Khilaf (Part 6) Tagur ke-43
#TantanganGuruSiana.
.
Hembusan napas Radit membuat damai perasaan Wilda. Tangisnya berangsur-angsur mulai mereda. Usapan lembut tangan Radit di rambutnya membuat hati Wilda tentram. Karena merasa hatinya lebih tenang Wilda melepaskan pelukan Radit. Tangan Raditya masih tetap menggengam erat jemari Wilda.
Tidak ada cerita yang keluar dari mulut Wilda. Raditya berharap dari tadi Wilda mau bercerita tapi harapannya sia-sia. Mulut Wilda seperti terkunci. Raditya jadi penasaran apa yang membuat Wilda terpukul seperti ini.
Wajah Wilda yang murung membuat hatinya ikut tersiksa. Dia berjanji akan mencari tahu. Hatinya ikut hancur melihat orang terkasihnya bersedih.
“Radit aku mau pulang,” tiba-tiba Wilda bicara. Radit mengangguk menyetujui ajakan Wilda. Mereka berdua meninggalkan restoran. Sepanjang perjalanan Raditya tidak mau melepaskan genggaman tangan kirinya dari tangan kanan Wilda. Raditya berharap genggaman tangganya dapat mengalirkan kekuatan yang dia miliki kepada Wilda. Raditya mengantarkan Wilda ke tempat mobilnya terpakir. Tidak jauh dari komplek perumahan mereka.
*****
Malam itu Wilda menunggu Handika dengan perasaan resah dan gelisah. Jam di dinding sudah menunjukan pukul 23.00 WIB tapi Handika belum pulang. Handphonenya tidak bisa dihubungi. Semuanya menambah gundah hati Wilda. Kemana Handika, batin Wilda.
Suara mobil Handika memasuki halaman rumah membuat Wilda lega. Handika pulang, wajahnya kelihatan letih. Wilda menyiapkan teh hangat buat suaminya. Wilda berencana mau menanyakan cerita Anjani siang tadi ke suaminya.
Wajah Handika yang lelah membuat Wilda tidak tega untuk bertanya malam itu. Besokkan hari minggu, lebih baik besok saja membicarakan masalah ini, batin Wilda.
*****
Tidak banyak ativitas minggu pagi ini di rumah Wilda. Rumah mereka nampak sepi. Wilda melihat suaminya lagi santai di kamar. Dua putri mereka bermain di halaman belakang dengan ART. Wilda merasa inilah saatnya yang tepat untuk bertanya kepada Handika.
Wilda duduk di samping suaminya. Secangkir teh hangat yang dari tadi disajikan belum nampak di sentuh Handika. Tangan Handika dari tadi sibuk manari-nari memaingkan sebuah game online di gawainya.
“Mas, ada yang ingin aku tanyakan,” Wilda berkata dengan hati-hati.
Handika menghentikan jemarinya menekan-nekan tombol gawainya dan meletakkan benda pipih itu di atas nakas. Matanya menatap Wilda heran.
“Mau bertanya apa, Ma?” dia bertanya lembut kepada Wilda
“Mas, aku mohon maaf sebelumnya sudah lancang. Obat-obatan kamu yang tertinggal membuat aku kepingin tahu kamu sakit apa. Aku mencari informasi di ruang kerjamu. Aku hanya menemukan kartu nama psikiater dan psikolog di meja kerjamu.” Wilda berkata lirih.
“Aku mendatangi psikolog yang dikartu nama itu, Mas. Anjani temanku waktu SMP. Dia Anjani menceritakan semua tentangmu, Mas.” Lanjut Wilda.
Handika kaget. Wajahnya kelihatan pucat. Dia tak berani menatap Wilda. Nampak keresahan di wajahnya.
“Aku yang memaksa Anjani bercerita Mas. Kenapa kamu tidak pernah cerita kepadaku Mas? Kenapa kamu pendam sendiri? Aku kan istri kamu.” Wilda terisak.
Handika diam. Tak ada suara yang keluar dari kerongkongannya. Lidahnya seakan tidak bisa digerakkan.
“Mas kamu harus bertahan Mas, Vina dan Vini anak kita masih membutuhkanmu.”
“Semua sudah terlambat, Wilda. Maafkan aku. Itulah penyebabnya kenapa aku mencuekkan kamu. Aku tak mau kamu tertular penyakit laknat ini,” Handika berkata dengan suara bergetar.
“Mas, kamu harus menjauhi Pak Teddy, bosmu yang gay itu, kamu keluar saja dari perusahaanya.” Wilda memberikan saran.
“Tak bisa Wilda, Aku sudah pernah resign dari perusahannya. Tidak ada yang mau menerimaku bekerja. Aku luntang-lantung beberapa hari mencari pekerjaan. Aku seperti orang gila. Pak Teddy sudah mempengaruhi perusahan-perusahaan lain jangan menerimaku. Akhirnya aku kembali ke perusahaannya.” Jelas Handika.
“Aku rasa gajiku cukup untuk kebutuhan kita, Mas. Kamu di rumah saja, bagaimana?” Wilda memberikan usul kepada suaminya.
“Tidak seperti yang kamu bayangkan, Wilda.” Handika berguman pelan.
“Aku mohon maaf tak bisa memberimu nafkah batin. Aku tidak marah Wilda kalau kamu berkencan dengan teman laki-lakimu di luar sana.” Handika menatap serius.
“Mas, kamu tak boleh bicara seperti itu. Tidak ada larangan bagi penderita HIV-AIDS untuk berhubungan dengan pasangannya. Kamu bisa gunakan pengaman,” Wilda menyampaikan apa yang didengarnya dari Anjani.
“Itu beresiko Wilda. Anak-anak kita masih kecil. Aku tidak mau mereka besar tanpa ada kita yang mendampingi,” Handika berkata tegas.
*****
“Aku mohon maaf, Wilda. Kontrak kerja dengan perusahaan Raditya tidak bisa dibatalkan sepihak. Dia akan menuntut balik kita, kalau kita membatalkannya,” Yoana pagi itu memanggil Wilda ke ruang kerjanya. Wajah Yoana tampak sangat menyesal.
Janjinya untuk memutuskan hubungan kerja dengan Raditya tidak berhasil. Yoana tidak ingin nanti Wilda terjebak dengan Raditya karena dalam perjanjian kontrak Wilda memang ikut dilibatkan dalam proyek tersebut. Keterlibatan Wilda jelas akan membuat intesintas Wilda berjumpa Raditya semakin sering.
“Raditya sangat licik.” Lanjutnya. Yaona diam sejenak. Dia nampak berpikir keras. Ditangannya terpegang sebuah map warna biru.
“Laporan ini harus sampai ke dia siang ini. Kamu yang disuruh mengantarnya.” Yaona nampak kesal sekali. “Aku sudah meminta biar Tere yang mengantar, tapi Raditya menolak. Licik.” Sungut Yoana.
Wilda tersenyum. Diambilnya laporan itu dari tangan sahabatnya.
“Aku akan antar Yoana. Aku bisa jaga diri.” Wilda menjawab yakin.
*****
Ragu-ragu Wilda menuju ruang kerja yang ditunjuk sekretaris Raditya. Ketukan di pintu batal dia lakukan, karena pintu sudah terbuka sendiri. Sebuah ruangan kerja yang sangat besar dan modren.
Nuansa hitam dan putih dalam ruangan menambah kesan elegan ruangan ini. Sebuah lukisan yang indah dan mahal terletak di dinding sebelah kiri. Jendela-jendela kaca yang besar berada di sisi sebelah kanan. Pemandangan kota nampak indah dari jendela. Semua aktivitas diluar ruangan dapat dilihat dari dalam ruangan ini. Pantas tadi Radtya tahu kehadirannya.
Raditya nampak duduk di meja kerjanya yang besar. Dia nampak gagah dan berkharisma sekali.
“Sayang, terima kasih kamu sudah mau datang,” Raditya tegak dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati Wilda menyambut kedatangannya.
Kecupan yang mau diberikan Radit ditolak halus oleh Wilda. Raditya tertawa. Tangan Wilda yang menolaknya ditangkapnya, gerakannya yang cepat membuat Wilda sudah berada di dekapannya. Bibirnya mendarat lembut di bibir Wilda. Badan Wilda bergetar menerima kecupan yang tiba-tiba. Gigitan kecil di bibirnya diberikan Raditya karena Wilda tidak membalas kecupannya seperti biasa.
“Aku kangen sekali Wilda. Jangan menolakku,” suara Raditya terdengar mendesis pelan.
“Aku mau mengantarkan ini. kalau tak ada lagi keperluan aku mohon pamit.” Tegas suara Wilda.
“Siapa bilang tak ada keperluan. Duduk dulu Wilda.” Raditya menuntun Wilda duduk di kursi kerjanya. Kursi tersebut didorong Raditya ke arah jendela. Pemandangan yang indah nampak di bawah mereka. Hembusan nafas Raditya terdengar di telinga Wilda. Bau parfum Radit memberikan aroma tersendiri. Membuat hati Wilda tergetar.
“Wilda, aku sudah tahu semua masalah keluargamu. Kamu harus meninggalkan suamimu. Teddy adalah laki-laki yang berbahaya. Dia sangat mencintai suamimu. Kamu tidak akan bisa menyuruh suamimu menjauhi Teddy. Dia tidak akan membiarkan orang yang dicintainya meninggalkannya. Teddy orangnya suka nekat Wilda. Kamu dan putrimu bisa terancam” Raditya berkata sambil menatap Wilda. Nampak cemas di wajahnya.
“Kamu berbohong bukan ?” tanya Wilda.
“Aku tidak bohong Wilda, informasi dari informan aku sangat valid.” Raditya meyakinkan Wilda.
“Izinkan aku keluar ruanganmu Radit.” Wilda tiba-tiba tegak dari kursinya.
“Aku mau pulang sekarang.” Lanjutnya.
Raditya tidak bisa menahan Wilda. Dengan berat hati dia mengizinkan Wilda meninggalkan ruangannya. Tangannya membukakan pintu buat Wilda.
“Aku siap menggantikan suamimu yang gay itu Wilda, kalau kamu bercerai dengannya,” Raditya berbisik pelan di telinga Wilda sebelum keluar ruangan.
*****
Beberapa hari ini chat dari Radit tidak pernah masuk ke gawainya. Wilda sedikit heran. Chat yag biasanya bertubi-tubi tidak pernah datang lagi. Ah... biarlah, batin Wilda. Mungkin ini lebih baik. Aku mau lebih fokus menghadapi masalah rumah tanggaku, batin Wilda. Tapi jujur Wilda rindu juga chat-chat tersebut. Rasa rindu yang sama juga dirasakannya untuk pengirim chat tersebut.
Ketukan di pintu sore itu mengagetkan Wilda yang lagi menikmati tayangan sebuah entertainmet. Dengan langkah malas dia membukakan pintu. Seseorang yang berdiri di depan pintu membuat napasnya serasa mau berhenti.
Seorang perempuan muda yang sangat cantik. Kulitnya yang putih bersih saperti pualam. Rambutnya yang sedikit kemerahan panjang bergelombang sampai bahu. Tubuh yang tinggi langsing sangat proporsional dengan badannya. Hidung, mata dan alis yang begitu indah tanpa cela menambah kesempurnaan kecantikannya. Dia istri Raditya, tetangga depan rumahnya.
Wilda baru kali ini berjumpa dari jarak dekat dengan perempuan cantik ini. Rasa takut dan bersalah karena dekat dengan suaminya membuat Wilda gugup.
“Mbak tidak mempersilahkan saya masuk?,” sapaan lembut dari perempuan itu mengagetkan Wilda.
Wilda membuka pintu lebih lebar tangannya mempersilahkan perempuan muda itu untuk duduk.
“Saya Jesllyn, Mbak. Istrinya Raditya.” Dia mengulurkan tangannya sebelum duduk di sofa,
Wilda menyambut uluran tangan itu dengan keringat dingin.
.
Bersambung
Dumai, 11-05-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan