Rindu Tak Bertepi (Part 2) Tagur hari ke 59
#TantanganGuruSiana
.
Semenjak kejadiannya yang menimpa Karim, mak tidak membolehkan Zulfikar melaut. Perempuan itu takut nasib Karim berulang pada Zulfikar. Mak akan menangis kalau Zulfikar nekad pergi. Mak takut Zulfikar tak kembali lagi.
Zulfikar sangat sayang pada maknya. Dia tidak ingin membuat mak sedih. Zulfikar mengikut saran mak untuk tidak mengikuti jejak abang dan alm bapaknya jadi nelayan. Susah bagi Zulfikar untuk menghilangkan kecintaannya pada laut. Tinggal dan dibesarkan di kampung nelayan membuat rasa cinta terhadap laut mendarah daging di tubuhnya. Menjadi pelaut dan nelayan adalah cita-citanya sejak kecil. Tapi karena sayang dan baktinya pada mak, Zulfikar rela mengorbankan keinginannya.
Untuk menyambung hidupnya Zulfikar bekerja membuat perahu. Perahu buatan pemuda itu sangat disukai para nelayan. Pekerjaannya yang rapi membuat perahu buatannya terkenal. Kalau pesanan membuat perahu tidak ada pemuda itu membuat jala penangkap ikan. Tidak ada pekerjaan yang memantang bagi Zulfikar. Bagi Zulfikar asalkan halal semua akan dikerjakannya.
*****
Hari ini adalah hari pasar di kampung nelayan tempat tinggal Zulfikar. Pasar yang cuma ada setiap hari kamis di perkampungan nelayan ini ramai di datangi penduduk. Masyarakat menyebut pasar ini dengan Pekan Kamis. Pedagang-pedagang yang datang dari kota menambah ramainya penjual yang ada di pasar. Penduduk membeli barang harian untuk seminggu ke depan.
Zulfikar menjual beberapa jala ikan yang sudah dibuatnya. Nasib baik baginya hari ini semua jalanya habis terjual. Sebelum pulang Zulfikar membeli kebutuhan untuk dia dan mak. Beras dan beberapa kebutuhan dapur adalah barang yang dibelinya.
Beberapa anak perawan nampak berbisik-bisik melihat Zulfikar berbelanja. Di daerah perkampungan nelayan itu Zulfikar jadi idola dikalangan gadis. Banyak diantara mereka yang mengimpikan diperistri oleh pemuda itu. Tapi mereka harus kecewa karena hati Zulfikar tidak pernah terbuka untuk mereka.
Zulfikar tahu dirinya menjadi incaran gadis-gadis di kampungnya. Tapi tak ada seorangpun diantara perempuan itu yang menarik hatinya. Zulfikar memiliki rasa yang spesial kepada seorang perempuan. Rasa yang sudah lama dipendamnya. Tapi tidak berani dia utarakan.
“Beruntung sekalilah perempuan yang mendapatkan kau nanti Zul.” Wak Sabri penjual beras berbicara dengan Zulfikar waktu dia mampir dikedai saudagar beras itu.
“Manalah ada perempuan yang mau sama aku, Wak . Awak ni orang miskin. Harta tak ada, wajahpun tak ganteng pula.” Zulfikar menjawab sambil tersenyum.
“Itulah lebihnya nilai kau Zul. Kau anaknya rendah hati dan tak sombong.” Wak Sabri memuji Zulfikar. Zulfikar yang dipuji oleh wak Sabri hanya tersenyum.
“Menurutku Hasanah mantan tunangan abangmu cocok denganmu. Ngapa tak kau saja yang melamar dia?” Lanjut Wak Sabri..
“Tak eloklah Wak cakap macam itu. Hasanah itu cintakan bang Karim, mana ada tempat di hatinya buat laki-laki lain.” Zulfikar menjawab pelan.
“Kalau kau menyayangi abangmu, harusnya kau lamar Hasanah. Apa kau tak kasihan melihat dia seperti itu?” Wak Sabri menatap Zulfikar tajam.
*****
Perkataan wak Sabri siang itu di pasar terbayang-bayang oleh Zulfikar. Setiap petang tegak menunggu perempuan itu di pantai membuat ada debar-debar aneh di dada Zulfikar. Hasanah hampir sebaya dengan Zulfikar. Sebenarnya dulu Hasanah teman sepermainnanya.
Tapi nasib mengantarkan perempuan itu jadi calon kakak iparnya. Zulfikar tidak mau memanggil Hasanah dengan panggilan kakak. Kepada abangnya dia sudah berjanji akan memanggil kakak kalau perempuan itu sudah resmi jadi iparnya.
Hasanah gadis yang cantik, lakunyapun elok, tutur katanya sangat sopan. Tidak pernah terdengar berita-berita buruk mengenai dirinya. Pakcik Burhan bapaknya juga orang terpandang. orang yang disegni di kampung itu. Banyak pemuda di kampung itu yang mau memperistrinya. Bahkan ada anak-anak oang kaya dan terpadang. Tapi Hasanah tak nak menerima mereka. Karim adalah pemuda yang sangat beruntung mendapatkan cinta perempuan itu.
Petang itu kembali Zulfikar menemani Hasanah di pantai. Zulfikar berdiri tidak jauh dari Hasanah. Seperti biasa perempuan itu tegak mematung menatap ke tengah lautan. Tatapan mata yang penuh rindu mengharapkan seseorang.
“Sanah....” Zulfikar memanggil perempuan. Hasanah menoleh ke arah Zulfikar. Pemuda itu tegak dekat Hasanah berdiri. Tidak ditempat biasanya.
“Sampai kapan kau akan menunggu bang Karim pulang, Sanah?” Zulfikar bertanya kepada perempuan itu.
“Sampai bang Karim pulang, Zul. Aku yakin abangmu pasti pulang.” Perempuan itu menjawab yakin.
“Bagaimana kalau bang Karim tak pulang-pulang Sanah?” Zulfikar berkata sambil menatap perempuan itu
“Bang Karim pasti pulang Zul. Dia sudah berjanji kepadaku.” Hasanah menjawab pelan.
“Tapi bang Karim sudah lama tak balik Sanah. Kecil kemungkinan bang Karim nak balik. Usah diharap lagi.” Zulfikar bicara hati-hati. Dia takut perempuan itu tersinggung.
Perempuan itu menatap Zulfikar tajam. Tatapan matanya sangat tidak bersahabat. Ada gurat kemarahan di wajahnya yang cantik.
“Jangan berkata seperti itu lagi, Zul. Bang Karim masih hidup. Aku yakin dia pasti akan pulang menemuiku.” Hasanah berkata yakin.
"Kalau kau tak hendak menungguiku di sini. Kau baliklah pulang," lanjut perempuan itu menyuruh Zulfikar pulang
bersambung
Dumai, 27-05-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan