Hati Yang Luka (Part 5) Tagur hari ke 65
#TantanganGuruSiana
Bima berusaha menenangkan Nadya yang berteriak histeris. Tubuh Nadya di peluk dengan kuat oleh Bima. Tangannya memukul dada suaminya. Nadya meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tenaga Bima yang kuat membuat usaha Nadya sia-sia.
Suara teriakan Nadya berangsur pelan dan akhirnya tidak terdengar sama sekali. Tenaganyapun sudah melemah,tanganya tidak memukul-mukul lagi. Nadya terisak dipelukan suaminya. Isakannya membuat Bima jadi bersalah. Bima mengusap pelan rambut istrinya. Nadya hanya diam. Pikirannya nampak kosong. Dia nampak terpukul sekali.
Bima menggendong tubuh Nadya ke kamar. Dengan hati-hati dibaringkannya tubuh kurus itu ke tempat tidur. Laki-laki itu kemudian duduk bersandar di sofa yang ada di sudut kamar. Matanya terus menatap Nadya. Bima kasihan kepada istrinya.
Bima tahu Kayla adalah nafasnya Nadya. Istrinya sangat menyayangi anak mereka. Kayla mereka dapatkan setelah empat tahun pernikahan mereka. berbagai upaya dilakukan Nadya agar bisa mendapatkan anak. Tentu sangat susah baginya untuk melepaskan putrinya ke orang lain.
“Maafkan aku, Nadya. Aku janji tidak akan mengusik Kayla lagi. Kayla akan tinggal dengan kamu selamanya.” Bima menatap Nadya lembut.
Nadya masih diam tidak berkutik. Dia nampak lebih tenang. Suara isakannya tidak terdengar tapi tangannya masih nampak mengusap butiran yang jatuh dari sudut matanya dengan tisu.
Suara panggilan di gawai Bima memecahkan keheningan diantara mereka berdua. Bima mengambil gawai dan berlalu dari kamar. Sikap Bima membuat Nadya mengetahui panggilan itu pasti dari Gayatri, adik madunya.
Bima masuk kembali ke kamar setelah selesai menelpon. Dia duduk disamping Nadya.
“Nadya, aku mohon maaf. Aku harus pulang.” Laki-laki itu memandang Nadya dengan rasa bersalah.
Nadya sudah tahu Bima akan mengucapkan itu. Dia hanya diam. Dilarangpun Bima tidak akan bisa terlarang. Nadya lebih memilih mengunci mulut saja. Nadya hanya pasrah. Terserah apa yang mau dilakukan suaminya.
“Aku pulang ya Nadya,” kecupan lembut diberikannya di pucuk kepala istri tuanya itu.
Nadya tidak merespon apapun. Laki-laki itu berlalu dari kamar mereka. Kamar yang sudah lama tidak lagi dia tempati. Kamar tempat dia bertahun-tahun merajut cinta dengan Nadya.
Bima tahu hati Nadya sangat terluka tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ada perih di hati Bima. Tapi perjanjian dengan Gayatri harus dipenuhi. Perjanjian yang dibuat Bima dan Gayatri bukan main-main. Perjanjian yang dibuat di depan notaris. Perjanjian akan berakibat fatal terhadap perusahaan kalau Bima mencoba melanggar.
*****
Wajah Gayatri cemberut menyambut kedatangan Bima. Perempuan cantik itu tidak senang Bima menjumpai kakak madunya. Salam dari Bima tak dijawabnya. Bima bergegas masuk ke kamar mereka. Gayatri mengekori suaminya dari belakang.
“Mas, kamu kan sudah berjanji...”
“Sudah Gayatri aku capek.” Bima memotong pembicaraan Gayatri. “Aku masih ingat perjanjian kita. Aku tidak boleh menginap di rumah Nadya kan? Aku kan sudah pulang. Jadi salahnya dimana ?” Bima menatap istrinya tajam.
“Tapi kenapa kamu ke sana. Mas?” Gayatri masih protes.
“Gayatri, aku punya anak di sana. Aku kangen anakku. Apa itu salah?” Bima menjawab cuek.
“Kamu kan bisa bawa Kayla tinggal di sini, Mas.” Gayatri menjawab sambil mengusap tangan suamminya.
“Kamu jangan egois Gayatri.” Bima menepis tangan istrinya. “Kamu sudah merebut aku dari Nadya. Jangan kau rebut pula Kayla darinya.” Lanjut Bima.
“Tapi kamu masih sering ke rumah Nadya. Kalau Kayla tinggal di sini kamu kan tak pernah ke sana lagi.” Gayatri merajuk.
“Kamu tidak bisa melarang aku menjumpai Kayla, Gayatri.” Bima menjawab tegas.
“Kalau kau masih nekat menjumpai Kayla. Aku pastikan kamu akan menyesal, Mas. Kamu tentu tidak akan mau aku menyakiti Kayla bukan? Kamu harus berjanji Mas, jangan jumpai anakmu lagi tanpa seizinku.” Gayatri tersenyum licik.
Bima tertegun. Bima sudah paham karakter istri mudanya ini. Gayatri orangnya nekat dia akan berbuat apa saja untuk memenuhi keinginanya.
“Gimana Mas, Janji?” Gayatri kembali mendesak Bima.
“Oke aku janji Gayatri, aku tidak akan menjumpai Kayla tanpa seizinmu. Kamu jangan coba-coba menganggu Kayla” Bima menjawab cepat. Bagi dia keselamatan Kayla lebih utama.
Perempuan cantik itu sangat senang. Dia menghambur ke pelukan Bima. Laki-laki itu dihujaninya ciuman. Gayatri akan selalu seperti itu kalau hatinya lagi senang. Emosinya terkadang tidak stabil. Kemarahan akan gampang tersulut kalau ada yang tidak berkenan di hatinya.
Bima membalas ciuman istrinya. Harum tubuh Gayatri membuat lelah di tubuh Bima jadi hilang. Bima kadang-kadang bingung dengan dirinya. Dia tidak bisa marah kepada Gayatri. Semarah apapun dia kepada Gayatri akan luluh kalau Gayatri sudah bersikap seperti ini.
Sikap manja Gayatri sangat disukai Bima. Sikap ini yang sering membuat Bima lupa diri. Gayatri memang tipe istri yang sangat bisa membangkitkan gejolak dalam dirinya. Gayatri tipe perempuan paling pandai menyenangkan suami. Gairah Bima selalu terpancing oleh sikap perempuan ini
*****
“Maaf ya Bimo, Mbak terlambat pulang,” Nadya minta maaf kepada adik iparnya yang lagi membantu Kayla mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Kehadiran Bimo siang itu di rumahnya membuat Nadya meminta adik iparnya itu menjaga Kayla sebentar.
Dwita dan Helena dua sahabatnya mengajak Nadya jumpa sebentar di kafe tempat mereka biasa bertemu. Sudah lama mereka tidak berkumpul. Nadya merasa hatinya sedikit lega setelah curhat dengan dua sahabatnya. Rasa simpati dari Dita dan Helena membuat Nadya sedikit terhibur.
“Nggak apa kok kak Nadya. Bimo senang bisa bantu tugas sekolah Kayla. Kayla kan keponakan Bimo,” Bimo menjawab sambil tersenyum
“Om Bimo sering-sering ke sini, ya. Kayla senang om Bimo mau nemani Kayla. Jadi Kayla nggak terlalu ingat papa lagi.” Kayla menatap Bimo penuh harap.
“Siap.. Tuan Putri.” Bimo mejawab sambil mencubit pipi ponakannya.
Mereka berdua tertawa bareng. Nadya bersyukur Bimo sangat baik dan perhatian kepada Kayla. Jadi Kayla tidak pernah lagi merengek-rengek minta jumpa papanya.
*****
Nadya menatap saldo uang tabungan di androidnya. Sudah hampir dua bulan tidak ada uang masuk dari Bima. Nadya heran tidak biasanya Bima telat mentrasnfer uang ke rekeningnya.
[Mas, kamu lupa ya mentransfer uang ke rekeningku? Sudah dua bulan kamu tidak transfer] sebuah chat dikirim Nadya ke gawai suaminya.
[Maaf Nadya, aku lupa] chat dibalas suaminya cepat. Tak lama bukti transfer uang masuk dari layanan e-banking masuk ke gawai Nadya.
Nadya termenung. Bima sudah mulai lupa dengan kewajibannya. Bukan nafkah batin saja yang Bima lalai. Nafkah lahirpun sudah mulai dia lupa. Nadya merasa sedih. Dia hanyut dalam lamunannya.
Nadya teringat perkataan Gayatri beberapa waktu lalu, bahwa Nadya adalah perempuan bodoh. Yang mau saja digantung tidak bertali oleh mas Bima. Gayatri malah membujuk Nadya agar bercerai dari mas Bima. Gayatri akan penuhi apa saja yang diminta Nadya. Apakah aku ikuti permintaan Gayatri ? batin Nadya.
Suara ketukan pelan dipintu kamar mengagetkan Nadya. perempuan itu beranjak membuka pintu kamarnya.
Sosok tubuh yang baru saja dilamunkannya sudah berdiri di depannya. Bima menerobos masuk. Nadya heran kenapa pagi ini suaminya mampir ke sini.
“Maafkan aku Nadya. Aku betul-betul lupa.” Bima menatap istrinya penuh rasa bersalah.
“Apakah untuk orang tuaku kamu lupa juga?” Nadya bertanya lirih.
“Iya Nadya, maafkan aku. Tapi aku tadi sudah menelpon ayah dan ibumu minta maaf. Kamu tidak mengingatkan aku, Nadya.” Bima berkata pelan.
“Apakah sebegitu kuatnya pengaruh istri mudamu kepadamu, sehingga kau abai kepada kami?” Nadya berkata tajam.
“Kalau kau tidak datang, aku tidak masalah. Kayla juga jarang menanyakanmu. Dia lebih sering menanyakan Bimo, adikmu. Tapi kau masih harus menafkahi kami. Kami masih perlu uang untuk makan.” Nadya menjawab datar.
“Kau masih istriku Nadya. Kalian masih tanggung jawabku. Maafkan aku.” Bima memeluk erat Nadya.
Nadya merasakan ada debar di jantung Bima. Debar yang dulu sangat disukai Nadya. Tapi sekarang tidak lagi. Nadya rasanya mau mendorong laki-laki ini agar menjauh darinya. Tidak ada lagi perasaan sayang seperti dulu pada laki-laki ini. Laki-laki yang sudah membuat luka dihatinya. Tapi statusnya sebagai istri membuat dia serba salah. Nadya sadar statusnya masih istri laki-laki ini dan haram hukumnya menolak “keinginan” suami. Dengan terpaksa dia melayani suaminya.
Bima buru-buru bangun dari tempat tidur. Dia tergesa berkemas. Telepon dari Gayatri membuat dia sangat gugup. Nadya miris melihat suaminya. Laki-laki itu sebegitu takut sama istri mudanya.
“Maafkan aku Nadya. Aku terburu-buru. Gayatri tahu aku disini. Perempuan itu punya banyak mata-mata. Aku menyayangimu Nadya.” Bima pamit sebuah kecupan diberikan dipucuk kepala Nadya.
Nadya tersenyum cuek. Dia bersyukur laki-laki itu cepat pergi. Syukurlah kamu cepat pergi Mas, tidak ada getar lagi di hati ini untukmu, batin Nadya.
*****
Suara panggilan di gawai menghentikan aktifitas Nadya yang sedang membaca novel di kamar sore itu. panggilan dari Helena.
“Nadya, loe dimana? Coba buka televisi sekarang.” Helena menyebutkan salah satu chanel televisi swasta.
Reflek tangan Nadya menjangkau remote yang terletak di nakas sampingtempat tidur. Nadya menyalakan TV dan memilih chanel yang disuruh Helena. Berita yang sedang tayang di televisi itu membuat mata Nadya terbelalak.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan