Khilaf (Part 4) Tagur ke-41
#TantangaGuruSiana
Sepanjang perjalanan menuju rumah Wilda merasa hatinya tak tenang. Suasana apartemen yang romantis, rayuan dan perlakuan Raditya melenakan jiwanya. Jiwa yang haus sentuhan membuat Wilda kehilangan kontrol diri. Wilda menyesal. Bahunya terguncang menangis. Wilda menyeka titik bening di sudut matanya dengan tangan bergetar.
Suasana rumah yang sudah sepi menyambut kedatangan Wilda. Perlahan Wilda memasuki kamar tidurnya. Handika suaminya tampak tertidur lelap. Segelas air dan obat-obatan nampak di meja riasnya.Wilda tak tahu itu obat apa. Mungkin obat itu yang membuat Handika terlelap.
Wilda mengguyur tubuhnya dengan air di kamar mandi. Wilda benci tubuhnya. Tubuh yang begitu dengan mudahnya diserahkan kepada orang yang bukan muhrimnya. Wilda menyesal. Air mata kembali membajiri wajahnya berbaur dengan air dari shower.
Wilda merebahkan badannya disamping Handika. Dipandangi wajah suaminya. Wajah yang teduh. Wajah yang tidak pernah mempedulikannya lagi. Wajah yang selalu dingin. Wajah yang malam ini sudah dikhianatinya. Wilda merasa sangat menyesal.
Kembali Wilda menangis. Wilda terbayang alm umi dan abinya. Mereka berdua pasti kecewa melihat kelakuan Wilda. Terlalu gampang tergoda oleh kenikmatan sesaat. Wilda terisak pelan. Letih dan rasa sedih yang mendalam membuat Wilda tertidur dalam isak tangis.
Wilda terbangun pagi harinya. Dia merasa badannya agak meriang. Kepalanya agak pusing. Dengan langkah pelan Wilda menuju ruang makan.
Handika dan kedua anaknya nampak lagi sarapan. Mereka tersenyum melihat kedatangan Wilda.
“Mas lihat kamu capek sekali, badan kamu hangat. Istirahat saja dulu.” Handika menyambut kedatangan Wilda.
Wilda tertegun. Handika mendadak ramah pagi ini. Ada apa dengan mas Dika?, batin Wilda.
“Jangan terlalu memaksakan diri dengan pekerjaan, Ma. Nanti Mama bisa sakit.” Mas Dika menatap Wilda.
Wilda tambah heran. Sudah lama mas Dika tidak seperti ini. Wilda terpana keheranan melihat sikap suaminya.
“Kalau mama tak enak badan, tak usah ke kantor dulu. Kami berangkat duluan ya.” Mas Dika dan anak-anak pamit. Vina dan Vini menyalami Wilda. Mas Dika memberikan kecupan lembut di bibir Wilda. Wilda tersentak. Hatinya menghangat. Kehangatan yang sudah lama tak ada. Keheranan di hati Wilda mengantar suami dan anak-anaknya pergi.
Sepeninggal suami dan anak-anaknya Wilda kembali ke kamar. Wilda memutuskan ke kantor. Berdiam di rumah bisa membuatnya stres. Sebuah chat masuk ke gawai Wilda. Wilda tahu siapa yang mengirim chat tersebut. Cepat Wilda membaca chat tersebut. Dari Raditya.
[Sayang... gimana khabarmu pagi ini? Aku rindu kamu] chat yang membuat Wilda jadi panas dingin.
[Kamu sungguh hebat Wilda. Saya betul-betul kewalahan menghadapi kamu. Luar biasa. Kapan-kapan kita ulangi lagi ya sayang] emoji kecupan panjang di buat Raditya di chatnya.
Badan Wilda tergetar membacanya. Kejadian kemarin sore terlintas lagi diingatanya. Kembali Wilda menangis. Jujur dia menikmati kebersamaan bersama Raditya, tapi rasa bersalah dalam dirinya tidak sebanding dengan kenikmatan sesaat itu.
*****
Beban yang dirasakan Wilda akibat kesalahannya yang dibuatnya dengan Radit mengantarkan Wilda ke ruang kerja Yoana. Hanya Yoanalah tempat dia bisa berbagi cerita. Yoana adalah sahabat terbaiknya. Tempat dia bisa berkeluh kesah. Tempat Wilda menumpahkan beban yang menghimpit dadanya. Hampir semua masalah dirinya diketahui Yoana.
Mulut Yoana ternganga mendengar cerita Wilda. Wilda menangis setelah mengakhiri ceritanya. Matanya nanar menatap sahabatnya itu. Sejenak dia tak dapat berkata-kata mendengar cerita Wilda.
Rasanya tak percaya cerita itu meluncur dari mulut Wilda. Wilda yang terkenal alim kenapa bisa mudaah tergoda. Mendadak Yoana menyesal secara tak langsung dia ikut andil membuat Wilda seperti ini.
“Kamu gila Wilda.... Kenapa itu harus terjadi,” desis Yoana pelan.
“Kamu jangan ikut-ikutan aku, aku dengan Kelvin ada penyebabnya kenapa aku seperti itu.” lanjutnya. Tangannya menjangkau gawai di meja kerjanya.
“Lihat ini Wilda.... Lihat ini. Lihat video yang dikirim pacar suamiku. Video hubungan ranjang mereka Wilda. Aku sakit hati Wilda. Aku balas semua perlakuannya dengan cara yang sama. Sakit hatiku jadi terbalas Wilda.” Wilda memperlihatkan sebuah video di gawainya.
“Tapi kamu.... Handika laki-laki yang baik. Walapun sifatnya dingin selama ini tentu ada sebabnya. Kamu jangan lakukan itu dong, kamu cari tahu dulu apa penyebabnya” sesal Wilda.
Wilda terdiam perkataan Yoana menambah sesal dihatinya. Air matanya semakin deras mengalir. Rasa penyesalan nampak sekali di wajahnya. Yoana memeluk sahabatnya. Mereka menangis berdua.
“Aku curiga ada maksud tertentu dari Raditya menjalin hubungan dengan perusahaanku. Ada maksud tersembunyi untuk mendekatimu.” Yoana berkata pelan.
“Wilda jauhi laki-laki itu sebelum terlambat. Selamatkan rumah tanggamu. Kamu punya dua anak yang lucu dan suami yang baik. “ nasehat Yoana.
“Aku akan batalkan kerjasama dengan Raditya. Bagiku persahabatan, kamu dan keluargamu lebih berharga dari keuntungan yang aku dapatkan. Berjanjilah padaku jangan hubungi dia lagi.” Yoana menatap wajah Wilda.
“Cukup keluargaku yang hancur, Wilda. Kamu jangan ikutan,” suara Yoana terdengar bergetar.
Kondisi emosi Wilda yang tidak stabil membuat Yoana menyuruh Wilda istirahat di rumah hari ini. Wilda pulang setelah berjanji dengan Yoana untuk menjauhi Radit.
*****
“Surti... Surti !” suara Wilda yang keras mengagetkan Surti yang lagi memasak di dapur. Tergopoh ART yang setia itu menuju ruang tengah.
“Surti... Ini obat siapa sebanyaknya ini?” tangan Wilda menunjuk plastik obat yang terletak di meja makan.
“Punya tuan... nyonya.” Pelan suara Surti.
“Beberapa hari ini tuan sering balik ke rumah kalau nyonya sudah pergi. Terkadang tuan tidur di kamar. Tak balik lagi ke kantor. Sepertinya tuan sakit nyonya.” Lanjut Surti
Wilda kaget. Obatnya Mas Dika? Seingat Wilda suaminya tidak ada menderita penyakit. Obat apa yang dikonsumsinya ini ?. Mas Dika sering istirahat di rumah? Ada apa dengan mas Dika? Apakah dia tidak ke kantor? Kenapa aku tak pernah tahu?, berjuta pertanyaan berkecamuk di benak Wilda.
Bergegas Wilda masuk kamar kerja suaminya. Tangannya bergerak memeriksa meja dan laci kerja suaminya. Tak ada keterangan apa-apa yang dijumpai Wilda. Hanya dua buah kartu nama dijumpai Wilda. Kartu nama ini mungkin bisa sebagai petunjuk, batin Wilda. Dua kartu nama tersebut dimasukan wilda ke dalam tasnya.
bersambung
Dumai **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan