Jangan Panggil Bundaku Pelakor (Part 2) (Tantangan Hari ke -15)
#TantanganGuruSiana
.
Suara ketukan yang keras di pintu menghentikan makan malam Bunda dan Arumi. Bergegas bunda membuka pintu depan, Arumi mengikuti bunda dari belakang . Tante Dewi tetangga disamping kontrakan mereka berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang. Wajahnya tampak tidak bersahabat.
“ Kamu tadi pulang kerja dengan suami aku kan Arsila ?” Tante Dewi menatap bunda garang.
“Iya, Mbak. Ada apa ya, Mbak?” Bunda heran dengan pertanyaan Tante Dewi.
“Saya tidak senang kamu pulang dengan suami Saya.” Tante Dewi menjawab ketus.
Arumi heran kenapa Tante Dewi marah-marah kalau bunda pulang dengan suaminya. Suami Tante Dewi kan memang pekerjaanya seorang tukang ojek, batin Arumi.
“Saya tidak tahu kalau driver ojol yang saya pesan suami Mbak Dewi, Saya kan pesannya pakai aplikasi.” Bunda mencoba menjelaskan.
“Kamu kan bisa batalkan pesanannya,kenapa harus pulang dengan suami saya ” Tante Dewi masih menjawab dengan emosi.
Om Yudi suami tante Dewi mendengar ribut-ribut segera keluar dan menarik tangan istrinya masuk kedalam rumah. “Maafkan istri saya, ya Bunda Arumi,” katanya sebelum menutup pintu rumahnya.
Bunda membimbing Arumi masuk kedalam rumah. Mereka duduk di meja makan. Bunda nampak sedih sekali. Dia tidak menyangka tetangga sendiri bisa cemburu buta seperti itu kepada dirinya. Apakah harus seperti ini menjadi seorang janda? Air mata menggenang dipelupuk matanya. Melihat bunda bersedih Arumi ikutan bersedih.
“Bunda jangan sedih, ya.” Arumi menghibur Bunda. “Kita makan lagi yok, Bun?” Arumi mencoba mengalihkan perhatian Bunda dari masalah barusan.
“Bunda udah kenyang, Sayang. Arumi saja lanjutkan makannya, ya. Bunda mau istirahat.” Bunda berlalu meninggalkan Arumi di ruang makan.
Sepeninggal Bunda, Arumi kembali melanjutkan makannya. Sama seperti bunda, Arumipun kehilangan selera makan. Arumi kasihan sekali melihat Bunda selalu dicemburui oleh ibu-ibu disekitar tempat tinggalnya. Apa yang dilakukan Bunda, tidak penah benar di mata ibu-ibu. Arumi sedih. Pikiran kanak-kanaknya menerawang , bagaimana membuat semua ibu-ibu itu tidak memusuhi bunda lagi ?. Bagaimana caranya agar Bunda jangan dipanggil pelakor lagi oleh mereka. Beribu tanya bermain-main dipikiran Arumi.
******
“Bunda, Arumi pingin dimasakin nasi goreng pedas sama bunda,” pagi itu Arumi merengek minta dibuatkan nasi goreng sama bunda. Hari minggu ini bunda tidak kerja, jadi Arumi bisa habiskan waktu berdua dengan bunda di rumah.
“Boleh... Tapi kayaknya persedian telur Bunda habis, deh. Arumi bisa Bantu bunda belikan ?” Bunda menyerahkan uang pada Arumi.
Arumi melangkahkan kaki ke warung Mbak Tuti. Hari minggu dan suasana pagi biasanya warung Mbak Tuti ramai oleh ibu-ibu yang mau belanja. Dugaan Arumi benar. Arumi sebenarnya malas sekali mau ke sini. Dengan langkah ragu-ragu Arumi bergabung dengan pembeli yang lain.
“Nak Arumi, mau beli apa?” Mbak Tuti menyapa Arumi ramah.
“Mau beli telur, Tante, ” jawab Arumi sambil menunjuk telur.
“Eh.... ada Arumi. Bundanya mana ?” seorang ibu-ibu yang sedang memilih sayur menegur Arumi.
“ Ada di rumah, Tante,” Arumi menjawab sambil menyodorkan uang kepada Mbak Tuti.
“Anaknya Arsila cantik, ya. Semoga sudah besar nanti jangan jadi pelakor seperti bundanya,” Tante Anik salah seorang tetangga Arumi nyeletuk sebelum Arumi berlalu. Suara Mbak Anik pelan, tapi Arumi bisa mendengar dengan cukup jelas.
Arumi kesal dan marah. Selalu seperti itu. Mereka selalu memandang jelek kepada bunda. Arumi heran kenapa ada orang yang suka mengusilin orang lain. Apa tidak capek mereka ? Sepanjang perjalanan pulang Arumi mengomel sendirian.
“Anak sholeha bunda, kenapa ? Kok wajahnya kusut sekali?” Bunda menyambut kedatangan Arumi dengan senyum.
“Arumi kesal sekali bunda sama ibu-ibu di warung. Mereka suka ngomongi Bunda.” Arumi mengadukan kelakuan ibu-ibu yang di warung tadi kepada Bunda.
“Tidak usah kita tanggapi, Nak. Yang penting kita tidak seperti yang mereka bayangkan.” Bunda tersenyum bijak.
“Bunda, kita pindah dari sini aja ya, Bunda?” Arumi menatap Bunda penuh harap.
“Masalah bukan untuk kita hindari Nak, tapi harus kita cari jalan keluarnya. Arumi doakan saja semoga mereka berubah sikapnya terhadap kita.” Bunda menatap bijak pada Arumi.
“ Ayok kita buat nasi gorengnya!” lanjut Bunda sambil menarik tangan Arumi menuju dapur.
******
“Arumi, tadi ada laki-laki yang mencari Bundamu,” Tante Anik tetangga Arumi yang paling usil mencegat Arumi sepulang sekolah.
“Sudah dua kali lho dia kesini. Kemarin juga,” sambung Tante Mira yang lagi menyuapin anaknya makan. “Jangan-jangan itu calon Papa kamu Arumi.” Tante Mira menyambung ucapannya.
“Asal jangan seperti kejadian kemarin, Bunda kamu dekatin suami orang. Sehingga istrinya marah-marah ke sini. Itu pelakor namanya.” Tante Dewi berkata sinis. “Kamu mau Bundamu jadi Pelakor?” Tante Dewi melanjutkan perkataanya.
Arumi kesal sekali. Dadanya bergemuruh kencang. Tiba-tiba dia menangis sambil berteriak, “Tante-Tante ini semuanya jahat, selalu menjelekkan Bunda Arumi. Bunda Arumi bukan pelakor, Jangan panggil Bundaku Pelakor, Arumi benci sama Tante-Tante semua.” Arumi berteriak histeris.
Kelompok ibu-ibu yang tadi berbicara sama Arumi kaget. Mereka tidak menyangka reaksi Arumi seperti ini. Mereka tidak menyangka Arumi akan berteriak sekuat itu. Arumi biasanya anak yang pendiam. Biasanya Arumi hanya diam saja kalau mereka membicakan bundanya. Tangisan histeris Arumi membuat mereka sedikit ketakutan. Mbak Tuti yang mendengar ribut-ribut keluar dari warungnya. Dia berusaha menenangkan Arumi. Wajahnya kelihatan marah kepada ibu-ibu yang tadi menegur Arumi.
“Kalian semua keterlaluan. Arumi ini anak yatim, kalian sudah menyakiti hati anak yatim, “ katanya kesal. “ Kalian tahukan hukumnya menyakiti hati anak yatim ?” Mbak Tuti memandang tajam kepada ibu-ibu tersebut.
Tidak ada yang bersuara. Semua ibu-ibu tersebut menundukan kepalanya. “Kalian semua gampang sekali menghakimi orang lain, apa kalian lebih baik dari Bunda Arumi?” Suara keras Mbak Tuti membungkam mulut ibu-ibu tersebut. Meraka takut melihat Mbak Tuti marah, diantara mereka semua Mbak Tuti yang paling tua dan paling lama tinggal di sini. Bahaya kalau Mbak Tuti marah, nanti tak bisa hutang lagi di warungnya. Satu-persatu mereka tegak dan meniggalkan warung Mbak Tuti.
“Arumi jangan sedih lagi, ya.” Mbak Tuti mengusap kepala Arumi. “Ibu-ibu tadi memang keterlaluan. Jangan dimasukan ke hati.” Mbak Tuti menghibur Arumi. Arumi masih terisak , dia hanya menganggukan kepala.
“Arumi mau istirahat di warung Tante atau mau pulang?” Mbak Tuti bertanya pada Arumi. “Arumi pulang aja Tante, mau istirahat di rumah saja.” Arumi berkata sambil melangkahkan kaki menuju rumah.
Kejadian sore tadi tidak diceritakan Arumi kepada Bunda. Arumi tidak mau membuat Bunda sedih. Bunda sudah capek seharian bekerja. Arumi tidak mau menambah beban pikiran Bunda. Biarlah bunda berisitirahat, pikir Arumi.
******
“Arumi lempar bolanya!” Teriakan Pak Wahyu guru olah raga mengagetkan Arumi. Pertandingan basket antar sekolah yang sebentar lagi dilaksanakan membuat Arumi dan kawan-kawan semakin sering mengadakan latihan. Basket merupaka olah raga yang paling disukai Arumi. Tinggi badan dan postur tubuh yang dimilikinya sangat menunjang kepiawaiannya bermain basket. Sehingga pak Wahyu menunjuk Arumi sebagai tim inti sekolah.
“Kamu kenapa Arumi ? Akhir-akhir ini kamu Bapak lihat suka melamun dan tidak fokus. Ada masalah?” Pak Wahyu bertanya kepada Arumi sewaktu istirahat. Arumi menatap guru olah raganya ini ragu, akankah dia ceritakan masalahnya sama Pak Wahyu? Pak Wahyu guru yang paling dekat dengan Arumi. Pak wahyu sering memberi Arumi motivasi dan nasehat.
“Nggak ada apa-apa kok Pak, Arumi cuma sering teringat almarhum papa dan mama.” Arumi mejawab lirih.
Pak Wahyu terdiam. Hampir semua guru di sekolah ini tahu permasalahan Arumi. Setelah papanya meninggal Arumi hampir dikeluarkan dari sekolah karena bundanya tidak sanggup membayar uang sekolah. Sekolah tempat Arumi bersekolah adalah sekolah swasta terbaik di kota ini. Fasilitas yang lengkap dan nyaman sebanding dengan uang sekolah yang harus dikeluarkan orang tua. Berkat kebijakan sekolah Arumi masih bisa bersekolah di sini. Kasihan anak ini, anak yang cerdas dan berbakat, batin pak Wahyu. Terlintas dipikirannya untuk menanyakan ke Bunda Arumi permasalahan yang dialami Arumi.
*****
Semenjak peristiwa sore itu, ibu-ibu yang biasa mangkal di tempat Mbak Tuti tidak lagi mengejek Bunda Arumi secara terang-terangan. Tetapi tatapan sinis dan tidak bersahabat masih sering dijumpai Arumi dari mereka. Tuhan mungkin belum membukakan hati mereka, pikir Arumi. Teruslah berdoa Arumi, sampai Tuhan mendengar doamu, begitu bunda selalu memberi semangat kepada Arumi.
“Arumi... Sini!” suara Mbak Tuti menghentikan langkah Arumi sepulang sekolah.
“Ada apa Tante ?” Arumi mendekati Mbak Tuti.
“Tadi ada laki-laki ke sini cari Bundamu. Sekarang dia lagi menunggu di depan rumah kalian.” Mbak Tuti berkata sambil menunjuk ke arah rumah Arumi.
“Menurut Tante, kamu disini aja dulu sampai Bundamu pulang, bagaimana?” Arumi menganggukan kepala. Jujur Arumi memang takut pulang. Takut kalau laki-laki itu nanti berniat tidak baik kepadanya. Arumi heran siapa laki-laki yang mencari Bundanya? Kenapa dia mencari Bunda?
bersambung
Yok...sahabat ikutin kisahnya Arumi besok ya.... Salam Literasi.
Dumai 13 April 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan