Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jangan Uji Kesabaranku (Part 2 ) Tagur hari ke 21

#Tantangangurusiana

.

Rianti termenung di tempat duduknya. Dia kehilangan gairah untuk menyelesaikan pekerajaan. Chat dari Aldo tadi betul-betul membuatnya bingung. Bagaimana cara mendapatkan uang untuk membayar uang kuliah Alda, adik iparnya. Aldo akan sangat marah kalau permintaannya tidak dituruti. Emosinya yang suka meladak-ledak membuat Rianti jadi takut. Pikirannya melayang kemana-mana.

Netranya melirik kursi yang ada di sebelahnya yang masih kosong. Biasanya kalau ada masalah seperti ini Utari adalah tempat dia mengadu. Rekan kerja sekaligus sahabatnya itu selalu punya cara untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi... Utari masih belum masuk kerja. Mau meminjam kepada kantor, Rianti merasa malu. Karena minggu kemarin dia sudah menghadap Pak Setyo HRD perusaaan untuk meminjam uang. Rianti memerlukan uang untuk menambah kekurangan biaya masuk kedua buah hatinya. Biaya masuk dua orang anaknya di SDIT yang cukup mahal bagi Rianti menguras tabungan yang dimilikinya.

[Mas, saya tak punya uang. Kan kemarin baru melunasi uang masuk sekolahnya anak-anak] Rianti membalas chat suaminya.

[Kamu sih, nggak mendengar saran aku. Anak-anak dimasukan ke sekolah umum saja. Kenapa harus ke SDIT segala. Menghabiskan uang saja] balas Aldo.

Rianti tercenung. Aldo memang menentang keras keputusannya untuk menyekolahkan kedua putra mereka di SDIT. Karena biayanya yang mahal sementara dia belum dapat pekerjaan. Tapi Rianti bersikeras agar anak-anak mereka bersekolah disana. Dia ingin agar anak-anak dapat pengetahuan agama yang lebih. Rianti sadar akan kemampuan dirinya yang tidak bisa memberikan pendidikan agama yang lebih baik terhadap Dita dan Dito

Mengharapkan Aldo untuk membimbing ? Jelas seperti pungguk meridukan bulan. Rianti paham betul suaminya tersebut. Mengerjakan sholat saja Aldo sangat malas, apalagi ibadah sunat lainnya. Membaca Al Quran jangan ditanya. Belum pernah Rianti melihat suaminya mengaji setelah menikah. Terakhir Rianti melihat Aldo mengaji sewaktu mereka mengikuti pembekalan pranikah di KUA. Karena waktu itu membaca Al Quran adalah syarat untuk menikah bagi pasangan Muslim di daerah Rianti.

Rianti berharap dengan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang memberikan pembekalan agama sejak dini bisa membuat putra-putri mereka lebih memahami ajaran agama. Jangan seperti dia dan suaminya.

*****

Rianti kaget melihat mobil yang terpakir di garasi sewaktu pulang kantor. Mobil siapa ini? Kenapa mobil ini ada di garasi mereka? Kemana mobil yang biasa mereka pakai? batin Rianti. Rianti melangkah memasuki rumah dengan sejuta tanya dibenaknya.

Rianti melihat Aldo dan kedua anaknya diruang keluarga sedang menonton TV. Saking asyiknya mereka menonton mereka tidak menjawab salam yang diucapkan Rianti. Kedua buah hatinya menghambur memeluk Rianti melihat mamanya sudah pulang kerja. Penat yang seharian di kantor jadi hilang melihat mereka berdua, dua orang buah hati yang selalu jadi penyemangat dalam hidupnya.

“Asyik sekali menontonya, sampai nggak menjawab salam Mama tadi, “ protes Rianti sambil mencubit hidung bangir kedua nak kembarnya.

“Maaf ya Ma, Kami tidak dengar tadi,” jawab Dita. Setelah mencium kedua pipi mamanya Dita dan Dito kembali menonton film kartun kesukaan mereka.

“Mas, mobil siapa yang berada di garasi?” Rianti bertanya kepada Aldo.

“Mobil kitalah.” Aldo menjawab cuek.

“Mobil kita yang biasanya mana,Mas?” Rianti menatap suaminya.

“Aku perlu uang untuk Alda, jadi aku pinjam uang teman aku. Tapi jaminannya dia minta tukar pakai mobil dengan kita,” jelas Aldo. “Kalau kita sudah melunasi uang mereka, baru mobil kita bisa diambil,” lanjut Aldo lagi.

“Tapi Mas kenapa tidak bicarakan sama aku dulu,” Rianti bertanya dengan suara pelan.

“Kenapa aku harus minta izin, mobil itu kan aku yang beli. Jadi suka-suka aku dong.” Aldo menjawab dengan sedikit keras.

“Mas nggak usah ngegas lah jawabnya, aku tahu mobil itu kamu yang beli. Tapi kan tak ada salahnya aku dikasih tahu, aku kan istri Kamu.” Suara Rianti masih terdengar pelan.

“Habis Kamu itu, pulang kerja bukannya buatkan suami kopi, tanya yang macam-macam. Lagian tadi aku kan sudah menghubungi kamu minta transfer uang ke ibu. Tapi... tidak ada kan? Kamu kan tahu Aku tidak kerja darimana aku dapat uang coba. Terpaksa aku pinjam ke teman aku.” Aldo berlalu masuk kamar meninggalkan Rianti.

Untuk kesekiankalinya Rianti mengurut dada. Melanjutkan pembicaarn dengan Aldo tidak akan menemui jalan keluar. Aldo yang keras kepala dan egois tidak akan mau mengalah. Kembali doa dilafazkan Rianti dalam hati, agar suaminya dapat berubah.

*****

“Mas ini jam tangan siapa?” Rianti heran melihat jam tangan merk terkenal terletak di nakas samping tempat tidur mereka.

“Punya aku.” Aldo menjawab tampa melepaskan pandangan dari game yang dia mainkan di gawai yang dipegangnya.

“Lho Mas.., kita kan lagi butuh uang, kenapa harus beli jam tangan yang mahal.” Rianti bertanya heran.

Aldo melemparkan kasar gawai ditangannya ke tempat tidur. Tajam sorot matanya menatap Rianti. Rianti sempat bergidik melihat suaminya.

“Rianti, Kamu bisa nggak sih menghargai Aku. Jangan terlalu cerewet, mentang-mentang aku tidak kerja kamu mengatur-ngatur aku.” Suara Aldo terdengar keras.

“Mas, aku cuma mengasih pendapat. Aku tidak mengatur kamu kok.” Rianti berusaha mengontrol emosinya sebaik mungkin agar jangan terpancing oleh perkataan Aldo.

“Lama-lama aku jadi tidak betah tinggal di rumah ini, menghadapi istri cerewet macam kamu.” Kasar terdengar suara Aldo.

“Kalau kamu tak betah di rumah, kamu kerja dong, Mas!” Rianti berusaha menjawab setenang mungkin.

“Apa kamu kira selama ini aku tidak berusaha mencari kerja ? Aku mencari kerja, Rianti. Jangan kamu kira aku duduk-duduk saja. Lagian kamu itu tidak sabaran. Suami baru tiga tahun saja menganggur kamu sudah ribut.” Aldo berlalu dari kamar meninggalkan Rianti .

Rianti tercenung, semua yang dijawab selalu salah di mata Aldo. Pembicaraan Rianti selalu ditanggapi kasar oleh suaminya Rasanya sudah lelah berdoa untuk Aldo, tapi kenapa Allah belum mendengar doaku? batin Rianti.

Aldo yang tiba-tiba masuk kembali ke kamar mereka mengagetkan Rianti. Dia menuju tempat tidur mengambil gawai yang dilemparnya tadi di tempat tidur. Tidak mengambil gawai saja, bantal dan selimut juga diambilnya.

“Malam ini aku tidur di kamar tamu. Malas aku sekamar dengan perempuan yang tidak pandai menyenangkan hati suami,” Aldo berkata dengan ketusnya. Dia keluar dari kamar dan menghempaskan pintu kamar dengan keras. Suara hempasan pintu mengagetkan Rianti. Jantungnya terasa mau copot.

Masalah apalagi ini? Keheranan Rianti dari mana suaminya mendapatkan jam tangan belum terjawab, suaminya memilih pisah kamar pula. Tuhan, beri aku kesabaran lebih menghadapi suamiku, doa Rianti.

Bersambung

Dumai, 20 April 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post