Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Dudung Tabib Yang Baik Hati ( Dongeng Anak ) Tagur hari ke-45

#TantanganGuruSiana

Semenjak ditinggal oleh kedua orang  tuanya Dudung tinggal sendiri di rumahnya yang kecil. Rumah Dudung terletak di pinggir hutan agak   jauh dari pemukiman penduduk.  Almarhum kedua orang tua Dudung  yang bekerja sebagai petani dan pencari kayu bakar memilih tinggal di sini agar dekat dengan tempat pekerjaan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari Dudung  berjualan kayu bakar.  Anak kecil itu adalah anak yang rajin. Baginya pantang meminta-minta kepada orang lain. Sikap seperti itu sudah ditanamkan oleh almarhum kedua orang tuanya. Selagi tangan masih bisa bekerja, kaki masih bisa melangkah jangan menerima uluran tangan orang lain itu yang selalu dipesankan almarhum Bapak. Dudung mengingat sekali nasehat itu. Bagi keluarga Dudung tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Penduduk desa sebenarnya kasihan kepada Dudung yang tinggal sebatang kara di hutan. Penduduk desa ada yang mengajak agar Dudung tinggal bersama mereka tetapi Dudung menolak dengan halus. Banyak kenangan indah yang tertinggal di pondok itu waktu bapak dan maknya masih hidup.  Dudung merasa sangat sedih jika harus meninggalkan pondok tersebut.

Malam itu hujan turun dengan lebat. Suara petir yang sambar menyambar membuat suasana malam menjadi tambah mencekam. Dudung duduk di dipan dengan sedikit gemetar menahan dingin. Selimut tipis yang dipakainya tidak mampu melawan dingginnya malam.

Tidak lama kemudian hujan lebat berhenti hanya rintik-rintik yang masih terdengar di atap rumah. Suara ketukan di pintu mengagetkan Dudung. Siapa yang malam-malam ini bertamu, batin Dudung. Dengan langkah sedikit  ragu Dudung membuka pintu.

Dudung kaget. Di depan pintu seorang kakek yang sudah sangat tua berdiri. Pakainya basah kuyup karena kehujanan. Badannya nampak mengigil. Dudung membuka pintu lebih lebar dan menyuruh kakek itu masuk.

Dudung memberikan sebuah kain kepada kakek.  Sebuah lemari reot di sudut ruangan dibuka Dudung. Sebuah kemeja lusuh milik almahum Bapaknya diberikan Dudung kepada si kakek. Kakek mengganti pakaiannya yang basah. Selesai mengganti pakaian  kakek duduk di kursi bambu yang berada dalam pondok tersebut. Segelas teh hangat tanpa gula nampak terhidang di meja.

“Minum teh hangatnya ya Kek. Maaf Dudung tidak punya gula,”  anak itu berkata dengan wajah polos.

Kakek menerima cangkir berisi teh pemberian si Dudung.  Wajahnya nampak gembira menerima pemberan Dudung.

“Terima kasih, Nak,” kakek menjawab pelan.

Dudung teringat ada sedikit nasi dan sepotong  tempe yang disimpannya di lemari belakang . Rencana nasi itu untuk sarapan pagi. Kakek ini pasti lapar dia pasti lebih membutuhkan makan, pikir Dudung. Dudung mengambil nasi dan  tempe kemudian menyerahkan kepada kakek.

“Kakek pasti lapar, makanlah dulu," Dudung meletakkan piring berisi  nasi dan tempe di depan kakek.

Dudung benar. Kakek itu sangat lapar. Tidak menunggu lama nasi dan tempe yang disajikan Dudung habis tidak bersisa.

“Kamu baik sekali, Nak. Terima kasih. Kakek sudah merasa baikkan,” kakek berkata sambil menatap Dudung dengan mata bersinar.

“Siapa namamu? Kenapa kamu sendiri di rumah ini?” kakek menatap Dudung heran.

“Nama saya Dudung, Kek. Saya tinggal sendiri disini,” Dudung menceritakan tentang dirinya kepada si kakek.  Kakek mendengarkan dengan seksama cerita Dudung. Dia kagum kepada anak kecil ini. Anak yang hebat, batin kakek. Semoga Tuhan selalu melindungimu, doanya dalam hati.

“Kakek mau kemana ? Kenapa kakek malam-malam begini berada di dekat hutan?” giliran Dudun yang betanya keoada kakek.

“Kakek pengembara Dudung. Kakek tidak punya rumah. Kakek hidup berpindah-pindah.” Kakek menjawab sambi tersenyum

“Kakek tinggal saja disini bersamaku, aku senang kalau kakek mau tinggal disini,” Dudung menatap kakek penuh harap.

*****

Semenjak itu kakek tinggal bersama Dudung. Kakek sering mengikuti Dudung ke hutan. Kakek memiliki keahlian meracik obat-obatan dari daun-daunan yang ada di hutan. Kakek mengajarkan kepada Dudung bagaimana meracik obat-obatan dari daun-daun yang  ada di hutan. Dudung anak yang cerdas semua pembelajaran dari kakek dapat diterimanya dengan baik.

Kepintaran Dudung meracik obat mulai diketahui oleh orang banyak. Sejak saat itu banyaklah orang yang datang ke pondok Dudung untuk berobat.  Melihat Dudung sudah terampil meracik obat, kakek berniat mau melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi kakek berpesan agar Dudung membantu sesama dengan ikhlas tanpa balasan. Teruslah berbuat baik kepada sesama, pesan kakek. Dudung sedih berpisah dengan kakek. Dudung yakin kakek bukan orang sembarangan. Kakek pasti seorang Malaikat yang dikirim Tuhan untukku, batin Dudung.

*****

Sepuluh tahun sudah berlalu, Dudung sudah menjadi tabib terkenal. Banyak orang yang berobat kepadanya. Namanya sudah terkenal ke seantaro negeri. Seorang anak muda yang mampu mengobati berbagai penyakit. Sesuai dengan pesan kakek Dudung tidak pernah meminta balasan dari orang yang ditolongnya. Kalau ada yang memberi diterimanya dengan ikhlas.

 Pondok tempat tinggal Dudung sudah berganti dengan rumah yang sederhana. Beberapa orang yang sudah di sembuhkan oleh Dudung berinisitif membangunkan tempat tinggal yang layak untuk Dudung. Beberapa kamar  disediakan untuk untuk pasien yang terpaksa harus menginap karena tempat tinggal yang jauh.

*****

Suara tangisan seseorang terdengar sewaktu Dudung berada di hutan mencari berbagai daun-daunan  untuk obat-obatan. Tangisan yang sangat menyayat hati. Dudung heran, siapa yang berada di hutan belantara ini? Sudah berpuluh  tahun dia ke sini tak pernah dia menjumpai yang aneh-aneh di hutan ini. Tapi kini ?

Dudung menajamkan telinganya. Dia mencoba mencari dari mana sumber suara tangisan itu. Dudung tidak pernah merasa takut. Sedari kecil hutan ini sudah akrab dengan dirinya. Suara tangisan semakin jelas, dibalik sebuah pohon besar Dudung melihat seorang perempuan muda sedang menangis.  Kepalanya menunduk  sehingga Dudung tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya.  Di tangan dan kakinya nampak kudis yang sudah berair menimbulkan bau yang sangat busuk.

Disamping perempuan muda itu nampak seorang perempuan paruh baya. Bau busuk dari tubuh perempuan muda tidak membuat dia jijik. Dia nampak menyayangi perempuan muda itu. Siapa mereka ini, batin Dudung.

“Ki sanak, anda siapa? Mengapa ki sanak berdua berada di hutan ini?” Dudung menegur dengan suara pelan.

Kedua perempuan itu kaget melihat Dudung. Perempuan muda itu mengangkat wajahnya. Wajahnya dipenuhi kudis membuat takut orang yang melihatnya. Dudung sedikit bergidik melihat banyaknya kudis  di wajah perempuan itu.

“Ini anak majikan saya, tuan. Namanya  Putri Nilam. Putri  untuk semetara disuruh pergi oleh orang tuanya dari rumah karena menderita penyakit kutukan. Sebelum penyakit ini sembuh Putri pantang untuk pulang,” perempuan yang lebih tua menjawab dengan suara  pelan.

Dudung jadi kasihan melihat dua perempuan berada di hutan. Di hutan ini banyak binatang buas. Mereka bisa jadi mangsa binatang buas, pikir dudung. Dudung menawarkan mereka untuk tinggal di rumahnya. Dia berjanji akan mencoba mengobati penyakit Putri Nilam.

*****

Putri Nilam dan Mbok Darmi pengasuhnya tinggal di rumah Dudung.  Dudung berusaha mengobati penyakit Putri Nilam . Berbagai macam ramuan dari daun-daunan dicobakan untuk mengobati kudis yang ada di tubuh Putri.

Berkat usaha Dudung  akhirnya seluruh kudis yang berada di tubuh Putri Nilam mulai  dapat disembuhkan.  Kudis-kudisnya sudah mengering dan tidak mengeluarkan bau busuk lagi.  Putri Nilam sangat bessyukur. Yang tinggal ditubuhnya sekarang hanyalah bekas-bekas kudis berwarna hitam .

Kedatangan utusan orang tuanya membuat Putri Nilam harus meninggalkan rumah Dudung.  adahal pengobatan belum selesai. Utusan membawa pesan bahwa bapak putri Nilam  yang sakit keras meminta Putri Nilam segera pulang. Putri Nilam dan Mbak Darmi mengucapkan terima kasih kepada Dudung.

*****

Dudung sangat kaget sewaktu pulang dari hutan di rumahnya sudah banyak tamu. Dilihat dari pakaiannya seperti orang kerajaan, pikir Dudung. Seorang perempuan yang sangat cantik berada diantar rombongan. Tidak ada yang dikenal oleh Dudung. Apakah orang-orang ini mau berobat, pikir Dudung.

“Kamu sudah lupa sama saya, Dudung?” suara perempuan itu serasa dikenal oleh Dudung. Dudung mencoba mengingat tetapi dia tidak berhasil mengingatnya.

“Saya Putri Nilam, Dudung. Kamu lupa pada saya?”

Duduk kaget. Ya, sekitar dua tahun yang lalu dia pernah menolong seorang putri yang terkena penyakit kudis.  Namanya Putri Nilam. Sekarang Putri  Nilam sudah sembuh. Tidak nampak bekas-bekas kudis yang menghitam di sekujur tubuhnya. Dia sangat cantik sekali.

“Mana Mbok Darmi, Putri? Kenapa dia tidak ada?” Dudung bertanya.

“Mbok Darmi sudah meninggal Dudung. Saya berutang budi kepadamu sudah menyembuhkan penyakit saya. Ayahanda saya sudah meninggal. Sekarang saya menggantikan beliau jadi raja. Saya menjemput kamu ke sini Dudung,” Putri Nilam berhenti bicara sesaat.

“Kalau kamu tidak keberatan, saya mau mengajak kamu tinggal di istana,  Dudung. Saya akan angkat kamu jadi tabib istana,” Putri Nilam  menyampaikan maksud hatinya kepada dudung.

Semenjak itu Dudung tinggal di istana menjadi tabib istana. Tapi walaupun dia tinggal di istana Dudung tidak segan-segan membantu rakyat kecil. Ilmu pengobatannyapun tidak pelit untuk diajarkan ke orang lain.  Murid-murid Dudung tersebar dimana-mana.

Putri Nilam sangat simpati dan kagum kepada Dudung. Putri Nilam suka melihat Dudung yang baik hati dan suka menolong. Akhirnya Putri Nilam memutuskan menikah dengan Dudung, tabib yang sudah menyembuhkan penyakitnya. Berdua mereka memimpin kerajaan dengan adil dan bijaksana.

 

 ########timits######

Dumai, 13-05-2020

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post