Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jangan Uji Kesabaranku (Last Part)

Tagur hari ke-25

#TantanganGuruSiana

.

Rianti tidak pernah merasa kekurangan materi lagi semenjak Aldo bekerja. Semua yang diinginkan dapat diperoleh dengan gampang. Baju-baju mahal dari merk terkenal sekarang sudah mulai menghuni lemarinya. Perawatan ke salon menjadi agenda rutin Rianti tiap bulan. Aldo memang suami yang tidak pelit dengan uang. Perhiasan mahal yang sering dihadiahkan Aldo menambah koleksi perhiasannya.

Aldo memberikan materi yang berlebih buat Rianti dan anak-anaknya, tapi tidak dengan waktu kebersamaan mereka. Kesibukan Aldo membuat sedikit sekali waktu buat Rianti dan anak-anak. Permohonan Rianti agar Aldo menyediakan waktu lebih buat keluarga dianggap angin lalu saja. Pekerjaan yag padat menjadi senjata Aldo setiap ditanya.

Rianti baru saja memarkir mobilnya di salah satu mall. Matanya terpaku pada mobil mewah yang tidak jauh parkir dari mobilnya. Seorang laki-laki turun dan membukakan pintu buat seorang wanita. Mereka kelihatan mesra. Rianti kaget bukan main. Laki-laki itu adalah Aldo suaminya.

Badannya jadi gemetar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Siapa perempuan yang bersama Aldo ? Aldo terlihat sangat baik memperlakukan perempuan tersebut. Hati Rianti terasa sakit sekali. Gairahnya mau belanja jadi hilang. Dengan hati yang galau Rianti meningglakan mall tersebut.

“Siapa perempuan yang bersama kamu diparkiran mall tadi siang, Mas?” rasa ingin tahu Rianti yang besar membuat dia langsung bertanya sewaktu Aldo pulang ke rumah.

Aldo menatap tajam Rianti. “Kamu mematai-matai saya, Rianti?” Aldo bertanya dengan nada tidak senang.

“Siapa yang memata-matai kamu, Mas? Saya kebetulah belanja ke mall dan melihat kamu dengan seorang perempuan. Siapa dia, Mas?” Rianti kembali bertanya.

“Rianti kamu tidak perlu bertanya siapa perempuan yang bersama saya, Rianti. Itu bukan urusanmu!” Aldo menjawab dengan suara datar.

“Jelas urusanku, Mas. Kamu kan suamiku,” suara Rianti terdengar bergetar.

“Aku memang suamimu, tapi bukan berarti kamu membatasi pergaulanku,” ketus jawaban Aldo. “Mulai sekarang berhentilah bertanya siapa wanita disekelilingku, karena aku tidak suka. “ Aldo berlalu meninggalkan Rianti

Rianti menangis. Hatinya terluka mendengar perkataan Aldo. Aldo tidak mempedulikan perasaanya. Hati Rianti terasa perih. Apa yang ditakutkan Rianti selama ini kalau Aldo berteman dekat dengan Johan terbukti. Perangai Johan menular ke suaminya.

*****

Pertemuan dengan Utari siang itu sedikit menghibur Rianti. Utari benar, tak usah terlalu dipikirkan sepak terjang Aldo di luar rumah. Hanya membuat sakit hati. Selagi dia masih pulang ke rumah biarkan saja. Utari menyarankan agar Rianti mencari kesibukan yang bisa mengisi waktu luangnya supaya tidak terlalu kepikiran dengan sikap suaminya.

Saran Utari diikuti Rianti. Rianti kembali menekuni usaha butik yang dulu sewaktu gadis pernah dirintisnya. Utari selalu siap sedia membantu Rianti. Berkat bantuan Utari usaha butik Rianti mulai berkembang. Teman-teman Utari yang banyak jadi pelanggan butik Rianti. Kesibukan Rianti di butik jadi pengobat hati bagi Rianti atas tindak-tanduk suaminya.

Kedekatan Aldo dengan banyak perempuan semakin menjadi-jadi. Laporan dan aduan dari teman-teman Rianti mengenai kedekatan Aldo dengan teman -teman wanitanya sering masuk ke gawai Rianti. Tak jarang disertai dengan photo-photo. Rianti bersikap cuek dan masa bodoh. Baginya Aldo adalah suami kalau berada di rumah tapi kalau Aldo sudah melangkah keluar rumah, Aldo bukan suaminya lagi. Rianti berusaha menerima kenyataan dan bersabar dengan keadaan.

Anak-anak merekapun sudah terbiasa dengan sikap papa mereka. Mereka lebih dekat dengan Rianti dibandingkan dengan Aldo. Ada atau tidak kehadiran papa mereka sudah tidak pernah dipertanyakan lagi oleh Dita dan Dito.

*****

Kepulangan Aldo sore itu membuat heran Rianti . Tidak pernah Aldo pulang secepat ini bahkan akhir-akhir ini Aldo sering tidak pulang. Pembukaan cabang hotel di kota lain selalu dijadikan Aldo alasan untuk keluar kota. Bahkan pernah seminggu Aldo tidak pulang ke rumah. Tumben hari ini pulang cepat? Batin Rianti.

Sikembar yang lagi menonton TV nampak tidak antusias menyambut kepulangan papanya. Selesai menyalami Aldo anak-anak melanjutkan menonton TV. Rianti sedih semakin hari kedekatan emosional buah hatinya dengan Aldo semakin berkurang.

“Rianti, ada yang mau aku bicarakan,” suara Aldo terdengar pelan. Rianti yang sedang mengecek laporan keungan butik di laptop menghentikan kegiatannya.

“Ya Mas, kamu mau bicara apa?” Rianti menatap suaminya heran.

“Rianti, aku mohon maaf sebelumnya, mungkin yang aku bicarakan akan menyakiti hatimu,” Aldo menatap Rianti.

Perasaan Rianti tiba-tiba jadi tidak enak. Gelagat Aldo memperlihatkan ada sesuatu yang yang tidak diinginkan Rianti akan terjadi. Degup dijantungnya mulai cepat iramanya. Rianti berusaha bersikap setenang mungkin. Dia berusaha untuk menata irama jantungya yang berdegup kencang.

“Johan menginginkan aku menikahi adiknya, bagaimana menurutmu?” Aldo berkata pelan.

Ucapan Aldo terdengar bagiakan petir disiang bolong oleh Rianti. Johan tahu bahwa Aldo sudah menikah dan punya anak, kenapa malah meminta Aldo untuk menikahi adiknya. Apa tidak ada laki-laki lain selain suaminya?

“Bagaimana Rianti ?” suara Aldo terdengar lagi.

“Jane, adiknya Johan ingin pernikahan resmi Rianti, jadi saya harap kami bersedia menandatangani surat ini.” Aldo menyerahkan berkas kertas kepada Rianti.

Bergetar tangan Rianti menerima berkas kertas itu dari suaminya. Netranya melirik surat tersebut. Surat pernyataan kalau dirinya bersedia dan tidak keberatan dimadu. Hati Rianti rasanya sangat sedih dan perih. Dia tak menyangka suaminya berani meminta kesediaan dirinya untuk dimadu. Rianti sudah pernah mendapat khabar kedekatan Jane dengan Aldo. Bahkan ada yang melaporkan kalau Aldo sudah menikah siri dengan adiknya Johan. Tapi Rianti bersikap cuek. Rianti berarap berita itu tidak benar. Tapi ternyata....

“Untuk apa minta izin, aku? Bukankah selama ini kamu sudah menikah dengan, Jane?” Rianti balik bertanya.

Aldo nampak kaget dia tak menyangka kalau pernikahan sirinya dengan adik sahabatnya sudah diketahui Rianti.

“Aku minta maaf Rianti, aku memang sudah sudah menikahi Jane dua bulan yang lalu secara siri. Tapi sekarang keluarganya Johan meminta pernikahan kami secara resmi, jadi aku mohon izin kamu.” Aldo memohon kepada Rianti.

“Apakah perlu ? Bukankah dengan uang dan kekuasaan Johan kamu bisa mendapatkan izinku?” Suara Rianti terdengar sinis.

“Rianti, aku hanya minta kamu menadatangani surat itu. Kamu jangan khawatir. Aku akan tetap bertanggung jawab kepada kalian.” Suara Aldo terdengar mulai keras.

Rianti benar-benar tak habis pikir, bagaimana Aldo bisa bicara seperti ini tanpa memikirkan perasaanya. Terbuat dari apakah hati laki-laki ini? Semakin hari Rianti semakin tidak mengenal suaminya. Jabatan dan harta sudah membutakan mata hatinya.

“Aku izinkan kamu menikah, Mas. Tapi kamu harus ceraikan aku dulu,” suara Rianti terdengar bergetar.

Aldo kaget tak menyangka Rianti akan berkata seperti itu. “Apa kamu sudah pikirkan dengan matang? Kalau kamu berpisah denganku, aku tidak akan membiayai kebutuhan kamu dan anak-anak. Apa kamu sudah siap?” suara Aldo terdengar angkuh.

“Insha Allah aku siap. Aku sudah berusaha sabar dengan semua kelakuanmu selama ini. Terlalu banyak ujian kesabaran yang kamu berikan. Aku menerimanya walau terkadang menyakitkan.Tapi sekarang aku menyerah, Mas. Jangan uji lagi kesabaranku.” Rianti tak tahan lagi menahan air matanya.

“Kalau begitu, aku akan menceraikanmu, Rianti. Tunggu nanti pengacaraku akan mengurus semuanya.” Aldo berlalu meninggalkan Rianti.

Tangis Rianti meledak setelah kepergian Aldo. Kedua anak kembarnya memeluk mamanya. Dita dan Dito berusaha menghibur mamanya. Walaupun tidak paham masalah mama dan papanya, mereka tahu bahwa mamanya sering menangis karena ulah papanya.

*****

Suara mobil mengagetkan Rianti. Rianti tidak tahu sudah berapa lama dari tadi dia melamun di ruangan tamu ini. Semua kisah hidupnya terputar bagaikan sebuah video di dalam pikirannya.

“Mama sudah siap? Ayok kita segera berangkat!” seorang pemuda ganteng menyalami Rianti.

Rianti menoleh melihat siapa yang datang. Dia Pramudito Altriando putra Rianti. Seorang pengusaha konveksi dan pemilik beberapa butik terkenal di daerah ini. Rianti menatap putranya, dia menganggukan kepala. Dito membimbimbing mamanya menuju ke mobil. Mobil keluaran terbaru itu melaju pelan membelah jalanan kota.

Dito memarkir mobilnya di sebuah rumah sakit terkenal, dan turun membukakan pintu untuk mamanya. Dito dan Rianti beriringan berjalan menuju sebuah kamar inap pasien, seorang dokter wanita yang cantik menyambut dan menyalami mereka. Dia dokter Pramudita Altrianda saudara kembar Dito, salah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit terkenal ini.

Rianti mencium putri cantiknya itu. “Mama, dari tadi papa menyebut nama Mama,” pelan Dita berbicara ke Rianti.

Rianti menantap laki-laki yang terbaring di tempat tidur pasien. Wajahnya kurus dan pucat. Matanya nampak cekung. Mendengar ada yang datang dia membuka matanya. Netranya tertuju kepada Rianti. Sejuta sesal nampak dimatanya. Rianti hanya diam hatinya terasa pedih kalau melihat laki-laki ini. Terlalu banyak kisah pilu yang ditorehkannya di hati Rianti.

“Terima Kasih kamu sudah mau datang melihatku, Rianti. Maafkan aku,” Suara Aldo mantan suaminya terdengar pelan.

“Aku sudah memaafkanmu.” Lirih terdengar suara Rianti.

“Aku kagum padamu Rianti. Kamu berhasil mendidik kedua anak kita. Aku menyesal meninggalkan kalian dulu dan tidak pernah mempedulikan kalian. Aku benar-benar laki-laki yang bodoh.” Suara Aldo terdengar menyesal. Tak ada suara yang terdengar. Semua diam dengan pikiran masing-masing.

“Aku sudah menerima ganjarannya. Allah sudah menghukumku,” lirih terdengar kembali suara Aldo. “Bisnis dan keluargaku hancur. Terima kasih Dita dan Dito kalian tidak dendam kepada papa, masih mau mengurus papa walaupun papa sudah jahat kepada kalian.” Suara Aldo terdengar makin lemah dan selanjutnya tidak terdengar suara lagi. Beside monitor yang berada disamping Aldo menampilkan garis lurus. Dita kaget dan meraba pergelangan tangan papanya. Suara tangisnya terdengar perlahan.

“Papa sudah meninggal,” bisiknya pelan.

Mereka semua terdiam. Rianti mengusap bening di sudut matanya. Walaupun Aldo sering menyakitinya, Aldo pernah hadir dalam hidupnya. mewarnai hari-harinya. Selamat jalan Aldo, bisik Rianti pelan. Semoga Tuhan memaafkanmu dan menempatkanmu di tempat yang layak, batin Rianti.

Tamat

Dumai, 23-4-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post