Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Dendam Masa Lalu (Part 4) Tagur Hari ke 34

#TantanganGuruSiana

Pertemuan papa Dion dengan Burhan teman SMAnya merubah kehidupan Dion. Om Burhan mengajak papa Dion bekerja di  show room mobil miliknya.   Gaji yang lumayan membuat  Dion dan papa  hidup lebih layak tanpa pernah kekurangan. Papa Dion yang rajin dan jujur membuat om  Burhan  menjadikannya  sebagai tangan kanan.

Dion sangat dekat dengan om Burhan.  Om Buhan orangnya baik dan tidak pelit. Walupun usia om Burhan sudah kepala empat seperti papa, tapi om Burhan nampak jauh lebih muda dari papa. Mungkin karena kehidupannya yang senang bergelimang harta mempengaruhi  aura di wajahnya ditambah lagi dengan pakaian-pakaian bermerk  dan trendy yang membungkus badannya membuat penampilan om Burhan  jauh lebih muda dari usianya.

 Om Burhan belum memiliki anak, kehadiran Dion bagi om Burhan sebagai pengobat rindu atas anak yang belum dimilikinya.  Dion pernah diajak papa ke rumah om Burhan. Om Burhan hanya tinggal berdua dengan istrinya.  Istri om Burhan masih muda  dan sangat cantik, tapi Dion tidak menyukainya. Wajahnya  yang sinis dan tidak bersahabat membuat Dion tidak betah di rumah om Burhan.

Kebahagian tidak lama mampir dikehidupan Dion.  Kebahagian yang baru dirasakan Dion seakan terenggut dari hidupnya. Kecelakaan mobil yang dialami papa membuat papa meninggalkan Dion untuk selama-lamanya. Papa kecelakaan sewaktu mengendarai mobil om Burhan.

 Penyelidikan yang dilakukan polisi menyebutkan kecelakaan mobil yang dialami papa Dion sudah direncanakan. Rem mobil yang sengaja diblongkan membuat papa Dion tidak bisa mengendalikan kecepatan mobil. Istri om Burhan adalah dalang dibalik kecelakaan itu.

Target  pembunuhan itu sebenarnya  om Burhan. Tapi takdir berkehendak lain, mobil yang seharusnya dikendarai om Burhan,ternyata dibawa papa Dion.  Papa Dion yang jadi korbannya. Perempuan itu mau membunuh suaminya dan  ingin menguasai hartanya. Perempuan yang licik dan gila harta.  Dion sangat benci melihat  istri om Burhan.  Perempuan yang sudah membuat papanya meninggal. Pembunuhan berencana yang dilakukan oleh istri om Burhan mengirim dia ke hotel prodeo.

Kepergian papanya membuat Dion sangat terpukul.  Dion beranggapan Tuhan tidak adil kepadanya. Dion tidak punya lagi tempat bergantung dan berlindung.  Dion kehilangan semangat hidup. Dion tidak mau lagi  sekolah, padahal beberapa hari  lagi ujian akhir SMP akan berlangsung. Om Burhanlah yang datang sebagai penyemangat hidupnya. Om Burhan berhasil membujuk Dion untuk sekolah.  Om Burhan mengajak Dion tinggal di rumahnya.  Di rumah om Burhanlah sekarang Dion tinggal. Om Burhan menyanyangi Dion seperti anaknya sendiri. Kepada rekan-rekan kerja Dion dikenalkan sebagai putranya.

*****

Hampir tidak tidur semalamam membuat Dion menjadi mengantuk keesokan harinya di sekolah. Radit sempat heran melihat sahabat menguap beberapa kali. Tak biasanya Dion seperi ini.

Loe ngapain sih Dion, dari tadi nguap terus?. Loe begadang ya tadi malam. Loe pasti  nonton  film....” tangan Dion menutup mulut Radit agar tidak melanjutkan ucapannya. Radit mulutnya suka sembarangan kalau bicara. Dion merasa tak enak kalau didengar anak-anak lain.

Loe itu jangan nuduh yang buka-bukan. Sok tahu.” Jawab Dion kesal. Radit Cuma cengengesan.

“Habis gue heran, dari tadi loe kayak orang  ngantuk aja.” Jawab Radit. “Eh.. loe jadi jumpa Ibu Diah kemarin, ngapain bu Diah manggil loe?” wajah Radit  nampak ingin tahu.

Dion cuma menangkat bahu. “Tanya saja sama bu Diah sendiri,” jawab Dion cuek.

“ Kita kan sahabat, jadi masalah loe masalah gue juga. Ayo Dion cerita,” Radit masih penasaran.

“Tak penting.... Kita ke pustaka yok,” Dion mengalihkan pertanyaan dengan mengajak sahabatnya ke pustaka.

Berdua mereka menuju perpustakaan.  Jam istirahat di perpustakaan tidak terlalu ramai, karena anak-anak lebih senang nongkrong di kantin dibandingkan di perpustakaan. Langkah kaki Dion menuntun Dion deretan buku-buku psikologi.  Sebuah buku yang membahas tentang stres pada remaja berada ditangannya. Sebuah artikel yang membahas  tentang  Post Traumatic Stres Disorder  menarik perhatian Dion.  Bacaan itu sangat mengena di hatinya. Apakah aku terkena gejala ini, batin Dion. Dion tertegun.

*****

Akhir-akhir ini Dion melihat ada yang aneh pada om Burhan. Om Burhan nampak berubah. Om Burhan lebih  sering berada di rumah dan  selalu mengajak Dion bicara.  Dion merasa om Burhan mulai menjalin komunikasi dengannya. Selama ini walaupun Dion tinggal serumah dengan om Burhan, mereka jarang bertegur sapa. Pagi-pagi om Burhan sudah ke kantor dan pulang nanti sudah larut malam. Om Burhan sibuk mengurus bisnisnya. Palingan om Burhan akan menegur hanya sekedar menanyakan apa Dion masih ada uang atau tidak.

“Dion kita shalat berjamaah yok!” ajakan om Burhan magrib  itu  mengagetkan Dion.  Sholat? Dion tertegun. Sudah hampir dua tahun  Dion tidak shalat. Sejak papa meninggal Dion tidak pernah lagi shalat. Dion merasa Tuhan tidak menyayanginya. Dion protes kepada Tuhan dengan tidak shalat.

 “Dion mau ikut sholat dengan Om?” suara om Burhan terdengar lagi.

Dion mengganggukan  kepala. Setelah berwudhuk Dion mengikuti om Burhan ke mushola kecil disamping  rumah om Burhan. Om Burhan jadi imam sholat berjamaah, Dion dan dua orang ART ikut jadi makmum. Suara om Burhan melantunkan bacaan sholat terdengar syahdu dan menggetarkan hati Dion. Dion tak menyangka om Burhan memiliki suara  yang sangat bagus.

Selesai sholat om Burhan mengajak Dion bercerita. Ternyata om Burhan dulu pernah tinggal dipesantren. Kesibukan mencarai harta dunia membuat om Burhan lalai, harta yang banyak membuat om Burhan suka hidup berpoya-poya. Tidak kepikiran untuk menikah.  Diusia  empat puluh tahun dia kenal dengan tante Widya, mantan istrinya yang sekarang di penjara. Tante Widya ternyata tidak mencintainya, hanya mencintai hartanya.

Banyak kejadian yang terjadi membuat om Burhan mulai memperbaiki diri. Semua yang terjadi dengan hidupnya mungkin karena dia lalai kepada Sang Pencipta. Om Burhan mau meperbaiki semuanya. Om Burhan menasehati Dion agar bisa jadi anak sholeh dan selalu mendoakan almarhum papanya.

Pembicaraan dengan om Burhan malam itu sangat membekas di hati  Dion.  Dion ingin berubah. Dion ingin seperti om Burhan. Berubah ke arah yang lebih baik. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana menghilangkan rasa benci dihatinya kepada perempuan? Bagaimana menghilangkan Post Traumatic Stres Disorde   yang pernah dialaminya ? Batin Dion bergejolak. Lelah membawanya tertidur. Dion tertidur dengan tanya yang belum terjawab.

*****

“Kak Dion jangan lupa datang ke pesta  Rhea, ya!” suara renyah Rhea primadonanya  kelas X menyapa Dion manja.  Wajah yang cantik dengan mata yang bening membuat siapa yang melihat pasti terpesona.

“Ya. Nanti Kak Dion usahakan ya.” Dion tersenyum kepada Rhea dan teman-temannya.

Alexa dan kelompoknya yang melihat Rhea dan Dion mengobrol jadi tidak senang.  Mereka mendatangi  Rhea dan teman-temannya yang lagi bicara dengan Dion.

“Eh.. loe jangan sok akrab sama Dion ya,” Alexa memandang tajam kepada Rhea.

Rhea yang merasa tak bersalah balas menatap Alexa. Sedikitpun tak nampak gentar di matanya.

“Kenapa memangnya ?” Rhea menatap Alexa heran. “Kak Dion kan bukan pacar loe.” Rhea menjawab cuek. Matanya mengarah ke Dion yang masih berdiri di situ. “Kak Dion tidak pacaran sama dia, kan?” Rhea bertanya sambil tangan kirinya menunjuk Alexa. Dion yang ditanya menggelengkan kepalanya.

“Tuh kan, Kak Dion aja bilang kalau loe bukan pacarnya. Ngapain melarang-larang gue.” Rhea tersenyum mengejek.

Alexa  geram bukan main melihat Rhea menunujuk dia pakai tangan kiri. “Pokoknya aku tak suka loe dekat-dekat sama Dion,  kegatalan. Loe jangan belagu ya. Masih baru tapi sudah kurang ajar sama kakak kelas.” Suara Alexa terdengar keras.

Loe yang gatal, kakak kelas seperti loe untuk apa dihormati, tak pantas tahu.” Rhea yang sudah terpancing emosinya membalas dengan suara yang tak kalah kerasnya.

Dion yang berada di situ cuma diam. Sedikitpun tak ada keginannya untuk melarang dua orang pengemarnya itu untuk diam. Ada kepuasan tersendiri di hatinya melihat adegan itu. Senang melihat para cewek-cewek itu berkelahi memperebutkannya.

Pertengkaran mulut mereka berdua mengundang beberapa anak-anak lain mendekat. Beberapa orang berusaha membuat suasana menjadi panas.  Salin jambak rambut nyaris terjadi kalau Pak Andi  pembina OSIS tidak lewat disitu. Semua gerombolan anak-anak disuruh bubar oleh pak Andi.

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post