Kisah Katak Kecil (tantangan Guru Hari ke-12)
#tantangangurusiana
tulisan ini saya tulis terinspirasi dari tulisan Pak Agus Suryadi yang ditayangkankan di Media Guru tanggal 8 April 2020 dengan judul "Menghina Karya Orang".
Judul tulisan ini saya ambil dari sebuah file power point dari folder ice breaking yang ada di laptop saya. Ice breaking ini adalah oleh-oleh dari Pak Ramlan seorang teman guru IPA yang berasal dari propinsi Jambi waktu pelatihan guru pendamping Kurikulum 2013 di Medan tahun 2013. Beliaupun mengatakan mendapatkan ice breaking ini dari teman juga waktu ikut pelatihan. Yang jelas siapapun yang buat ice breaking yang sangat memotivasi ini saya ucapkan terima kasih.
Saya sangat suka ice breaking ini karena pesannya yang sarat dengan motivasi. Disela-sela jam mengajar saya sering menayangkan ice breaking ini untuk memotivasi siswa. Dan siswa saya sangat menyenanginya.
Ice breaking ini mengisahkan tentang sekelompok katak kecil yang mengadakan perlombaan untuk mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Banyak katak-katak kecil yang mengikuti perlombaan ini. Para penonton berdiri menonton di sekeliling menara dan bersorak memberikan semangat kepada katak-katak kecil tersebut. Melihat menara yang sangat tinggi dan tubuh katak yang kecil-kecil, penonton tidak yakin kalau katak-katak tersebut bisa sampai ke puncak menara yang sangat tinggi tersebut.
“Menaranya terlalu tinggi. Katak-katak itu tidak akan sampai ke puncak.” Salah seorang penonton berteriak. “Ya, benar. Mereka tidak akan sampai.” Penonton yang lain menimpali.
“Aduh kasihannya katak-katak itu. Mereka nampak capek dan lelah. Mustahil mereka akan berhasil. “ Bermacam-macam komentar penonton yang meragukan kemampuan katak-katak kecil tersebut untuk mencapai puncak menara.
Penonton bersorak memberikan semangat dan sebagian penonton yang lain berteriak meragukan kemampuan katak tersebut. Ternyata dugaan penonton benar, katak-katak kecil itu mulai berjatuhan satu persatu kecuali mereka yang tetap bersemangat menaiki menara.
Teriakan penonton yang meragukan kemampuan katak menyebabkan semakin banyak katak yang kalah dan menyerah. Tetapi ada seekor katak kecil yang tidak mau menyerah. Katak kecil yang satu tersebut terus menaiki menara tanpa ragu...terus... dan terus. Katak tersebut walaupun tampak lelah tapi masih bersemangat menaiki menara. Teriakan sebagian penonton yang meragukan kemampuannya seakan memberikan energi lebih untuk katak kecil tersebut bergerak ke puncak. Akhirnya... katak kecil tersebut sampai di puncak menara yang tinggi dan keluar jadi pemenang.
Penonton banyak yang heran dan tak percaya kenapa katak kecil tersebut bisa sampai di puncak menara yang tinggi. Sesuatu yang tak masuk diakal. Apalagi badan katak kecil tersebut jauh lebih kecil dari katak-katak kecil yang lain. Seekor peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil itu mempunyai kekuatan untuk mencapai tujuan. Ternyata jawabannya katak tersebut... tuli.
Pesan moral yang diambil dari cerita Katak Kecil ini adalah di dalam berbuat jangan sekali-kali mendengar kata orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis. Karena orang yang seperti ini mereka akan mengambil sebahagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita. Orang seperti ini akan berpotensi menggagalkan mimpi yang kita bangun.
Di dalam kehidupan nyata ini sering kita temui. Saya pribadi pernah mengalaminya. Ibu saya seorang guru PNS dengn jabatan guru SD dan almarhum ayah yang pegawai golongan II di sebuah lembaga pemerintahan. Kehidupan kami sangat sederhana. Dengan gaji pas-pasan kedua orang tua saya harus menghidupi ke tujuh anaknya. Dulu kehidupan PNS-Guru tidak seperti sekarang, guru hanya mendapatkan gaji sebagai PNS saja. Tidak ada Tunjanagn Penghasilan Pegawai (TPP) seperti sekarang. Saya dan adik-adik masih sempat merasakan beras jatah yang diperuntukan untuk PNS yang kami sebut dengan “beras pembagian”. Kalau nasib baik, berasnya bagus tidak jarang kami menerima beras yang berbau dengan rasa yang tawar dan ada 'penghuni' di dalamnya.
Semangat ibu untuk menguliahkan kami sangat luar biasa. Ibu tidak mau kami hanya tamat sekolah menengah seperti beliau. Ibu kami menjadi guru dengan menggunakan ijazah Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Saya yang memang bercita-cita jadi guru dari kecil disuruh ibu kuliah, biar bisa hidup lebih baik. Setamat SMA saya melanjutkan ke IKIP sesuai dengan yang saya cita-citakan. Setahun setelah saya kuliah, adik saya yang nomor dua juga mengikuti jejak saya untuk kuliah di IKIP.
Melihat kami kuliah adik beradik, nyinyiran saudara mulai kami dengar. Mereka mengatakan bahwa orang tua kami sok karena menguliahkan dua orang anak di perguruan tinggi., padahal penghasilan pas-pasan. Sewaktu orang tua pernah meminjam uang untuk suatu keperluan, mereka menyuruh orang tua kami untuk memberhentikan kami kuliah, karena akan memberatkan. Anak perempuan untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh nanti mereka akan ke dapur juga, begitu yang mereka ucapkan kepada orang tua kami.
Tetapi untunglah orang tua kami tidak pernah terpengaruh dengan omongan mereka. Ibu selalu berpesan kalau mau maju, kita tidak boleh mendengar ucapan orang yang meremehkan kita. Jadikan itu semangat yang bisa memotivasi kita untuk lebih maju.
Nasehat itu berulang-ulang ibu sampaikan kepada saya untuk memotivasi agar semangat kuliah. Dan nasehat yang sama sering ibu gunakan untuk memotivasi adik-adik saya. Alhamdulillah..... dari 7 anak beliau, enam orang semua sarjana. Yang dua orang sudah strata 2. Dan 4 orang sudah ASN.
Ice breaking Kisah Katak Kecil yang sering saya lihat di laptop saya mirip dengan nasehat yang di berikan ibu kepada kami. Nasehat yang memotivasi kami untuk maju tanpa mempedulikan orang disekitar kita yang meragukan kemampuan kita. Nasehat itu juga yang sering saya sampaikan kepada siswa-siswa saya supaya bisa maju menggapai cita-cita yang mereka citakan. Jangan pedulikan orang yang mencibir dan meremehkan kita. Jadikan semuanya sebagai pelecut untuk bergerak maju ke depan. Keep Spirit and dont give up.
Dumai, 10 April 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan