Seputih Hati Najwa dan Inayah (Last Part) Tagur hari ke-49
#TantanganGuruSiana
Hari Ahad adalah hari yang disepakati kedua mamak Fachri untuk membicarkan masalah perjodohan anak mereka dengan Fachri.
Pagi itu kedua mamak beserta istrinya sudah berkumpul di rumah bunda. Pembicaraan yang awalnya berlangsung santai mulai terdengar agak keras intonasinya. Fachri tahu sikap kedua mamaknya. Keduanya sama-sama keras kepala. Fachri menajamkan telinga dari kamar agar dapat mendengar jelas pembicaraan mereka.
“Sudah sepantasnya kau yang mengalah Ramdan, aku abangmu. Jadi biarkanlah si Fachri menikahi Inayah,” suara mak Utiah tedengar.
“Tapi Najwa lebih tua dari Inayah, Uda. Jadi Najwalah yang lebih berhak menikah duluan,” suara mak Anjang terdengar protes.
“Kalau kau mau menikahkan Najwa, silahkan. Aku tak keberatan. Tapi kau kan bisa mencari laki-laki lain sebagai menantumu,” suara mak Utiah terdengar menyahut.
“Tak bisa begitu Uda. Uda kan tahu aku sangat sayang sama si Fachri . Sudah lama aku menginginkan dia jadi suaminya Najwa.” Mak Anjang tak mau mengalah.
“Kau orang kaya, Ramdan. Kau punya banyak uang. Tak susah bagimu mencari suami Najwa. Biarkanlah Fachri yang menikah dengan Inayah,” mak Utiah bicara dengan suara agak tinggi.
“Ini bukan masalah uang Uda. Kalau masalah uang aku sanggup bayarkan uang hilang untuk calon menantu Uda. Uda carilah laki-laki mana yang uda inginkan untuk suami Inayah. Biar aku yang membayarkan uang hilangnya,” suara mak Anjang terdengar lebih tinggi lagi.
Uang hilang merupakan budaya di Pariaman. Uang hilang adalah pemberian dalam bentuk uang atau barang oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki, yang sepenuhnya milik laki-laki yang tidak dapat dikembalikan.
“Sombong kau Ramdan. Aku tahu kau orang kaya, tapi tak seharusnya kau berkata begitu padaku,” mak Utiah terdengar emosi.
“Apa salahnya, Inayah kan anak Uda. Berarti anak aku juga. Apa aku salah membayarkau uang hilangnya,” mak Anjang membela diri.
“Aku tersinggung kau menghina aku Ramdan,jangan mentang-mentang kau kaya punya banyak uang, kau seenaknya aja bicara” suara mak Utiah terdengar bergetar menahan marah.
“Aku tidak menghina,Uda. Lagian Uda yang mengungkit-ungkit masalah kekayaan,” mak Anjang juga tak mau kalah.
Bunda yang dari tadi mendengar kedua saudara laki-lakinya berdebat memperebutkan anaknya terdengar terisak.
“Sudah Uda. Jangan berdebat lagi. Malu kita didengar orang. Kalau Uda berdua tidak mau mengalah. Biarkanlah Fachri menikahi kedua anak bakonya,” suara bunda terdengar pelan.
“Aku setuju, kalau Ramdan tak mau mengalah. Fachri biar menikahi Inayah dan Najwa.” Mak Utiah menyetujui usul bunda.
“Saya tidak setuju,” tante Laila istri mak Anjang yang dari tadi diam terdengar bersuara.
“Saya tidak mau Najwa dimadu. Apalagi madunya Inayah, adiknya sendiri.” Tante Laila mengulangi keberatannya.
“Apa salahnya, dari segi hukum agama Fachri boleh mempoligami mereka, karena mereka bukan saudara kandung,” suara mak Utiah terdengar lagi.
“Tapi Da, kita harus menanyakan ini dulu ke Inayah dulu. Inayah memang menyukai Fachri, tapi kalau nanti berbagi suami dengan kakak sepupunya, apa Inayah nanti bersedia?” tante Weni juga terdengar keberatan.
“Inayah pasti akan setuju. Aku nanti yang bicara ke Inayah. Pokoknya kalau Ramdan masih menginginkan Fachri jadi menantunya, Najwa harus bersedia berbagi suami dengan Inayah.” Mak Utiah masih keras dengan pendiriannya.
Mak Anjang terdiam. Membayangkan anaknya nanti akan berbagi suami dengan sepupunya, dia keberatan. Tapi rasa keinginannya yang kuat untuk menjadikan Fachri menantu dari dulu membuat dia menyetujui usul abangnya tersebut.
Pertemuan keluarga hari itu berakhir dengan keputusan Fachri akan menikahi kedua anak bakonya. Fachri dipanggil kedua mamaknya untuk menanyakan kesanggupan untuk menikahi Inayah dan Najwa. Berada pada posisi yang sulit membuat Fachri tidak menjawab pertanyaan tersebut. Diamnya Fachri dianggap oleh mereka Fachri menyetujui usulan mereka.
Tante Weni dan tante Laila masih terlihat kurang setuju dengan keputusan ini. Tapi sikap keras suami mereka membuat mereka diam tak berkutik.
*****
Fachri lagi melamun siang itu di kamarnya. Pembicaraan keluarga pagi tadi masih tergiang dikepalannya. Menikahi dua anak mamaknya? Jujur Fachri menyukai kedua anak mamaknya. Najwa dan Inayah, kedua-duanya cantik dan sholeha. Laki-laki mana yang tak terpikat melihat mereka berdua. Tapi untuk menikahi mereka berdua ada sedikit keraguan di hatinya. Tuhan bantu aku untuk keluar dari masalah ini, batinnya.
Sebuah notifikasi yang masuk ke WA Fachri membuyarkan lamunannya. Fachri mengambil gawai dan membaca sebuah chat yang ada diaplikasi hijau miliknya.
[Uda, Nay dan kak Awa mau jumpa Uda. Kami tunggu Uda di pantai Gandoriah sore ini] chat dari Inayah dibaca Fachri.
[Insha Allah, nanti sore uda datang] Fachri menjawab chat dari anak mamaknya.
*****
Suasana Pantai Gandoriah sore itu cukup ramai. Pantai Gandoriah di hari libur ramai didatangi oleh wisatawan. Pantai Gandoriah tempat terbaik untuk menghabiskan waktu.
Semakin sore pantai ini semakin ramai. Meyaksikan matahari terbenam di pantai memberikan kepuasan tersendiri. Semburat jingga di ujung langit benar-benar menyajikan pengalaman terbaik. Belum lagi riak ombak yang seakan memanggil, semilir angin yang membuat suasana semakin syahdu.
Di sore hari, angin ini terasa sejuk sehingga siapapun betah berlama-lama di pantai yang dikenal dengan kelandaiaan pesisir pantainya.
Fachri dan kedua anak mamaknya duduk disebuah pondok di tepi pantai. Es kelapa muda yang mereka nikmati melepas dahaga yang dari tadi mereka rasakan.
“Jadi bagaimana keputusan Uda?” suara Najwa terdengar memecah keheningan.
Fachri yang ditanya cuma diam. Pandangannya menatap lepas ke tengah laut. Pulau Angso Dua yang nampak dari tempat mereka duduk menjadi pusat perhatiannya.
“Uda... Kenapa tak dijawab pertanyaan uni Najwa.” Inayah mengagetkan Fachri.
Fachri menatap kedua perempuan cantik di depannya. Terlihat ada kebingungan diwajahnya.
“Uda. Biar Inayah yang akan mundur. Inayah ikhlas kalau Uda dan Uni Najwa yang menikah,” Inayah menatap kedua saudara sepupunya.
“Tidak sesederhana itu Nay. Apa Nay kira dengan mengkihlaskan uda Fachri menikah dengan Uni masalah akan selesai ?” Najwa menatap Inayah.
“Tidak Nay. Justru Apak Rusdi akan sangat marah kepada keluarga uni dan mandeh. Apak pasti akan kecewa,” lanjut Najwa.
“Jadi bagaimana Uni. Uda Fachri bagaimana menurut, Uda?” Inayah bertanya ke Fachri yang dari tadi diam saja.
“Uda bersedia menikahi kalian berdua.” Fachri menjawab tiba-tiba.
Keduanya kaget mendengar jawaban Fachri.
“Kami tidak bersedia, Uda.” Hampir bersamaan Najwa dan Inayah menjawab.
“Uda, berpoligami dalam agama kita dibolehkan. Tidak salah. Dan Uda juga boleh mempoligami kami berdua, karena kami bukan saudara kandung. Tapi... apa Uda sanggup?” Najwa menatap Fachri tajam.
“Uda akan berusaha bersikap adil kepada kalian berdua,” Fachri meyakinkan kedua anak mamaknya.
“Uda kami berdua sayang kepada Uda. Kami tidak mau menjerumuskan Uda ke neraka. Bersikap adil itu susah Uda. Besar dosanya kalau nanti Uda tidak bisa berlaku adil buat kami. Dan kami berdua juga belum sanggup untuk dipoligami,” Inayah menjawab pelan.
“Jadi apa yang harus kita lakukan?” Fachri menatap kedua anak mamaknya.
“Tidak ada satupun diantara kami yang akan menikah dengan Uda,” tegas terdengar jawaban Najwa.
“Uni Najwa benar Uda, tidak ada diantara kami yang akan menikah dengan Uda. Jujur kami berdua menyayangi Uda. Kami berdua mendambakan Uda jadi imam kami. Tapi kalau situasinya seperti ini itulah jalan terbaiknya. Agar jangan terjadi perpecahan di keluarga kita.” Inayah mendukung keputusan Najwa.
Fachri terdiam. Dia menatap kedua anak mamaknya. Dia kagum kepada mereka berdua. Mereka lebih berpikiran luas dibandingkan dirinya. Fachri malu pada dirinya.
“Lalu bagaimana dengan orang tua kalian?” Fachri menatap kedua sepupunya.
“Kami akan tetap menikah Uda. Biar urusan kami berdua membujuk orang tua kami. Tapi... untuk calonnya Udalah yang mencarikan calon buat kami.” Najwa menatap Fachri sambil tersenyum.
“Nay tak usah Uda. Nayla tak usah dicarikan. Ada seseorang yang mau mengkhitbah Nay. Nay akan menerima dia jadi calon Nay. Nay akan belajar mencintai dia nanti Semoga ayah dan ibu merestui,” Inayah berkata sambil tersenyum.
“Najwa belum ada, Uda. Semoga Uda bisa mencarikan calon yang baik untuk Najwa.” Najwa berkata sambil menatap Fachri.
Najwa tipe perempuan rumahan, kegiatannya lebih banyak di rumah dari pada di luaran. Dia tidak banyak bergaul dengan orang lain apalagi laki-laki. Fachri menganggukan kepala menyanggupinya.
“ Terima kasih Uda. Tapi nanti uda janji ya, bisa menghadiri pernikahan kami berdua,” lanjutnya.
*****
Fachri duduk tidak jauh dari pelaminan. Hari ini dia hadir dalam pesta pernikahan Najwa dengan sahabatnya, Andika Pratama, ST. Andika yang seorang ASN pada instansi pemerintah, dulu adalah teman kuliahnya. Andika anak yang baik, dari SMA Fachri sudah bersahabat dengan dia. Najwa dan dan mak Anjang beserta istrinya juga menyukai Andika.
Fachri menatap Najwa sangat cantik dibalut pakaian pengantin adat Minang. Mereka berdua terlihat sangat serasi.
Tak jauh dari tempat duduk Fachri, Inayah dan suaminya duduk dekat bunda Fachri. Mereka bertiga nampak bercerita. Inayah terlihat sangat bahagia. Inayah menikah dengan rekan sesama dosen tempat dia mengajar. Pestanya dilangsungkan dua bulan yang lalu. Fachri juga hadir di pesta pernikahan Inayah waktu itu.
Fachri merasa ada yang hilang di hatinya. Jujur dia sangat sedih harus merelakan kedua anak mamaknya menikah dengan orang lain. Ada cinta di hati Fachri buat mereka berdua. Cinta yang tidak bisa dipersatukan.
Fachri menyadari dia harus mengikhlaskannya. Dia harus belajar dari Najwa dan Inayah. Dua orang perempuan yang berjiwa besar.
Kedua anak mamaknya yang memilki hati seputih salju. Rela mengorbankan perasaan demi keutuhan keluarga besar. “Cinta akan tumbuh seiring waktu, Uda. Kita bisa belajar mencintai dan menerima pasangan kita,” tergiang ucapan Najwa di telinga Fachri.
Fachri tersenyum, doa yang tulus dilafazkannya buat kedua adik sepupunya. Fachri juga berdoa semoga Allah mengirimkan perempuan yang baik sebagai jodohnya.... Aamiin.
##### tamat######
Ayo... siapa yang mau dengan Fachri?????
.
Dumai, 17-06-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan