Jason Siswaku ( Last Part ) (tantangan hari ke-9) TantanganGuruSiana
Yuks ikutin sambungan cerbungnya sahabat....
Sekolah tempatku mengajar terletak dipusat kota kabupaten. Letaknya yang strategis dan fasilitas yang lengkap menyebabkan sekolah ini jadi idaman setiap calon siswa dan orang tua. Taman sekolah yang indah dan tertata rapi memanjakan setiap mata yang berkunjung ke sekolah ini. Pohon-pohon ketapang yang rindang dan beberapa batang pohon mangga yang sedang berbuah semakin membuat sekolah ini kelihatan asri dan nyaman. Kolam ikan kecil dengan air mancurnya menjadi pelengkap keindahan sekolah ini.
Pondok-pondok kecil tempat siswa duduk tersebar dibeberapa titik di sekolah ini. Pondok ini akan ramai diserbu siswa dijam istirahat dan jam literasi. Tempat ini menjadi tempat favoritku jika mengajak siswa belajar di luar kelas.
Pagi ini aku tidak ada jam mengajar. Aku duduk disalah satu bangku yang ada di pondok. Mataku menatap lepas ke halaman sekolah memperhatikan siswa yang sedang belajar olah raga. Pak gunawan memberikan beberapa tekhnik cara mendrible bola basket. Aku memperhatikan lelaki itu dari kejauhan. Ganteng memang. Tapi kenapa tidak ada rasa di hatiku untuknya. Setiap malam di sujudku aku selalu memohon kepadaNya, kalaulah memang dia jodoh yang dikirim Allah untuku, dekatkanlah kami, tumbuhkan rasa di dalam hatiku padanya. Tetapi kalau tidak jauhkanlah kami. Aku yakin dan percaya Allah akan memberikan jodoh terbaik untukku.
“Ketahuan..., lagi memperhatikan pak Gun, ya?” Bu Karin guru olah raga rekan pak Gunawan mengagetkanku.
“Ih... Bu Karin, siapa yang memperhatikan Pak Gun,” jawabku malu. “Rini kebetulan lagi tidak ada jam mengajar, Bu. Duduk di taman ini nyaman, sambil mencari inspirasi mau buat puisi.” Aku memperlihatkan kertas tulisanku yang berisi kumpulan puisi.
“Mentanglah guru bahasa Indonesia, dimana duduk disitu karya tercipta.” Bu karin duduk disampingku.
“Ibu dengar Gunawan mau melamar kamu, ya Rin.” Bu karin mengambil posisi duduk dibangku tepat di depanku.
“Ih.... Bu Karin kepo deh. Ibu tahu dari mana?” aku menatap bu Karin sambil tersenyum.
“Sebelum dia mengajar di sini kami sudah saling kenal. Gunawan itu kan adik tingkat ibu sewaktu kuliah. Ibu sudah mengaggap dia seperti adik sendiri. Dia pernah cerita sama ibu, kalau mau melamar kamu. Kalian kan sudah kenal dari lama. Ibu rasa Pak Gunawan laki-laki yang baik dan cocok buat kamu.” Bu Rini berkata serius sambil menatap mataku.
“Banyak loh Rini, guru-guru disini yang mau mejadikan dia menantu, tapi karena ada kamu, banyak yang segan mengutarakan,” lanjut bu Karin sambil tersenyum.
Aku tersenyum menanggapi perkataan bu Karin. Di sekolah ini hanya aku dan Pak Gunawan guru yang belum menikah. Keadaan ini membuat aku sering jadi bahan ledekan teman-teman guru. Bu Karin benar, banyak ibu-ibu guru disini yang sering menggoda Pak Gunawan untuk menjadi menantunya.
*****
Keputusanku untuk menolak lamaran Pak Gunawan akhirnya kusampaikan kepada Bapak dan Ibu. Aku tidak menemukan jawaban dari setiap doaku kepadaNya untuk didekatkan dengan Pak Gunawan. Bahkan yang ada setiap hari aku semakin berusaha menghindarinya.
Terlihat ada kecewa dimata kedua orang tuaku. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka paham sifatku yang keras kepala dan berpendirian kuat. Maafkan aku bapak dan ibu, batinku. Bagiku menikah bukan hal main-main. Menikah hanya sekali seumur hidup. “Witing tresno jalaran suku kulino” prinsip itu tidak sesuai denganku. Aku tidak mau mempertaruhkan hidup untuk suatu hal yang belum jelas.
*****
“Rini..., kamu ingat Ustadz Lukman teman Bapak,” sehabis makan malam bapak bertanya kepadaku.
“Kenapa, Pak? Bapak mau menjodohkan ustadz Lukman denganku,” aku menjawab menggoda Bapak.
“Memangnya kamu mau, jadi istri kedua ustadz Lukman? Kamu mau jadi adik madunya Umi Syifa?” ibu ikutan nimbrung sambil tertawa.
Aku tertawa mendengar candaan ibu. Ustadz Lukman dan Umi Syifa sahabat bapak dan Ibu. Aku sering diajak berkunjung ke rumah mereka. Usia mereka berdua lebih tua dari kedua orang tuaku.
“Kemarin waktu sholat jemaah di mesjid, ustadz Lukman bicara sama Bapak, ada seorang jemaah beliau mau ta’aruf dengan kamu.” Bapak berkata sambil menatapku.
Aku terdiam, ada apa lagi ini? Batinku.
“Bagaimana, Kamu mau?”. Mata Bapak menatapku penuh harap.
“Pak Ustadz cerita, anaknya sudah sangat dewasa, pengetahuan agamanya bagus. Pekerjaannyapun mapan.” Bapak melanjutkan pembicaraannya.
Tuhan..., aku harus jawab apa lagi. Apa aku harus menolak lagi?
“Semuanya Rini serahkan kepada Bapak dan ibu, kalau menurut bapak dan Ustadz dia laki-laki yang baik, Rini setuju.” Jawaban itu keluar tanpa minta persetujuan dulu dari dibibir.
“Alhamduillah....” Ucapan syukur keluar berbarengan dari mulut kedua orang yang aku sayang.
Tuhan ada apa ini, kenapa jawaban itu yang keluar? Kenapa lisanku berkata seperti itu. Siapa yang menggerakan bibirku untuk menjawab seperti itu? Kenapa itu yang terlahir dari lisan ini? Apa itu benar-benar keluar dari hatiku?. Kenapa aku bisa menyetujui ta’aruf dengan laki-laki yang belum aku kenal. Apakah tindakan aku ini benar? Apakah aku harus membatalkan perkataanku tadi? Sejuta tanya berkecamuk di benakku.
Aku menatap dua orang tersayang di depanku yang sedang berbahagia mendengarkan aku menyetujui proses ta’aruf yang ditawarkan ustadz Lukman. Ya Tuhan kalau aku batalkan, aku tahu mereka akan bersedih. Apakah aku rela merenggut sinar bahagia di mata mereka untuk kesekian kalinya?
“Bapak harus segera hubungi pak Ustazd Lukman, perbuatan baik harus disegerakan.” Ibu nampak senang dan bersemangat.
Aku tinggalkan dua orang terkasih itu menuju kamarku. Aku mengambil wudhuk dan menunaikan sholat isya. Dihamparan sajadah selesai sholat aku berdoa kepada Allah, semoga jawaban aku tadi kepada bapak dan ibu adalah jawaban yang benar. Kalau dia memang calon yang baik untukku dekatkanlah kami. Doa yang selalu aku ucapkan kalau ada laki-laki yang mau dijodohkan untukku.
*****
Proses ta’aruf berjalan dengan lancar. Keluargaku dan keluarga calon yang dita’arufkan kepadaku sudah saling megenal. Kedua orang tua calon suamiku sangat baik, dia merestui aku jadi calon istri putra mereka. Dua bulan setelah ta’aruf kami melangsung pernikahan. Pernikahan yang meriah digelar oleh bapak dan ibu untukku. Putri semata wayang meraka.
Sekarang aku sudah menikah. Aku sudah menjadi istri dari seorang Joddy Pramudya, ST, M.Sc. Itulah nama suamiku. Instansi tempatnya bekeja menempatkan dia di salah satu perusahaan minyak terbesar tanah air di kotaku. Jabatan yang cukup tinggi dipegang suamiku. Dia anak pertama dari dua bersaudara, tapi adiknya sudah meninggal.
Selesai menikah, Mas Joddy begitu akau memanggilnya memintaku untuk tidak mengajar lagi. Dia menginginkan aku sepenuhnya mendampinginya. Semula aku keberatan, tetapi aku paham sebagai istri aku harus mematuhi suamiku.
Sebulan setelah pernikahan kami, suamiku mengajakku mengunjungi orang tuanya. Karena setelah menikah aku belum pernah mengunjungi mertuaku. Kota kami yang berjauhan dan izin yang belum didapatkan suami dari empat kerjanya membuat rencana mengunjungi mertua baru bisa terlaksana sekarang.
Kedatangan kami disambut hangat oleh kedua orang tua Mas Joddy dan beberapa saudara mereka. Mama mertua, memperkenalkan aku dengan saudara-saudara yang lain. keluarga yang sangat hangat batinku. Aku merasa senang diterima dikeluarga ini. Semoga aku bisa jadi menantu yang baik buat mereka. Batinku.
Suamiku mengajakku memasuki ruangan keluarga. Sebuah photo besar yang berada diruangan keuarga membuatku kaget. Photo anak laki-laki yang berada di samping ibu mertuaku, photo dari anak yang sangat aku kenal, Jason. Ya benar dia Jason, muridku. Murid kesayanganku. Kenapa dia berada diantara keluarga suamiku? Reflek aku berjalan mendekati dan menatap photo itu. Netraku menatap tidak berkedip. Dadaku terasa hangat.
“Dia Jason, adikku.” Mas Joddy berkata menjawab keherananku.
“Jadi Jason...,” aku tergagap. Lidahku kelu. Badanku terasa mau jatuh.
“Jason adiku satu-satunya. Jason sudah meninggal, Rini. Kecelakaan motor delapan tahun yang lalu telah merenggut nyawanya.” Mas Joddy menjawab sambil menopang badanku yang mau tumbang.
Aku terisak. Mas Joddy memeluku. Aku menangis dalam pelukan suamiku. Delapan tahun yang lalu..., berarti kejadinnya setelah dia lulus sekolah dan melanjutkan kuliah. Pantas selama ini dia tidak pernah menghubungiku. Pantas WA dari ku tidak penah dia balas. Ternyata Allah telah memanggilnya. Bahuku berguncang, rasa kehilangan yang dalam kurasakan. Terbayang tingkah lucu dan kekonyolannya membuatku semakin sedih. Suasana jadi hening diruangan ini. Mama mertuaku juga nampak menangis. Tak ada yang bersuara, hanya isak tertahan terdengar dari orang-orang yang berada di sini.
Mas Joddy mengajaku masuk ke sebuah kamar. Kamar Jason. Kamar dengan nuansa biru, warna kesukaan Jason. Kamar ini nampak rapi dan terawat. Di dinding kamar sebelah kanan nampak photo Jason lagi duduk di atas motor. Beberapa poster moto GP terpajang di dinding kamar. Gitar kesayangannya juga ada terletak dipojok kamar. Gitar yang selalu digunakan Jason mengiringiku bernyanyi. Di meja belajarnya aku melihat photo seorang wanita. Ya... itu photoku. Photoku yang sedang tesenyum berada diatas meja belajarnya. Aku tidak tahu kapan dan dimana dia mengambil photo itu.
Suamiku membuka lemari yang kecil yang berada disamping tempat tidur. Dia membimbingku duduk diatas tempat tidur adiknya.
“Jason kecelakaan dihari pertama dia kuliah. Motor yang dibawanya menabrak mobil. Hampir 1 tahun dia koma. Sebelum dia meninggal dia sempat sadar, dia menyebut nama Bu Rini, kami tidak tahu nama siapa yang disebutnya. Adikku tidak pernah bercerita mengenai teman-temanya. “ Suamiku terdiam ada sedih diwajahnya.
“Kematian Jason membuat kami semua sangat terpukul. Dia adikku satu-satunya. Mama dan papa juga sangat kehilangan. Karena mama dan papa selalu bersama Joddy. Aku setamat SD minta disekolahkan di pesantren. Setelah kuliahpun aku tinggal di Bandung. Waktuku bersama dia waktu kecil tidak banyak, kami hanya jumpa kalau liburan.” Suamiku menyeka cairan being yang jatuh di sudut matanya.
“Setelah dua tahun kematianya. Aku menemukan diary ini. Aku baru mengetahui nama bu Rini yang diucapkannya sebelum meninggal adalah nama guru yang penah mengajarnya. Bacalah diary ini, ada namamu didalamnya,” mas Joddy memberikan Diary itu padaku. Aku membuka lembaran pertama dari diary itu dan menbacanya.
“...Namanya Rini Hapsari, dia guru bahasa Indonesia di sekolah baruku. Orangnya cantik, masih muda. Aku senang belajar denganya. Ibu Rini sangat menyenangkan. Aku bahagia waktu beliau mengajak aku ke rumahnya. Belajar dengannya membuatku bersemangat.. Aku diajak bu Rini ke rumahnya dan dikenalkan dengan orang tuanya. Diary... orang tuanya sangat baik. Aku merasa punya keluarga. Keluargaku... Uuh membayangkan keluargaku membuatku sedih. Papa sibuk bekerja. Mama juga. Mama lebih sering kumpul sama teman-temannya dibandingkan bercerita denganku. Kak Joddy ? satu-satunya kakak laki-laki yang aku sayangi cuma bisa jumpa waktu libur saja...”
Aku membalikan halaman-halaman berikutnya, semua menceritakan tentang kegiatan Jason setiap hari dan kegiatan kebersamaan yang sering dilaluinya bersamaku. Dihalaman berikutnya aku menjumpai lagi tulisannya.
“...Aku sedih, diary. Tadi aku bertanya sama bu Rini, pria seperti apa yang jadi idolanya. Bu Rini menjawab, pintar, sholeh, ganteng, dewasa dan lebih tua dari nya. Aku kan lebuh muda 4 tahun dari bu Rini. Jadi aku tak masuk kriteria bu Rini dong. Aku sedih diary...”
Suamiku mengambil diary dari tanganku, dan membuka halaman terakhir. Dan meminta aku membacanya kembali.
“...Hari ini kakakku tersayang mau datang dari bandung. Diary, aku senang sekali. Sudah lama aku tak jumpa kak Joddy. Kata papa, kakak mau melanjutkan kuliah ke Amerika. Wah semakin jauh saja aku dari kakakku. Ingat kakak, aku ingat bu Rini. Aku sayang sama bu Rini. Tapi kan Bu Rini hanya mengaggapku sebagai adiknya. Kalau bu Rini tidak mau denganku, siapa tahu bu Rini mau dengan kak Joddy. Aku menyayangi mereka berdua.Tapi bagaimana mengenalkan mereka berdua. Tuhan... bantu aku untuk menjodohkan kakakku dengan bu Rini...”
Deg.. jantungku rasanya mau berhenti. Jujur aku tidak tahu kalau selama ini Jason punya perasaan khusus kepadaku. Aku menilai sikap dia kepadaku wajar-wajar saja. Jason memang anak pintar, pintar dalam segala hal termasuk pintar mengendalikan emosi.
“Kesibukan kuliah dan pekerjaan membuatku tak bisa memenuhi permintaan adikku, tapi aku berjanji akan memenuhi pemintaanya. Makanya sewaktu perusahaan menugaskan aku ke kotamu, kota tempat dimana adikku menamatkan SMAnya dengan senang hati aku terima.” Suamiku menatapku.
“Aku berusaha mencari informasi tentangmu, aku sangat senang mendengar kamu belum menikah.” Mas Joddy bercerita sambil duduk disampingku.
“Sewaktu perusahaan tempatku bekerja mengadakan perlombaan puisi kulihat namamu sebagai guru pendamping. Aku mencari informasi tentangmu dan keluargamu. Aku juga tahu kalau bapakmu bersahabat denga ustadz Lukman. Aku salah seorang jemaah ustadz Lukman. Aku minta tolong beliau untuk dita’arufkan denganmu. Aku ingin mengabulkan permintaan terakhir adikku, aku ingin dia di sorga tersenyum melihat guru kesayangannya bisa berjodoh dengan kakaknya.” Mas Joddy mengakhiri ceritanya.
Aku menatap suamiku, sama sepertiku air mata juga menggenang di sudut matanya. Aku menangis. Mas Joddy memelukku. Aku menangis dalam pelukan suamiku. Hidup memang penuh rahasia dan misteri.
Mas Joddy mengajakku berdiri. Dia menuntunku ke depan photo Jason yang berada di dinding.
“Jason pasti bahagia melihat kita sudah menikah,” mas Joddy menatapku. “Dek, kakak sudah memenuhi permintaanmu untuk menikahi ibu guru kesayanganmu. Kakak harap kamu di sorga bisa istirahat dengan damai ya, Dek. Kakak janji akan menjaga dan menyayangi bu gurumu seperti kamu juga menyayanginya” suamiku berkata sambil mengusap wajah adiknya di photo kemudian beralih mencium pucuk kepalaku.
Aku memeluk suamiku. Aku kembali menangis. Menangis ingat Jason. Jason, dia siswaku. Siswa yang telah mengajarkan kepadaku bagaimana berjiwa besar. Mengajarkan arti sebuah kasih sayang. Terima kasih Jason, telah mengirim kakakmu untuk menjaga ibu. Terima kasih nak. Terima kasih adikku. Semoga kamu damai dalam tidur panjangmu.
Tamat
Makasi yang sudah singgah membaca.
[Cinta tidak harus bersatu...., ya kan guys. Ayo... siapa yang nebak bu Rini dengan Jason........ Ternyata Bu Rini nggak jodoh dengan Jason kan].
Dumai **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan