Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jangan Panggil Bundaku Pelakor (Part 3 ) (Tantangan Guru ke 16)

#Tantangangurusiana

Arum melihat wajah laki-laki yang duduk diteras rumahnya dari warung Mbak Tuti. Wajah yang sangat asing baginya. Laki-laki itu masih muda kira-kira seumuran dengan bunda. Kulitnya putih dengan hidung yang sedikit mancung. Rambutnya lurus dan disisi rapi ke belakang. Sekilas mirip Choi Siwon bintang film Korea idola Arumi.

“Arumi... Kenapa belum pulang?” Bunda yang baru datang mengagetkan Arumi. Bunda heran anak semata wayangnya pulang sekolah biasanya langsung ke rumah. Kenapa sekarang duduk di warung Mbak Tuti?

“Kamu udah pulang, Arsila? Maaf saya yang menyuruh Arumi menunggu disini. Tadi ada laki-laki yang mencarimu, dia sekarang ada di rumahmu.” Mbak Tuti menjelaskan sambil menunjuk ke rumah Arsila.

Arsila mengarahkan netra ke rumahnya. Seorang laki-laki yang sangat dikenalnya duduk diteras sambil memainkan gawainya. Arsila kaget, kenapa laki-laki itu bisa tiba di sini? Kenapa dia bisa tahu kontrakanya ? Apa yang diinginkanya? Hati Arsila penuh tanda tanya.

“Makasi ya Mbak,” bunda menganggukan kepala ke arah Mbak Tuti.

Laki-laki yang duduk di teras itu berdiri menyambut kedatangan bunda dan Arumi. wajahnya kelihatan berseri-seri. Matanya bersinar tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.

“Kamu udah pulang, Arsila?” dia tersenyum ramah kepada bunda.

“Ngapain kamu ke sini?” wajah bunda nampak dingin sekali.

Laki-laki itu menatap bunda sekilas, tatapannya beralih ke arah Arumi. Dia tak mempedulikan pertanyaan bunda.

“Hai anak manis, kamu pasti Arumi, kan?” dia menyapa Arumi hangat. “Kamu cantik sekali. Wajahmu seperti pinang dibelah dua dengan bundamu.” Dia tersenyum hangat menatap Arumi.

“Arumi perkenalkan saya Handi Pranata, teman mamamu, “ dia mengulurkan tangan kepada Arumi. Ragu-ragu Arumi menerima jabatan tangannya. “Kamu bisa panggil saya dengan Om Handi,” lanjutnya.

“Kamu ngapain ke sini?” Bunda mengulangi lagi pertanyaannya.

“Kamu nggak mempersilahkan saya duduk dulu?” dia tak menjawab pertanyaan bunda.

Bunda tak bergeming. Suasana nampak tidak bersahabat. Wajah bunda yang dingin dan beku membuat suasana menjadi canggung. Laki-laki itu menatap bunda, bunda mamalingkan wajahnya ke tempat lain.

“Kalau kamu tidak ada urusan lagi, silahkan tinggalkan rumah Saya. Saya tidak mau melihat sosokmu di rumah Saya” Tegas dan pelan suara bunda mengusir laki-laki itu.

“Siapa bilang saya tidak ada urusan? Urusan saya denganmu belum selesai Arsila.” Mata elangnya menatap bunda dengan tajam. “Saya sudah sering mencarimu ke kafe. Tapi pemiliki kafe dan rekan kerjamu bilang kamu sudah berhenti. Makanya saya mencari kamu ke rumahmu. ” Lanjutnya.

"Darimana kamu tahu lamat saya?"

"Itu tidak susah bagi saya, Arsila. Mata saya ada dimana-mana," jawabnya sambil tersenyum. Wajahnya nampak tenang, kemarahan bunda tidak mempengaruhinya.

“Sekali lagi saya peringatkan kamu segera tinggalkan rumah saya! Kalau tidak saya akan berteriak kalau kamu mau berbuat jahat,” bunda mengancam.

“Oke..oke Arsila. Kamu tidak perlu berteriak. Saya akan pergi. Tapi ingat Arsila, saya tidak akan menyerah, saya akan datang lagi ke sini. Permisi. Sampai jumpa lagi Arumi” Laki- laki itu tersenyum pada Arumi dan berlalu meninggalkan Bunda dan Arumi.

Arumi memandang sekeliling, beberapa orang tetangga nampak memandang ke arah mereka dengan sejuta tanya. Arumi membatin, pasti mereka akan membuat cerita jelek untuk bunda. Bunda menatap Arumi, Arsila tahu apa yang dipikirkan Arumi. Arsila mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan Arumi. Tuhan... batinya. Masalah yang lama belum selesai, kenapa datang lagi masalah baru, batinya.

Bunda menarik tangan Arumi masuk kedalam rumah. Setelah mengunci pintu bunda langsung masuk kamar. Dia duduk dipinggir tempat tidur. Hari ini badan dan pikirannya sangat lelah. Dia mencoba membaringkan raganya di tempat tidur. Tapi mata tidak bisa terpejam. Dinding-dinding kamar menatapnya dengan sendu.

Kedatangan Handi Pranata sore tadi menambah pusing kepala Arsila. Laki-laki keras kepala itu selalu membayangi dirinya. Arsila berharap Handi berlalu dari kehidupannya. Ancaman dari suami Dita yang seorang aparat negara agar jangan menghubunginya lagi tidak dihiraukannya. Semakin Arsila menjauhi dia, semakin kencang dia mengejar Arsila. Arsila dibuat jengah oleh kelakuannya.

“Bunda, Arumi boleh masuk?” ketukan Arumi di pintu menghentikan lamunan Arsila.

“Silahkan sayang, tidak dikunci kok,” Arsila mempersilahkan anak semata wayangnya masuk.

“Bunda minum dulu ya, ini Arumi bikinkan jus jeruk buat bunda biar segar.” Arumi menyerahkan jus ke tangan bundanya. Arsila menatap putri kesayangannya. Arumi adalah semangat yang membuatnya bisa bertahan. Arumi adalah malaikat kecil yang selalu bisa menghiburnya.

“Makasi ya nak, sini duduk dekat Bunda.” Arumi duduk disamping bunda.

“Bunda kenapa mengusir Oom yang tadi ? Dia orang jahat ya, Bunda?” Arumi menatap bunda ingin tahu.

“Dia teman Bunda, Bunda nggak suka aja dia datang ke rumah kita. Kan tak enak nanti kalau tetangga tahu. Nanti Arumi kena ejek lagi sama ibu-ibu disini,” Bunda tersenyum

“Ayok kita makan, nih cacing di perut mama sudah bernyanyi-nyanyi dari tadi minta diisi.” Bunda menarik tangan Arumi keluar kamar. Arumi mengikuti bunda keluar kamar.

*****

“Arumi permainanmu semakin bagus,” Pak Wahyu berbicara dengan Arumi disuatu sore setelah selesai latihan. “Kamu betul-betul anak yang cerdas dan berbakat seperti almarhum papamu,” lanjutnya.

“Papa ? Bapak kenal dengan almarhum Papa saya?.” Arumi menatap pak wahyu heran.

“Ya jelas kenal Arumi. Papamu kan langganan di toko Bapak. Papa kamu dulu kalau beli perlengkapan olah raga selalu di toko Bapak,” jawab Pak Wahyu. “Dulu kami satu angkatan di SMA. Papamu siswa yang pintar dan ulet,” Pak Wahyu manatap Arumi.

Arumi terdiam, dia tak menyangka kalau papanya dulu berteman dengan Pak Wahyu. Dulu semasa hidupnya, papa sangat sibuk. Papa adalah laki-laki yang gila kerja, sedikit sekali waktu papa untuk Arumi. Tidak banyak kenangan yang diingat Arumi dengan papanya. Kadang-kadang Arumi iri melihat anak-anak bisa pergi liburan dengan keluarganya. Arumi jarang sekali menikmati moment seperti itu. Kalau pergi liburan Arumi selalu ditemani bunda dan mama. Hari-hari Arumi selalu dengan Bunda dan Mama.

“Bagaimana keadaanmu dan Bunda sekarang? Masih sering diusilin sama tetangga-tetanggamu?” Pak Wahyu bertanya.

Arumi kaget, kok Pak Wahyu bisa tahu masalah yang dialaminya dengan bunda. Darimana Pak Wahyu tahu?

“Bapak kok tahu?” Arumi bertanya heran. Pak Wahyu sedikit kaget tapi kemudian membunyikan kekagetanya. “Arumikan pernah bercerita dulu dengan, Bapak.” Jawabnya tersenyum. Arumi heran, ada tanya dibenaknya. Rasanya dia tidak pernah bercerita masalah yang dialaminya pada Pak Wahyu. Kapan ya Arumi cerita ? Atau Arumi yang lupa, pikir Arumi.

“Arumi kalau ada masalah kamu bisa cerita sama, Bapak. Mana tahu Bapak bisa bantu. O ya, ni no HP Bapak, nanti kalau kamu dan bunda kamu perlu bantuan, kamu bisa telpon Bapak, ya.” Pak wahyu menyerahkan sebuah kartu nama pada Arumi sambil melangkah pergi.

Arumi menatap punggung Pak Wahyu yang berjalan menjauh menuju ke ruangan guru. Pak Wahyu guru yang ramah dan dekat dengan siswa. Disamping guru olah raga beliau juga pembina OSIS. Jabatannya sebagai pembina OSIS membuat dia dekat dengan siswa-siswanya.

*****

Hari minggu yang cerah Arumi di rumah sendiri. Suasana rumah yang sepi membuat Arumi bosan. Arumi mencari kesibukan dengan menyirami kembang-kembang bunda yang berada di teras rumah. Menatap kembang-kembang tersebut membuat Arumi jadi terhibur. Kembang-kembang yang indah seakan tersenyum kepadanya. Kembang yang sangat indah, batin Arumi.

“Pagi Arumi,” sebuah suara menyapa Arumi. “Saya boleh masuk,” lanjut suara itu lagi.

Arumi menatap pemilik suara tersebut, Om Handi teman mama. Laik-laki yang kemrin diusir sama mamanya, ngapain dia kesini?. “Om kenapa ke sini, bunda tidak ada di rumah,” jawab Arumi.

“Tadi Om sudah ke kafe tempat Bundamu bekerja, tapi tak ada Bundamu di sana, makanya Om ke sini, Om boleh masuk?” kembali Om Handi minta izin masuk.

Arumi terdiam, dia ingat pesan bunda. Bunda tidak membolehkan Arumi mengizinkan orang lain masuk ke dalam rumah kalau bunda tidak ada. Ingat pesan itu Arumi jadi takut. Takut nanti Om Handi akan berbuat jahat kepadanya.

“Kamu nggak usah takut Arumi, Om bukan orang jahat,kok. Apa wajah Om seperti orang jahat ?” dia bertanya sambil tersenyum ramah.

“Ini Om bawa buah tangan untukmu, Arumi,” tangannya mengangsurakan sebuah paper bag ke Arumi.

“Ayo diambil, anak manis. Nggak usah ragu,” Om Handi memaksa Arumi mengambil paper bag yang dibawanya.

.

Arumi bimbang akankah diizinkanya Om Handi masuk ke dalam rumah? Akankan diambilnya buah tangan dari orang yang baru dikenalnya ini. Nantikan di part 4 ya sahabat......

.

Bersambung

Dumai 14-04-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post