Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Seputih Hati Najwa dan Inayah (Part 3) Tagur Hari ke-48

#TantanganGuruSiana

Bunda yang lagi melamun kaget mendengar pertanyaan Fachri. Sekali lagi dipandanginya putra semata wayangnya itu. Dia kasihan pada Fachri. Dia tahu Fachri berada dalam posisi yang serba sulit seperti dirinya. Bagai makan buah simalakama, begitulah yang mereka hadapi berdua saat ini.

“Tadi Mak Anjang kau kesini, Fachri,” bunda menjawab pelan. “Biasalah, beliau masih membicarakan hajatnya untuk memintamu jadi menantunya.” Lanjut bunda.

“Bunda tidak tahu harus bagaimana lagi, semua Bunda serahkan kepadamu.” Bunda menatap Fachri. Bingung terlihat bergayut di wajah bunda.

“Sebenarnya Bunda berharap kau pulang bawa menantu buat Bunda. Bunda kan tidak pernah melarang kau mau menikah dengan siapa, mau suku mana terserah. Asalkan seakidah dengan kita.Tapi kau pulang bawa badan seorang” Ada nada sesal diucapan bunda.

“Menikahi perempuan lain, hanya itu yang bisa membuat kita bisa keluar dari permasalahan ini,” lanjut bunda lagi.

Mereka berdua terdiam dalam lamunan. Fachri memahami posisi bunda. Bunda menyayangi kedua saudara laki-lakinya. Memilih anak salah satu dari mereka sebagai menantu akan menyakiti hati yang lainnya. Persaudaraan menjadi tantangannya. Harus ada yang mengalah. Tapi itulah masalahnya. Baik mak Anjang ataupun mak Utiah tak nampak ada yang mau mengalah.

Tuhan berikanlah jalan terbaik buatku keluar dari masalah ini, batin Fachri,

*****

Suara motor di halaman terdengar siang itu. Fachri dan Bunda baru saja pulang dari surau melaksanakan shalat Zhuhur. Tante Weni istrinya mak Utiah dan Inayah yang datang.

“Masuklah katangah, Inayah” bunda mempersilahkan istri abang dan ponakannya nya masuk. Katangah adalah panggilan dari adik perempuan untuk istri saudara laki-laki di Pariaman.

Fachri menyalami istri mamaknya. Inayah menyalami dan mencium bunda. Inayah menatap Fachri dan menangkupkan tanganya di dada.

Tindakan Inayah membuat Fachri sedikit kaget. Tidak biasanya Inayah seperti itu. Inayah dari kecil lebih sering dengan bunda. Rumah bunda sudah seperti rumahnya saja. Mereka berdua biasa bercanda. Dia sering menggoda Inayah. Tak jarang dia sering mengacak kepala Inayah kalau gemes. Sekarang Inayah nampak berbeda. Inayah menjaga jarak denganya. Inayah sudah berubah, batin Fachri.

“Kita bukan muhrim Uda,” jawabnya sambil tersenyum menjawab keheranan Fachri.

“Wah, Inayah tambah dewasa. Uda tidak bisa lagi ya bercanda kayak dulu,” Fachri berkata sambil tertawa. Di mata Fachri, Inayah tampak lebih cantik dan dewasa. Apalagi dengan balutan hijab seperti itu.

“Saya dengar khabar Fachri pulang. Inayah tak sabar mau ke sini. Kangen sama kamu, katanya.” Tante Weni bertkata sambil melirik anak gadisnya.

Inayah menjadi malu mendengar perkataan ibunya. Pipinya merona merah. Buru-buru dia menundukan wajahnya. Dia tak menyangka ibunya tadi mengatakan seperti itu.

“Ibu ini, buat malu Nay saja,” pelan dia berbisik ke telingan ibunya.

Semua tertawa melihat tingkah Inayah. Fachri sangat gemes melihat tingkah anak mamaknya. Ada perasaan hangat dihatinya untuk Inayah.

“Uda Fachri bawa ole-ole nggak buat Nay?” Inayah menatap Fachri manja.

“Ada dong. Jadi Nay mau cepat jumpa Uda hanya mau minta ole-ole ya?” Fachri sengaja menggoda Inayah.

“Ih... Uda Fachri jahat.” Inayah pura-pura bersungut.

Mereka bercerita bersama sore itu. Tante Weni mengundang Fachri dan bunda makan malam di rumahnya. Bunda menolak dengan halus karena uda Ramdan, abangnya yang nomor dua mengundang pula malam ini.

*****

Rumah mak Anjang berada tidak jauh dari rumah bunda. Masih di kecamatan yang sama cuma beda desa. Rumah mak Anjang paling besar dan bagus di kampung ini. Rumah keluarga mak Anjang nampak bagaikan istana diantara rumah-rumah yang ada di sini. Keluarga istri mak Anjang orang kaya. Terlahir sebagai anak tunggal seluruh kekayaan orang tuanya menjadi warisan Tante Laila, istri mak Anjang.

Mak Anjang melanjutkan bisnis keluarga istrinya. Mak Anjang yang pintar berdagang membuat usaha keluarga mereka semakin berkembang. Beberapa mini market, toko busana dan sepatu besar di kota ini milik mereka.

Walaupun orang kaya tapi tante Laila tidak sombong. Orangnya sangat baik dan penolong. Tante Laila sangat sayang kepada bunda.

Kedatangan bunda dan Fachri sudah ditunggu. Mak Anjang punya tiga orang anak. Najwa anak yang paling besar. Dua orang adik Najwa keduanya laki-laki. Semua anak-anak mak Anjang dimasukan ke pesantren.

“Ondeh... tambah gagah Fachri, ya.” Tante Laila menyambut Fachri hangat.

“Najwa bawakanlah teh dan kue tadi ke sini, mandeh dengan Uda Fachrimu sudah datang!” suara tante Laila terdengar memanggil Najwa.

“Mamakmu dari tadi ke mesjid. Belum pulang. Tadi sudah pesan kalau kalian datang beritahu dia. Ada rapat pengurus di mesjid.” Tante Laila berkata pada Fachri.

Najwa keluar membawa nampan berisi cangkir dan kue. Dia menyalami dan mencium bunda. Tanganya ditangkupkan ke dada melihat Fachri. Fachri mambalas dengan gerakan yang sama.

“Kenapa tak kau cium uda Fachrimu seperti kau cium Mandehmu tadi?” Tante Laila menggoda anak gadisnya. Mandeh adalah sebutan di Pariaman untuk saudara perempuan dari pihak ayah.

Najwa sangat malu digoda sama uminya. Wajahnya seperti kepiting rebus. Dia menekurkan kepalanya. Tangannya nampak gemetar karena gugup. Hampir saja cangkir yang diletakannya di depan Fachri tumpah airnya. Tante Laila tertawa melihat tingkah putrinya.

“Dari tadi dia tak sabar menunggu kedatanganmu, Fachri.” Tante Laila kembali menggoda putrinya.

“Umi jangan buat malu, Awa.” Najwa berbisik ke telinga uminya. Persis tingkah Inayah kemarin, batin Fachri.

Bunda dan tante Laila tertawa. Najwa duduk di samping bunda. Mereka berdua sangat mirip. Dia seperti anak bunda. Wajah bunda disalinnya habis. Benar-benar Najwa seperti replika bunda sewaktu masih muda.

Fachri kembali melirik anak mamaknya. Najwa nampak semakin cantik. Dua tahun tak bertemu dengan anak mamaknya ini membuat dia hampir lupa dengan Najwa. Penampilan Najwa sudah berubah. Wajahnya terlihat lebih tenang sekarang. Jilbab sya’ri yang dikenakannya menambah anggun penampilannya. Semua mata yang memandang pasti terpesona melihat kecantikan Najwa.

Najwa lebih dewasa dari Inayah. Karena memang usia Najwa lebih tua dari Inayah. Mak Anjang abang bunda yang nomor dua. Mak Anjang menikah lebih duluan dari mak Utiah.

Hati Fachri tiba-tiba berdesir lembut. Rasa yang sama sewaktu berhadapan dengan Inayah dirasakan oleh Fachri. Fachri beristighfar dalam hati mohon lindungan dari Rabbnya agar dijauhkan dari sifat tidak terpuji.

Kedatangan mak Anjang membuat percakapan mereka berhenti. Mak Anjang mengajak semuanya makan malam. Suasana makan malam berlangsung akrab dan menyenangkan.

“Fachri, Najwa anak mamak sudah cukup umur untuk menikah. Kalau kau tidak keberatan mamak mau harap kau bersedia menjadikan dia sebagai istrimu,” ucapan mak Anjang yang tiba-tiba membuat suasana hening.

Bunda dan Fachri terdiam. Mereka sebelumnya sudah meramalkan bahwa mak Anjang akan menanyakan ini. Fachri tidak tahu harus menjawab apa.

“Berikan waktu bagi kami untuk berpikir, Uda. Karena seperti yang sudah saya ceritakan ke Uda, uda Rusdi punya hajat yang sama dengan Uda.” Pelan terdengar suara bunda.

Semua diam. Tidak ada suara yang terdengar. Semua hanyut oleh pikiran masing-masing.

“Sepertinya harus ada pembicaraan antara Uda Ramdan dengan Uda Rusdi. Saya tidak mau nanti gara-gara masalah ini retak persaudaraan kita Uda.” Suara bunda terdengar sangat pelan.

“Benar Abi, adikmu benar. Jangan sampai masalah ini merusak hubungan persaudaraan kita. Abi harus berbicara dengan uda Rusdi.” Tante Laila menyetujui pendapat bunda.

Mak Anjang terdiam. Menjadikan kemenakannya untuk menjadi menantu adalah harapannya dari dulu. Dia tak menyangka abangnya juga punya maksud yang sama. Dia berharap abangnya yang mengalah karena Najwa anaknya lebih tua dari Inayah.

“Ya. Aku akan mencari waktu untuk berunding dengan uda Rusdi.” Mak Anjang berkata pelan.

bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post