Khilaf (Part 5) Tagur hari ke-42
#tantangangurusiana
Wilda terpaku menatap nama yang ada pada salah satu kartu nama. Nama seorang perempuan lengkap dengan alamat prakteknya, Anjani Salsabila, M.Psi. Wilda merasa tidak asing dengan nama itu. Nama yang mengingatkannya pada salah seorang teman SMPnya. Apakah ini Anjani teman SMP aku dulu? Kalau memang iya, ada hubungan apa dia dengan mas Dika, batin Wilda.
Mobil yang dikendarai Wilda berhenti di depan sebuah klinik. Jadwal praktek Anjani yang lagi kosong menyebabkan Wilda bisa langsung bertemu dengan psikolog tersebut.
Ternyata Wilda benar, Anjani adalah teman SMP Wilda dulu. Pertemuan yang tak disangka. Dua orang teman yang sudah terpisah puluhan tahun yang lalu sekarang bertemu. Banyak cerita yang mereka kenang. Wilda hampir lupa pada maksud kedatangannya ke sini.
“Anjani, sebenarnya aku ada perlu dengan kamu. Aku menemukan kartu nama kamu di meja kerja suamiku.” Wilda tiba-tiba berkata dan menyerahkan dua kartu nama yang dijumpainya kepada Anjani.
Anjani menerima dua kartu nama yang diberikan Wilda. Kartu nama dia dan suaminya.
“Nama suamiku Handika. Aku penasaran kenapa kartu nama ini berada di laci meja kerja suamiku.” Lanjut Wilda.
“Handika ? Maksud kamu nama suami kamu Handika Darmawan?” Anjani meyakinkan Wilda. Wilda menganggukan kepalanya.
Anjani kaget. Sejenak dia terdiam, dia tidak menyangka pasiennya, Handika Darmawan adalah suami Wilda. Mengingat kasus Handika Darmawan salah seorang kliennya raut wajah Anjani jadi sedih. Ada sesak di dadanya. Prihatin dengan nasib yang menimpa Wilda.
“Wilda sebenarnya tidak diperbolehkan menceritakan kasus klien kepada orang lain. Untuk kasus pak Handika, aku sudah menyarankan supaya beliau menceritakan kepada istrinya. Tapi beliau keukeh menolak. Sebagai istri kamu berhak tahu. Tapi Pak Handika beralasan dia belum sanggup menceritakannya ke kamu.” Anjani bicara pelan.
“Mungkin sudah jalannya seperti ini, kamu mengetahui tentang suamimu.” Lanjut Wilda.
“Apapun yang saya ceritakan, kamu harus siap menerimanya.Harus bersikap tenang.” Anjani menatap Wilda lembut. “Bagaimana?” lanjut Anjani. Wilda mengaggukan kepala.
Anjani mulai bercerita. Menurut Anjani, suaminya mengalami gangguan bipolar dan kelainan seks. Selain berkonsultasi dengan dirinya, Handika juga berkonsultasi dengan seorang psikiater Dr. Dirga Subrata, S.Kj yang juga suami Anjani. Kartu nama psikiater yang ditangan Wilda satu lagi adalah kartu nama suaminya.
Gangguan bipolar adalah kondisi seseorang yang mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis, misalnya tiba-tiba menjadi sangat bahagia dari yang sebelumnya murung. Terdapat dua fase dalam gangguan bipolar, yaitu fase mania (naik) dan depresi (turun). Pada periode mania, pengidapnya jadi terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan bicara cepat. Sedangkan pada periode depresi, pengidapnya akan terlihat sedih, lesu, dan hilang minat terhadap aktivitas sehari-hari.
Handika menderita depresi. Penyebabnya pelecehan seksual yang dilakukan oleh bosnya sendiri. Menurut Anjani, bos Handika seorang gay. Peristiwa itu terjadi sewaktu kunjungan kerja ke luar kota. Hotel yang penuh menyebabkan mereka tidur sekamar.
Malam itu bos Handika melakukan pelecehan seksual kepada Handika. Handika sudah berusaha menolak, tapi bos nya memaksa terus. Bosnya berjanji hanya sekali itu saja, akhirnya Handika tak kuasa menolak. Ternyata perbuatan itu tidak hanya sekali dilakukan ke Handika. Celakanya dari yang awalnya Handika terpaksa melakukannya sekarang dia menjadi menikmati.
Kecintaannya kepada keluarga dan anak-anaknya membuat dia tersadar. Dia ingin sembuh. Maka dia mengikuti terapi dengan psikiater dan psikolog.
Tapi sialnya bos Handika ketahuan menderita HIV-AIDS. Tes HIV-AIDS yang dilakukan kepada Handika menunjukan kalau dia juga tertular penyakit kelamin itu.
Wilda terkejut mendengar cerita dari Anjani. Sedikitpun dia tidak tidak tahu masalah yang menimpa suaminya. Mas Dika tertular HIV-AIDS dari bosnya? Tubuh Wilda terasa lemah tidak bertulang. Hampir saja dia terjatuh kalau Anjani tidak menahan tubuhnya. Wilda menangis dipelukan Anjani.
Wilda tersadar pantas suaminya bersikap “dingin” dan tak mau menjamah tubuhnya. Mungkin mas Dika tidak ingin dia tertular penyakit itu.
“Aku harap kamu sabar ya, Wilda.” Anjani berusaha memberi kekuatan kepada Wilda.
“Tapi sekarang aku dan suamiku tidak tahu perkembangan suamimu. Karena dia tidak pernah datang lagi untuk kontrol. Pesan untuk kontrol yang kami kirim tak penah digubrisnya.” Anjani berkata perlahan.
Wilda keluar dari klinik tempat prakteknya Anjani dengan perasaan yang tak menentu. Hatinya remuk redam. Cerita Anjani mengenai suaminya membuat Wilda terpukul. Mobil yang dikendarainya nyaris menyenggol pengendara motor karena dia menyetir dalam keadaan melamun.
Wilda merem mendadak mobilnya. Pengendara motor yang kena senggol dan beberapa orang di lokasi memaki dan memarahinya.
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti, Raditya pemilik mobil itu minta maaf kepada pengendara yang disenggol Wilda. Beberapa lembar uang ratusan ribu dikeluarkannya dari dompet sebagai ganti rugi.
Raditya menghampiri Wilda yang masih shock. Tangan Wilda ditarik pelan keluar dari mobil. Wilda disuruh pindah ke mobilnya. Wilda bagai kerbau yang di cucuk hidungnya mengikuti Raditya.
“Kamu kenapa Wilda, bawa mobil seperti orang mabuk. Berbahaya tahu.” Omel Radit. Raditya menelpon anak buahnya untuk mengamankan mobil Wilda.
Radit menghentikan mobil di restoran tempat mereka biasa bertemu. Wilda masih diam membisu. Radit memegang tangan Wilda. Mengecupnya perlahan.
“Wilda berceritalah kepadaku. Mana tahu aku bisa membantumu.” Bujuk Radit.
Wilda tidak bergeming. Tatapannya nampak kosong.
“Wilda aku minta maaf kejadian sore semalam kalau itu melukai hatimu. Aku kira kamu menikmatinya. Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi. Aku menyayangi dan mencintaimu Wilda. Chat dan telepon aku tidak kamu jawab. Aku sangat khawatir. Untung aku bisa melacak posisimu dari nomor handphonemu. Aku dari tadi menunggumu di klinik itu.” Radit berkata lembut.
Wilda terdiam, dia ingat janjinya kepada Yoana untuk menjauhi Radit. Tapi Wilda butuh seseorang. Seseorang yang bisa menguatkannya. Hanya Radit yang berada didekatnya. Radit ada di saat Wilda butuh. Radit pindah duduk ke samping Wilda.
“Wilda bersandarlah di bahuku kalau itu bisa membuatmu tenang,” Radit berkata lembut.
Wilda menoleh ke arah Radit. Hatinya dilema. Wilda takut tergoda lagi kalau berada dekat Radit. Wilda takut tidak sanggup nanti mengendalikan diri. Tapi beban dihatinya yang berat tak sanggup dijunjungnya sendiri. Tiba-tiba tanpa disadarinya dia sudah berada di pelukan Radit. Wilda menangis. Berada dipelukan Radit membuat dia merasa sedikit nyaman. Elusan lembut tangan Radit dipunggungnya membuat Wilda jadi tenang. Lama dia menangis dipelukan Radit.
.
### bersambung...###
Dumai **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan