Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jason Siswaku (Part 1) (Tantangan hari ke-8) TantanganGuruSiana

Anaknya tinggi, kulitnya putih bersih, matanya hitam dengan hidung yang mancung. Dialah Jason, siswaku. Dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya, Jason nampak berbeda. Perbedaan akan lebih nampak kalau dia sudah mulai bicara. Bicaranya yang sopan dan wawasannya yang luas membuatku kagum kepadanya. Sungguh betul-betul siswa yang cerdas dan pintar. Itulah yang membuatku selalu bersemangat mengajar di kelas XI IPA ini. Jason anak baru, dia anak pindahan dari salah satu sekolah di Jakarta. Papanya yang dipindah tugaskan ke kota ini membuat dia harus ikut pindah ke sekolah tempatku mengajar.

“Ibu tidak istirahat? “ Jason mengagetkanku yang lagi membaca buku. “Maaf, kalau saya mengagetkan ibu,” lanjutnya.

Aku menatap ke seluruh ruangan kelas. Hanya tinggal Jason dan aku. Siswa-siswa yang lain semua pada di luar kelas karena sekarang memang jam istirahat. Jam tatap mukaku yang tinggal 1 jam pelajaran lagi setelah istirahat membuatku lebih suka menunggu di kelas. Kelas yang terletak dilantai dua dan agak jauh dari ruangan majlis guru membuatku merasa capek bolak-balik, apalagi waktu istirahat pagi ini cuma 20 menit. Perjalanan dari kelas ke ruang majlis guru saja sudah makan waktu 10 menit. Jadi menurutku lebih baik menunggu di kelas saja.

“Tidak apa-apa Jason, kamu tidak mengganggu kok, “ jawabku sambil menutup buku yang aku pegang.

“Ibu mau roti?” Tangannya mengangsurkan kotak bekal yang dibawanya dari rumah kepadaku.

“Tidak, terima kasih,” jawabku sambil tersenyum. “Kamu tidak istirahat di luar gabung dengan teman-temanmu?” Aku menatapnya heran.

“Saya lebih suka di kelas, Bu,” jawabnya. “Kantin terlalu ramai, saya tidak suka keramaian,” sambungnya lagi.

“Ibu sudah lama mengajar?” Jason bertanya padaku. “Ibu saya lihat masih sangat muda jadi guru.” Lanjutnya.

“Ibu guru baru, Jason. Selesai wisuda ibu ditawarkan mengajar di sini. Karena guru yang lama pindah tugas,” aku menjelaskan ke Jason.

Suara bel masuk memutuskan percakapan kami. Siswa-siswaku yang tadi istirahat kembali masuk ke kelas. Aku melanjutkan 1 jam tatap mukaku di kelas dengan memberikan latihan kepada siswaku.

*******************

Suara notifikasi dari gawai mengalihkan perhatianku dari pekerjaan mengoreksi nilai ulangan harian siswa. Aku mengambil gawai terletak diatas meja di depanku dan melihat aplikasi hijau yang ada disana. Chat dari siapa ini ? batinku.

[Ibu belum tidur?] sebuah chat dari nomor yang tak terkenal terbaca di gawaiku.

[Belum, ini siapa ya] balasku.

[Saya Jason, Bu] kembali chat Jason masuk

[Ada apa Jason? Ada yang bisa ibu bantu?] . Aku kembali membalas chatnya. Aku heran kenapa malam-malam Jason ngechat aku. Dari mana anak itu dia dapat nomorku?

[Saya tadi lihat nomor HP ibu di papan identitas guru. Saya hanya mau mengucapkan selamat malam kepada ibu] kembali masuk chat dari Jason.

[O, ya sudah. Terima kasih kamu sudah mau mengucapkan selamat malam kepada ibu. Sekarang tidur ya, sudah malam. Besok kan sekolah. Good night] aku mengakhir chat dengan Jason dan segera menonaktifkan aplikasi hijau tersebut di gawaiku.

***********************

Semenjak malam itu Jason jadi dekat denganku. Di sekolah dia berusaha menjalin komunikasi denganku. Bahkan sudah beberapa kali dia main ke rumahku. Anaknya yang periang dan mudah bergaul membuat dia diterima baik dikeluargaku. Bahkan dengan Bapak dan ibuku Jason juga akrab. Aku yang terlahir sebagai anak tunggal merasa punya seorang adik. Adik yang sangat manis dan menyenangkan. Perbedaan umur kami yang hanya 4 tahun membuat kami memang seperti kakak dan adik.

“Ibu, saya boleh memanggil ibu dengan panggilan nama saja, Rini gitu?” Suatu sore Jason bertanya sewaktu kami istirahat selesai bermain bulu tangkis di halaman depan rumahku.

“Tidak boleh gitu Jason, kamu harus panggil saya ibu, karena saya kan guru kamu,” jawabku sambil tersenyum.

“Tapi kan beda umur ibu dan saya hanya 5 tahun.” Protesnya.

"Jangankan 5 tahun, 5 menit aja bedanya, yang tua harus dipanggil dengan sebutan yang pantas, mbak, kakak, abang atau yang lain,” aku menjelaskan.

“Kalau gitu saya boleh panggil Ibu dengan panggilan Mbak, dong,” Jason menjawab sambil tersenyum.

“Ya boleh, tapi tidak berlaku di sekolah ya. Di Sekolah dan di depan teman-teman serta guru-guru kamu harus memanggil saya dengan panggilan Ibu,” jelasku

“Siap mbak,” jawabnya dengan mimik yang lucu.

*******************

Sudah hampir 2 tahun keakraban aku dengan Jason terjalin. Aku begitu bahagia. Hidupku seperti punya makna. Tingkah dan kekonyolannya membuatku terhibur. Kedua orang tuaku pun juga sangat menyayanginya. Orang yang tak mengenal kami mumgkin akan mengira kami kakak dan adik. Kedua orang tuaku sering menanyakan Jason kalau anak itu sudah beberapa hari tidak muncul dirumahku.

Jason anak yang pintar. Jason benar-benar pandai menempatkan diri. Di sekolah hubungannya denganku biasa saja, seperti guru dan siswa. Tak pernah dia memperlihatkan keakrabannya denganku di sekolah. Di sekolah aku tetap guru yang dihormatinya. Di luar sekolah aku menjadi kakak baginya.

Kami sering berdiskusi bersama. Dia sering curhat masalahnya denganku. Sebagai kakak, aku berusaha mendengarkan dan memberikan tanggapan. Tapi sejauh ini aku tidak pernah dekat dengan orang tua Jason. Jason sangat tertutup masalah keluarganya. Dan akupun juga tidak mau meminta dia bercerita masalah keluarganya. Bagiku Jason adik sekaligus teman yang manis dan menyenangkan.

Saat berpisah dengan Jason akhirnya datang juga. Setelah menamatkan pendidikan SMA tempatku mengajar Jason meninggalkan kotakku karena melanjutkan pendidikan di kota kelahirannya mengikuti orang tuanya yang kembali dipindahtugaskan. Aku sedih. Aku kehilangan siswaku yang pintar, teman, sekaligus adik yang menyenangkan. Sebelum berpisah Jason berjanji akan selalu menghubungiku.

Hari-hari pertama Jason pergi sungguh sangat berat bagiku. Tidak ada lagi teman, tidak ada lagi adik yang menemaniku. Aku merasa kehilangan. Tidak ada lagi kekonyolannya yang menemani hari-hariku. Janjinya akan selalu menghubungi tak pernah ditepati. Chat darikupun tak pernah terkirim. Nomor handphone yang biasa digunakannya tak bisa dihubungi. Mungkin kesibukannya menjadi mahasiswa baru membuatnya lupa padaku.

*************

“Bapak harap kamu tidak menolak lamaran kali, ini. Umur kamu sudah hampir kepala tiga, sudah sangat siap untuk berumah tangga.” Sore itu Bapak dan Ibu berbicara denganku di ruang keluarga.

“Kamu anak kami satu-satunya Rini, ibu kepingin punya cucu,” ibu menimpali ucapan Bapak.

Aku terdiam mendengar permintaan Bapak dan Ibu. Kedua orang tuaku sudah berulang kali mencoba mencarikan jodoh untuku. Tapi selalu gagal. Karena aku selalu menolaknya.

“Sebenarnya apa toh Nduk, yang membuat kamu selalu menolak untuk berumah tangga?” ibu berkata lirih.

Aku hanya diam. Selalu seperti itu setiap kedua orang tersayang ini mencarikan jodoh untukku. Sebenarnya aku tidak mau mengecewakan bapak dan ibu. Tapi dari selesai wisuda aku sudah bertekad tidak akan menikah sebelum statusku berubah dari guru honorer menjadi guru tetap sebagai ASN. Tapi keberuntungan belum berpihak padaku. Setiap ikut seleksi tes CASN aku selalu gagal.

Teman-temanku di sekolah mengatakan kalau aku patah hati. Patah hati sama siapa? Aku tidak penah dekat dengan laki-laki selain dengan Jason. Jason? Dimana mantan siswaku itu sekarang? Sudah tujuh tahun lebih aku tidak mendengar khabar beritanya.

“Bapak dan Ibu sudah semakin tua, kami ingin melihat kamu menikah sebelum Allah memanggil kami,” suara ayah membuyarkan lamunanaku.

“Bapak, ibu... beri waktu untuk Rini berfikir,” aku menatap ibu penuh harap.

“Gunawan anak yang baik, ayah rasa dia sangat cocok untukmu, kamu sudah lama mengenalnya, keluarga merekapun sudah lama kita kenal” ibu kembali membujuk.

Gunawan, mendengar nama itu aku jadi bad mood. Aku tahu sudah lama keluarganya menginginkan aku jadi istri anaknya. Gunawan adalah guru olah raga ditempatku mengajar. Dulu waktu aku kecil kami bertetangga. Karena ayahku dan ayahnya dulu bekerja di perusahaan yang sama. Gunawan lebih beruntung dariku, kedudukannya tidak guru honorer sepertiku. Dia sudah punya SK sebagai ASN. Lima tahun lebih mengajar di sekolah yang sama sudah cukup bagiku untuk mengenal pribadinya. Sifatnya yang egois dan cuek membuatku tidak bersimpati kepadanya.

Dalam hati kecilku, aku sudah bertekad akan merubah pendirianku hanya akan menikah setelah aku berstatus ASN. Kalau sampai umur 35 tahun aku belum lulus jadi ASN, apakah akan selama itu aku menolak jodoh yang datang padaku?

Salah seorang guru ditempatku mengajar pernah memberi nasehat, tidak baik menolak jodoh, manatahu rejekiku untuk jadi ASN ada setelah aku menikah. Nasehat teman itu membekas dihatiku. Aku berpikir nasehat itu ada benarnya. Kalau memang yang datang jodoh duluan, kenapa tidak aku terima saja. Mungkin saat ini itulah yang terbaik Allah berikan kepadaku. Tapi kenapa harus Gunawan? Kenapa harus dia?

“Coba kamu pertimbangkan lagi, ya Nduk?’ ibu menyentuh bahuku lembut. Aku menganggukan kepala sambil tersenyum kepada ibu

(gimana akhirnya nasib bu Rini, akankan bu Rini menerima lamaran Pak Gunawan? Apa khabar Jason setelah lima tahun tak bertemu dengan Bu Rini, ikuti next partnya ya guys....

Dumai, **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post