Khilaf (Part 2) Tagur hari ke 39
#tantangangurusiana
Mata yang lama terpejam malam itu membuat Wilda keesokan harinya terlambat bangun. Netra Wilda melirik jam yang ada di dinding kamar. Waktunya sarapan pagi, batin Wilda. Mas Dika tak nampak lagi di kamar mungkin sudah menunggu di meja makan dengan anak-anak. Mandi, berpakaian dan dandan seperlunya Wilda lakukan secepat kilat. Wilda khawatir suami dan anak-anaknya terlalu lama menunggu.
Makan pagi adalah agenda rutin yang selalu diadakan di keluarga Wilda. Cuma inilah satu-satunya moment rutin mereka bisa kumpul bersama. Kesibukan Wilda dan mas Dika membuat mereka sering pulang malam, sehingga terkadang makan malam berlangsung tanpa kehadirin mas Dika dan Wilda.
“Pagi semua,” Wilda menyapa keluarga kecilnya. “Maaf ya Mama telat.” Lanjut Wilda.
Vina dan Vini tersenyum menyambut mamanya. Mas Dika cuma melirik sekilas dengan ekor matanya. Mereka makan tanpa bersuara. Hanya denting sendok dan garpu beradu dengan piring yang terdengar. Menciptakan suara musik nyanyian di pagi hari.
*****
“Mbak Wilda, ditunggu ibu Yoana di ruangannya,” suara Tere sekretaris direktur utama menghubungi Wilda melalui intercom.
Yoana, direktur utama mereka adalah sahabat Wilda waktu SMA. Setamat SMA mereka berpisah Yaona melanjutkan kuliah ke Stanford University di Amerika. Sedangkan Wilda mengambil jurusan akutansi di salah satu universitas di tanah air.
Setamat kuliah Yoana dipercayakan orang tuanya untuk memegang salah satu perusahaan keluarga mereka. Wilda di ajak Yoana membantu di perusahaanya. Kedekatan emosional dengan Wilda membuat Yoana memberikan kedudukan yang tinggi buat Wilda.
Dengan tergesa Wilda menuju ruangan direktur utama. Tere sekretaris pribadi Yoana tidak nampak di meja kerjanya. Melihat pintu ruang kerja Yoana yang tidak terkunci Wilda menerobos masuk tanpa mengetuk. Pemandangan di dalam ruangan sangat mengejutkan Wilda. Wilda melihat Yoana sedang bermesraan dengan seorang laki-laki di ruang kerjanya. Suatu kejadian yang tidak pantas terjadi. Kehadiran Wilda mengagetkan mereka. Yoana melepaskan pelukan dan merapikan dandananya.
“Hai... Wilda ayo silahkan duduk,” suara Yoana menegur Wilda yng berniat mau keluar ruangannya.
“Kenalkan.... Ini Kelvin. Teman kuliahku dulu.” Yoana mengenalkan laki-laki yang bersamanya tadi. Selesai berkenalan laki-laki itu pergi meninggalkan ruangan Yoana.
“Yoan, maaf aku tadi tak tahu kalau kamu ada tamu. Aku buru-buru tadi.” Wilda merasa tidak enak hati dengan sahabatnya itu.
“Tenang aja Wilda, it’s no problem.” Yoana menjawab santai.
“Tapi Yoan, kalau suamimu tahu bagaimana?”
“Suamiku tak akan tahu kalau kamu tak kasih tahu ke dia Wilda,” Yaona terkekeh. Tiba-tiba wajahnya berubah sendu.
“Wilda..., mas Teddy selalu sibuk dengan pekerjaan. Peninjauan cabang-cabang perusahannya ke luar negeri memakan waktu lama. Kamu tahu Wilda sebulan palingan dia ada buat aku cuma satu hari. Cuma satu hari Wilda.” Yoana berhenti sesaat.
“Salahkan aku Wilda kalau aku mencari kehangatan pada pria lain? Aku masih muda Wilda, aku butuh belaian dan kasih sayang. Suamiku tidak pernah peduli. Aku sudah sering protes tapi dia lebih mementingkan perusahaanya,” Yoana menatap Wilda. “Menurutmu bagaimana, apa aku salah?” lanjut Yoana dengan mata penuh tanya ke arah Wilda.
Wilda terdiam. Wilda mengalihkan wajahnya dari tatapan Yoana. Dia tak menyangka masalah yang dialaminya hampir mirip dengan Yoana. Cuma bedanya mas Dika tidak sesibuk suami Yoana, perhatian dan kasih sayangnya saja yang tidak ada buat Wilda sekarang.
“Bagiku itu tidak salah Wilda. Aku perlu belaian laki-laki Wilda. Bagiku itu adalah penyemangat hidup. Lagian aku melakukan hanya dengan Kelvin. Kelvin juga punya istri. Kami melakukan sembunyi-sembunyi Wilda. Jangan sampai diketahui oleh pasangan masing-masing.” Jelas Yoana lirih.
“Hubungan yang seperti ini sensasinya lain Wilda, membuat hidupku lebih bergairah.” Yoana terkekeh bercerita.
Wilda terdiam. Rasanya Wilda tak mengenal Yoana yang sekarang. Tinggal lama di luar negeri bisa merubah sifat dan pola pikir seseorang, pikir Wilda.
*****
Wilda masih berkutat di depan laptopnya. Mencek dan memeriksa email dari beberapa rekanan kerja perusahaan. Laporannya harus siap malam ini, karena besok pagi Yoana memerlukan laporan ini untuk rapat dengan jajaran direksi perusahaan.
Suasana rumah sudah sepi. Vina dan Vini sudah terlelap di kamar mereka. Mas Dika juga sudah nampak terlena dengan mimpi indahnya. Wajahnya terlelap dengan damai. Kenapa kamu sekarang berubah mas, Wilda membatin.
Tiba-tiba Wilda merasa ada rindu di hatinya. Rindu yang tidak pada tempatnya. Rindu yang tidak semestinya hadir. Rindu yang terlarang. Ya... Wilda rindu pada chat-chat yang sering masuk ke gawainya beberapa hari terakhir ini. Chat-chat yang bisa memacu hormon dopamin dalam tubuhnya. Dan jujur chat-chat itu bagaikan motivasi yang membuat semangat kerjanya Wilda jadi meningkat.
[sayang kamu pasti merindukan, aku] seolah tahu apa yang dipikirkan Wilda sebuah chat masuk ke gawai Wilda. Hati Wilda berdebar membacanya.
[kamu masih kerja malam-malam begini? Jangan sampai malam betul, ntar kamu sakit] belum sempat Wilda menjawab chat berikutnya masuk.
Wilda tersenyum, ada yang menghangat di hatinya. Perhatian dan rayuan mesra dari pengirim chat membuat hati Wilda berbunga-bunga. Wilda bagaikan anak remaja kemarin sore yang baru kenal cinta.
Malam itu Wilda menyelesaikan pekerjaan kantor di temani chat-chat dari “orgil” nama kontak yang di save Wilda di gawainya.
*****
Ketidakhadiran Tere sekretaris pribadi Yoana karena sakit, membuat Yoana meminta tolong Wilda menemaninya meeting dengan klien siang itu. Wilda sebenarnya enggan ikut. Beberapa laporan yang masuk ke mejanya perlu di cek segera. Tetapi Yoana memaksa Wilda. Hanya Wildalah yang pantas mengganti Tere. Wilda tak bisa membantah direktur utamanya itu.
Suasana pertemuan dengan klien berlangsung di sebuah restoran ternama. Restoran yang sangat mewah. Dekorasi restoran yang indah dan suasana yang nyaman membuat betah duduk berlama-lama di sini. Wilda dan Yoana datang lebih awal. Menurut Yoana meeting kali ini penting karena kalau klien ini tertarik dengan penawaran perusahaan mereka, perusahaan akan untung besar. Wilda menyimak saja apa yang dikatakan Yoana.
Dua orang laki-laki menuju tempat mereka duduk. Yoana berdiri menyambut mereka. Wilda kaget salah seorang laki-laki yang menyalami Yoana rasanya sangat dikenalnya. Yah... dia adalah tetangga di depan rumahnya. Laki-laki itu tersenyum hangat kepada Wilda.
“Apa khabar, mbak Wilda,” dia menyapa ramah. Mereka bersalaman. Baru kali ini Wilda jumpa dekat dengan tetangga depan rumahnya itu. Wajahnya gantengnya nampak lebih jelas. Wilda tersenyum.
Yoana heran kenapa Wilda bisa mengenal Raditya Adiwijaya, pengusaha muda yang kaya dan ganteng.
“Kalian saling kenal?” Yoana bertanya heran.
“Kami bertetangga ibu Yoana,” Raditya menjawab sopan.
Pembicaraan bisnis siang itu berlangsung lancar. Pertemuan yang membuat Yoana sangat senang karena perusahan Raditya menerima penawaran yang diajukan perusahaanya. Jujur Yoana mengakui dalam hati ada andil Wilda dibalik disetujuinya penawaran dari perusahaan mereka oleh perusahaan Raditya.
*****
[hai sayang...] sebuah chat kembali masuk ke gawai Wilda.
[hai juga ] Wilda membalas cepat. Chat yang dari tadi ditunggunya membuat dia semangat untuk membalas. Ada getar rindu dihatinya.
[kangen ya... ] sebuah emoji kiss membuat hati Wilda melambung
[banget... ] Wilda membalas dengan emoji yang sama, tak ada rasa malu lagi membalas chat tersebut.
Ada kebahagian tersendiri yang membuat suasana hati jadi berwarna. Yoana benar ada “sensasi” lain yang dia rasakan setiap membalas chat yang dikirim ke Wilda.
[kamu nggak penasaran mau jumpa aku? Ngak pingin tahu nama aku gitu] kembali chat masuk ke gawai Wilda.
[penasaran...] jawab Wilda pendek.
[bagaimana kalau kita ketemuan ?] ajakan dari chat itu membuat jantung Wilda berdebar kencang. Jujur dia pingin jumpa dengan pengirim chat itu. Sudah lebih satu bulan mereka berkirim chat tapi belum pernah berjumpa langsung.
[bagaimana kalau kita ketemuan sore ini, nanti saya share lokasi nya. Datang ya sayang. Miss you ] chat itu mengakiri obralan Wilda di whatsapp di gawainya.
Tangan Wilda kembali menari di gawainya. Sebuah pesan kalau dia terlambat pulang malam ini dikirimnya ke gawai suaminya. Rasanya Wilda tak sabar menunggu sore nanti. Siapa yang selama ini telah mengisi hari-harinya dengan chat-chat yang membuat dia melayang.
bersambung
Dumai, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan