Hati Yang Terluka (Part 3) Tagur hari ke 63
#TantanganGuruSiana
.
Kedatangan Gayatri siang itu ke rumahnya membuat heran Nadya. Perempuan cantik itu nampak sangat sehat. Nadya senang melihat Gayatri sudah sembuh. Nadya menyambut baik kedatangan adik madunya itu.
“Ada keperluan apa kamu datang ke sini, Gayatri?” Nadya bertanya pelan.
“Mbak, aku mohon mbak mengizinkan Mas Bima lebih lama di rumahku seperti biasanya.” Perempuan itu menatap Nadya penuh harap.
“Kenapa kamu tidak meminta kepada Mas Bima saja ?” Nadya menjawab sambil tersenyum.
Nadya tahu, suaminya sangat menyayangi Kayla. Nadya sengaja menjadikan Kayla sebagai senjata supaya mas Bima berlaku adil padanya. Usahanya berhasil. Semenjak kondisi Gayatri membaik, mas Bima berlaku adil kepada istri-istrinya.
Keadaan Gayatri yang tidak bisa hamil karena kista yang dideritanya membuat mas Bima malah nampak lebih memihak Nadya dan Kayla. Beberapa kali mas Bima rela mencancel janji dengan Gayatri demi memenuhi permintaan Kayla. Kalau sudah menyangkut Kayla mas Bima akan berbuat apa saja. Nadya sangat paham itu.
“Tapi Mas Bima tidak mau Mbak, aku mau mbak yang menyuruh Mas Bima, aku akan penuhi apa saja permintaan Mbak,” adik madunya berusaha membujuk Nadya.
“Tidak bisa begitu Gayatri, Mas Bima harus berlaku adil kepada kamu dan mbak. Apalagi di sini ada Kayla, dia juga butuh kasih sayang papanya.” Nadya berusaha menjawab setenang mungkin.
“Tapi mbak, orang tua dan adiknya Mas Bima kan tinggal di rumahku. Atau sekalian saja biar Kayla tinggal bersama aku juga.” Gayatri menjawab tanpa beban.
Nadya rasanya pingin mengusir perempuan egois itu. Perempuan yang hanya memikirkan dirinya saja. Seenaknya saja mulutnya meminta Kayla putrinya ikut tinggal dengannya. Nadya kesal sekali melihat adik madunya ini.
“Kenapa kamu tidak melahirkan anak juga buat Mas Bima. Uang kamu kan banyak. Kamu kan bisa mengobati penyakit kamu itu. Jangan meminta Kayla yang tinggal bersama kamu. Kayla itu anak aku, Gayatri” Nadya berusaha mengontrol emosinya.
“Kayla kan anak Mas Bima juga. Jadi dia berhak juga dong tinggal bersama aku. Aku kan istri Mas Bima juga. Mbak nggak boleh melarang dong” Perempuan itu menjawab enteng. Tidak ada beban dia mengucapkan kata-kata itu.
Nadya benar-benar emosi mendengar ucapan adik madunya ini. Keinginannya yang selalu dituruti sejak kecil membentuk dia pribadi yang egois, mau menang sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.
“Gayatri kamu jangan egois. Aku sudah rela berbagi suami dengan kamu. Jangan kamu meminta anakku pula,” suara Nadya terdengar bergetar menahan emosi. “Selagi aku masih hidup, tidak aku izinkan anakku dirawat oleh orang lain.” lanjutnya.
“Aku akan membujuk Mas Bima agar Kayla tinggal bersama kami. Jadi mas Bima tidak perlu sering-sering datang ke rumah ini.” perempuan itu berkata licik.
“Silahkan kalau kamu bisa. Kamu licik Gayatri.” Nadya berkata tajam. “Kamu tahu pintu keluar bukan? Silahkan tinggalkan rumah aku.” Nadya berkata tegas. Sikap Gayatri yang egois membuat dia muak dan mengusir adik madunya itu.
“Kau akan menyesal telah mengusirku, Mbak.” Gayatri berkata pelan sebelum meninggalkan rumah Nadya.
Nadya terdiam setelah kepergiaan Gayatri. Gayatri perempuan licik. Dia bisa berbuat apa saja. Gayatri sangat kaya. Dengan uangnya semua bisa didapatnya Aku harus berhati-hati, batin Nadya.
*****
Kedatangan ibu mertua ke rumah Nadya siang itu membuat Nadya sangat senang. Sudah hampir tiga bulan ibu Retno, ibu mertua Nadya tidak datang ke rumah ini. Nadya memeluk ibu mertuanya. Dia sangat kangen pada perempuan yang sudah melahirkan suaminya ini.
Ibu Retno juga membalas erat pelukan Nadya. Dia menyayangi Nadya seperti menyayangi anaknya kandungnya sendiri. Mereka berdua sangat akrab. Sebenarnya ibu Retno berat untuk pindah ke rumah istri kedua anaknya, tapi siapa yang bisa membantah Bima. Laki-laki itu bicaranya selalu didengar oleh ibu dan adik-adiknya. Membantah Bima berarti bersiap untuk dicabut semua fasilitas yang diberikan oleh Bima.
Kayla melompat-lompat kegirangan menyambut omanya. Dia sangat senang sekali berjumpa dengan omanya.
“Oma kenapa nggak mau ke rumah Kayla lagi, Oma tak sayang sama Kayla lagi ya.” Gadis kecil itu protes sama omanya.
Ibu Retno tidak menjawab dia mencium cucu kesayangannya itu. Rasa rindu kepada Kaylalah yang membuatnya nekat datang ke sini. Ibu Retno tidak peduli Gayatri yang sudah melarangnya untuk tidak menjumpai Nadya dan anaknya.
Nadya memperhatikan ibu mertuanya. Ibu nampak agak kurus dan lebih tua, batin Nadya. Apakah ibu tidak bahagia di rumah Gayatri? Tanya Nadya dalam hati.
Panggilan Gayatri di gawai diangkat Nadya dengan malas. Adik madunya itu minta bicara dengan ibu mertua mereka. Nadya mengantarkan handphonenya ke ibu Retno yang sedang menemani Kayla tidur siang.
Ibu membawa handphone itu keluar takut mengganggu Kayla yang sudah tidur. Wajah ibu nampak berubah setelah menerima telpon dari menantunya keduanya.
“Ada apa, Bu?” Nadya bertanya hati-hati.
Ibu Retno tersenyum. “Gayatri marah karena ibu tidak mengangkat teleponnya. Dia menyuruh ibu pulang.” Perempuan paruh baya itu menjawab pelan.
“Handphone ibu ada di mana?” tanya Nadya.
“Ada di tas ibu. Sengaja ibu silentkan. Ibu tidak mau diganggu kalau lagi bersama Kayla.” Ibu Retno menjawab tersenyum.
“Ibu... Bagaimana kalau Ibu dan Ayra tinggal di sini lagi bersama Nadya?”
Perempuan itu menatap Nadya. Wajahnya nampak sedih. Tidak ada jawaban keluar dari mulutnya. Suasana hening. Nadya diam saja. Nadya menduga kalau ibu tertekan tinggal dengan Gayatri.
Suara panggilan di gawai Nadya memecah keheningan mereka berdua. Dari Mas Bima. Nadya menjawab panggilan dari suaminya. Mas Bima minta bicara dengan ibu.
“Nadya, ibu harus pulang. Gayatri tidak ada teman di rumah. Bima meminta ibu menemaninya. Ibu pulang dulu ya,” ibu Retno pamit pada Nadya.
“Sampaikan salam ibu kepada Kayla. Nanti ibu datang lagi berkunjung ke sini.” Ibu Retno pamit. Nadya mengantar ibu mertuanya ke halaman.
*****
Wajah mas Bima yang akhir-akhir ini nampak kusut sangat mengherankan Nadya. . Sikapnyapun gampang emosi. Nadya tidak tahu penyebabnya apa. Salah sedikit saja laki-laki itu akan membentak. Nadya heran dengan sikap suaminya. Tidak biasanya laki-laki itu seperti ini. Nadya melihat suaminya seperti orang yang lagi stres. Nadya mencoba bertanya, tapi mas Bima tidak mau menjawab.
“Perusahaan mas Bima bangkrut, Kak,” penjelasan dari Ayra sore itu menjawab tanya Nadya akan sikap suaminya.
“Kenapa bisa, Ayra?” Nadya kaget dan menatap adik iparnya heran.
“Itulah kak. Ayra juga nggak tahu penyebabnya. Proyeknya mas Bima terancam gagal mbak. Mana mas Bima sudah berinvestasi besar di sana.” Ayra menjawab pelan.
Nadya terdiam. Ternyata mas Bima menghadapi masalah dengan pekerjaanya.
“Tapi Mbak nggak usah khawatir. Kak Gayatri sudah memberikan suntikan dana yang besar buat proyek mas Bima. Kak Gayatri menjual beberapa aset keluarga mereka untuk menyelamatkan perusahaan,” Ayra menjawab sedih.
“Tapi kenapa kamu sedih Ayra? Kan harusnya bersyukur Gayatri bisa menyelamatkan perusahaan Masmu.” Nadya bertanya heran.
Ayra tida menjawab. Dia memeluk kakak iparnya erat. Semoga kamu selalu sabar kak, doa Ayra dalam hati. Ayra tidak sampai hati menceritakan apa perjanjian dibalik kesedian Gayatri memberikan suntikan dana yang besar buat mas Bima.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan