Memoar Part 2 'Dari Dumai ke Tanah Suci' Tagur ke 55
#Tantangangurusiana
.
Gelar "Guru Idola" dimata Siswa
Terlahir sebagai anak sulung dengan enam orang adik membuatku akrab dengan anak-anak. Menjaga adik-adik adalah tugas utamaku membantu ibu. Kalau sekolahku siang, paginya aku menjaga adik-adik dulu sebelum berangkat sekolah. Terbiasa dengan anak-anak membuatku menjadi menyukai dunia anak-anak. Mungkin karena faktor itulah aku memutuskan untuk memilih formulir Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) di IKIP Padang. Jurusan pendidikan Fisika adalah jurusan yang aku pilih. Aku diterima di IKIP Padang tahun 1993 melalui jalur PMDK (mahasiswa undangan).
Memperhatikan dan melihat guru-guru mengajar membuatku ingin seperti mereka. Guru bagiku sosok yang sangat mulia. Karena guru membuat siswa menjadi pintar. Lingkungan keluarga yang banyak berprofesi sebagai guru menambah motivasiku untuk jadi guru semakin besar.
Sewaktu kuliah di IKIP Padang setelah melaksanakan Praktek Mengajar Lapangan (PPL) tidak ada mata kuliah lagi yang harus aku ikuti. Hanya tinggal menyusun skripsi. Untuk mengisi waktu disela-sela menyusun skripsi aku mengajar SMA dan STM di kotaku, SMAN Kampung Dalam dan STM Surya Utama Pariaman. Disanalah aku mencoba untuk menerapkan semua ilmu yang aku dapat dibangku perkuliahan.
Nasehat dari dosen selalu kuingat. Perlakukan anak dengan manusiawi. Anak itu unik. Mereka semua hebat. Tidak ada anak yang bodoh. Karena dari proses pembentukan mereka di rahim ibunya sudah melalui seleksi yang ketat.
Anak tercipta dari pertemuan sperma sang ayah dan sel telur sang ibu di saluran oviduk. Untuk membuahi sel telur diperlukan sperma dari sang ayah. Dari jutaan sperma hanya satu spermalah yang diperlukan untuk membuahi sel telur ibu. Sperma yang terpilih adalah sperma yang hebat karena bisa mengalahkan sperma yang lain. Sel sperma dan sel telur yang terpilih itulah yang akan berkembang menjadi zygote dan akhirnya menjadi embrio. Embrio akan berkembang di dalam rahim dan setelah sembilan bulan terlahirlah seorang anak manusia.
Peristiwa pertemuan sperma dan sel telur menunjukan bagaimana hebatnya proses terjadinya anak manusia. Mereka semua dilahirkan setelah melalui suatu tahapan seleksi. Perlakukanlah mereka dengan pantas. Jangan dibeda-bedakan. Nasehat dari dosen selalu membekas diingatanku.
Berbekal ilmu mendidik yang aku dapat dibangku kuliah aku berusaha mengajar sebaik mungkin. Mata pelajaran Fisika yang aku ajarkan adalah mata pelajaran yang kurang diminati sebagian siswa. Karena Mata pelajaran Fisika menggunakan hitungan seperti pada matematika. Sementara hanya sebagian kecil anak yang suka pelajaran matematika, matematika bagi sebagian siswa merupakan pelajaran yang membuat mereka “pusing”.
Aku tidak pernah menuntut mereka harus paham dengan pelajaran fisika. Sebagai guru aku paham tidak semua anak hobbi pelajaran hitungan. Manusia dilahirkan dengan dua bagian otak dikepalanya, otak kanan dan otak kiri.
Menurut buku psikologi yang pernah aku baca anak dengan otak kiri yang terasah akan memiliki kemampuan dalam memahami fungsi logika dan komputasi matematika, otak kiri merupakan pengendali intelligent quotient (IQ).
Dan anak dengan otak kanan yang terasah memiliki kemampuan intuitif seni (seperti menyanyi, menari, melukis), kemampuan merasakan, pusat khayalan dan kreativitas, serta pengendalian ekspresi manusia, otak kanan merupakan pengendali emotional quotient ( EQ).
Tidak semua anak bisa mengembangkan otak kanan dan otak kiri sekaligus. Aku menyadari sekali proses itu. Bagiku siswa yang tidak paham pelajaran fisika setelah beberapa kali aku jelaskan aku tidak akan memaksa mereka untuk paham. Mau mengikuti pelajaran saja mereka bagiku sudah syukur. Yang penting mereka sudah ada usaha untuk mempelajarinya.
Menurutku keberhasilan mereka nantinya setelah dewasa bukan karena nilai fisika mereka bagus. Nilai fisika mereka yang sempurna bukan jaminan mereka untuk berhasil dimasa depannya. Tugas kita hanya memotivasi dan mendidik semampu kita. Allah sudah menggariskan jalan hidup setiap umatnya, umatnya tinggal mejalaninya diiringi dengan usaha dan doa.
*****
Mengajar di kelas bagiku sangat menyenangkan. Aku menikmati profesiku. Aku berusaha membuat kelas yang aku ampu sesantai mungkin tapi materi yang aku sampaikan dapat diterima anak. Tidak jarang untuk memancing suasana di kelas tidak terlalu kaku aku memberi teka-teki atau cerita lucu yang bisa membuat mereka tertawa. Bahasa-bahasa gaul merekapun terkadang aku ikuti biar kesannya aku tidak menjaga jarak dengan mereka.
Bergaul dengan mereka dalam suasana yang kaku membuat waktu terasa lama berjalan dan itu bagiku sangat membosankan. Suasana seperti ini rasanya sangat menyiksaku.
SMPN 2 Dumai adalah salah satu sekolah yang syarat dengan kegiatan-kegiatan lomba untuk memotivasi siswa. Hampir setiap moment-moment hari nasional diadakan lomba. Lomba yang diadakan tidak untuk siswa saja, lomba untuk gurupun juga diaakan.
Dalam rangka menyambut hari PGRI di SMPN 2 Dumai tahun 2006, OSIS mengadakan pemilihan guru idola. Setiap siswa diberi hak suara untuk memilih guru idola menurut mereka.
Acara pemilihannya diadalakan di tengah lapangan. Setiap anak diberi kertas dan mereka menuliskan satu orang guru yang mereka idolakan. Setelah selesai ditulis semua kertas dikumpul. Anak-anak OSIS dan guru pembinan OSIS meneli hasil pilihan anak.
Setelah diteli dan dihitung ternyata siswa banyak yang memilih aku sebagai guru idola. Aku sangat kaget. Aku tidak percaya. Karena sebagai guru yang baru sekitar enam bulan mengajar di sekolah ini rasanya tidak mungkin. Aku beranggapan kalau itu mungkin salah hitung.
Aku sadar bahwa sebagai guru baru dengan pengalaman mengajar yang belum banyak aku masih banyak kekurangan. Aku merasa tidak pantas dan tidak berhak untuk menerima gelar tersebut.
Tapi anak sudah memilihku. Aku tidak tahu apa dasar anak memilihku. Iseng aku pernah bertanya waktu itu kepada seorang siswa mengapa memilihku, jawaban mereka hanya sederhana, “Ibu orangnya ramah,” jawabnya. Disini aku dapat pengalaman lagi. Guru yang ramah merupakan guru yang disukai siswa. Memberikan sedikit senyum saja kepada mereka sudah membuat mereka senang.
Menyandang gelar guru idola merupakan beban tersendiri bagiku. Sedikitpun aku tidak pernah mengharapkan gelar ini. Tapi gelar ini sudah diamanahkan siswa kepadaku. Aku berharap semoga bisa tetap jadi guru yang baik bagi mereka. Guru yang bisa ditiru dan digugu. Guru seperti yang Ki Hajar Dewantara amanahkan dengan semboyannya “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani” kucoba untuk mewujudkannya walau masih dalam tahapan belajar.
.
bersambung
Next Part " ikuti seleksi guru berprestasi'
Dumai, 23-04-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan