Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

'Rindu Tak Bertepi' Tagur hari ke 58

#TantanganGuruSiana

.

Perempuan itu masih berdiri mematung di pinggir pantai. Hempasan ombak di sedikitpun tidak mengusik keasyikannya memandang laut. Angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat kerudung perempuan itu berkibar memperlihatkan sedikit rambut hitamnya yang tidak diikat. Matanya menatap lurus ke tengah lautan. Tatapan mata yang penuh rindu. Rindu mengharapkan kemunculan seseorang yang entah kapan akan datang.

Sudah hampir lima purnama perempuan itu seperti ini. Selalu berdiri di pinggir pantai tanpa jemu di sore hari. Burung-burung kowak malam yang bermain di sekitar pantai menatap perempuan itu dengan tatapan sedih. Kalaulah burung itu bisa bicara mungkin perempuan itu sudah disuruhnya pulang. Tidak elok perempuan berdiri lama-lama petang hari di pinggir pantai. Tapi burung itu hanya bisa diam. Seakan mau menjaga perempuan itu mereka terbang berputar-putar tidak jauh dari tempat perempuan itu berdiri.

Perempuan itu namanya Hasanah. Perempuan yang ditinggalkan Karim untuk pergi melaut sebulan sebelum akad nikah mereka akan dilangsungkan. Ombak yang besar waktu itu tidak menyurutkan niat Karim dan kawan-kawan untuk pergi menangkap ikan. Hasanah sang tunangan sudah mengingatkan dirinya agar jangan pergi ke laut sore itu. Tapi niat Karim tidak tertahan. Niat hatinya untuk mengumpulkan banyak uang untuk acara akad nikah dengan Hasanah membuat tekadnya sangat kuat untuk melaut. Tekad yang tak seorangpun bisa melarang termasuk sang pujaan hati.

Mungkin karena panggilan Sang Ilahi yang lebih hajad Karim untuk melaut tidak bisa dihalangi. Karena tidak ada makhluk di muka bumi ini yang mampu menolak panggilan sang Khalik.

Mujur tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Angin deras serta ombak yang kencang membuat kapal yang digunakan Karim dan kawan-kawanya hilang kendali. Kapal mereka menabrak karang yang besar di tengah laut. Kapal kecil mereka hancur berkeping-keping. Karim dan kawan-kawan berusaha menyelamatkan diri dengan berenang. Ombak yang tinggi menyebabkan mereka kesulitan menyelamatkan diri. Karim dan ketiga kawannya ditelan ganasnya ombak di malam naas itu.

Ketiga mayat teman Karim ditemukan terdampar di pulau kecil tidak jauh dari perkampungan mereka. Hanya jasad Karimlah yang tidak ditemukan. Berbagai upaya dicoba untuk mencari jasad pemuda itu tapi tak juga kunjung bertemu. Mungkin itulah agaknya yang membuat Hasanah berharap sang tunangannya masih hidup dan akan menemuinya. Beberapa orang pintar sudah mengatakan kalau Karim sudah meninggal jasadnya tenggelam di dasar laut. Hasanah tidak mempercayai semua itu. Dia masih berharap Karim akan menjumpainya seperti janjinya waktu minta izin mau melaut sore itu.

Seorang pemuda, Zulfikar menatap gadis itu dari kejauhan. Zulfikar adalah adiknya Karim. Dialah saksi hubungan asmara antara abangnya dengan Hasanah. Tidak pernah bang Karim berjumpa hanya berdua saja dengan Hasanah. Abang Karim selalu membawa Zulfikar setiap menjumpai perempuan itu. Zulfikar tahu betul bagaimana sayangnya abangnya kepada perempuan itu. Rasa cinta yang besar membuat bang Karim sangat menjaga Hasanah.

Setelah abangnya tak pernah kembali lagi Zulfikarlah yang melanjutkan tugas abangnya menjaga Hasanah. Dia selalu mengawasi Hasanah dari kejauhan setiap sore di pinggir pantai itu. Tidak ada seorangpun yang berani mengganggu Hasanah. Karena orang tahu ada Zulfikar yang menjaganya. Pemuda yang memiliki ilmu silat tinggi. Menganggu Hasanah akan berurusan dengan Zulifikar.

Hasanah akan pergi meninggalkan pantai itu jika matahari sudah masuk keperaduan. Zulfikar calon adik ipar yang sejak tadi mengawasinya akan mengiringinya dari kejauhan.

Zulfikar tidak pernah lelah menjaga perempuan itu. Pesan dari sang abang agar dia menjaga calon kakak ipar selalu diingatnya. Pesan yang tidak pernah dia lupakan. Rasa kehilangan yang diderita Hasanah tidak beda seperti yang dirasakan Zulfikar. Karim adalah satu-satunya saudara yang dia punya. Zulfikar tahu betul abangnya sangat mencintai dirinya. Rasa cinta yang besar jugalah yang membuat abangnya melarang dia melaut sore itu. Padahal biasanya Zulfikar selalu ikut dengan abangnya. Bujukannya untuk ikut melaut tidak berhasil meluluhkan hati abangnya. Karim tegas melarangnya ikut hari itu. Karim hanya berpesan kepadanya tetap di rumah dan menjaga Hasanah, calon kakak ipar.

“Kau tak naik dulu, Zul?” suara pakcik Burhan, ayahanda Hasanah terdengar menyambut kedatangan Hasanah dan Zulfikar.

“Tidak Pakcik, saya langsung pulang. Belum shalat magrib.” Pemuda itu menjawab sopan.

Hasanah menatap Zulfikar. Dia tersenyum kepada adik tunanganya itu. Ada rasa kasihan melihat Zulfikar setiap hari harus menemaninya menunggu bang Karim pulang.

“Tak payahlah besok kau menunggui aku menunggu abangmu pulang, Zul. Aku bisa sendiri.” Hasanah berkata dengan suara pelan kepada Zulfikar.

“Tak bisa begitu Sanah, abang Karim akan memarahi aku kalau membiarkan kau sendiri menunggunya.” Zulfikar mejawab dengan hati yang sedih. Zulfikar tahu abangnya tak munkin kembali lagi. Zulfikar tahu Hasanah akan sangat marah kalau ada yang mengatakan abang Karim sudah meninggal. "Biarkan aku menjagamu seperti yang diamanahkan abangku." lanjutnya. Perempuan itu hanya diam dan berlalu dari hadapan bapaknya dan Zulfikar

“Terima kasih, ya Zul. Kau dah jaga Hasanah.” Laki-laki itu tersenyum pada Zulfikar.

Zulfikar menganggukan kepala. Ucapan terima kasih yang sudah kesekian ribu kalinya diucapkan laki-laki itu setiap dia mengantar Hasanah pulang. Tergesa Zulfikar meninggalkan rumah pakcik Burhan, takut waktu sholat Magrib keburu lewat.

*****

“Zul, apa kau tak bosan menjaga Hasanah setiap sore di pantai itu?” Mak berkata malam itu setelah mereka selesai makan malam.

“Tak lah Mak, Zul sayangkan Hasanah seperti sayang ke abang Karim. Tak ada rasa bosan di hati ini untuk menjaganya.” Zulfikar menjawab sambil meminum kopi yang disuguhkan mak untuknya.

Zulfikar hanya tinggal berdua dengan mak. Kehilangan bang Karim membuat bapak menjadi sakit-sakitan. Bapak sangat terpukul kehilangan anak tertuanya. Bapak sangat menyesal karena mengizinkan Karim pergi melaut sore itu. Sebagai nelayan yang sudah sangat berpengalaman dia sudah tahu kalau malam itu akan ada angin kencang. Tapi entah kenapa dia memberi izin saat anak kesayangnnya melaut. Kalaulah hari itu dia melarang pasti ini tak akan terjadi. Karena dia tahu betul Zulfikar sangat mendengar cakapnya.

Rasa sesal itulah yang membuat bapak jatuh sakit. Sakit yang susah disembuhkan. Nasehat kalau musibah yang menimpa Karim adalah suratan takdir tidak bisa menghilangkan rasa bersalahnya. Bapak menyusul bang Karim satu tahun berikutnya. Bapak meninggal dalam sesal yang bekepanjangan.

Mamak dan Zulfikar sangat terpukul ditinggalkan berturut-turut oleh orang kesayangannya. Tapi Zulfikar sadar bahwa mereka tidak boleh larut dalam kesedihan. Hidup harus dijalani. Zulfikar berhasil membujuk mak untuk bangkit. Zulfikar sangat menyayangi mak. Karena mak lah satu-satunya yang dia miliki sekarang.

Jujur di hati yang paling dalam dia juga seperti Hasanah. Memiliki rindu yang dalam buat abangnya. Dia selalu berharap bang Karim masih hidup. Selalu berharap suatu saat bang Karim pulang. Pulang menjumpai dirinya dan mak. Rasa rindu itu jugalah yang membuat dia mau mengawasi Hasanah di pantai setiap sore.

bersambung

.

Dumai, 26-05-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post