Memoar part 1 'Dari Dumai ke Tanah Suci' Tagur hari ke 54
#tantangangurusiana
Mutasi Tugas
Surat mutasi tugas yang aku terima sangat menggembirakanku. Permohonan pindah tugas yang sudah bertahun-tahun aku ajukan disetujui oleh Pemko. Pindah tugas yang aku ajukan bukan karena aku tidak mencintai sekolah ini.
Jujur aku mencintai sekolah ini. Tempat aku pertama kali mengabdikan diri sebagai PNS, SMPN 6 Dumai. Kawan-kawan sesama mengajar sudah seperti keluarga sendiri. Siswa-siswanya yang ramah dan baik sangat menyenangkan. Penduduk yang menerima kami dengan hangat membuatku bertahan tinggal di sekitar sekolah lebih kurang tujuh tahun.
Aku tinggal dekat sekolah di rumah salah seorang penduduk. Sepasang suami istri yang sudah seperti keluarga sendiri. Dari keluarga inilah aku banyak belajar budaya masyarakat Jawa sehinga paham bahasanya. Tetangga sekeliling yang umumnya masyarakat Jawa membuat pengetahuanku tentang adat dan budaya mereka menjadi bertambah.
Setelah menikah aku tinggal di kota. Pekerjaan suami tidak memungkinkan aku tinggal lagi di dekat sekolah.
Pindah tugas terpaksa aku ajukan karena jarak antar sekolah dengan tempat tinggalku yang cukup jauh sekitar 30 km. Kondisi jalan yang belum aspal dan berlubang membuat waktu tempuh ke sana bisa lebih lama. Keadaan akan lebih parah apabila musim penghujan. Oplet tidak bisa masuk sampai ke sekolah.
Untuk mencapai sekolah harus ditempuh dengan jalan kaki melewati jalan yang berkubang lumpur. Ada beberapa ojek yang beroperasi untuk sampai ke sekolah, masyarakat disini menyebutnya RBT, singkatan dari Runding Baru Tarik. Sesuai dengan istilahnya kalau mau naik ojek ini penumpang dengan pengendara motor harus menyepakati dulu sewa yang harus dibayar.
Kondisi jalan menjadi penyebab sistim tawar seperti ini. Jalan yang rusak sangat parah membuat sewa RBT bisa menjadi lebih mahal. Tidak semua orang berani naik RBT perlu mental yang kuat untuk menaikinya. Jalan buruk membuat penumpang harus berpegangan erat dengan pengendara motor kalau tidak ingin jatuh.
Aku paling risih kalau naik RBT ini. Berpegangan pada pinggang abang-abang RBT membuatku sungkan. Pernah aku tidak berpegangan waktu naik RBT alhasil aku terjatuh bermandikan lumpur. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan.
Bagiku pilihan berjalan kaki lebih aman walau perlu waktu berjam-jam untuk sampai ke tujuan. Ongkos RBT yang cukup mahal juga menjadi kendala buat seorang guru sepertiku.
Di musim panas jalanan agak bagus, walaupun debu akibat jalan tanah membuat putih rambut dan pakaian yang kita pakai. Tapi kendalanya oplet tidak ada setiap saat. Perlu waktu yang lama untuk menunggu oplet lewat kalau kita mau ke kota. Kadang sampai empat jam. Karena sistemnya disini, oplet menunggu penuh dulu baru berangkat.
Kalau tidak ada penumpang tak jarang opletnya tidak jadi berangkat. Kalau mau pergi ke kota juga tunggulah agak sore menunggu oplet yang membawa sayur dan pisang. Karena daerah tempatku mengajar penduduknya banyak bertanam sayur-sayuran dan hasil ladang lainnya.
Untuk membawa motor dengan kondisi jalan seperti ini, sungguh diriku tidak berani. Jalanan yang masih sepi hanya ada pohon-pohon sawit sepanjang jalan membuat aku takut. Tidak terbayang kalau motor mogok di jalan, siapa yang akan menolong nantinya. Apalagi waktu itu aku juga baru pandai bawa motor.
Faktor-faktor itulah yang menyebabkanku untuk mengajukan permohonan pindah ke kota. Berat hati memang mengambil keputusan untuk pindah dari sekolah ini. Ada sekitar dua tahun proses mutasi yang aku ajukan sampai akhirnya SK mutasi ini sampai ke tanganku. Perasaan enggan pindah mungkin menjadi penyebab pengurusan mutasi pindah jadi lambat.
Keputusanku pindah menjadi lebih cepat setelah aku melahirkan anak pertama. Rasa kasihan melihat anak ditinggal seharian menyebabkan pengurusan pindah aku lakukan lebih gigih. Dan usahaku membuahkan hasil, mutasi tugasku disetujui tertanggal 26 Juni 2006.
Sekolah baru tempatku bertugas adalah sekolah yang sangat bagus. Terletak di pusat kota. Letak sekolah yang strategis menjadikan sekolah ini selalu jadi incaran oarng tua untuk memasukan anaknya ke sini. Status sekolah yang waktu itu Sekolah Standar nasional (SSN) menambah terkenal sekolah ini.
Dengan SK pindah tugas di tangan, aku melapor ke sekolah ini, SMPN 2 Dumai. Ibu kepala sekolah, ibu Dra. Hj Rosmawati menyambut baik kedatangannku. Aku diperkenalkan dengan wakil bidang kurikulum. Ibu kepala sekolah menyuruhku datang pada hari senin depannya.
Hari seninnya sesuai dengan arahan ibu kepala sekolah aku datang ke sekolah ini. Pertama kali aku menginjakan kaki disini sebagai guru baru di SMPN 2 Dumai. Di acara rapat mingguan aku diperkenalkan oleh ibu kepala sekolah dengan rekan-rekan guru yang mengajar di sini.
Rekan-rekan guru menyambut baik kepindahanku ke sekolah mereka. Aku merasa sangat senang bisa diterima di sekolah ini. Aku berjanji akan menjalan tugas dengan sebaik-baiknya. Aku akan bertekad belajar di sini dari guru-guru senior. Pengalaman mereka yang banyak bisa aku jadikan contoh dalam mengajar nanti.
Sesuai dengan SK tugasku, aku mengajar bidang studi fisika. Sebelum kurikulum 2013, cabang IPA diajarkan oleh guru dari mapel sejenis. Background pendidikan S.1 yang aku ambil adalah pendidikan Fisika. Jadi aku juga mengajarkan mata pelajaran yang sama sesuai dengan bidang ilmuku.
Guru Fisika di sekolahku ada tiga orang, dengan dua orang guru PNS dan satu guru honorer. Karena gurunya cukup aku hanya ditugaskan mengajar di tiga kelas saja.
Mengajar dengan hanya sedikit kelas membuat aku banyak punya waktu luang. Sehingga aku bisa membantu menggantikan jam salah seorang teman guru fisika yang melanjutkan kuliah S.1.
Untuk kuliah S.1 harus ke ibu kota propinsi. Jarak Dumai ke Pekanbaru cukup jauh perlu waktu lebih kurang enam jam perjalanan darat dengan angkutan bus umun. Kondisi ini menyebabkan teman yang mengambil kuliah S.1 harus menginap di Pekanbaru. Kondisi seperti ini membuat ibu kepala sekolah memintaku mengganti teman tersebut untuk mengajar di kelasnya kalau dia kuliah.
Aku sangat senang sekali dipercayakan untuk menggantikan beliau mengajar di kelasnya. Memang tidak tiap hari hanya ketika temanku kuliah saja. Ada dua langganan kelas yang aku masuki. Kelas yang belajar Fisikanya hari Jumat dan Sabtu. Karena hari itulah yang sering digunakan guru tersebut untuk kuliah ke Pekanbaru.
bersambung
Dumai 20-05-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan