Cerpen 'Pengantin Corona' (Tagur hari ke-37)
#TantanganguruSiana"
Semua persiapan untuk buka bersama malam ini sudah rampung. Semua hidangan sudah tertata rapi di meja makan. Dendeng lambok, gado-gado dan goreng ayam crispy sangat menggugah selera. Hidangan pembuka serabi kuah durian dan sop buah sudah menunggu untuk dinikmati. Tak ketinggalan kurma Ajwah kesukaan bunda dan beberapa jajanan kue-kue basah. Semua hidangan siap sedia menunggu untuk disantap bunda dan anak cucunya.
Nayla memandang semua itu dengan perasaan sedih, ada yang kosong di dalam hatinya. Buka bersama keluarga adalah agenda rutin yang selalu diadakan bunda setiap tahun. Sebuah acara buka bersama yang diadakan bunda buat anak, menantu dan cucu-cucunya.
Memiliki delapan orang anak dengan sembilan belas orang cucu acara buka bersama ini biasanya moment yang sangat membahagiakan. Seluruh keluarga besar hadir pada cara yang diadakan sekali setahun itu. Acara biasanya berlangsung ramai dan meriah.
Tapi acara buka bersama kali ini lain dari tahun-tahun sebelumnya. Dari delapan orang anak bunda hanya tiga orang yang akan hadir. Lima orang kakak Nayla dan keluarganya tidak bisa datang. Covid-19 adalah penyebabnya. Pemberlakuan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat mereka tak bisa datang. Padahal mereka tinggal masih di propinsi yang sama. Hanya kakak-kakak yang tinggal satu kota dengan Nayla yang bisa hadir.
Moment buka bersama moment yang paling ditunggu oleh Nayla. Terlahir sebagai anak bungsu membuat Nayla sangat dimanjakan oleh kakak-kakaknya. Biasanya diacara buka bersama ini Nayla menggunakan kesempatan melobby kakaknya untuk mendapatkan THR. Sejenak Nayla tersenyum mengingat itu. Ingat kejahilannya mengerjai kakak-kakaknya.
Abang Fahri, Kak Nesha dan Abang Faisal adalah tiga orang anak bunda yang mempunyai kelebihan rejeki dibandingkan empat anak-anak bunda yang lain. Mereka bertiga adalah pengusaha yang berhasil. Mereka bertiga sering Nayla jadikan tempat untuk mendapatkan THR paling banyak. Nayla sengaja memanas-manaskan Fahri abang tertuanya kalau kak Nesha dan Bang Faisal memberi dia THR yang besar. Abang Fahri biasanya tidak mau kalah. Jadilah abang Fahri penyumbang THR terbesar untuk Nayla. Nayla tersenyum mengingat itu semua.
Pada buka kali ini abang Fahri, Kak Neysha, abang Fathan dan dua orang kakak Nayla yang lain tak bisa datang ke rumah bunda. Tempat tinggal mereka yang berada di zona merah tidak memperbolehkan mereka bepergian ke luar kota. Nayla sedih. Netra Nayla mencari bunda. Nayla yakin bunda pasti lebih sedih lagi.
“Kenapa sedih, Dek?” bang Hisyam menegur Nayla lembut.
Nayla menoleh kearah laki-laki yang belum satu bulan ini menjadi imamnya. Laki-laki pilihan bunda untuk Nayla. Laki-laki sholeh yang diharapkan oleh bunda untuk membimbing putri bungsunya.
“Nayla ingat kakak-kakak Nayla, Bang. Biasanya moment buka bersama ini kami kumpul semua.” Nayla menjawab lirih.
“Kan baru satu bulan kemarin kita jumpa kakak-kakak, Nayla sudah kangen lagi?” bang Hisyam berusaha menghibur Nayla.
Satu bulan yang lalu mereka berkumpul bersama di rumah ini. Semua kakak-kakak Nayla hadir menghadiri acara akad nikahnya. Pesta pernikahan yang seharusnya hari itu digelar dibatalkan. Larangan berkumpul akibat Covid-19 ini kembali jadi penyebabnya.
Sebagai anak bungsu pesta Nayla akan dilaksanakan dengan meriah. Hotel berbintang dan catering terbaik sudah dipesan. Baju pengantin rancangan designer ternama sudah disiapkan kak Nesha untuk Nayla. Undangan bagus sudah tercetak banyak dan sebagian sudah diedarkan. Semua rencana buyar gara-gara kedatangan corona.
Akad nikah Nayla berlangsung secara sederhana di rumah bunda. Tidak ramai yang datang hanya keluarga-keluarga dekat saja. Abang Fahri sebagai anak laki-laki tertua menjadi wali nikah Nayla.
“Lho kok melamun lagi bidadari Abang,” bang Hisyam menggoda Nayla. “Nay belum mandikan ? Ntar Kak Nindi, bang Fathan dan keluarga mereka keburu datang loh.” Lanjut bang Hisyam
Nayla masih terdiam. Pikirannya masih melayang kemana-mana. Rasa sedih akan ketidak hadiran lima orang kakak dan keluarganya masih menggayut dipikirannya.
“Ayok sayang mandi dulu atau perlu Abang mandiin,” bang Hisyam berkata menggoda Nayla.
Pipi Nayla merona merah mendengar godaan suaminya. Dengan tersenyum dia berlalu dari hadapan suaminya.
*****
Suara ramai di luar manandakan kedua orang kakak Nayla dan anak-anak mereka sudah datang . Nayla buru-buru memasang hijab. Nayla sudah tidak sabar mau berjumpa dengan kakak-kakak dan ponakan-ponakannya yang lucu-lucu.
“Tante Nay.... Lama sekali mandinya, dari tadi Ayi nungguin,” Sari putrinya Mbak Nindi menyambut Nayla di depan pintu. Nayla menggendong bocah empat tahun itu. Pipinya yang temben membuat Nyala gemes.
“Kak Nindi dan Kak Rahmi sengaja ya datang lama, nggak bantuin masak,” Nayla pura-pura cemberut kepada kakak-kakaknya.
Rahmi kakak ipar Nayla istrinya bang Fathan tersenyum. “Tadi kakak sudah mau ke sini. Tapi bunda melarang, kata bunda masaknya nggak banyak, nggak usah dibantu, ya kan Bun ?” kak Rahmi memandang bunda minta pembelaan. Bunda dan kak Nindi tertawa.
Kak Nindi punya tiga orang anak. Yang paling besar Sarah sudah kelas tiga SMP, yang nomor dua Raihan kelas 5 SD dan yang bungsu Sari baru berusia empat tahun. Bang Fathan baru memiliki satu orang anak berusia 3 tahun.
******
Buka bersama berlangsung dengan keheningan. Tidak seperti tahun-tahun sebeumnya. Suara bising saling berebut makanan dari cucu-cucu bunda tidak terdengar lagi. Semua diam hanyut dengan pikiran masing-masing. Bunda tidak dapat menyembunyikan kesedihannya titik-titik bening air merembes dari sudut matanya. VC yang dilakukan tadi sebelum berbuka dengan kelima anaknya yang tidak pulang belum dapat mengobati hatinya.
Selesai berbuka dilanjutkan dengan shalat berjamaah, bang Hisyam mejadi imam shalat. Suara bang Hisyam yang merdu dan lantunan bacaan shalatnya yang fasih menambah suasana shalat jadi lebih khidmat.
Selesai makan malam semua berkumpul di ruang keluarga. Suasana sudah mulai ceria. Bang Hisyam yang tamatan pesantren memberikan tausyiah singkat buat keluarga. Bersyukur dalam menghadapi cobaan, tema tausyiah bang Hisyam sangat cocok dengan suasana yang terjadi saat ini.
“Oma..., Oma... Sarah nemukan ini di kamar Oma. Covernya ada mama dengan papa lho,” suara Sarah yang tiba-tiba muncul dari kamar bunda mengagetkan semua orang yang lagi bercerita di ruang keluarga. Tangannya memegang sebuah CD. Lempengan tipis itu berpindah ke tangan bunda.
“Ini CD pernikahan mama dan papa kamu tiga belas tahun yang lalu,” bunda berkata kepada Sarah.
“Kamu dapat darimana?” tanya bunda.
“Di kamar Oma. Dekat laci Oma. Oma... Sarah mau lihat CD nya boleh?” Sarah menatap omanya penuh harap.
“Iya Oma, Raihan juga mau lihat. Mama nggak pernah cerita kalau punya CD pernikahan.” Raihan menimpali.
Bersama mereka menonton CD pernikahan Kak Nindi dan Bang Wira suaminya. Walaupun sudah lama kualitas gambar dan suaranya masih bagus. Alm papa masih ada waktu itu. Semua terhanyut ke masa lalu menoton CD pernikahan kak Nindi dan bang Wira. Hanya suara Sarah dan Raihan berdua yang terdengar memberi komentar. Mereka berdua tertawa-tawa melihat papa dan mamanya jadi bintang film di CD tersebut.
“Bagus juga ya bunda ada CD seperti ini, bisa dilihat sampai ke anak cucu. CD pernikahan Rahmi sama bang Fathan juga ada di rumah mama. Nanti kita ambil ya Bang,” kak Rahmi melirik suaminya. Bang Fathan menggangguk.
"Bunda nggak ada punya CD pernikahan kalian. Jangan lupa di copy kan bunda ya." bunda berkata ke Rahmi menantunya. Rahmi mengaggukkan kepalanya.
“Wah yang kasihannya tuh tante Nay.” Tiba-tiba Sarah menimpali.
“Ngapa gitu?” kak Nindi, mamanya menatap heran.
“Iya dong Ma. Semua punya CD pernikahan. Tante Nay kan nggak punya. Habis tante Naylakan pesta pernikahannya nggak jadi.” Sarah menjawab lucu. “Tante Nayla nanti nggak bisa tunjukkan ke anak-anaknya dong. Kasihan tante Nay,” lanjut Sarah.
Nayla terdiam. Yah... dia nggak punya CD pernikahan seperti semua kakak-kakaknya. Nayla sedih, ponakannya benar. Tak ada video pesta pernikahan untuk diperlihatkan nanti ke anak-anaknya. Yang ada cuma photo-photo acara akad nikah. Nayla tersenyum semua harus disyukuri seperti tausyiah yang barusan disampaikan suaminya. Ada hikmah dibalik semuanya.
“Kalau gitu tante Nay senasib dong sama ka Sarah,” Raihan tiba-tiba nyelutuk.
“Ngapa gitu, Raihan?” Nayla memandang heran ponakan gantengnya
“Kak Sarahkan tamat SMP nya tak pakai ujian akhir karena corona, jadi kakak Sarah disebut Angkatan Corona. Tante Nay juga... tante Nay kan menikahnya dimusim corona. Jadi tante Nay disebut juga Pengantin Corona.” Raihan menjawab sambil tertawa.
Mendengar perkataan Raihan semua tertawa. Ini anak ada-ada saja.Di dalam hatinya Nayla membenarkan perkataan ponakannya. Ya Benar, dia dan suaminya menikah ditengah pandemi corona melanda dunia. Nayla dan Bang Hisyam mungkin banyak pasangan pengantin yang menikah di masa ini adalah “pengantin corona”. Pengantin yang menikah dikala corona melanda.
tamat
Dumai, 5 Mei 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan