku bertanya kepada adikku, karena aku tahu adikku mempunyai ekonomi lebih dan mampu membantu sahabatnya. Itulah masalahnya, kata adikku mereka tidak mau dibantu, masih banyak orang yang lebih susah dari mereka. Selagi masih bisa usaha mereka berusaha dulu, tapi kalau memang betul-betul tidak mampu lagi barulah nanti mereka akan meminta bantuan, jawab adikku

Aku terdiam mendengar cerita adikku. Hatiku tersentuh. Tak sadar air mataku mengalir, selama ini aku lalai dan kurang rasa peduli dengan teman-temanku yang honorer. Ternyata ada teman-teman guru yang honorer disekitarku kesulitan keuangan. Mereka tidak mau menampakkan kesulitanya karena mereka tidak mau dikasihani.

Kondisi yang dialami oleh temanku ini, mungkin hanya sedikit dari kisah yang terjadi disekitar kita. Masih banyak mungkin teman-teman guru kita yang honorer yang melakukan hal yang sama, mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berbagai usaha, yang penting halal dan dapur bisa mengepul. Kondisi mereka yang sudah hidup pas-pasan selama ini ditambah pemberlakuan tidak boleh berkumpul dan bepergian akibat bahaya virus Covid-19 membuat mereka menjadi lebih terpuruk.

Salah seorang tetanggaku yang seorang guru honorer di sebuah sekolah swasta meminjam uang kepadaku dan berjanji mengganti minggu ini. Biasanya setiap meminjam dia selalu mengganti tepat waktu, kemarin dia menemuiku dan mohon maaf belum sanggup mengganti uangku karena belum punya uang. Suaminya tidak bisa bekerja. Untuk keperluan sehari-hari dia dan anak-anaknya mencari pinang, mencongkelnya, dijemur, kemudian baru dijual. Aku sedih mendengarnya.

Kebijakan Mendikbud yang aku baca diblog CEO Media guru Bapak Mohammad Ihsan yang berjudul “Video Revisi Permendikbud, boleh beri pulsa dari BOS, guru honorer tidak harus ber-NUPTK” aku rasa adalah suatu keharusan dan tindakan yang sangat wajar. Kehidupan sebagian guru honorer yang jauh dari kata “layak” sangat memperihatinkan. Kebijakan sebelumnya guru honor yang tidak punya NUPTK tidak boleh menerima dan BOS membuat mereka terancam tidak dapat gaji. Ini jelas merugikan mereka.

Kegiatas study from home akan menambah beban mereka. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah pontang-panting konon pula harus membeli paket data internet untuk memberikan materi pembelajaran buat siswanya. Terimakasih buat bapak Mendikbud atas kebijakannya. Kebijakan yang berpihak kepada guru honorer.

Situasi seperti ini semoga lebih membuka mata hati kita akan keadaan sekitar. Betapa banyak rekan-rekan kita sesama guru yang masih honorer mengalami kesulitan. Bagi ASN atau pegawai lain yang menerima gaji bulanan keadaan seperti ini tidak begitu mempengaruhi kondisi ekonomi.

Saat seperti inilah moment yang paling baik bagi kita untuk berbagi dengan teman-teman guru honorer. Kita diminta lebih jeli memperhatikan teman-teman guru honorer disekitar kita. Sebagian meraka tidak mau kita beri bantuan langsung, tapi dengan membeli dagangan mereka berarti kita sudah ikut meringankan beban mereka.

Kalau ada sesama pedagang kita yang guru, utamakanlah membeli kepada yang honorer . Kalau harga yang ditawarkan masih terjangkau, janganlah kita terlalu menawar daganganya. Belilah tanpa menawar kalau yang dijual masih dalam harga yang wajar.

Bermacam cara yang dilakukan oleh teman-teman guru honorer untuk mencukupi keperluan keluarganya. Bantuan dan support dari kita sangat meringankan beban mereka. Posisi kita sabagai guru ASN dan bersertifikasi sudah membuat kita bisa hidup cukup layak. Kalau ada rejeki berlebih tidak ada salahnya kita gunakan untuk membantu mereka. Mungkin dalam rejeki kita tertumpang rejeki teman-teman guru honorer.

Untuk teman-teman guru honorer semoga tetap semangat dalam menjalani kehidupan, semoga niat ikhlas yang teman-teman punya dapat balasan dari Allah. Bagi yang masih ada kesempatan untuk mengikuti seleksi ASN semoga Allah memberi kesempatan untuk jadi ASN.

Keadaan seperti ini tidak pada guru honorer saja, hampir semua terkena imbas oleh situasi ini. Bagi yang punya rejeki lebih marilah lebih dipupuk rasa empati buat orang-orang sekeliling kita. Jadikan moment ini menambah amal kebajikan selama di dunia. Semoga kita semua tetap diberi kesabaran, kita berdoa semoga situasi ini cepat normal seperti sediakala. Aamin Allahuma Aamiin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post