Rindu Tak Bertepi (Part Terakhir) Tagur hari ke 60
#tantangangurusiana
.
Kedatangan pakcik Burhan siang itu ke rumah mak membuat heran Zulfikar. Pemuda itu sedang beristirahat di kamarnya melepas penat. Sudah lama pemuka kampung nelayan itu tidak berkunjung. Semenjak bapaknya meninggal empat tahun lalu tidak pernah lagi dia menginjakan kaki ke rumah ini. Apa pasal yang membuat pakcik Burhan singgah ke rumah, batin Zulfikar.
“Masuklah tuan. Silahkan duduk,” Mak mempersilahkan dengan hormat laki-laki calon besannya itu.
“Terima kasih Rogayah.” Pakcik Burhan duduk diatas tikar pandan yang digelar mak ditengah rumah panggung mereka.
“Sudah lama tuan Burhan tidak singgah ke sini. Apalah hajat yang tuan bawa,” suara mak terdengar pelan.
“Maafkan aku Gayah. Bukan aku tak hendak mampir ke sini. Setiap aku menginjakan kaki ke rumahmu selalu terbayang aku wajah Basri. Mengingat dia selalu membuat sedih di hatiku.” Laki-laki itu menjawab lirih.
Basri adalah bapak Zulfikar. Bapak dengan pakcik Burhan teman masa kecil. Mereka sangat akrab. Kemana-mana mereka selalu berdua. Setelah dewasa mereka memilihi pekerjaan yang berbeda.
Bapak bekerja sebagai nelayan. Pakcik Burhan memilih berniaga. Tapi nasib pakcik Burhan lebih mujur. Perniagaan yang dilakukannya selalu beruntung sehingga membuat dia banyak harta. Walaupun sudah menjadi orang kaya bapak dan pakcik Burhan masih berteman baik. Makanya lamaran Karim diterima langsung oleh laki-laki terpandang dan kaya itu. Karena Karim adalah anak sahabatnya.
“Gayah, ada yang hendak aku sampaikan kepadamu.” Suara laki-laki itu terdengar serius. Zulfikar di kamar menyimak dua orang yang bercerita di ruang tengah. Rasa penasarannya yang dari tadi membuat dia menajamkan telinganya.
“Apa itu tuan Burhan ?” mak bertanya heran.
“Sudah lima purnama Karim tidak kembali. Kecil harapan dia nak balik. Kalau kau berkenan Gayah, aku meminta Zulfikar mau mengganti abangnya. Menjadi calon suami anakku.” Laki-laki itu berkata dengan tenang.
Mak terdiam. Tak ada suara yang terdengar. Zulfikar tahu apa yang dipikirkan mak. Mak pasti tidak setuju. Karena Zulfikar pernah mendengar mak bercerita bahwa Hasanah membawa sial bagi keluarga mereka.
“Maafkan saya Tuan Burhan. Saya tak bisa memutuskan. Biarlah Zulfikar yang menjawab nanti. Karena ini menyangkut badan dia.” Mak menolak halus. “Biarlah nanti saya sampaikan kepada anak saya hajat tuan.” Lanjut mak.
“Terima kasih Gayah, Saya menunggu jawaban dari kalian.” Laki-laki itu berkata dan mohon diri kepada mak.
Zulfikar di kamar terdiam mendengar percakapan dua orang itu. Hatinya senang dan galau. Hasanah adalah perempuan yang sangat disukainya. Kesetian perempuan itu kepada abangnya membuat dia menyayangi pula perempuan itu. Tapi Zulfikar ragu apakah Hasanah bisa menghapus bayang bang Karim dalam dirinya. Apakah mak setuju dirinya menggantikan bang Karim sebagai calon suami perempuan itu. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.
*****
Makan malam dengan mak berlangsung hening. Perempuan paruh baya itu lepas pakcik Burhan balik dari rumah mereka nampak tak banyak cakap. Zulfikar tak nak untuk bertanya. Dia menunggu saja apa yang akan dicakapkan mak.
“Zul, kau tahu tadi pakcik Burhan ke sini?” Mak memulai pecakapannya malam itu. Zulfikar tidak menjawab pertanyaan mak, dia hanya menggukan kepala.
“Mak yakin kau mendengar apa yang dibicakan pak cik Burhan dengan mak.” Lanjut mak.
Zulfikar kembali mengagukan kepala. Mak menatap Zulfikar. “Dari tadi kau asyik nak menganggukan kepala saja Zul. Tak bisakah mulut kau tu becakap Zul?” Mak mengomeli Zulfikar.
“Iya Mak. Zul dengar semua.” Zulfikar berkata sambil tersenyum.
“Dari cara kau menjawab mak tahu kau akan setuju. Karena mak sudah tahu dari cerita-cerita dan sikap kau selama ini, kau juga suka tunangan abangmu itu.” Mak berkata lirih.
“Tapi Zul, mak takut perempuan itu akan membawa sial pada keluarga kita. Kau satu-satunya anak mak. Mak tak mau kehilanganmu pula.” Perempuan itu berkata dengan suara bergetar.
“Mak, tak elok mak cakap macam itu. Tak ada orang pembawa sial. Allah sudah punya kehendak buat seluruh umatnya. Itu semua sudah suratan takdir. Zul sayang sama Sanah, Mak. Zul sudah janji pada Bang Karim untuk menjaganya. Tapi kalau mak tak berkenan Zul memperistrinya tak apa. Zul akan ikut cakap Mak.” Zulfikar berkata dengan suara pelan.
Zulfikar paham sifat mak. Perempuan yang melahirkannya adalah perempuan yang sangat baik. Tidak akan dia rela melihat anaknya bersedih. Zulfikar yakin mak pasti akan merestui hubungan dengan Hasanah.
Perempuan itu menatap anaknya. Jujur dia juga sayang sama Hasanah. Anak perempan itu anak yang baik. Tapi hatinya masih gamang.
“Mak tak usah ragu. Kalau mak tak setuju tak apa. Zul akan berusaha hilang rasa dihati Zul buat Sanah.” Zulfikar kembali berbicara kepada mak.
Mak menatap lama anak kesayangannya. Usia Zulfikar sudah pantas untuk menikah. Teman-teman sebayanya udah banyak yang punya anak. Melarang Zulfikar dengan Sanah akan membuat pemuda itu patah hati.
Mak paham, Zulfikar bukan orang yang gampang jatuh hati pada perempuan. Bisa-bisa Zulfikar memilih tidak akan menikah. Menjadi bujang lapuk seumur hidup. Bujang lapuk gelar yang disematkan buat laki-laki berumur yang belum menikah.
“Kalau kau memang mantap pada Sanah, mak izinkan Zul. Tapi Zul, apakah Sanah juga punya rasa yang sama seperti kau.” Mak berkata ragu.
Zulfikar terdiam, mak benar. Hasanah sangat menyayangi bang Karim. Apakah bisa dia menggantikan posisi abangnya di hati perempuan itu?
*****
“Saya tidak mau menikah dengan Zulfikar, Pak.” Suara Hasanah terdengar tegas.
“Tidak ada yang bisa menggantikan bang Karim di hati Sanah, Pak. Sanah akan menunggu bang Karim pulang.” Lanjutnya dengan suara bergetar.
Semua yang berada di ruangan itu terdiam. Pakcik Burhan, istri dan dua orang adik perempuan Hasanah yang duduk tak jauh dari Zulfikar menekurkan kepala. Zulfikar sudah meramalkan Sanah akan menjawab seperti itu.
“Zul, aku sangat menyayangi abangmu. Aku tidak mau menikah denganmu Zul, karena hatiku masih milik abangmu. Aku tidak bisa melupakan bang Karim, Zul. Kau akan menderita nanti, hidup serumah dengan perempuan yang raganya kau miliki tapi hatinya milik orang lain,” Sanah berkata pelan.
“Kau laki-laki baik. Tapi maafkan aku Zul. Kalau kau tak keberatan, jadilah adik iparku. Jadilah suaminya Aisyah, Zul. Dia sudah lama menyukai engkau. Kau kan tahu Aisyah anak yang baik, wajahnyapun lebih elok dariku. Tingkah lakunya pun sungguh terpuji. Dan dia tulus mencitaimu.” Sanah berkata lembut.
Semua yang berada di ruangan itu kaget mendengar perkataan Hasanah. Semua mata memandang Aisyah, anak kedua pakcik Burhan. Aisyah yang dari tadi diam sangat malu wajahnya merona merah. Dia tak menyangka isi hati yang selama ini dipendamnya dalam hati yang paling dalam diketahui oleh kakak tersayangnya.
*****
Pesta pernikahan Zulfikar dan Aisyah berlangsung sangat meriah. Hasanah nampak sangat bahagia adik tersayangnya menikah dengan calon adik iparnya. Tapi tidak dengan Zulfikar. Ada sedih dihati Zulfikar menjalaninya. Tapi semua itu ditepisnya. Zulfikar yakin ‘rasa’ ke Hasanah akan hilang seiring waktu.
Zulfikar sadar mencintai bukan harus memiliki. Zulfikar pun juga ingat bahwa bang Karim hanya menyuruh dirinya menjaga Hasanah. Menjaga Hasanah tidak harus dengan menikahinya.
Menikahi adiknya Hasanah, membuat dia juga bertanggung jawab menjaga kakak iparnya itu. Zulfikar menatap Aisyah yang duduk bahagia di sampingnya. Wajah gadis itu selalu tersenyum. Dia sangat cantik. Aku akan belajar mencintamu Aisyah, janji Zulfikar.
Zulfikar beralih menatap mak. Wajah mak sangat bahagia sekali. Mak sangat senang mendengar Zulfikar akan menikah dengan Aisyah. Tanpa setahu Zulfikar ternyata selama ini Aisyah sering ke rumahnya menemui mak. Mereka berdua sangat akrab dan makpun menyayangi gadis itu.
*****
Tujuh purnama telah berlalu. Sudah hadir ditengah keluarga kecil Zulfikar dua orang buah hati mereka. Anak laki-laki yang sangat ganteng dan pintar. Wajahnya sangat mirip dengan pamannya, Karim. Pakcik Burhan sangat menyayangi cucu laki-lakinya itu.
Kak Hasanah jangan ditanya lagi. Perempuan yang tidak mau menerima pinangan laki-laki itu bukan main sayang kepada keponakannya. Dari kecil dia yang mengurus keponakannya. Atas izin Hasanah, nama Karim diberikan oleh Zulfikar kepada anaknya. Karim kecil menjadi kesayangan keluarga pakcik Burhan.
Aisyah sangat menyayangi kakaknya. Karim kecil tidak pernah dilarang kalau mau menginap di rumah kakeknya. Aisyah tahu, kakaknya sangat menyayangi Karim. Tidak pernah dia cemburu melihat kasih Karim kecil lebih besar kepada kakaknya daripada kepadanya. Bahkan dia senang kak Hasanah membantu dia mengurus Karim kecil, sehingga dia punya waktu lebih untuk Maysarah anak kedua mereka.
*****
Semenjak menikah dengan Aisyah, Zulfikar tidak pernah lagi menunggui Hasanah di pinggir pantai menunggu bang Karim pulang. Kehadiran Karim kecilpun membuat Hasanah tidak terlalu sering lagi ke pantai. Dia lebih sering bermain dengan ponakannya itu.
Kalau rindu akan bang Karim, Karim kecil diajak Hasanah menemani dirinya ke pinggir pantai. Anak enam tahun itu sudah banyak mendengar cerita pamannya dari makciknya ini.
Hasanah sudah mulai menerima takdir nasib Karim. Karim tidak akan mungkin kembali lagi. Jasadnya yang tidak diketemukan bukan berati dia masih hidup. Mungkin jasadnya sudah dikebumikan orang lain, atau mungkin jasadnya ada di dasar lautan.
Sekali-kali Hasanah datang ke pantai. Doa selalu dikirimnya buat laki-laki itu. Laki-laki yang sangat dicintai dan dirindukannya.
Suara Karim kecil berteriak memanggil Atuknya, pakcik Burhan mengagetkan seluruh anggota keluarga yang lagi berkumpul di sore itu.
“Makcik pingsan di pinggir pantai. Ayok dijemput. Karim tak kuat nak gendong makcik.” Suara anak kecil itu sangat cemas.
Tanpa menunggu perintah semua berlari ke arah pantai. Pantai letaknya tidak jauh dari rumah mereka. Sesosok tubuh perempuan nampak tergolek dipinggir pantai. Burung-burung kowak yang sudah mulai muncul di sore itu nampak berterbangan tak jauh dari Hasanah terbaring. Mereka seakan menjaga Hasanah. Suara-suara burung itu terdengar pilu.
Pakcik Burhan memangku anak gadisnya. Tubuh Hasanah nampak pucat. Sebuah senyum tersungging diwajahnya yang cantik. Pakcik Burhan memegang pergelangan tangan putri kesayanganya itu. Badannya bergetar. Cairan bening mengalir disudut matanya. Laki-laki itu menangis. Hasanah sudah pergi.
Semua yang berada di pantai sore itu tidak ada yang bersuara. Hanya isak tangis yang keluar. Karim kecil memeluk makcinya kuat-kuat. Tak rela perempuan itu pergi meninggalkannya. Tingkahnya membuat yang melihat tambah sedih.
Hasanah sudah tiada. Perempuan itu sudah pergi selamanya membawa rindu. Rindu kepada sang tunangan yang tak pernah kembali. Sebuah sapu tangan terjatuh dari tangan Hasanah. Zulfikar tahu itu adalah sapu tangan abangnya, Karim. Zulfikar terharu begitu besarnya cinta perempuan itu kepada abangnya. Cinta yang memang hanya dipisahkan oleh maut. Semoga kalian dipertemukan di Jannah-Nya abangku dan kakakku, doa Zulfikar dalam hati.
tamats
Dumai, 28-05-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan