Jangan Uji Kesabaranku ( Part 3 ) Tagur hari ke-24
#TantanganGuruSiana
.
Sudah pukul 06.00 WIB Aldo belum juga bangun. Anak-anak sudah siap mau berangkat ke sekolah dari tadi. Rianti sudah berulang kali mengetuk pintu kamar tamu tapi tak ada sahutan terdengar. Aldo seakan-akan tidur seperti orang mati. Tidak biasanya Aldo seperti ini. Rianti yakin Aldo pasti mendengar panggilan dan sengaja mendiamkannya. Aldo pasti masih marah karena peristiwa tadi malam dan pagi ini dia sengaja membuatku kesal, batin Rianti.
Hati Rianti mendidih melihat kelakuan suaminya yang kekanakan. Jarum jam rasanya melaju sangat cepat. Ingin rasanya Rianti menggedor pintu kamar lebih kuat dan berteriak lebih kencang memanggil Aldo. Tapi Rianti tidak melakukannya. Rianti tidak ingin anak-anaknya pagi-pagi sudah melihat tontonan yang tidak baik.
Tergesa Rianti mengambil kunci mobil yang terletak dekat meja TV. Rianti meminta anak-anak segera naik ke mobil. Dia harus cepat-cepat mengantar anak-anak ke sekolah, biar jangan terlambat ke kantor nantinya.
Di garasi mobil Rianti tertegun sesaat melihat mobil yang ada depannya. Rianti ragu menggunakan mobil ini untuk mengantar anak-anak, tapi apa boleh buat hanya mobil ini satu-satunya kendaraan di rumah ini. Kalau mobil yang biasa mereka gunakan Rianti sudah paham memakainya, tapi mobil ini... Jujur dia belum pernah memakainya. Mobil keluaran lama. Semoga mobil ini tidak rewel dijalan, batin Rianti.
“Kamu kenapa sih, Mas? Akukan jadi terlambat ke kantor karena harus mengantarkan anak-anak ke sekolah dulu. Kan tugas kamu yang mengantarkan anak-anak” Rianti menegur Aldo yang lagi sarapan sekembalinya mengantar dua putra kembarnya. “Mana pagi ini ada meeting dengan pimpinan,” lanjut Rianti.
“Kamu saja yang tidak sabaran menunggu aku bangun,” Aldo menjawab dengan wajah cueknya.
“Lagian mau terlambat atau tidak bukan urusan aku.” Lanjutnya tanpa beban.
What..? Rasanya marah Rianti mau naik ke ubun-ubun melihat sikap suaminya. Tanpa merasa bersalah sedikitpun dia dengan tenang dan santainya menjawab. Dada Rianti rasanya bergemuruh menahan kesal. Ya Allah beri aku kesabaran lebih, untuk kesekian kalinya Rianti memohon kepada Rabbnya.
*****
Rianti mengangkat gawainya yang dari tadi berdering. Sekilas dia menatap nomor yang tak dikenal di layar ponselnya. Suara wanita terdengar dari nomor tersebut. Wajah Rianti tampak menegang. Dengan hembusan napas yang kuat dia menutup panggilan tadi. Utari sahabatnya yang duduk disamping heran melihat sikap Rianti.
“Ada apa Rianti? Kok kamu nampak kesal sekali. Siapa yang menelpon?”
“Istrinya bang Irsyad, teman mas Aldo,” Rianti menjawab lirih.
Utari mendengar dan menunggu kelanjutan cerita Rianti, biasanya sahabatnya itu selalu terbuka dengan masalahnya.
“Mas Aldo meminjam uang sama Mas Irsyad, ternyata uang yang dipinjamkan itu diminta sekarang, mereka mendadak butuh, kalau tidak di bayar mereka akan menggadaikan mobil kami yang sekarang ditangan mereka,” jawab Rianti
Utari terdiam, miris mendengar cerita sahabatnya. Selalu ada saja masalah. Utari kasihan kepada Rianti, wanita yang super sabar dan selalu mengalah. Kadang-kadang Utari geram mendengar cerita mengenai Aldo. Kalau aku punya suami sudah aku tinggalkan dari dulu, batin Utari.
“Kamu bisa memakai uang aku dulu Rianti,” Utari menawarkan bantuan.
“Makasih Utari, sekali ini aku tidak mau menerima bantuanmu. Aku ingin biar Mas Aldo yang memikirkan jalan keluarnya.” Jawab Rianti.
Rianti segan menerima bantuan sahabatnya. Rianti tahu Utari baru saja mengeluarkan uang banyak untuk biaya pengobatan orang tuanya. Rianti tidak mau membebankan masalah keluarganya pada Utari. Rianti berharap Aldo bisa mencari jalan keluar. Kalau jalan satu-satunya mobil mereka terpaksa dijual, apa boleh buat. Rianti hanya bisa pasrah pada keadaan.
*****
Rianti heran melihat mobil mereka yang digadaikan Aldo ke temannya sudah ada di garasi sewaktu dia pulang kerja. Kenapa mobil mereka sudah ada di garasi? Apakah Aldo sudah punya uang untuk menebus mobil ? Dari mana Aldo dapat uangnya ? berjuta pertanyaan bermain di kepala Rianti.
Keheranan Rianti bertambah sewaktu melangkah masuk ke dalam rumah. Wajah Aldo tampak cerah dan bersahabat. Senyum manis mengembang dibibirnya melihat kedatangan Rianti. Wajah romantis Aldo yang sudah lama tak dilihat Rianti kini telah kembali.Rianti heran melihat perubahan ini. Ada apa gerangan? Apa yang sudah merubah suamiku? Batin Rianti.
“Rianti, aku sudah dapat pekerjaan. Aku senang sekali.” Aldo berkata sewaktu Rianti mencium tangan suaminya itu.
“Aku ikut senang, Mas. Syukurlah... Kerja dimana Mas?” Rianti bertanya. Hatinya ikut bahagia mendengar berita suaminya sudah dapat pekerjaan. Tapi...perusahaan mana yang menerima Aldo, karena setahu Rianti Aldo sudah tak pernah lagi membuat surat lamaran ke perusahaan-perusahaan.
“Tadi aku jumpa dengan Johan, dia mengajak aku kerja bantu dia mengelola bisnisnya. Aku menerimanya. Dan tadi dia memberi aku pinjaman uang. Jadi aku bisa ambil mobil kita kembali sama temanku,” Aldo menjawab keheranan Rianti.
Rianti tertegun, kegembiraanya mendengar Aldo dapat pekerjaan sirna seketika bagai kapas ditiup angin. Johan..., Rianti sangat kenal dengan teman suaminya itu . Hampir sebagian orang di kota ini kenal dengan Johan. Sepak terjangnya dibisnis hiburan sangat terkenal. Dia pemilik beberapa tempat hiburan malam di kota ini. Seorang pengusaha muda yang suka pesta dan hidup dikelilingi wanita-wanita cantik. Disamping mengelola tempat hiburan Johan juga memiliki beberapa kafe dan restoran.
Aldo suaminya mau bekerja dengan Johan? Apa artinya ini ? Suaminya mau membantu bisnis Johan? Bisnis yang mana ? Jujur Rianti tidak menyukai jika Aldo bekerja dengan Johan, apalagi kalau Johan nanti meminta Aldo mengelola bisnis hitamnya. Dia tidak mau nanti makan dari uang yang diperoleh dengan cara yang tidak hahal.
“Kenapa kamu diam ? Kamu tidak senang saya dapat pekerjaan.” Aldo menatap Rianti.
“Bukan tak senang, Mas. Aku senang kamu dapat pekerjaan. Tapi kamu kan tahu Johan itu orangnya kayak mana.” Rianti berbicara dengan sangat hati-hati takut nanti Aldo emosi.
“Kamu itu gimana sich? Bawaannya curiga saja sama orang. Aku ini bukan anak kecil Rianti. Aku tahu mana yang buruk dan mana yang baik. Mana yang halal dan mana yang haram. Kamu tenang saja, Yang penting uang yang aku kasihkan ke kamu nanti aku pastikan uang yang halal,” jelas Aldo dengan suara yang sedikit tinggi.
Rianti terdiam mendengar nada bicara Aldo yang sudah mulai naik. Percuma berdebat dengan Aldo dia pasti tak akan mengalah. Yang ada nanti pertengkaran yang terjadi. Rianti berharap semoga Aldo memberikan rejeki yang halal buat dia dan anak-anaknya. Semoga Aldo tidak salah menerima pekerjaan dari Johan.
*****
Rianti bersyukur karena Johan tidak meminta Aldo mengurus bisnis hiburan malamnya. Johan menempatkan Aldo sebagai General Manager di hotel miliknya. Bisnis yang baru mulai dirintis Johan. Persaingan bisnis perhotelan yang sangat ketat membuat Aldo harus kerja keras untuk meningkatkan okupansi hotel yang dipimpinya. Apalagi hotel yang dipercayakan oleh Johan kepadanya adalah hotel baru perlu promosi lebih biar bisa dikenal orang.
Pekerjaan Aldo sebagai GM sangat menyita waktu. Berbagai strategi marketing diterapkan agar tingkat hunian hotel tinggi. Tak jarang Aldo pulang sampai larut malam. Kesibukan seperti ini membuat Aldo meminta Rianti resign dari pekerjaan. Aldo berharap agar Rianti hanya fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak saja.
Hari ini adalah hari pertama Rianti resign dari kantor. Sebenarnya Rianti keberatan resign, apalagi selama ini dia merasa mampu menjalankan perannya sebagai ibu tumah tangga dan wanita karir dengan baik. Tapi beradu argumet dengan Aldo hanya akan menimbulkan keributan. Harus ada yang mengalah. Rianti memilih mengalah. Rianti teringat lagi pesan ayahnya, sorga istri terletak pada suaminya, patuhilah suamimu selagi dalam kebenaran.
*****
Rianti mulai disibukan dengan aktivitas sebabagi ibu rumah tangga. Mengurus rumah, memasak dan mengantar jemput buah hatinya adalah pekerjaan rutinnya sekarang. Sikembar Dito dan Dita sangat senang kerena punya waktu lebih banyak dengan mamanya.
Siang itu sepulang sekolah Dita dan Dito merengek-rengek minta diajak makan di restoran Jepang. Tidak ingin mengecewakan buah hatinya Rianti memarkir mobil di depan restoran yang terkenal dengan sushinya tersebut.
Langkah kaki Rianti tertegun waktu melihat empat orang yang duduk di meja sebelah kanan. Mereka Johan dan Aldo suaminya serta dua orang teman wanita mereka. Siapa dua perempuan muda yang sangat cantik dan seksi yang bersama suaminya dan Johan ? Kenapa mereka terlihat sangat akrab ? pertanyaan-pertanyaan itu bermain-main di kepala Rianti
Suasana restoran yang ramai siang itu membuat Rianti bisa masuk tanpa terlihat oleh Aldo dan Johan. Untuk menghindari bertemu dengan Aldo sengaja Rianti mengajak putra kembarnya duduk di lantai dua restoran. Rianti tidak ingin kedua putranya melihat papanya dan temannya makan disini dengan teman wanitanya.
*****
Tawa Aldo yang sedang bermain dengan dua putranya di ruang keluarga membuat Rianti tersenyum. Hatinya menghangat. Rianti sangat menyukai suasana seperti ini, tapi sayang suasana ini sangat jarang terjadi sekarang. Kesibukan Aldo membuat dia sering pulang larut malam. Aldo sering pulang ketika putra mereka sudah terlena dalam mimpi.
“Makannya sudah siap, ayo kita makan malam,” suara Rianti menghentikan Aldo dan anak-anaknya yang sedang bermain. Bergegas mereka menuju ruang makan.
Makan malam berlangsung dengan riang, celoteh Dita dan Dito mewarnai suasana di meja makan. Selesai makan Aldo mendampingi sikembar belajar. Rasanya Rianti bahagia sekali melihat Aldo punya waktu luang untuk buah hati mereka. Niatnya yang dari siang tadi mau menanyakan siapa perempuan yang makan di restoran dengan suaminya dan Johan jadi ragu untuk ditanyakan ke Aldo.
“Anak-anak sudah tidur, Mas?” Rianti yang sedang membersihkan muka dengan cleansing milk bertanya sewaktu Aldo masuk kamar mereka. Aldo menganggukan kepala, tangannya mengambil gawai yang sedari tadi terletak di nakas. Aldo mulai memainkan benda pipih tersebut.Tak ada suara diantara mereka berdua.
“Tadi siang kamu kenapa nggak makan pulang, Mas?” Rianti mencoba mencairkan suasana.
“Tadi siang aku makan di kantor. Ada pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan,” Aldo menjawab tanpa mengalihkan netra dari gawai yang dipegangnya.
Deg.. Jantung Rianti berdebar kencang. Aldo mengatakan makan siang di kantor? Lalu siapa yang dilihatnya di Restoran pada jam makan siang tadi? Kenapa Aldo berbohong? Apa hubungan Aldo dan Johan dengan dua perempuan cantik tadi?
Tangan Aldo yang tiba-tiba sudah memeluknya dari belakang mengaggetkan Rianti. Sudah lama Aldo tidak seromantis ini. Dada Rianti berdebar. Rianti membalas pelukan suaminya. Mata mereka saling tatap. Rianti paham arti tatapan itu. Ada rindu di mata suaminya. Niat Rianti yang mau mengatakan kalau dia melihat Aldo dan Johan di resoran tadi siang dibatalkanya. Rianti tidak mau merusak suasana malam ini dengan membuat suaminya jadi bad mood.
bersambung
Dumai 22-04-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan