Cerita Anak 'Anak Sholeh Umi' Tagur hari ke-51
#Tantan broGuruSiana
.
Rumah kontrakanku yang baru berada disebuah komplek yang padat penduduk. Di samping rumah kontrakanku ada tanah kosong. Tanah kosong yang tidak terlalu besar ini dijadikan lapangan futsal oleh anak-anak yang tinggal di komplek ini.
Selepas pulang sekolah sekitar jam dua siang anak-anak- sudah berkumpul di sana. Panas yang terik tidak mengurangi semangat mereka bermain. Suara mereka yang berteriak sangat mengganggu dan memekakan telinga. Makanya para pengontrak sebelumnya tidak ada yang betah tinggal di rumah ini. suara anak-anak yang bising menjadi alasan mereka untuk pindah.
Apalagi kalau mereka bermain futsal. Suasana sangat heboh oleh sorak-sorai mereka. Keadaan akan lebih parah apabila bola yang mereka gunakan melambung ke atap. Suara bola yang menghantam atap membuat yang tinggal di rumah itu bisa jantungan. Jangan harap bisa tidur siang dengan nyenyak tinggal di rumah ini.
Tapi aku sangat senang tinggal di rumah ini. Harga kontrakan yang terjangkau membuat aku sudah hampir satu tahun tinggal di sini. Faktor lain yang membuat aku kerasan karena ada lapangan di samping rumah.
Pengontrak sebelumnya pindah karena lapangan dipenuhi oleh anak-anak yang bising, aku tidak. Aku menyukai lapangan ini, karena lapangan ini membuat aku gampang mengawasi kedua jagoanku, Habib dan Faisal. Dua jagoanku masih kecil, Habib baru berusia tujuh tahun dan Faisal lima tahun.
Habib anak pertamaku adalah anak berkebutuhan khusus. Sejak lahir Allah tidak mengizinkan netra Habib untuk melihat. Aku sangat terpukul pertamakali tahu bahwa anakku lahir tidak sempurna.Seiring waktu aku berusaha ikhlas menerima kehadirannya. Satu tahun berikutnya aku hami lagi, Faisal anakku yang kedua terlahir sempurna.
Kelahiran Faisal sebagai cahaya dimalam gelap bagi Habib. Faisalah yang berperan sebagai lentera Habib. Fasial dengan kasih sayang selalu menuntun kemanapaun abangnya pergi. Sebagai ibu aku sangat terharu melihat kasih sayang mereka berdua. Kasih sayang dua saudara yang tulus tanpa pamrih.
Suasana ramadahan yang panas sore itu membuat anak-anak tidak melakukan kegiatan yang banyak menguras energi. Mereka hanya duduk bergerombal dan bercerita. Anjuran agar tetap di rumah saja sangat susah menenamkan pada mereka. Pasti mereka akan minta main keluar. Alasan bosan seharian menjadi alasan mereka untuk keluar.
Karena mainnya hanya di lapangan samping rumah dan tidak ramai anak-anak yang bermain sore itu, aku mengizinkan. Pakai masker dan jaga jarak tetap aku anjurkan pada mereka.
Aku duduk di kursi samping rumah tidak jauh dari tempat mereka duduk. Ada sekitar enam orang anak sore itu yang bermain di lapangan termasuk anakku.
“Mamaku tadi masak kue nastar. Kayaknya kuenya enak tuh,” kudengar Tyo anak ibu Wiwit yang kerja di sebuah kantor instansi pemerinyah berkata. Aku kenal hampir semua ibu-ibu dekat kompleku.
Pengajian wirid rutin dua kali sebulan yang ditaja oleh ibu-ibu pengurus RT kami membuat kami saling kenal.
“Mamiku tak buat kue. Kata mamiku capek. Tapi mamiku sudah beli kue baaaanyak.” Reynald bocah yang paling subur badannya ikut berciloteh. Reynal paling kaya disekitar komplekku. Papi dan maminya memiliki usaha traveling dan beberapa mini market.
“Mamaku belum buat kue. Kata Mama besok baru mulai. Tunggu THR dulu.” Wisnu ikutin nimbrung. Pak Wahyu ayahnya Wisnu bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ibunya Wisnu sama denganku, seorang ibu rumah tangga.
“Kamu gimana Faisal, kuemu sudah masak?” Tyo bertanya kepada Faisal.
Deg jantungku berdebar. Aku belum buat kue lebaran. Bukan karena aku tidak pandai dan tak mau membuatnya. Uang untuk pembeli bahannya yang tidak ada. Jangankan untuk buat kue, untuk beli kebutuhan sehari-hari aja kami sudah susah. Suamiku bekerja sebagai pedagang kecil di pasar.
“Kami belum ada kue. Umi belum membuatnya mungkin nanti.” Faisal kudengar yang menjawab.
“Baju lebaranmu berapa Tyo ?” Reynald bertanya kepada Tyo.
“Udah tiga, tapi mamaku mau belikan lagi nanti,” Tyo menjawab bangga. “Kamu, Rey?” lanjutnya ke Reynald.
“Aku udah lima. Semuanya bagus-bagus. Sepatu dan sendal semua sudah ada.” Reynald bersemangat bercerita.
“Tapi kata mamaku, lebaran tahun ini kita di rumah saja, tidak kemana-mana. Buat apa bau lebaran banyak-banyak,” Wisnu terdengar protes.
“Kan bajunya bisa dipakai nanti Wisnu kalau coronanya udah pergi,” Tyo menjawab cepat.
“Kamu udah beli baju lebaran, Faisal?” dia mengalihkan pertanyaan kepada putraku.
Tak terdengar jawaban Faisal. Aku kembali bersedih mendengarnya. Anak-anakku pasti malu di depan temen-temannya.
“Baju kami cuma satu,”Habib yang terdengar menjawab.
Ya Tuhan kenapa anakku berbohong, aku membatin. Selama ini aku tidak pernah mengajarkan berbohong kepada mereka. Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku belum bisa mendidik anakku dengan baik, kembali aku membatin.
“Tak apa Habib, aku juga Cuma satu,” Wisnu menghibur Habib. “Lagian kita kan tak kemana-mama juga lebarani ni,” sambungnya
Percakapan mereka tidak terdengar lagi. Aku lihat mereka satu persatu bubar seperti dikomando menuju rumah masing-masing.
*****
Sehabis tarawih dan murajaah hapalan mereka malam itu aku berbicara dengan kedua buah hatiku. Aku berusaha mencari moment yang tepat untuk menanyakan alasan mengapa Habib berbohong sore tadi.
“ Habib, bolehkah kita berbohong?” pertanyaan itu aku ajukan setelah aku menceritakan kisah tentang sahabat Rasullah kepada mereka. Cerita yang menceritakan kejujuran Abu Bakar Shidik, khalifah sepeninggal nabi Muhammmad SAW.
“Tidak umi, kita tidak boleh berbohong,” Habib menjawab yakin.
“Tapi tadi umi mendengar Habib bercerita punya baju baru. Habib kan tidak punya. Kenapa dibilang punya?” Aku bertanya dengan hati-hati.
“Habib tidak bohong Umi, kan Habib punya satu baju lebaran. Yang Umi dan Abi belikan tahun kemarin.” Habib berkata pelan. “Bajunya kan masih bagus Umi, kan jarang dipakai,” jawabnya. “Habib baru dua kali memakainya,” lanjutnya lagi.
Ya Allah, aku terdiam. Aku teringat tahun lalu aku membelikan baju lebaran buat mereka. karena kami jarang bepergian, bajunya masih tersimpan rapi di lemari. Aku yakin mereka masih muat. Karena aku memang biasa membelikan baju dengan ukuran lebih besar buat mereka.
Aku peluk mereka berdua. Maafkan kami yang belum dapat memenuhi kebutuhanmu, Nak. Maafkan kami belum bisa jadi orang tua yang sempurna buat kalian, batinku,
“Umi tidak usah sedih, kami tidak apa-apa kok tidak pakai baju lebaran.” Faisal berkata setelah melihatku mengusap cairan bening yang mengalir di sudut mataku. Terima kasih Tuhan telah menganugerahi dua malaikat kecil ini dalam hidupku, syukurku pada-Nya.
Dumai, 19-05-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan