Dendam Masa Lalu (Part 3 ) Tagur hari ke 33
#Tantangangurusiana
Dion berdiri di depan pintu ruangan Bimbingan dan Konseling. Tidak terdengar suara dari dalam ruangan itu. Hening... tidak nampak ada tanda-tanda kehidupan. Dion ragu mau masuk. Pelan Dion mendorong pintu yang nampak tidak terkunci. Daun pintu yang bergeser membuat Dion dapat melihat ke dalam ruangan. Ternyata di dalam ruangan ada Ibu Diah. Matanya nampak fokus memegang buku yang sedang dibacanya. Ucapan salam Dion menghentikan aktivitasnya.
“Masuk Dion, ” Ibu Diah menegur ramah. “Silahkan duduk,“ lanjutnya.
Dion masuk dan duduk di kursi tamu. Ini bukan kali pertama Dion ke sini. Perlombaan PIK yang diadakan antar sekolah tingkat kota bulan yang lalu membuat Dion beberapa kali pernah ke ruangan ini untuk mendiskusikan materi lomba. Karena Dion termasuk salah seorang siswa yang terlibat dalam perlombaan itu.
Ruangan BK ini tidak terlalu besar, sangat sederhana tetapi cukup nyaman. Netra Dion memperhatikan ruangan ini. Sebuah meja kerja terletak di sudut ruangan, satu buah lemari tempat buku terletak di dinding sebelah kiri, disampingnya terletak satu buah lemari filing kabinet, satu set kursi tamu dilengkapi dengan beberapa hiasan membuat ruangan ini nampak indah dan menarik. Disamping kursi tamu ada sebuah rak kecil tempat koran dan majalah. Sebuah kipas angin yang tergantung di plafon membuat ruangan ini terasa adem.
“Maaf ya Dion, Ibu meminta kamu tinggal sebentar. Ada yang ingin Ibu tanyakan.” Suara lembut Ibu Diah membuka pertemuan mereka berdua. Ibu Diah meletakan dua botol minuman mineral di meja tamu. “Ibu harap kamu tidak keberatan, “ lanjut Ibu Diah lagi.
Jujur sebenarnya Dion keberatan berada di ruangan ini. Karena pikirannya sudah melayang mau pulang ke rumah. Tapi Dion tidak mau menampakan ketidaksukaanya.
Ibu Diah berusaha membuat suasana menyenangkan, beberapa pertanyaan ringan ditanyakan kepada Dion. Ibu Diah ingin membuat Dion nyaman. Pertanyaan Ibu Diah dijawab Dion seperlunya saja.
“Dion, bagaimana pendapatmu mengenai Gendis dan Alexa ?” tiba-tiba ibu Diah bertanya kepada Dion.
Kenapa pertanyaan Ibu Diah beralih kepada Gendis dan Alexa?. Dion heran. Pasti ada hubungannya dengan perkelahian dengan kedua anak itu tadi pagi, batin Dion.
“Saya tidak terlalu mengenal mereka, Bu. Kan tidak sekelas,” jawab Dion.
“Kamu tahu kenapa Gendis dan Alexa berkelahi?” Ibu Diah bartanya lagi ke Dion.
“Saya tidak tahu, Bu. Itu kan urusan mereka. Kenapa ibu bertanya ke saya?” suara Dion yang sedikit ketus membuat ibu Diah sedikit kaget.
Ketidaksenangan Dion dengan pertanyaanya membuat Ibu Diah untuk sementara tidak ingin melanjutkan pertanyaan kepada Dion. Mungkin ini bukan saat yang tepat, pikir Ibu Diah.
“Dion, ini bukan kali pertama terjadi perkelahian antara anak-anak perempuan di sekolah ini. Di dalam catatan ibu ada beberapa kali perselisihan anak-anak perempuan. Mereka berselisih itu karena memperebutkan kamu.” Suara ibu Diah terdengar pelan.
Dion hanya diam tidak menanggapi ucapan Ibu Diah. Rasa tidak senang berada di ruangan ini semakin terlihat di wajahnya. Ibu Diah tahu itu.
“Dion, ibu guru konseling kamu. Kamu bisa cerita ke ibu kalau ada sesuatu yang terjadi dengan kamu Ibu akan bantu kamu mencari jalan keluarnya. Kamu tidak perlu khawatir semua cerita dijamin kerahasiannya.” Ibu Diah menatap dan meyakinkan Dion.
Dion mengalihkan tatapannya dari Ibu Diah. Tak ada suara yang terdengar. Suasana hening.
“Ibu, saya sudah boleh pulang?” suara Dion tiba-tiba memcahkan keheningan di ruangan itu.
Ibu Diah kaget. Dia tak menyangka Dion minta pulang. Biasanya siswa-siswa betah berlama-lama bercerita dengannya, tetapi tidak dengan siswa ini. Dion lain. Dion berbeda dengan siswa lainnya. Ibu Diah jadi penasaran dengan siswa yang satu ini. Ada sesuatu perasaan yang tiba-tiba menyelinap dihatinya.
“Oke, mungkin untuk saat ini kamu boleh pulang. Tapi ibu masih membutuhkan kamu nanti untuk minta beberapa keterangan ,” jawab ibu Diah. “Dan jika ada yang mau kamu ceritakan, ibu selalu ada waktu buat kamu.” Ibu Diah mempersilahkan Dion keluar ruangannya.
******
Malam itu Dion tak bisa tidur. Suasana malam begitu hening. Yang terdengar hanya suara detak jam di atas meja belajarnya. Suara tiang listrik yang dipukul dua kali menandakan hari sudah pukul dua tengah malam. Di dinding kamar seekor cicak menatap kearah Dion seakan bertanya kenapa Dion belum tidur.
Dion teringat percakapannya dengan Ibu Diah kemarin siang sepulang sekolah. Percakapan yang meminta dia agar bercerita masalahnya ke Ibu Diah. Apa Ibu Diah tahu masalahku? Apa Ibu Diah tahu yang terjadi denganku?, pikir Dion.
Tiba-tiba memori di kepala Dion berputar balik ke kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dion seakan melewati lorong waktu kembali ke masa lalu.
Dion hidup bertiga dengan papa dan mamanya. Kehidupan masa kecil Dion sebelum masuk SD normal seperti anak-anak lainnya. Keluarga mereka adalah keluarga kecil yang bahagia. Tapi kebahagian keluarga tidak berlangsung lama. Semua berawal dari ulah mamanya.
Teringat mamanya, membuat hati Dion jadi perih dan benci. Ya... Dion sangat membenci mamanya. Mama seorang perempuan yang sangat cantik dan cerdas. Mama bekerja di kantor yang besar dan megah. Kecerdasan mama membuat mama menduduki jabatan yang tinggi di kantor.
Kesibukan mamanya di kantor membuat mama jarang punya waktu buat Dion dan papa. Meninggalnya Bik Darmi ART kepercayaan mama sewaktu Dion berusia lima tahun membuat tidak ada orang lagi yang bekerja di rumah. Mama sulit percaya kepada orang baru. Beberapa ART yang menggantikan Bik Darmi tak ada yang betah dan cocok dengan mama.
Karena tidak ada yang mengurus rumah dan menjaga Dion mama meminta papa berhenti bekerja. Papa pada awalnya keberatan. Papa minta mama yang berhenti bekerja. Mama tidak mau. Mama tetap memaksa papa yang berhenti. Alasan mama, karena gaji papa jauh lebih kecil dari mama. Akhirnya papa yang mengalah.
Semenjak berhenti kerja kebutuhan Dion papa yang mengurus. Semua pekerjaan rumah tangga memasak, mencuci, menyetrika dan membersihkan rumah dikerjakan oleh papa. Mama dan papa bertukar peran. Awalnya baik-baik saja, tidak ada masalah. Papa tidak keberatan di rumah menggantikan pekerjaan mama. Mamapun tidak pernah protes jadi tulang punggung keluarga.
Tetapi setelah Dion masuk SD semua berubah. Mama sering pulang kerja dengan marah-marah. Masalah kecil saja bisa membuat emosi mama meledak. Papa selalu jadi sasaran kemarahan mama. Tidak jarang Dion pun pernah jadi imbas kemarahan mama.
Semua pekerjaan yang dilakukan papa tidak pernah dihargai oleh mama. Selalu aja salah apa yang dibuat papa. Setiap hari mama tahunya marah dan marah. Dion kecil sangat dekat dengan papa. Perlakuan mama ke papa membuat Dion tidak suka kepada mama. Tapi Dion tidak bisa berbuat apa-apa.
Setiap hari selalu pertengkaran antara mama dan papa yang dilihat dan didengarnya. Pertengkaran yang terkadang membuat Dion jadi gemetar dan ketakutan. Karena sehabis pertengkaran mulut biasanya diakhiri dengan melayangnya benda-benda yang ada di rumah. Suara jatuhnya benda-benda yang melayang menimbulkan suara yang membuat jantung Dion seakan mau copot. Dion sering duduk di sudut ruang kamarnya terisak ketakutan.
Puncak perkelahian kedua orang tuanya terjadi malam itu, mama pulang diantar oleh seorang teman laki-lakinya. Dion melihat dari lantai atas rumah mereka, papa marah dan berkelahi dengan teman mama.
Papa babak belur dihajar oleh teman mama. Dion benci mamanya, karena mama tidak mempedulikan papa. Mama tidak mau menolong papa. Malah mama lebih perhatian ke temannya. Mama tidak mempedulikan papa yang tak bisa bangun lagi setelah dihajar oleh teman laki-lakinya. Malam itu mama pergi dari rumah dengan temannya tersebut.
Dion berlari mengejar papa dan menuntun papa ke kamar. Dengan tangan mungilnya Dion membersihkan dan mengobati luka-luka lebam di wajah papa. Dion sedih. Dion tidak terima papanya diperlakukan demikian.
Semenjak kejadian itu papa jadi pemurung. Dion sering lihat papa menangis. Seminggu setelah kejadian, mama pulang. Tapi hanya sebentar mengambil beberapa barangnya lalu pergi lagi. Semenjak itu Dion tidak pernah melihat mamanya lagi.
Sebulan setelah kejadian itu Dion dan papa terpaksa meninggalkan rumah besar tempat dia dari kecil dibesarkan. Rumah tempat tinggal dia dan papa harus dijual. Walaupun papa tidak pernah bercerita Dion tahu bahwa rumah itu dijual dan uangnya sebagian diambil mamanya.
Dengan sisa uang penjualan rumah papa membeli rumah yang kecil untuk tempat tinggal mereka. Untuk membiayai kebutuhan sehari-hari papa bekerja sebagai security di sebuah mall.
Papa tidak mau menikah lagi setelah bepisah dengan mama. Dion tahu banyak perempuan yang ingin jadi mamanya. Tapi papa menolak. Papa tidak ingin Dion punya mama tiri. Papa takut nanti mama sambung tidak bisa menerima kehadiran Dion.
Hidup berdua dengan papa membuat Dion sangat menyayangi papanya. Papa selalu berusaha memenuhi kebutuhan Dion. Mainan dan pakaian bagus selalu dibelikan papa untuk Dion.
Dion tidak pernah tahu lagi keadaan mamanya. Wanita itu tidak pernah terdengar khabarnya. Hilang bagaikan ditelan bumi. Jangankan menjumpai Dion, menanyakan khabar Dion melalui handphone pun tidak pernah. Tidak mungkin mama lupa nomor kontak papa. Waktu Dion sakit papa pernah mencoba menghubungi mama, tapi nomor mamanya tidak aktif lagi. Dion semakin tidak peduli dengan wanita itu. Hanya ada kebencian dan sakit hati apabila mengingat wanita itu
Perlakuan mama terhadap papanya membuat Dion tidak respect terhadap yang namanya perempuan. Dion jadi benci dan tidak suka melihat kaum perempuan. Tapi Dion tidak pernah menceritakannya kepada orang lain termasuk kepada papanya. Dion menyimpan dalam hatinya yang paling dalam semua kebenciannya kepada perempuan.
Setamat SD papa memasukan Dion ke sekolah SMP yang bagus dan mahal. Papa sangat peduli dengan pendidikan Dion. Bagi papa pendidikan sangat penting. Pendidikan dapat merubah kehidupan kearah yang lebih baik, itu yang selalu ditekankan papa ke Dion.
Kebutuhan hidup dan biaya sekolah Dion yang semakin mahal membuat papa mencari pekerjaan lain sebagai tambahan penghasilan. Perkenalan papa dengan teman SMP nya membuat kehidupan mereka mulai berubah. Tapi disitulah awal petaka yang dialami papa terjadi.
bersambung
apa yang terjadi dengan papa Dion ikuti next part ya guys....
Dumai, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan