Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Seputih Hati Najwa dan Inayah (Part 2) Tagur hari ke 47

#TantanganGuruSiana

.

Suara azan shubuh membangunkan Fachri di pagi itu. Badan yang lelah dan suasana kampung yang sejuk membuat tidurnya sangat nyenyak. Bergegas Fachri turun dari tempat tidur. Suara gemericik air di kamar mandi menandakan bunda sudah bangun. Bunda selalu bangun pagi dan shalat barjamaah di surau. Setelah selesai mengambil wudhuk Fachri menyusul bunda ke surau.

Di Minangkabau surau merupakan salah satu tempat beribadah bagi umat Islam. Surau berbeda dengan mushola atau masjid. Perbedaanya terletak pada ukurannya. Surau relatif lebih kecil dari mesjid, karena ukurannya lebih kecil shalat berjamaah yang ramai seperti shalat Jumat atau shalat hari raya tidak dilaksanakan di surau.

Surau tempat Fachri shalat tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Sistim matrilineal yang dianut masyarakat Minangkabau mengenal istilah “suku” . Seorang anak di Minangkabau mewarisi suku dari ibunya. Banyak suku yang ada di Minangkabau. Fachri terlahir dari keluarga bundanya yang memiliki suku Sikumbang. Dan sesuai dengan adat meraka Fachri juga memiliki suku Sikumbang.

Disamping memiliki suku yang didapat dari garis keturunan ibu khusus di daerah Fachri anak laki-laki juga mendapat gelar. Gelar diperoleh dari orang tua laki-laki. Gelar akan dipakai kalau anak laki-laki itu sudah menikah nantinya. Pihak keluarga istri nanti tidak boleh memanggil menantu mereka dengan nama panggilan tapi harus memanggil dengan gelarnya.

Ada tiga gelar laki-laki yang ada di Pariaman, yaitu Sutan, Sidi dan Bagindo. Jika si ayah memiliki gelar sutan, maka anak laki-lakinya nanti juga dipanggil dengan gelar sutan oleh keluarga istri mereka. Pantang bagi orang Pariaman menyebut nama kepada menantunya.

Menurut sejarahnya gelar Sutan dipakaikan kepada mereka yang dulu-dulunya bernasab kapada petinggi atau bangsawan Istana Pagaruyuang Gelar Bagindo dipakaikan kepada mereka yang dulu-dulu (nenek moyangnya) bernasab kepada para petinggi Aceh yang bertugas di daerah Pariaman- Tiku. Sedangkan gelar Sidi diberikan kepada mereka yang bernasab kepada kaum ulama (Syayyid), yaitu penyebar agama Islam di daerah Pariaman.

Surau tempat Fachri shalat adalah surau suku Sikumbang. Hampir setiap suku di daerah Fachri memiliki surau. Walaupun surau milik suatu suku tertentu, suku-suku lain boleh shalat di surau tersebut.

Tidak ramai orang yang shalat shubuh di surau pagi ini. Hanya orang-orang tua saja, tidak nampak ada anak-anak dan remaja. Mungkin mereka shalat di mesjid, batin Fachri.

Semenjak dibangun mesjid besar di dekat kantor kelurahan memang surau sudah banyak ditinggalkan orang. Orang lebih suka shalat ke mesjid. Surau seperti ditinggalkan.

Fachri memandang sekeliling surau. Sudah banyak perubahan di surau ini terlihat. Lantai dan dinding yang dulu semen sudah berganti dengan keramik. Sajadah sudah pakai permadani buatan Turki. Kaligrafi indah terpampang di sebagian dinding. Sebagian besar biaya perbaikan surau sumbangan perantau.

Surau ini memiliki banyak kenangan buat Fachri. Di surau inilah dulu dia belajar mengenal huruf Hijaiyah. Sehabis shalat magrib Fachri dan kawan-kawan akan tinggal di surau untuk mengaji. Jam sepuluh malam biasanya baru mereka pulang ke rumah. Tapi sekarang tidak ada lagi anak-anak mengaji ke surau. Anak-anak mengaji di TPA yang dekat mesjid.

*****

Selepas shalat shubuh Fachri ketiduran di ruang tengah. Tidak biasanya dia tidur habis shalat shubuh. Mungkin badan yang masih letih membuat raganya minta diistirahatkan kembali.

Suara orang bercerita di dapur membuat Fachri terjaga. Suara Mak Anjang dan bunda yang lagi bercerita. Suara Mak Anjang yang keras terdengar sampai ke ruang tengah.

“Tak ada salahnya kau bujuk anakmu itu untuk menerima Najwa sebagai istrinya,” terdengar suara Mak Anjang.

“Sudah, Uda. Aku sudah berusaha untuk membujuk. Tapi masalahnya anak itu bingung. Karena Uda Rusdi juga meminta dia menikahi Inayah.” Suara bunda terdengar pelan.

“Harusnya Uda Rusdi itu mengalah. Dari segi umur Najwa lebih tua dari Inayah sepantasnyalah Najwa yang menikah duluan,” terdengar lagi suara Mak Anjang.

“Inilah yang buat pusing, Uda. Uda berdua tidak ada yang mengalah, macam tidak ada lagi calon menantu selain kemenakan Uda itu,” suara bunda terdengar agak kesal..

“Nantilah kita bicarakan. Suah siang. Uda mau ke pasar, uda mau buka toko dulu. Sampaikan salam uda ke Fachri kalau dia sudah bangun. Suruhlah dia nanti malam ke rumah. Biar Uda suruh kakakmu memasak makanan kesukaannya,” suara Mak Anjang terdengar lagi.

Fachri cepat-cepat kembali ke kursi ke tempat semula dia berbaring. Dia pura-pura tidur. Tak enak hatinya kalau Mak Anjang tahu dia tadi menguping pembicaraan. Terdengar langkah kaki mak Anjang mendekati ruang tengah, berdiri sebentar menatap kemenakannya yang sedang tidur. Entah apa yang dipikirkannya. Tak lama kemudian suara mobilnya terdengar meninggalkan rumah adik perempuannya.

Fachri menjumpai bunda yang lagi memasak sarapan untuk mereka. Bunda nampak lagi termenung. Wajah bunda nampak berpikir keras.

Diam-diam Fachri mendekati bundanya. Fachri sengaja membuat bunda kaget. Tutup panci yang berada di dekat bunda diketuk Fachri pakai sendok agak keras.

Bunda yang lagi melamun kaget karena ulah Fachri, tetapi bunda tidak marah malah dia nampak gembira.

“Kelakuanmu dari kecil tidak pernah berubah,” bunda berkata sambil tangannya mencubit pinggang putra kesayangannya itu. Fachri pura-pura menjerit kesakitan. Tingkahnya membuat bunda tertawa. Kejadian seperti ini sering dulu terjadi sewaktu Fachri masih tinggal bersama bunda. Sampai SMA Fachri masih sering menggoda bunda seperti ini.

“Itu teh untukmu sudah bunda buatkan. Kita sarapan dulu,” ajak Bunda.

Berdua bunda dan Fachri sarapan. Sarapan buatan bunda sangat enak dan lezat. Bunda sangat pandai memasak. Masakan bunda selalu enak. Fachri selalu rindu masakan bundanya.

Kepintaran bunda memasak menurun kepada Fachri. Sejak kecil Fachri sering melihat dan membantu bunda di dapur. Usaha restoran Padang yang sedang dikembangkannya sekarang bermula karena hobbi memasak yang dimilikinya. Agar cita rasa restorannya tidak mengecewakan tak jarang Fachri terjun langsung ke dapur mengajarkan cara meracik bumbu kepada karyawannya.

“Tadi Fachri dengar ada suara Mak Anjang, Bunda. Mengapa Mamak ke sini, Bunda” Fachri bertanya selesai makan.

Dari tadi Fachri sudah pingin bertanya kepada bunda. Tetapi aturan yang sedari kecil dibuat bunda sewaktu makan tidak boleh bicara membuat Fachri harus sabar menunggu sampai acara makan selesai.

Bunda terdiam mendengar pertanyaan Fachri. Netranya menatap anak semata wayangnya. Wajah Fachri mirip dengan almarhum bapaknya. Alis matanya yang tebal dengan mata yang tajam, rahang yang kokok dan sedikit jambang di wajah putranya membuat Fachri benar-benar ganteng.

Tidak heran kedua saudara laki-lakinya, uda Ramdan dan uda Rusdi berebut mau menjadikan kemenakannya ini jadi menantu mereka.

Nilai agamis yang sedari kecil sudah tertanam di hati Fachri menambah sempurnanya Fachri sebagai calon menantu. Kedua mamak Fachri tahu, dari kecil kemenakannya ini selalu juara mengaji. Suara Fachri melantunkan ayat suci Al Quran dan melafazkan Azan sanggup mengetarkan hati orang yang mendengar.

Tidak pernah kemenakannya ini sedari kecil bertingkah yang memalukan keluarga dan suku mereka.

“Bunda kenapa diam? Ada perlu apa Mak Anjang tadi ke sini ?” Fachri mengulangi pertanyaanyan.

bersambung

Dumai, 15-05-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post