Jangan Uji Kesabaranku (Part 1) Tantangan Guru Hari ke 20
#TantannganGuruSiana
.
Taksi yang mengantarkan Rianti berhenti tepat di halaman rumahnya. Pekerjaan kantor hari ini sangat menyita raga dan pikirannya. Tidak pernah Rianti merasakan sepenat ini. Beberapa laporan keuangan yang masuk tadi pagi harus dicek kemudian diinput ke sistem dan secepatnya harus dikirim ke kantor pusat. Pekerjaan yang sangat melelahkan dan perlu kosentrasi penuh. Salah input angka bisa berakibat fatal. Makanya diperlukan kehati-hatian tingkat tinggi. Semua dikerjakan Rianti sendiri, karena Utari rekannya masih berada di kampung melihat orang tuanya yang sakit.
Rianti mengucapkan salam memasuki rumahnya. Tiada terdengar suara yang menyahut. Rumah kelihatan sepi dan hening. Kedatangan Rianti disambut dengan dentingan jam yang bernyanyi dari ruang keluarga menandakan sudah pukul 17.00 WIB.
Biasanya Rianti pukul 16.30 WIB sudah sampai di rumah. Pekerjaan di kantor tadi membuat dia terlambat pulang. Kemana suami dan anak-anakku, batin Ranti lagi. Mungkin suami dan anak-anak lagi di taman belakang, pikir Rianti.
Di atas taksi tadi Rianti sempat membayangkan ingin merebahkan raga sejenak di atas tempat tidur biar badan terasa segar, tapi kayaknya keinginan Rianti tidak akan terujud. Suasana rumah yang seperti kapal pecah membuatnya tidak bisa mengistiratkan badan yang lelah. Di meja ruang tamu baju-baju sekolah Dita dan Dito dua anak kembatnya teronggok ditimpa tas-tas sekolah mereka. Mainan kedua buah hatinya berserak di lantai. Piring-piring kotor menumpuk di meja makan dengan remah nasi yang berceceran di mana-mana.
“Mama sudah pulang?” Dita berlari dari arah dapur menyalami tangan Rianti. “Mama lama sekali pulangnya,” sambung putri cantiknya itu.
“Mama kerja anak manis. Kalau mama pulang cepat, kerjaan Mama nantikan tidak selesai,” Rianti menjawab sambil mencium putrinya.
“Dito mana, Nak?”
“Ada mama, lagi ditaman belakang,” jawab Dita.
“Kalau Papa, dimana ?”Rianti bertanya lagi kepada putrinya.
“Barusan Papa pergi Ma, mungkin ke warung depan.”
“Ya Udah, ini udah sore. Dita dan Dito mandi ya, mama mau beres-beres dulu.” Rianti berlalu menuju kamar .
Setelah ganti baju, Rianti mulai berkutat membersihkan rumah. Menyapu, mencuci piring, merapikan barang-barang yang berserak semua dikerjakan oleh Rianti. Badan yang terasa lelah tidak dihiraukannya. Kondisi ini sudah hampir setahun dijalani Rianti. Dulu ada ART yang membantu dia bekerja di rumah. Jadi pulang kerja Rianti tidak harus disibukan oleh pekerjaan rumah tangga. Rianti bisa rehat sepulang kerja.
Sikembar yang sudah masuk sekolah membuat pengeluaran keluarga jadi bertambah. untuk menghemat pengeluran Rianti terpaksa memberhentikan asisten rumah tangga mereka. Semenjak itu semua pekerjaan rumah di handle Rianti sendiri.
“Kamu sudah pulang?” suara Mas Aldo suaminya mengagetkan Rianti yang sedang memasukan pakaian kotor ke mesin cuci.
“Mas tadi kemana? Anak-anak kok ditinggalkan berdua saja di rumah?” Rianti menyalami suaminya.
“Aku tadi ke warung depan sebentar, beli rokok. Rianti bikinkan kopi dong.” Aldo berlalu menuju taman belakang.
Rianti menganggukan kepala dan menjerang air dengan panci di kompor. Aldo suaminya tidak mau minum air kopi yang diseduh dengan air dari dispencer. Airnya harus direbus dan mendidih. Takaran gula dan kopinya harus pas. Dia akan marah dan mengamuk kalau permintaanya tidak sesuai dengan seleranya. Rianti pernah disembur dengan kopi hangat karena salah menakar gula dalam kopinya.
Aldo suami Rianti dulunya adalah suami yang baik dan pengertian, semenjak PHK yang diterimanya tiga tahun yang lalu sikapnya berubah 180 derjat. Tak ada lagi sikap manis yang diperlihatkannya. Yang ada dalam dirinya hanya sifat amarah. Tersinggung sedikt saja akan menyulut emosinya. Kadang-kadang tangannya sangat ringan melempar benda-benda yang ada didekatnya.
Sikapnya makin parah setelah tidak mendapatkan pekerjaan. Kerjanya setiap hari hanya didepan TV, merokok, dan memainkan gawainya. Tidak tergerak sedikitpun hatinya untuk membantu Rianti.
“Ini Mas kopinya,” Rianti meletakan kopi di depan suaminya.
“Kok lama sekali? Kamu bikin kopi sambil melamun ya.” Aldo menerima kopi dari tangan Rianti sambil bersungut.
Rianti diam tidak menjawab. Bukan terima kasih yang didapat dari suaminya, malah omelan yang diterimanya. Rianti mengurut dada dan mendamaikan hatinya supaya jangan terpancing emosi. Cepat-cepat dia berlalu dari hadapan suaminya.
*****
Pagi-pagi sekali sebelum azan shubuh berkumandang Rianti sudah bangun. Di saaat orang-orang masih nyenyak di peraduan, dia sudah berkutat di dapur menyiapkan sarapan dan makan siang untuk keluarga kecilnya. Rutinitas yang sama setiap pagi. Rianti menjalani dengan ikhlas dan sabar.
Selesai sholat subuh makanan untuk sarapan sudah terhidang di meja makan. Sigap Rianti berlari ke halaman belakang menjemur pakaian yang dicucinya sore semalam.
Selasai menjemur pakaian ia segera membangunkan kedua anak kembarnya.Membangun Dita dan Dito harus dengan sabar. Kedua anak kembarnya harus dibujuk dengan lemah lembut, suara yang keras akan membuat mereka menangis. Kalau sudah menangis membutuhkan waktu yang lama untuk menenangkannya.
Selesai memandikan dan memasangkan pakaian kedua anaknya , Rianti menuju kamarnya. Aldo suaminya masih terlena dalam mimpi indahnya. Rianti membangun suaminya. Ini sudah yang kedua kalinya Rianti membangunkan Aldo. Waktu azan tadi Rianti sudah membangunkannya untuk sholat shubuh. Bukannya mau sholat, malah Rianti yang kena marah oleh Aldo karena mengganggu tidurnya.
“Mas, bangun! Anak-anak sudah menunggu di meja makan.” Rianti mengoyang-goyang badan suaminya. Matanya terbuka dan menatap istrinya yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
“Aku menyusul nanti ke meja makan, “ Aldo menyahut sambil bangkit dari tempat tidur.
Dita dan Dito sarapan dengan semangat, nasi goreng yang disediakan Rianti habis dilahap dua buah hatinya tersebut. Sambil makan Dita dan Dito berciloteh dengan riang.
“Dita, Dito kalau udah selesai sarapannya segera ke mobil ya nak!” Rianti mengingatkan dua anaknya agar segera menunggu papanya di mobil.Tampa membantah mereka berdua mencium tangan mamanya dan berlari ke mobil yang sudah dipanaskan mesinnya oleh papanya.
Dita dan Dito sekolah di sebuah SDIT yang cukup jauh dari rumah. Arah sekolah mereka yang berlawanan membuat Dita dan Dito tidak bisa berangkat bareng dengan Rianti. Dita dan Dito diantar oleh papanya. Sedangkan Rianti kalau pagi biasaya naik grab motor. Karena satu-satunya mobil kendaraan keluarga mereka dipakai Aldo mengantar si kembar ke sekolah.
“Bensin mobil habis, Rianti.” Aldo berkata setelah anak-anak disuruh menunggu di mobil. Rianti heran baru dua hari yang lewat Aldo minta uang bensin, kenapa hari ini minta lagi. Menanyakan ke Aldo sama saja memancing perang dipagi hari. Rianti memilih lebih bailk diam.
Rianti membuka dompet mengeluarkan dua helai uang seratus ribuan dan menyerahkannya ke tangan suaminya.
“Mana cukup, rokok sama paket data aku juga sudah habis, “ jawab Aldo. “Tambahin dong,”lanjutnya.
Rianti kembali mengeluarkan uang seratus ribuan. Aldo menerima uang tersebut dan berlalu dari hadapan Rianti tampa mengucapkan terima kasih.
Suara mobil Aldo terdengar meninggalkan garasi. Suasana rumah berubah jadi hening, Rianti mengangkat ke belakang semua piring bekas sarapan mereka dan menyusunnya di wastafel. Suara panggilan dari driver grab motor yang sudah diorder membuat langkah Rianti terburu-buru ke depan.
*****
Suara notif dari gawai Rianti menghentikan pekerjaan Rianti yang lagi mengetik laporan keuangan. Rianti mengambil handphone yang terletak disamping komputer dan membaca notif dari aplikasi hijau yang masuk barusan. Dari Aldo suaminya.
[Ibu minta uang, untuk bayar uang kuliah Aida], chat dari Aldo.
[Transfer siang ini ya, 4,5 juta] chat lanjutannya masuk.
Rianti membaca chat tersebut, tiba-tiba kepalanya menjadi berdenyut. 4,5 juta ? Uang dari mana? Batinnya. Saldo ditabungan saja nggak cukup segitu, batin Rianti lagi.
Aldo dua orang bersaudara. Adik perempuannyanya, Aida masih kuliah semester akhir di sebuah perguruan tinggi di kotanya. Adik Aldo hanya tinggal berdua dengan ibunya, mertua Rianti. Mereka tidak punya bapak lagi. Bapak mertua Rianti meninggal dua tahun setelah pernikahan mereka. Setelah Bapak meninggal otomatis seluruh biaya ibu dan adiknya jadi tanggung jawab Aldo sebagai anak tertua.
Aldo dahulu seorang manajer di sebuah perusahaan. Perusahan yang bangkrut membuat Aldo di PHK. Sebelum di PHK kehudupan mereka baik-baik saja. Posisi Aldo sebagai menager menyebabkan gaji yang diterima Aldo lumayan besar. Meraka bisa hidup dengan sangat layak. Membiayai ibu dan adik perempuannya tidak masalah bagi Aldo. Mereka tidak pernah kekurangan.
Sebelum menikah dengan Aldo, Rianti bekerja di sebuah butik milik temannya. Setelah menikah Rianti tidak diizinkan Aldo bekerja. Rianti di rumah saja karena Aldo beralasan ingin mempunyai anak secepatnya. Kesibukan Rianti takut bisa menyebabkan keinganan punya anak jadi lambat. Setahun setelah menikah mereka dikarunia anak kembar. Kehadiran anak kembarnya membuat Rianti jadi sangat sibuk dan tidak kepikiran mau bekerja lagi.
Kedua orang tua Rianti awalnya tidak setuju Rianti resign dari pekerjaanya karena mereka sudah bersusah payah menguliahkan Rianti sampai sarjana. Tapi mereka sadar bahwa setelah menikah anak gadis mereka adalah milik suaminya. Harus patuh dan taat kepada suami. Surga istri terletak pada suami, begitu pesan yang disampaikan oleh Ayah Rianti sewaktu dia sudah sah jadi istri Aldo. Semenjak itu ijazah sarjana yang dimilikinya ditidurkan dilemari.
Setelah di PHK Aldo susah mendapatkan pekerjaan, sementara kebutuhan rumah tangga semakin besar. Sehingga Rianti berinisitif untuk mencari pekerjaan. Kemujuran berpihak pada Rianti, dia diterima sebagai staf accounting diperusahaan tempat dia bekerja sekarang. Aldo yang sudah memasukan lamaran pekerjaan kemana-mana belum juga dapat panggilan kerja.
Setelah Rianti bekerja, Aldo tidak pernah lagi mencari pekerjaan. Dia berubah jadi pemalas. Pernah ada perusahaan yang menerima dia bekerja, tapi terkendala masalah gaji. Standar gaji yang disediakan dianggap Aldo terlalu rendah, sehingga dia menolak tawaran itu. Rianti sudah berusaha membujuk, tapi malah mereka jadi ribut.
Rianti selalu memberi semangat kepada Aldo untuk tetap mencari pekerjaan. Tapi jangankan mendengar yang ada malah Aldo mengatai-ngatai Rianti dengan ucapan yang tidak mengenakan dan membuat Rianti jadi terpancing emosi. Ujung-ujungnya perang mulut. Rianti takut kalau sering ribut akan mempengaruhi psikologi Dita dan Dito. Jadi Rianti lebih memilih diam. Berusaha untuk sabar.
[Kamu sudah mentrasfer uangnya Rianti ?] chat dari Aldo membuyarkan lamunan Rianti.
bersambung
Dumai 18-04-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan