Dendam Masa Lalu (Part Terakhir ) Tagur hari ke 35
#TantanganGuruSiana
Ketiga siswa berseragam abu-abu itu diam tak bersuara di depan Ibu Diah dan Pak Andi. Nasehat Ibu Diah yang disampaikan dengan lemah lembut dan bahasa yang halus sangat mengena di hati mereka. Ketiganya tak berani membantah, apalagi Alexa ini sudah yang kedua kalinya dia berada di ruang Ibu Diah untuk kasus yang sama. Setelah membuat surat perjanjian tidak akan mengulangi lagi kejadian seperti ini lagi, mereka bertiga keluar dari ruangan Bu Diah
Radit sudah menunggu Dion di depan pintu ruangan BK. Radit tidak berada di lokasi sewaktu Alexa dan Rhea perang mulut tadi. Ibu Anna wali kelas mereka memanggil Radit ke ruangannya, sehingga Radit membiarkan Dion ke kantin sendirian. Radit heran kenapa cewek-cewek itu selalu membuat masalah pada sahabatnya.
“Ada apa Dion?, loe sebentar aja gue tinggal udah ketiban masalah. Malang nian nasib loe,”
Dion tersenyum, dia tak menanggapi pertanyaan Radit.
“Kantin yok. Gue apar.” Ajak Dion ke Radit.
“Gila loe, ni bukan waktu istirahat. Bel masuk udah bunyi lima menit yang lalu,” Radit mengingatkan Dion.
“Nah loe ngapain disini?” Dion balik bertanya.
“Gue kan nungguin loe. Gue sahabat sejati, Man. Sahabat sejati itu ikut susah kalau sahabatnya kesusahan.” Radit berkata sambil menepuk dadanya.
Dion tertawa melihat tingkah Radit. Radit benar, Radit adalah sahabat sejatinya. Yang selalu ada buat Dion. Baik dikala susah maupun dikala senang. Beriringan dua sahabat itu menuju kelas mereka.
****
Suasana rumah berubah jadi menyenangkan setelah om Burhan lebih sering di rumah. Rumah menjadi lebih berwarna. Dion merasakan kehangatan keluarga. Om Burhan sering mengajak Dion melakukan aktivitas bersama. Shalat Magrib berjamaah menjadi agenda rutin di rumah om Burhan. Terkadang mereka shalat di mesjid dekat komplek perumahan. Setiap hari minggu pagi om Burhan mengajak Dion lari pagi mengelilingi komplek.
Keinginan Dion untuk menghilangkan sikap trauma di hatinya semakin besar. Dion ragu kepada siapa mau bercerita, kepada om Burhan atau Ibu Diah. Tawaran dari Ibu Diah yang mau membantu masalahnya lebih menarik hatinya. Ibu Diah yang seorang Sarjana Psikologi tentu lebih memahami masalahnya daripada om Burhan. Ibu Diah tentu punya cara-cara khusus untuk orang bermasalah sepertinya.
*****
Ibu Ratna berhalangan hadir hari ini. Khabar ketidakhadiran ibu Ratna disambut dengan suka cita oleh anak-anak XI IPA-2. Peristiwa yang sangat langka terjadi, karena Ibu Ratna dikenal sebagai guru yang sangat rajin dan disiplin. Kondisi apapun tak pernah menghalangi niatnya untuk memberikan ilmu kepada anak didiknya. Kelas menjadi bising. Latihan yang diberikan bu Ratna tak bisa mengurangi kebisingan kelas. Dion tiba-tiba ingat Ibu Diah, ini adalah saatnya yang tepat untuk jumpa Ibu Diah.
“Gue mau jumpa Ibu Diah, Dit.” Dion berkata pelan pada Radit.
“Gue ikut ya Dion !” Radit menatap Dion.
“Nggak..., Loe di kelas saja. Nih tolong kerjakan latihan gue.” Dion menyerahkan buku latihannya kepada Radit. Bergegas dia keluar meninggalkan kelas.
*****
Dion berdiri di depan ruangan BK. Dia kelihatan ragu-ragu mau mengetuk pintu ruangan tersebut. Masuk tidak... Masuk tidak, Dion membatin.
“Ada apa Dion?” suara ibu Diah mengagetkan Dion. Dion tidak menyadari tiba-tiba ibu Diah sudah berdiri di depan pintu. “Kamu mau jumpa Ibu?” lanjut beliau.
Dion Cuma menganggukkan kepala. Ibu Diah mebuka pintu lebih lebar. Ibu Diah mempersilahkan Dion masuk.
“Silahkan duduk Dion. Kamu tidak belajar?” Ibu Diah menatap heran.
“Ibu Ratna tidak datang Bu, jadi saya ke sini. Saya mau bercerita sesuatu dengan Ibu” Jawab Dion ragu.
Ibu Diah menatap Dion. Wajahnya kelihatan sangat senang, karena Dion mau bercerita dengannya. Ibu Diah berdiri mengambil gawai yang berada di atas meja kerjanya. Beliau berbicara pelan dengan seseorang.
Selesai menelpon ibu Diah kembali duduk di depan Dion “Ibu Ratna sedang ada pelatihan. Tadi ibu sudah ceritakan ke beliau kalau kamu ada di ruangan ibu. Latihan yang diberikan ibu Ratna nanti kamu kerjakan di rumah. Besok kamu serahkan kepada beliau.”
Dion menganggukan kepalanya. Dion menatap ibu Diah yang dari tadi sudah siap menunggu ceitanya
Tapi Dion masih diam membisu. Dion tidak tahu harus mulai bercerita darimana. Terlalu banyak yang mau diceritakan membuat dia bingung.
Melihat Dion masih diam, ibu Diah berusaha memancing Dion bercerita.
“Ibu boleh tahu cerita masa kecilmu, Dion?” suara ibu Diah terdengar lembut sekali
Pertanyaan ibu Diah mengagetkan Dion. Pelan... kemudian cerita meluncur dari mulut Dion. Ibu Diah diam mendengarkan tanpa bertanya. Beliau membiarkan cerita Dion mengalir. Sesekali ibu Diah nampak menyeka air mata yang mengalir di sudut matanya. Ibu Diah sangat terhanyut mendengar cerita Dion. Ibu Diah tak bisa menyembunyikan tangisnya sewaktu Dion menceritakan kepergian papanya. Beliau tampak sangat sedih. Air mata nampak menganak sungai di wajahnya. Dion heran kenapa Ibu Diah nampak begitu sedihnya mendengar ceritanya.
“Itulah bu, kenapa saya tidak suka dengan perempuan. Karena bagi saya perempun itu selalu buat masalah. Mereka egois. Mereka mau menang sendiri” Dion mengakhiri ceritanya.
Hampir dua jam Dion bercerita. Selesai Dion bercerita tidak ada suara yang terdengar. Ibu Diah nampak berusaha mengontrol emosinya.
“Ibu senang kamu mau mempercayai Ibu unuk mendengar ceritamu. Ibu sangat terharu. Kamu adalah anak yang hebat bisa melewati semua.” Ibu Diah tersenyum kearah Dion.
“Saya mau menghilangkan trauma ini dalam diri saya, Bu.” Dion memandang bu Diah.
“Insha Allah, kamu pasti bisa Dion. Kamu anak yang cerdas. Dukungan orang-orang disekitarmu akan mambantu kamu untuk sembuh. Banyak orang yang mengalami sepertimu.” Ibu Diah terdiam.
“Didalam ilmu psikologi kamu mengalami Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD. PTSD yaitu gangguan stres pasca trauma. Merupakan suatu kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa yang traumatis, baik dengan mengalaminya maupun menyaksikannya. Pengalaman mama dan papanya semasa kecil terbawa ke alam bawah sadarmu. Sehingga menyebabkan kamu menjadi trauma. Trauma yang kamu alami sendiri tanpa kamu pernah berbagi cerita kepada dengan orang lain membuat rasa trauma itu menjadi lebih dalam.” Ibu Diah menjelaskan.
“Ibu akan membantu kamu menghilangkan rasa trauma itu Dion,” ibu Diah berkata yakin.
Dion terdiam. Ternyata buku Psikolgi yang dbacanya di perpustakaan itu benar Dion mengalami Post-Traumatic Stress Disorder. Dion sedikit lega karena rasa trauma ini bisa dihilangkan dan ibu Diah berjanji membantunya.
“O ya Dion, besok hari Minggu, kalau kamu ada waktu ibu mau kamu datang ke rumah ibu. Ada yang ingin ibu perlihatkan ke kamu.” Ibu Diah berkata sebelum Dion meninggalkan ruangannya. Dion meninggalkan ruangan ibu Diah dengan perasaan yang lebih baik. Ada sedikit beban yang berkurang didadanya. Beban yang selama ini dipikulnya sendiri sudah dibagikannya kepada bu Diah.
*****
Dion behenti di sebuah alamat yang di sharloc ibu Diah di gawainya. Rumah minimalis yang dicat warna biru muda itu memberikan kesan yang nyaman. Di teras depan rumah nampak sepasang kursi santai dari Jepara. Beberapa bunga mawar yang sedang mekar membuat rumah terkesan lebih indah. Pagar rumah yang tidak dikunci memudahkan Dion masuk. Pelan Dion mengetuk pintu. Suara Ibu Diah menyambut salam Dion terdengar dari dalam.
“Silahkan masuk, Dion,” Ibu Diah membukakan pintu untuk Dion.
Dion melangkahkan kaki ke dalam rumah. Ruang tamunya sangat sederhana, tidak ada kursi tamu, yang ada hanya hamparan permadani lembut dengan sebuah meja kecil di tengahnya. Beberapa pajangan berbentu guci menghiasi ruangan itu. Sebuah lukisan kaligrafi berada di dinding sebelah kanan. Ruangan kecil tapi tidak menimbulkan kesan sumpek.
“Ibu tinggal sendiri?” Dion bertanya.
“Iya Dion, ibu juga sebatang kara seperti kamu. Sewaktu ibu kuliah, kecelakan pesawat menyebabkan ibu kehilangan kedua orang tua ibu.” Sedih terdengar suara Ibu Diah.
“Maaf ibu,” Dion menyesal membuat ibu Diah sedih.
“Kata Ibu, ada yang mau diperlihatkan kepada saya. Apa itu Bu?” Dion tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Tiba-tiba Ibu Diah tegak dan berjalan menuju ke arah kamar, dia keluar dan ditangannya ada sebuah figura photo. Figura tersebut diserahkan kepada Dion. Dion menantap figura itu. Lama matanya terpaku pada figura. Ada photo sepasang suami istri dan dua orang anak mereka di dalam figura tersebut.
Dion terpaku. Rasanya Dion kenal dengan anak laki-laki yang ada di photo itu. wajah yang mirip dengan almarhum papanya. Yah.. Dion yakin wajah yang ada di photo itu adalah papanya. Dan siapa anak perempuan cantik yang disamping papanya?
“Ibu, ini seperti almarhum papa saya.” Pelan Dion berkata.
“Kamu benar Dion, itu photo papa kamu. Gadis kecil di samping papa kamu itu, ibu.” Ibu Diah terdiam dia menghapus air mata yang membanjiri wajahnya.
“Jadi... ibu adalah tanteku?” Dion menatap ibu Diah. Ibu Diah mengangguk. Ibu Diah memeluk Dion. Mereka menangis dalam pelukan.
“Kamu keponakan ibu, kamu anak kandung dari kakak ibu. Ardian, almarhum papa kamu adalah kakak kandung ibu satu-satunya. Ibu senang Dion, bisa bertemu dengan kamu, Ibu tidak sendiri lagi.” Ibu Diah melepaskan pelukannya.
Dion tidak tahu kalau selama ini papanya punya saudara. Papa tidak pernah cerita mengenai keluarganya.
“Papa kamu sangat mencintai mama kamu. Pernikahan mereka tidak direstui oleh nenek dan kakek kamu. Papa kamu memilih meninggalkan kami dan ikut mamu kamu. Mama kamu membuat papa kamu lupa kepada ibu dan kedua orang tuanya,” penjelasan ibu Diah menjawab tanya di hati Dion.
“Sudah lama Ibu dan orang tua Ibu melacak keberadaan kalian. Tapi kalian seperti hiang ditelan bumi,” ibu Diah terisak pelan.
Suara salam mengagetkan Dion dan Ibu Diah. Ternyata yang datang om Burhan. Om Burhan berdiri di depan pintu. Dion heran kenapa om Burhan tahu kalau dia ada di rumah ibu Diah. Siapa yang menceritakan aku disini, batin Dion.
“Silahkan duduk, Mas.” Ibu Diah mempersilahkan om Burhan duduk.
Dion kaget, ternyata ibu Diah kenal om Burhan. Siapa yang mengenalkan?
“Masalah kamu menuntun ibu berjumpa dengan Mas Burhan. Ibu mengenal mas Burhan sudah lama, karena dia teman Mas Ardi, kakak ibu. Sejak itulah ibu tahu kamu keponakan ibu.” Ibu Diah berhenti bicara.
“Kami berdua sepakat membuat kamu sembuh dari trauma kamu. Untunglah Mas Burhan mau bantu ibu.” Ibu Diah menatap om Burhan.
“Siapa yang tega menolak membantu bu guru secantik ibu Diah, adik almarhum sahabat terbaikku” om Burhan menimpali. Ibu Diah tersipu mendengar pujian om Burhan.
“Tapi sekarang Dion, jangan panggil ibu Diah lagi ya. Panggil tante. Apalagi nanti ibu Diah juga akan jadi tante Dion, istri Om.” Om Burhan berkata dengan senyum lebar sebelah matanya mengedip ke arah ibu Diah. Ibu Diah, eh tante Diah nampak malu sekali. Rona merah mewarnai pipinya
Dion tersenyum. Dion tahu kenapa tiba-tiba om Burhan berubah jadi lebih baik. Pasti tante Diah punya andil didalamnya. Hatinya tiba-tiba merasa bahagia. Bahagia yang dirasakan Dion tidak kalah dengan bahagia sepasang insan di depannya. Om Burhan dan ibu Diah. Om yang disayanginya akan menikah dengan ibu gurunya, adik kandung papanya. Dion merasa Tuhan sangat baik kepadanya.
“Dion, kamu jangan dendam lagi kepada mama kamu ya. Kami berdua sudah melacak beliau. Mbak Sintya mama kamu, sudah tiada. Beliau meninggal waktu melahirkan anak pertamanya dengan suami barunya. Dua tahun setelah mama kamu pergi dari kehidupan kamu dan alm Mas Ardi. Makanya beliau tidak pernah mencari kamu. Kamu punya adik tiri. Kalau kamu mau nanti tante dan om akan kenalkan kalian berdua. Wajah kalian sangat mirip.” Tante Diah menatap Dion.
“Nanti setelah ini kita ziarah ke makam papa dan mama kamu, Dion.” Om Burhan menatap Dion.” Om Burhan menambahkan perkataan tante Diah.
Dion menganggukan kepala. Dia merasa senang sekali. Mendengar dia punya adik walaupun lain bapak. Senang mendengar berita om Burhan akan menikah dengan tantenya. Dion membayangkan nanti punya keluarga yang lengkap. Terima kasih Tuhan untuk semuanya, batin Dion
“tiiiimitsssss alias tamat”
Setelah baca tinggalkan krisan ya guys.. Makasi
Dumai, 3 Mei 2020
.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan