Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jangan Panggil Bundaku Pelakor (Part 4 - Last Part) (Tantangan Guru hari ke-17)

#tantangangurusiana

.

 

Arumi menatap netra laki-laki yang berada di depannya. Tidak tergambar aura jahat di matanya. Wajah Om Handi yang selalu tersenyum membuat Arumi kehilangan rasa takut. Nampaknya Om Handi ini orang baik, pikir  Arumi. Arumi memberi penilaian untuk  laki-laki itu.

“Arumi ini untukmu, nggak boleh lho menolak rejeki,” tangan Om Handi kembali mengangsurkan paper bag ke arah Arumi.

“Makasi ya Om,” akhirnya Arumi memutuskan mengambil pemberian Om Handi.

“Om tahu kamu masih takut sama Om, karena kita kan baru kenal. Om boleh duduk di kursi itu?” Om Handi menunjuk kursi yang ada di teras.

Arumi menganggukan kepalanya menyetujui. “Ayo Arumi duduk di sini, “ ajak Om Handi.

Bagai kerbau dicucuk hidungnya Arumi mengikuti ajakan Om Handi. Ternyata Om Handi orangnya sangat ramah. Om Handi menceritakan kalau sudah kenal dengan Bunda Arumi sedari bunda masih gadis. Bunda Arumi disamping cantik juga cerdas dan baik hati, lanjut Om Handi.

Bercerita dengan Om Handi membuat Arumi jadi terhibur. Pengetahuan Om Handi tentang bola basket olah raga favorite Arumi boleh juga. Om Handi menceritakan tentang klub bola Basket idola Arumi, NBA. Om Handi bercerita  tentang  Michael Jordan legendaris pemain basket yang hebat yang terkenal dengan slamdunknya.  Kareem Abdul Jabbar,  Wilt Chamberlin,  Bill Russel, Larry Bird, Shaquille O’Neil  dan Kobe Bryant, semua pemain NBA terkenal tersebut dikupas tuntas oleh Om Handi biografi singkatnya.

Dua jam berlalu tampa terasa, biasanya Arumi tidak betah bercerita lama dengan orang, apalagi orang asing. Ternyata Om Handi bisa membuat Arumi bertahan mendengarkan ceritanya. Om Handi tidak menkutkan seperti yang ditakuti Arumi tadi, ternyata beliau pribadi yang menyenangkan. Arumi heran kenapa bunda mengusir Om Handi kemarin.

“Arumi, Om ada urusan, Om pulang dulu ya. Salam sama Bunda kamu,” Om Handi pamit kepada Arumi setelah menerima panggilan dari seseorang lewat gawainya.

“Makasi ya Om, sudah menemani Arumi,” Arumi mencium tangan Om Hani waktu bersalaman dengan laki-laki tersebut.

*****

Pertandingan basket sore itu berlangsung dengan seru. Dua tim yang tampil betul-betul menunjukan permainan yang mengagumkan. Permainan yang sangat cantik dan mempesona penonton.  Sekolah Arumi keluar jadi pemenang.  Arumi menjadi bintang lapangan pada pertandingan kali ini.

“Kamu sungguh hebat Arumi, “ Pak Wahyu menyalami  Arumi selesai pertandingan.

“Bukan Saya aja lho Pak. Semua teman-teman juga hebat dan bermain dengan bagus .”  Arumi merendah.

“Ya kalian semuanya hebat. Bapak bangga dengan kalian.” Pak Wahyu tak bisa menyembunyikan rasa bahagia atas capaian Arumi dan timnya.

“Kawan-kawan kamu semua sudah pulang, kamu kenapa belum pulang?” Pak Wahyu menatap Arumi.

“Yang lain kan sudah dijemput orang tuanya, Pak. Papa saya kan sudah tidak ada, bunda juga kerja. Jadi nggak ada yang jemput, “ jawab Arumi tersenyum. “Saya pulangnya naik oplet Pak,” lanjut  Arumi.

Pak Wahyu terdiam mendengar jawaban Arumi. Anak yang tegar, berani dan mandiri, pikirnya.  Arumi beda dengan siswa-siswa yang lain.  Bagi siswa lain kehidupan yang biasa di posisi high level,  kemana-mana selalu diantar dengan mobil mewah dan  fasilitas lengkap, tiba-tiba roda kehidupan berubah berubah ke titik  nadir ,  itu tidak mudah.  Beban psikologisnya tidak ringan. Ejekan atau nada-nada miring dari orang sekitar pasti ada. Tapi Arumi bisa melewati. Pak Wahyu kagum kepada Arumi, seperti Pak Wahyu juga... Ah pikiran apa ini ? Pak Wahyu mengusir pikiran itu dalam benaknya.

“Arumi, ini sudah sore betul. Takut nanti tak ada oplet. Bagamana kalau kali ini Bapak yang mengantar kamu?” Pak Wahyu menawarkan bantuan kepada Arumi.

“Nggak apa-apa kok Pak, Saya naik oplet saja,” Arumi menolak halus.

“Jangan menolak Arumi anggap ini ucapan terima kasih dari Bapak karena kamu sudah bermain bagus.” Pak Wahyu membujuk.

“Tapi Bapakkan tidak tahu rumah saya,” Arumi masih berusaha menolak tidak enak menerima tawaran dari bapak gurunya.

“Bapak tahu kok. Rumah kamu di Gang Seroja, kan?” Pak Wahyu menyebutkan gang tempat tinggal Arumi.

“Lho Bapak kok tahu?” Arumi kaget.

Pak wahyu tersenyum. “Saya ada punya teman yang tinggal di sana, Saya pernah mengantarnya pulang,”  jelas Pak Wahyu.

“Ayok Arumi itu motor Bapak,” tunjuk Pak  Wahyu kearah sebuah motor matic warna hitam yang ada diparkiran.

*****

Kerumunan orang-orang yang berkumpul di rumahnya membuat arumi kaget. Ada apa ini? Apa yang terjadi?  Kenapa orang-orang berkumpul? Apakah bunda baik-baik saja?  Sejuta tanya bermain dibenak Arumi. Tak sadar Arumi melompat  dari boncengan motor Pak Wahyu berlari menuju rumahnya.

Mata Arumi terbelalak melihat bundanya lagi berkelahi dengan seorang wanita cantik yang seumuran juga dengan bunda. Wanita itu menjambak rambut bunda. Bunda nampak kesakitan. Om Handi juga ada disitu dan berusaha melerai bunda dan wanita cantik itu, tapi seorang wanita paruh baya melarang Om Handi dan menarik tangan Om Handi . 

Dada Arumi bergemuruh. Perasaanya sakit sekali melihat  bundanya diperlakukan seperti itu.

“Hentikan... !”  Arumi berteriak histeris. “Jangan sakiti  bunda, Saya,” Arumi menarik tangan perempuan cantik yang menjambak rambut bundanya.

Perempuan cantik  itu menatap Arumi garang. Sinar kebencian  terlihat di wajahnya, membuat wajah cantiknya tidak enak dipandang.

“Ooo ...Kamu anak pelakor ini ya?” Perempuan itu bertanya kepada Arumi sambil menunjuk bunda dengan tangan kirinya.

“Bundaku bukan pelakor, Tante jangan sembarang menuduh. Tante jahat.” Teriak Arumi.  Bergegas Arumi menuju bunda dan membantunya berdiri.

“Kalau bukan pelakor apa namanya, mengambil suami orang,” wanita paruh baya yang memegang Om Handi juga ikut berbicara.

“Saya tidak ada mengambil suami orang. Suami Mbak..., Anak ibu yang mengejar-ngejar Saya,”Bunda membela diri.

“Alah... Maling mana ada yang ngaku... Dasar kamu memang pelakor. Dari gadis kamu selalu mengambil suami orang. Suami kamu sudah meninggal, penggantinya kamu ambil suami orang lagi.” Perempuan paruh baya itu kembali menghujat  Bunda Arumi.

“Hai.. Ibu-ibu yang ada disini. Jangan biarkan pelakor dan anaknya ini tinggal di sini,” perempuan cantik itu menghasut tetangga-tetangga yang menonton kehebohan ini. Ibu-ibu berteriak meneriaki Bunda Pelakor. Hati arumi bagai tersayat pisau yang sangat tajam mendengarnya.

“Berhenti.... Berhenti  kalian semua menyebut Bunda Arumi sebagai Pelakor. Dia bukan pelakor.”  Suara yang keras tiba-tiba terdengar dan  membungkam mulut yang tadi ribut meneriaki Bunda Arumi.

Arumi dan Bunda menoleh mencari sumber suara itu, Pak Wahyu. Bunda dan Arumi kaget.  Arumi tidak menyangka  Pak Wahyu masih di sini. Arumi lupa kalau tadi diantar pulang oleh Pak Wahyu. Arumi juga lupa mengucapkan terima kasih.

 “Anda siapa? Jangan ikut campur urusan kami.” Perempuan cantik itu memandang Pak Wahyu tajam.

“ Kamu sudah bertindak anarkis kepada Arsila. Kalian sudah melakukan penganiayaan. Saya bisa melaporkan  perbuatan kalian ke polisi,” suara Pak Wahyu terdengar tegas dan berwibawa.

“Apa urusanmu, silahkan kamu pergi dari sini ?” usir perempuan paruh bayah disamping  Om Handi .

“Jelas ini urusan, Saya. Karena Arsila, Bundanya Arumi calon istri saya.” Jawaban Pak Andi membuat kaget orang-orang yang ada di situ. Arumi tidak kalah kagetnya.  Jawaban Pak Andi  bagaikan petir di siang hari bagi Arumi. Matanya menatap Pak Wahyu tak berkedip. Apa Pak Wahyu bercanda?.

Bunda yang mendengar jawaban Pak Wahyu hanya menundukan kepala. Arumi menatap Bunda, minta jawaban. Tapi bunda hanya diam  membisu seribu bahasa.

“Handi... Ajak istri dan mamamu pulang. Saya peringatkan Kamu, jangan ganggu Arsila lagi. Kalau tidak peristiwa sore ini akan saya laporkan ke polisi.” Pak Wahyu ternyata mengenal Om Handi.

“Kalian berdua, Arsila tidak bersalah dalam peritiwa ini. Suami kamu yang mengejar-ngejar Arsila, jadi seharusnya yang kamu hajar itu bukan Arsila, tapi suami kamu yang mata keranjang ini.” Pak Wahyu berkata kepada perempuan cantik yang ternyata istri Om Handi  sambil menunjuk suami perempuan itu.

Tetangga-tetangga yang masih ada tidak beranjak pulang, mereka bagaikan penonton yang haus adegan selanjutnya. Bagi mereka kejadian ini mungkin sebuah hiburan gratis yang menyenangkan. Tingkah mereka membuat Pak Wahyu  muak dan marah.

“Kalian semua, tetangga macam apa kalian? Dimana rasa empati kalian melihat salah seorang tetangga kalian di sakiti oleh orang luar. Kalian benar-benar keterlaluan. Bukannya dilerai kalian malah menjadikannya tontonan.” Om Handi berteriak keras kepada orang-orang yang menonton keributan tadi.

“Mulai hari ini, kalian jangan panggil bunda Arumi pelakor lagi. Saya calon papa sambung Arumi, suaminya Arsila. “ sambung Pak Wahyu lagi. Orang-orang yang menonton yang rata-rata ibu-ibu dan anak-anak itu terdiam.

“Kalian bertiga silahkan tinggalkan tempat ini, dan yang lain bubar!” suara Pak Wahyu yang berwibawa membuat orang-orang itu beranjak pergi dari rumah Arumi termasuk Om Handi dan keluarganya.

Sepeninggal orang-orang itu Pak Wahyu mengajak Bunda dan Arumi masuk ke dalam rumah. Pak Wahyu mengambilkan air minum buat Arumi dan Bunda.

“Arsila, mungkin kejadian sore ini sudah jalannya untuk menceritakan hal ini kepada Arumi,” Pak Wahyu menatap Bunda. Bunda yang ditatap Pak Wahyu  Cuma menganggukak kepala. Kejadian tadi masih membuatnya shock.

“Arumi, sebenarnya Bapak dan Bundamu belum mau menceritakan sekarang, tapi kejadian tadi membuat kami menceritakan lebih awal. Bapak dan bundamu sudah kenal sebelumnya. Bapak sering jumpa Bundamu di kafe tempat Bundamu bekerja. Suami pemilik kafe itu teman Bapak,” sesaat Pak Wahyu diam

“Permainan basketmu yang sempat menurun, membuat Bapak mencari Bundamu. Untuk mendiskusikanya. Bapak tidak tahu kalau Bundamu, Bunda Arsila. “ Pak Wahyu terdiam lagi.

“Mungkin karena sering bertemu dan bercerita dengan Bundamu, Bapak jadi menyukai Bundamu. Bapak ingin jadi Papa sambungmu. Tapi Bundamu masih ragu, takut kamu tidak merestui. Kami mau mencari saat yang tepat untuk menceritakannya pada kamu, Arumi.” Pak Wahyu mengakhiri penjelasanya.

Arumi terdiam. Semua serba mendadak baginya. Dia tak menyangka kalau Pak Wahyu menyukai Bundanya. Dia tak menyangka kalau selama ini Pak Wahyu dan bundanya punya hubungan dekat. Sungguh pandai mereka bersandiwara, batin Arumi. Pantas Pak Wahyu seakan banyak tahu tentang masalah Arumi. Pak Wahyu juga tahu tempat tinggalnya. Jangan-jangan teman yang diantar  Pak Wahyu pulang itu bunda, batin Arumi lagi..

Tapi... Pak Wahyukan sudah seumuran almarhum papa. Pak wahyu tidak muda lagi. Tentu Pak Wahyu bukan laki-laki single batin Arumi.  Pasti Pak wahyu sudah beristri. Nanti apa kata istri Pak Wahyu kalau bunda menikah dengan pak Wahyu?  Arumi tidak mau lagi bunda dipanggil pelakor oleh orang lain.

“Nanti apa kata istri Bapak kalau Bapak menikahi bunda saya?  Saya tidak mau Bunda saya dipanggil pelakor,” Arumi berkata sambil memandang bundanya.

“Kamu tidak perlu khawatir, Arumi. Istri Bapak sudah lama meninggal.  Sudah delapan tahun yang lalu. Selama ini Bapak belum jumpa perempuan yang cocok untuk menggantikan beliau.  Beliau pasti senang melihat Bapak menikah dengan Bundamu.” Pak Wahyu tersenyum.

“Apa nanti anak-anak Bapak bisa terima Arumi dan Bunda?” Arumi menatap Pak wahyu.

Anak pintar pikir Pak Wahyu. Keadaan membuat dia berpikir lebih cepat dewasa. Rasa sayang kepada Arumi muncul dalam hatinya, rasa sayang seorang bapak kepada anak. Semoga aku bisa jadi papa sambung yang baik untuk Arumi, pikir Pak Wahyu lagi.

“Anak Bapak cuma satu orang. Laki-laki. Sekarang lagi kuliah di Bandung. Sudah lama dia menginginkan Bapak menikah. Dia sangat senang mendengar Bapak mau menikah dan punya adik sebayamu. Bundamu sudah kenal kok. Bunda sudah pernah jumpa anak Bapak waktu dia pulang liburan kemarin.”

Arumi memandang bundanya. Bunda tersenyum kepada Arumi.  Arumi melihat ada bias bahagia dimata bunda. Sudah lama bunda nampak tidak sebahagi ini. Arumi yakin ini mungkin sudah jalan terbaik untuk bunda. Semoga setelah pernikahan Pak Wahyu dengan bunda, tidak ada lagi orang yang memandang sinis ke bunda. Tidak ada lagi yang memanggil bunda pelakor.

Arumi membalas senyum bunda dan memeluknya. “Semua terserah Bunda, Arumi senang bunda bahagia dan tidak bersedih lagi.” Jawaban Arumi membuat Pak Wahyu dan bundbahagia.

Arumi menatap Pak Wahyu ternyata guru basket idolanya akan menjadi papa sambung bagi Arumi .Semoga Pak Wahyu bisa jadi suami yang baik buat bunda  dan papa yang baik buatku, doa Arumi dalam hati... Aamiin.

 

Tamat

.

Terima kasih buat sahabat yang sudah mau singgah. Tinggalkan krisannya  di kolom komentar ya sahabat. Salam Literasi.

 

 

 

.

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post