Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Hati yang Luka ( part 6) Tagur hari ke 66

#TantanganGuruSiana

.

Suara panggilan di gawai menghentikan aktifitas Nadya yang sedang membaca novel di kamar sore itu. Panggilan dari Helena.

“Nadya, loe dimana? Coba buka televisi sekarang.” Helena menyebutkan salah satu chanel televisi swasta.

Reflek tangan Nadya menjangkau remote yang berada di nakas samping tempat tidur. Nadya menyalakan TV dan memilih chanel yang disuruh Helena. Berita yang sedang tayang di televisi itu membuat mata Nadya terbelalak.

Bima dan Gayatri nampak di televisi. Mereka berdua diwawancarai berhubungan dengan peresmian hotel baru mereka. Hotel berbintang yang sangat megah dan terletak di pusat kota. Berdampingan dengan restoran yang juga milik Gayatri. Gayatri nampak bahagia sekali.

Hati Nadya pilu. Bima sudah mulai terang-terangan memperkenalkan Gayatri ke depan publik tanpa dirinya. Nadya merasa tersisihkan.

Pernyataan seorang reporter yang menanyakan kepada Bima kenapa waktu pembukaan hotel tidak didampingi Nadya sebagai istri pertama dijawab cepat oleh Gayatri. Gayatri mengatakan bahwa Bima sudah lama tidak berhubungan dengan Nadya lagi. “Mas Bima dan mbak Nadya sedang mengurus perceraian mereka,” lanjut Gayatri pada wawancara tersebut.

Pernyaatan Gayatri membuat Nadya geram. Apalagi Bima nampak seakan mengiyakan pernyataan adik madunya. Hati Nadya sakit sekali.

*****

“Kamu nggak boleh begini terus dong Nadya,” Dwita nampak kesal setelah mendengar cerita Nadya sewaktu mereka bertiga bertemu di sebuah kafe sore itu.

“Lalu aku harus bagaimana?” Nadya menjawab bingung.

“Kamu berpisah saja sama laki-laki pengecut itu.” Dwita menjawab cepat.

“Tidak bisa begitu, Dwi. Kalau aku berpisah bagaimana dengan nasib aku, kedua orang tuaku dan dua adikku yang masih kuliah?” Nadya menjawab pasrah.

“Nadya kamu jangan lemah,” Helena manatap Nadya tajam. “Gayatri itu orangnya posesif. Kamu tukar saja suamimu itu dengan uang seperti yang sering ditawarkannya kepadamu.” Helena menjawab semangat. “Terima aja tawarannya yang selama ini ditawarkannya kepadamu.” Lanjut Helena.

“Aku setuju,” Dwita mendukung usul Helena. “Lagian pernikahan kalian pun sudah tidak sehat. Kamupun sudah tidak nampak mencintai suamimu lagi. Untuk apa lagi dipertahankan perkawinan seperti itu,” Lanjut Helena.

“Kamu bisa mengembangkan usaha dengan uang dari Gayatri.” Dwita menyambung.

“Apa aku bisa nanti mengelola suatu usaha?” Nadya bertanya bingung.

“Nadya kamu itu sarjana. Kamu pasti bisa. Lagian kami kan ada bersama kamu. Kami akan selalu suport dan bantu kamu. Kamu pasti bisa Nadya.” Helena memberi semangat pada Nadya.

******

Saran dari kedua sahabatnya terngiang di benak Nadya. Jujur dia tidak merasa nyaman lagi dengan pernikahannya. Dwita dan Helena benar aku tidak boleh terlalu lemah jadi perempuan, Bima sudah terlalu banyak menyakitiku. Saatnya aku harus bangkit, batin Nadya.

Nadya melangkahkan kaki di kantor megah itu. Sudah lama dia tidak berkunjung ke sini. Beberapa karyawan mengangguk hormat kepadanya. Nadya membalas dengan ramah sapaan keryawan-karyawan suaminya. Beberapa diantara mereka menatap Nadya dengan kasihan. Nadya tahu itu.

Nadya masuk ke ruang suaminya. Dekorasi di ruangan itu sudah banyak berubah. Mata Nadya melirik meja kerja suaminya. Photo dirinya dengan Kayla yang biasanya berada di meja itu sudah tidak nampak lagi. Berganti dengan photo Gayatri.

“Kamu sudah menghilangkan kami di dari dalam hidupmu, Mas? Photo aku dan Kayla kamu buang kemana?” Gayatri menatap suaminya.

Bima gelagapan. Usul Gayatri yang mendekorasi ulang ruang kerjanya dan menyimpan photo Nadya dan Kayla dari meja kerjanya diterima Bima tanpa protes. Bima merasa bersalah kepada istri tuanya.

“Jadi tidak ada lagi tempat buat kami berdua di hatimu, Mas?” Nadya menatap suaminya.

Bima tak bisa berbicara. Jujur di hati yang paling dalam dia sangat menyayangi istri dan anaknya. Tapi Gayatri begitu pandai membuat dia bisa terlupa dengan mereka. bima diam tanpa suara.

“Ada yang jumpa sama suamiku rupanya,” suara Gayatri yang datang tiba-tiba mengagetkan mereka berdua.

Gayatri memandang Nadya dengan perasaan tidak senang. Perempuan itu berdiri dan tegak dibelakang suaminya.

“Untuk apa kamu datang kemari?” dia berkata sinis kepada Nadya tanpa embel-embel mbak lagi.

“Aku masih berstatus istri sahnya Bima Setiawan, Gayatri. Kamu tidak berhak melarang aku.” Nadya menatap tajam istri muda suaminya.

“Statusmu akan berubah. Karena mas Bima akan menceraikanmu,” perempuan itu tidak mau kalah.

“Gayatri, aku tdak akan menceraikan Nadya,” Bima yang dari tadi diam menyela ucapan istri mudanya.

“Tapi Mas, kamu sudah berjanji kepadaku.”

“Aku tidak pernah berjanji kepadamu untuk menceraikan Nadya. Jangan mengada-ngada Gayatri,” Bima menatap tajam istrinya.

Nadya yang melihat perdebatan suami dan adik madunya terdiam. Pembelaan Bima tidak membuat Nadya merasa senang. Perasaannya yang sudah demikain terluka membuat dia tidak respect kepada dua orang di depannya ini.

“Sudah kalian tidak perlu bertengkar. Gayatri aku akan melepaskan Bima seutuhnya untukmu. Tapi ada syaratnya.” Nadya menatap perempuan itu.

Bima kaget mendengar ucapan Gayatri. Mata Gayatri membesar dia nampak senang sekali.

“Katakan Nadya, apa syaratnya. Aku akan penuhi,” perempuan itu menjawab sombong.

“Aku akan gugat cerai mas Bima. Sebagai gantinya hotel barumu dan restoranmu jadi milikku.” Nadya tersenyum.

“Kau gila Nadya. Kau tahu hotel dan restoranku itu asetnya sangat besar.” Gayatri protes.

“Jadi kau lebih memilih hotel dan restoranmu dari pada mas Bima. Hotel dan restoran itu lebih berharga dari mas Bima?” Nadya sengaja memancing emosi Gayatri.Usaha Nadya berhasil.

“Oke Nadya, aku akan penuhi permintaanmu. Tapi setelah itu jangan uncul di depan suamiku.” Gayatri berkata sambil menatap Nadya tajam.

“Kamu jangan khawatir. Aku dan kayla tidak akan menghubungi mas Bima lagi. Kayla juga sudah tidak pernah berharap lagi kok sama papanya.” Nadya menjawab tenang

“Kamu apa-apa Nadya?” mas Bima yang dari tadi diam mendengarkan perdebatan istrinya bicara. “Kamu menukar diri Mas dengan harta?” Bima nampak kecewa.

“Kamu tidak pernah ada lagi buat kami, Mas. Lebih baik kita berpisah sekalian. Aku akan mengelola hotel dan restoran itu nanti. Kamu tidak perlu mengirim biaya hidupku dan Kayla.” Nadya menjawab tegas.

“Tidak ada lagi rasa cinta dalam diriku untukmu. Yang ada hanya rasa benci melihat sikapmu yang tidak adil kepadaku,” Nadya berbisik pelan ditelinga suamnya.

Bima terdiam. Dia menyadari apa yang diucapkan Gayatri benar. Udah lebih setahun dia tidak mempedulikan istrinya. Tapi kebutuhan Nadya dan kayla serta keluarga Nadya selelu dipenuhinya.

Bima tidak menyangka Nadya akan meminta tukar dirinya dengan kekayaan Gayatri. Hotel dan restoran adalah aset terbesar Gayatri. Hotel yang barusam mereka resmikan nilai investasinya sangat luar biasa. Lebih seperoh kekayan kelarga Gayatri ada terpakai untuk pembiayaan hotel bebintang lima tersebut.

Restoran mereka terletak di tempat yang startegis. Penyumbang terbesar pemasukan Gayatri. Semuanya akan beralih ke Nadya ?

Bima serba salah. Kalau Gayatri menyetujui, Gayatri akan kehilangan banyak kekayaannya. Kekayaan yang sekali-kali dipakai Bima kalau dia kekurangan modal. Kalau dia melarang semua aset akan dikelola Nadya untuk membiayai putrinya juga

Bima tahu Gayatri sangat mencintainya. Apapun akan dilakukan Gayatri untuk dirinya termasuk mengorbankan harta kekayaannya. Bima hanya pasrah. Bima hanya berharap semoga Nadya dapat mengelola dengan baik nanti semua aset yang diberikan Gayatri. Bima meragukan kemampuan Nadya. Nadya selama ini adalah perempuan rumahan. Bima tahu Nadya tidak menguasai bisnis.

“Kamu urus secepatnya Gayatri. Secepatnya aku akan mengurus perceraian dengan mas Bima kalau semua proses pengalihan hotel dan restoran itu selesai.” Nadya berkata dan berlalu dari ruangan itu.

Hati Nadya betul-betul lega. Setelah ini ada satu buah kejutan lagi yang akan diberikannya buat suaminya. Tunggu Mas, aku akan berikan kejutan kedua buatmu, senyum Nadya.

bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post