Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ibu Guru untuk Papa Part 1 (Tantangan Hari ke-5)

#TantanganGuruSiana

Di ruang perpustakaan hanya ada beberapa pengunjung yang nampak asyik membaca buku. Suasana begitu hening dan sepi. Di pojok sebelah kanan ruang baca nampak dua orang siswa yang lagi serius membaca. Mereka adalah Dita dan Sindi, dua sahabat yang selalu bersama sejak menginjakan kaki di sekolah ini.

“Dita... ayo!” suara Sindi mengagetkan Dita yang lagi menatap buku yang dibacanya.

“Baca apaan sih, Dit?” Sindi mendekati Dita sambil menutup buku yang dibacanya.

“Nggak..., nggak baca apa-apa kok,” Sinta mengelak pertanyaan Sindi.

“Dari tadi aku perhatikan kamu melamun saja, megang buku tapi nggak dibaca, ayo kita ke kelas bel masuk udah berbunyi, nanti kita terlambat,” ajak Sindi sambil menarik tangan Dita menuju rak buku untuk mengembalikan buku yang tadi mereka baca.

Dua sahabat yang masih duduk dibangku kelas 8 SMP itu beriringan meninggalkan perpustakaan menuju kelas karena jam istiahat sudah berakhir. Sindi heran, akhir-akhir ini sahabatnya Dita sering melamun. Tapi setiap ditanya Dita selalu saja tidak mau menceritakan apa masalahnya. Padahal selama ini Dita anaknya selalu terbuka kepadanya.

Di kelas Dita masih melamun. Pak Doni guru IPS dari tadi memperhatikan Dita. Sindi menyenggol kaki Dita dari bawah meja.

“Dita jangan melamun, Pak Guru dari tadi memperhatikan kamu terus,“ Sindi berbisik pelan.

Dita kaget dia berusaha fokus memperhatikan keterangan pak guru. Dia tidak ingin ditegur karena kurang fokus dalam belajar.

Sepulang sekolah Dita dan Sindi berjalan beriringan, rumah Sindi dan Dita memang satu komplek jadi mereka berangkat dan pulang sekolah selalu berbarengan.

“Dita, akhir-akhir ini kamu sering melamun, ada apa sih?” Sindi bertanya sewaktu mereka berdua menunggu oplet.

“Nggak ada apa-apa kok Sin, benar,” Dita menjawab meyakinkan Sindi.

“Kalau ada apa-apa kamu certa ke aku dong, Dit. Kita kan sahabat , jadi aku bisa tempat curhat kamu,” Sindi menggengam tangan Dita.

“Siap tuan Putri,” Dita menjawab dengan mimik lucu.

Dita memasuki rumahnya yang kosong dengan kunci duplikat yang dibawanya., suasana rumah yang sepi setiap hari membuat Dita jadi sedih. Suasana begini sudah lama. Sejak Dita kelas 4 SD suasana rumah sudah seperti ini. Ya semenjak mamanya Dita meninggal karena kanker 5 tahun yang lalu, rumah ini seakan kehilangan keceriaan. Sepi. Yang ada di rumah hanya Dita, papa dan Bu Ida. Bu Ida adalah asisten rumah tangga di rumah Dita. Tapi dia tidak tinggal di rumah Dita. Selesai masak, mencuci dan bersihkan rumah, biasanya perempuan yang sudah bekerja di rumah Dita dari Dita TK itu akan pulang ke rumahnya. Kerana memang rumah bu Ida tidak jauh dari rumah Dita.

Papa Dita jam segini masih di tokonya. Semenjak mama meninggal papa menjadi lebih betah di toko, walaupun ada pegawai yang membantu di sana. Mungkin papa lupa kalau dia masih punya seorang anak. Dita sering protes ke papa kenapa sering terlambat pulang. Bermacam alasan dikemukakan papa menjawab pertanyaan Dita. Papa pernah menjawab kalau di rumah selalu mengingatkannya kepada almarhumah mamanya Dita.

Ini tidak bisa dibiarkan, papa harus segera melupakan mama, Dita membatin. Tapi gimana caranya?. Itulah yang selama ini jadi dipikirkan Dita, dan sering membuat dia melamun. Dita selelu kepikiran bagaimana caranya agar papanya betah di rumah dan tidak terbayang-bayang almarhum mama lagi.

“Jadi itu masalahnya kenapa kamu sering melamun Dita, ” Sindi menanggapi cerita Dita ketika keesokan harinya Dita menceritakan masalahnya.

“Kalau begitu, menurutku kamu harus menyuruh papa kamu menikah lagi,” Sindi memberikan solusi buat Dita. "Karena dengan menikah lagi, papa kamu tidak teringat sama almarhum mama kamu lagi, jadi papa kamu akan sering pulang," lanjut Sindi.

“ Maksudmu aku menyuruh papaku cari mama baru? Tapi aku takut dengan ibu tiri, Sindi,” Dita nampak sedih.

“Ibu sambung, bukan ibu tiri, Dita. Lagian kamu harus tahu nggak semua ibu sambung jahat kok, tuh lihat Ashanty baik banget sama Aurel dan adiknya, Mulan Jameela juga baik kepada Al, El dan Dul,” Sindi menjawab bersemangat.

“Yakin deh, kalau papa kamu sudah mempunyai istri lagi, dia tak akan sedih lagi,” sambung Sindi mayakinkan Dita.

Usulan Sindi untuk mencarikan pengganti mama buat papa, menari-nari dibenak Dita. Dita ingat setelah kepergian mama, ada beberapa perempuan yang di jodohkan untuk papa. Dita tidak tahu, semua calon yang diusulkan ke papa selalu tidak jadi. Papa Dita selalu menolak, Dita heran entah apa alasannya, sehingga keluarga akhirnya menyerah dan mereka tidak pernah mencarikan calon istri lagi untuk papa. Tapi Dita tidak sedih, Dita senang papa tidak jadi menikahi salah satu dari perempuan itu, karena Dita takut punya ibu tiri.

Dita pesimis usul Sindi tadi akan berhasil. Tapi ada baiknya dicoba, siapa tahu kalau Dita yang mencarikan calon untuk papa, papa akan mau menarima. Tapi siapa yah?. Dita membatin.

************************************

Ayo..... apa sih yang rencana yang akan dilakukan oleh dua sahabat ini.... tunggu next partnya ya pembaca yang budiman....

Dumai, 03042020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post