Khilaf (Part 3) Hari ke 40
#TantanganGuruSiana
Taksol mengantar Wilda ke lokasi yang di shareloc di gawainya. Sebuah restoran yang agak jauh dari pusat kota. Restoran yang tidak terlalu besar tapi nampak asri. Tidak ramai nampak pengunjung disana karena hanya terlihat ada tiga mobil di parkiran.
Sesuai dengan chat yang dikirim Wilda disuruh menemui pegawai restoran. Kedatangan Wilda disambut ramah oleh pegawai tersebut, Wilda dibawa menuju sebuat private room.
Sebuah ruangan yang sangat mewah dan elegan, ruangan ini tidak terlalu besar bisa menampung sekitar empat orang tamu. Tempat duduk berbentuk sofa yang empuk dan dekorasi yang bernuansa hijau lembut membuat betah berlama-lama di ruangan ini.
Wilda menduduki sebuah sofa yang ada disitu. Wilda tidak melihat ada pengunjung disana. Perasaan Wilda sangat tak menentu. Antara takut dan berdebar. Takut kalau ada seseorang yang dikenal mengetahui keberadaanya di sini. Dan berdebar akan berjumpa dengan seseorang yang telah mengisi hari-harinya akhir-akhir ini.
“Maaf saya telat,” sebuah suara mengagetkan Wilda.
Netra Wilda bergerak cepat menuju sumber suara. Seorang laki-laki muda yang sangat ganteng berdiri di depannya. Dia Raditya Adiwijaya. Tetangga depan rumahnya, seorang pemilik perusahaan terkenal yang baru saja menjalin kerjasama dengan perusahaan tempat Wilda bekerja.
“Pak Raditya ?” tergagap Wilda menyapa.
“Kamu nggak usah memanggil saya dengan Pak, pakai nama saya saja. Radit. Umur kita juga nggak beda jauh kok,” Raditya tersenyum kepada Wilda.
Suasana hening. Tidak ada yang berkata-kata. Raditya dari tadi hanya memandang Wilda saja. Wilda yang ditatap Radit jadi grogi. Dia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Tingkahnya membuat raditya jadi gemas.
“Wilda kamu tidak usah takut dan grogi. Biasa saja. Saya sengaja memilih tempat ini karena tempat ini aman. Tidak akan ada orang yang kamu kenal disini.” Raditya berusaha menenangkan Wilda. Raditya berusaha membuat Wilda bersikap santai.
“Saya sudah lama menyukai kamu, Wilda. Dari pertama pindah rumah saya sudah tertarik kepadamu.Saya lihat ada yang lain di diri kamu. Kamu perempuan yang dewasa, cerdas dan hangat. Diam-diam saya sering memperhatikan kamu dari rumah saya. Saya banyak mencari informasi mengenai kamu.Tak susah bagi saya mendapatkan nomor kontak kamu.” Raditya terdiam sejenak.
“Saya senang ternyata kamu mau membalas chat saya, dan saya harap chat-chat kamu ke saya tidak bohong kalau kamu juga punya perasaan yang sama seperti saya ,”. Lanjutnya lagi.
“Tapi Radit... kita sudah bekeluarga. Bagaiman kalau pasangan kita mengetahunya,” Wilda menjawab lirih.
“Semua akan fine-fine saja selagi kita pandai bermain,” Raditya tersenyum. “Kita akan menjalaninya secara rahasia Wilda, karena aku tahu kamu pasti juga tidak mau kehilangan keluarga kamu.” Raditya berkata sambil tangannya menyentuh jemari Wilda.
Wilda berdebar. Sentuhan Raditya membuat ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Sesuatu yang hangat dan menggairahkan. Sesuatu yang tidak pernah ada lagi semenjak suaminya bersikap cuek kepadanya. Wilda membiarkan jemarinya di genggam oleh Radit. Perasaannya mulai nyaman berada dekat laki-laki ini.
Wilda teringat sahabatnya Yoana, berhubungan dengan orang lain secara sembunyi memberikan “sensasi” yang lain. Yaona benar. Wilda merasakan itu.
Hampir tiga jam mereka berada di tempat itu. Banyak yang mereka bicarakan. Wilda merasa Radit laki-laki yang sangat menyenangkan. Mereka kembali ke kota dengan mobil Raditya. Menjelang sampai ke rumah Wilda pindah ke taxol yang sudah diordernya. Wilda tidak ingin keluarganya tahu kalau dia satu mobil dengan Radit.
*****
Pertemuan hari itu berlajut dengan kencan-kencan berikutnya. Wilda tidak peduli lagi dengan “sikap dingin” yang ditunjukkan Handika suaminya. Ada Raditya yang selalu bersikap hangat kepada Wilda. Raditya yang selalu ada buat Wilda. Sikap Raditya yang royal sering memberikan hadiah-hadiah mahal buat Wilda membuat Wilda jadi tambah menyukai Raditya.
[Sayang, aku kangen nih. Jumpa yuk] chat dari Radit masuk ke gawai Wilda.
Wilda kaget, seharusnya Radit masih berada di luar negeri kenapa sekarang minta jumpa.
[Bukannya kamu masih di luar negeri] Wilda membalas.
[Karena kangen kamu, aku percepat pulangnya. Kita jumpa yok]
Wilda melirik jam tangannya, waktu pulang kantor masih dua jam lagi. Dia tidak enak pada Yoana.
[Kamu bisa minta izin sama Yoana, aku tunggu kamu ya ditempat biasa] Radit mengakhiri chatnya.
Setelah minta izin dengan bosnya, Wilda keluar dari kantor. Sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah menunggunya dari tadi. Pintu mobil terbuka menyambut kedatangan Wilda. Kecupan dari Raditya mendarat di keningnya sesampai Wilda di dalam mobil.
“Aku kangen banget sama kamu sayang, aku mau lebih lama bersama kamu hari ini, kalau nunggu kamu pulang kantor waktu jumpa kita kan sebentar, jam delapan kamu harus sampai di rumah.” Radit berkata sambil menatap Wilda mesra. Tangan kirinya menggenggam tangan Wilda. Tangan yang satu lagi memainkan stir mobil.
Mobil yang dikendarai Radit masuk ke sebuah apartemen mewah. Wilda kaget kenapa Radit membawanya ke tempat ini. Biasanya radit membawa ke restoran tempat mereka biasa berjumpa.
“Kita mau kemana Radit?” Wilda bertanya heran.
“Ini apertemen aku, Wilda. Tadi dari bandara aku langsung kesini. Aku ada bawa oleh-oleh buat kamu. Kita ambil dulu ya,” Tangan Radit menggandeng Wilda ke lift menuju apartemenya.
Sebuah aperteman yang sangat mewah. Apertemen dengan satu kamar tidur dan perabotan-perabotan serba mahal. Radit meyuruh Wilda menunggu di ruang tamu. Radit masuk ke kamarnya. Radit keluar kamar tangannya membawa sebuah papar bag. Paper bag itu diserahkan ke Wilda, Wilda membukanya ada dua kotak perhiasan di dalamnya.
“Kamu pilih salah satu Wilda, satu buat kamu dan satu buat istri aku. Karena kamu lebih spesial bagi aku, kamu boleh memilih duluan.” Radit tersenyum menggoda kepada Wilda.
Wilda membuka kotak perhiasan tersebut. Satu buah kalung berlian yang sangat indah dan satu buah cincin bermata rubby warna merah yang cantik. Wilda memilih kalung dan menunjukannya ke Radit. Radit tersenyum. Tangannya menyibak rambut Wilda dan memasangkan kalung tersebut ke leher jenjang Wilda. Sebuah kecupan hangat diberikannya kepada Wilda.
Wilda membalas kecupan Radit. Kemesraan yang terlarang membuat kedua anak manusia itu lupa daratan.
Suara gawai yang dari tadi berdering membangunkan Wilda. Wilda tersentak. Disampingnya Radit tertidur dengan pulas. Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan barusan? Kenapa aku sampai tidak bisa mengendalikan diriku? Tuhan ampunkanlah aku, batin Wilda. Dia sempat shock dengan kejadian ini. Suara gawai yang masih berdering mengagetkannya.
Wilda mengambil gawai yang terletak di nakas. Telpon dari Handika, suaminya. Jam di dinding kamar menunjukan angkak 21.20 WIB. Dia sudah terlambat pulang, pantas suaminya menelpon.
Mas Handika menanyakan kenapa Wilda terlambat pulang. Alasan diajak Yoana jumpa clien disampaikan Wilda. Handika memahaminya dan minta Wilda hati-hati.
Suara Wilda yang menelpon dengan suaminya membangunkan Raditya. Wajahnya tersenyum tanganya melingkar di pinggang Wilda.
“Aku mencintaimu Wilda.” Sebuah kecupan mesra diberikan ke Wilda.
“Aku harus cepat pulang, Radit. Suamiku menelpon tadi,” Wilda berkata sambil melepaskan tangan Radit yang melingkar dipinggangnya.
“Aku antar ya,” Raditya menwarkan bantuan.
“Nggak usah aku naik taksi saja.” Wilda berkata sambil bersiap-siap pulang.
bersambung
Dumai, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan