Hati yang Terluka (Part 4) Tagur Hari ke 64
#TantanganGuruSiana
.
Sudah satu minggu mas Bima tidak pulang ke rumah Nadya. Chat yang dikirim Nadya hanya dijawab pendek oleh laki-laki itu. Telpon Nadya dijawab oleh mas Bima, jawaban yang meminta supaya Nadya jangan menelponnya lagi. Nadya disuruh bersabar karena dirinya lagi berada di luar kota menyelesaikan urusan perusahaan.
Nadya merasa sangat sedih. Mas Bima sudah mulai membohonginya. Nadya bukan perempuan bodoh. Nadya bisa mengetahui keberadaan suaminya dari smartphone nya. Mas Bima tidak sedang di luar kota. Chat yang dikirim lewat aplikasi whatsapp kepada Nadya terlacak kalau dia masih berada di kota yang sama dengan Nadya.
Nadya termenung. Dia teringat bagaimana dulu mas Bima mati-matian untuk mendapatan dirinya. Janji untuk membahagiakan dan tak menyakitinya hanya janji palsu. Sekarang mas Bima mengkhianatinya.
Keinginan suaminya untuk melindungi Gayatri membuat Nadya mengiizinkan suaminya menikah perempuan itu. Nadya tak menyangka izin berpoligami yang diberikannya kepada mas Bima sangat menyakiti hatinya.
Nadya berharap Gayatri bisa jadi adik madu yang baik. Apalagi suaminya berjanji akan berlaku adil kepada mereka berdua nanti. Tetapi Gayatri terlalu egois. Gayatri mau menguasai mas Bima seutuhnya. Gayatri menginginkan mas Bima untuk dirinya saja.
Nadya paham bahwa poligami bukan sesuatu yang dilarang. Poligami dibolehkan dengan syarat suami bisa berlaku adil dan tegas. Adil tidak boleh memihak kepada salah satu istri dan tegas harus bisa menolak rayuan salah seorang istrinya untuk memihak kepadanya. Kedua sikap yang tidak dimiliki oleh suaminya.
“Mama, Kayla kangen sama papa.” Kayla yang datang tiba-tiba dari arah kamarnya mengagetkan Nadya yang lagi melamun.
“Papa kapan pulangnya sih, Ma?” gadis kecil itu kembali bertanya.
“Nanti kalau urusan papa sudah selesai, papa pasti pulang,” Nadya menjawab sambil tersenyum.
“Mama... Kayla mau bicara sama papa, video call dong Ma.” Kayla merengek minta Nadya VC dengan mas Bima.
“Papa lagi sibuk sayang. Nanti saja ya.” Nadya berusaha membujuk Kayla. Larangan mas Bima jangan menelponnya dulu membuat dia ragu memenuhi keinginan Kayla.
Usaha Nadya membujuk putrinya tidak berhasil. Putri cantiknya itu selalu merengek-rengek minta VC dengan papanya. Desakkan Kayla membuat Nadya tak bisa menolak.
Nadya mencoba video call dengan suaminya. Panggilan yang dilakukan Nadya beberapa kali ke gawai suaminya tidak dijawab oleh mas Bima. Kayla yang mengetahui itu nampak sangat kecewa sekali.
“Papa tak sayang lagi sama Kayla, Kayla benci sama papa.” Gadis kecilnya berteriak sambil berlari menuju kamarnya.
Nadya menyusul Kayla ke kamar. Hatinya pilu melihat Kayla terisak. Putrinya menangis dengan badan telungkup di tempat tidur. Nadya mengambil video Kayla lagi menangis dengan kamera handphonenya. Video pendek itu di sharenya ke gawai suaminya.
[Kayla kangen kamu, Mas] sebuah chat diketik Nadya di bawah video tersebut.
[Nanti sore aku pulang] mas Bima membalas cepat.
Nadya beranjak ke tempat tidur. Nadya mengusap lembut rambut putrinya. Kayla membalik dan memeluk mamanya. Hati Nadya rasanya teriris melihat Kayla seperti ini. Anak sekecil itu sudah merasakan kesedihan akibat poligami papanya.
*****
Kayla bersikap cuek menyambut kedatangan papanya sore itu. Nadya tahu Kayla sangat kecewa. Dia sangat dekat dengan papanya. Tindakan papanya sore tadi membuat Kayla sedih.
“Papa mohon maaf ya Kay. Tadi papa ada tamu, nggak bisa jawab telpon mama,” mas Bima berusaha membujuk putrinya.
Kayla hanya diam. Dia berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.
“Kayla benci, Papa.” Suara gadis kecil itu terdengar berteriak dari dalam kamar.
Mas Bima terpaku. Tindakan Kayla mengejutkannya. Tidak biasanya Kayla seperti itu. Kayla biasanya adalah anak yang lembut dan penurut. Kenapa Kayla berubah? Matanya menatap Nadya tajam.
“Apa yang sudah kamu ceritakan ke Kayla, Nadya?” laki-laki itu bertanya kepada Nadya.
“Kamu menuduh aku yang membuat Nadya seperti itu ? Tanya dirimu sendiri, Mas. Seminggu kamu tidak pulang. Setiap hari dia selalu menanyakanmu. Jelas dia merasa kecewa, sekalipun kamu tidak pernah meneloponnya.” Nadya menjawab pelan.
Mas Bima termenung. Dia terduduk di kursi meja makan. Wajahnya nampak lelah. Teh hangat yang diletakakn Nadya di teguknya perlahan.
“Maafkan aku Nadya, aku terpaksa.” Mas Bima berkata pelan.
“Aku tahu Mas. Kamu membohongi kami. Kamu tidak pernah keluar kota kan? Kenapa kamu menghindari kami?” Nadya bertanya dengan suara terisak.
“Apa salahku Mas? Aku sudah mengizinkan kamu menikah. Aku sudah terima Gayatri sebagai maduku. Tapi kenapa kamu masih membohongiku?” Isakan Nadya terdengar menyentuh hati.
Mas Bima bangkit dari duduknya. Tubuh Nadya direngkuhnya kepelukannya. Tubuh yang dulu berisi sekarang nampak kurus semenjak poligami dilakukanya. Rambut Nadya diusapnya pelan. Rasa bersalah menggayut di dada laki-laki itu. Suasana hening di ruanngan itu.
Nadya melepaskan pelukan suaminya. Dia berjalan ke depan pintu kamar Kayla. Nadya mengetuk pelan pintu kamar Kayla.
“Kayla..., buka pintunya Nak.” Nadya berkata pelan.
Suara anak kunci diputar terdengar dari dalam. Kayla berdiri di depan pintu. Matanya nampak sembab habis menangis. Mas Bima memeluk Kayla dan mengendong tubuh putrinya.
“Maafkan papa ya Kay.... Papa janji tidak membuat kamu marah lagi.” Laki-laki itu membujuk putrinya. Kayla nampak tersenyum. Kayla nampak tidak marah lagi.
“Papa janji ya ?” Kayla bekata sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Mas Bima mengacungkan jari yang sama. Bapak dan anak itu melakukan pingky promise berdua. Nadya tersenyum sedih melihat kelakuan anak dan bapak itu.
*****
Mas Bima dan Nadya keluar dari kamar anak mereka setelah Kayla tertidur. Mereka berdua saling diam. Nadya tidak tahu harus bicara dari mana.
Nadya sebenarnya rindu pada laki-laki ini. Tapi rasa rindu itu ditepisnya ingat laki-laki ini sudah membohonginya. Laki-laki ini berusaha menghindar dari dirinya dan putri kandungnya sendiri.
“Nadya, ada yang mau aku bicarakan.” Suara mas Bima tiba-tiba memecah keheningan.
Nadya hanya diam. Nadya menunggu apa yang akan dibicarakan suaminya. Bima nampak berpikir keras. Ada beban yang berat tampak di wajahnya.
“Nadya, perusahaanku sempat bangkrut Nadya. Proyekku gagal. Aku rugi besar. Semua aset kita termasuk rumah ini kalau dijual tidak akan bisa menutupi kerugianku. Aku kalut Nadya. Aku sempat stres.” Laki-laki itu berhenti bicara sejenak.
“Tapi untunglah Gayatri mau membantuku Nadya. Gayatri mengorbankan aset keluarganya untuk menutup hutangku. Tapi... tapi aku harus bayar dengan beberapa perjanjian yang harus aku penuhi ke Gayatri.” Mas Bima diam terpekur. Nadya menyimak, dia menunggu kelanjutan cerita suaminya
“Gayatri meminta aku harus bersedia selalu ada setiap saat untuknya Nadya. Aku tidak diizinkan bermalam di rumahmu Nadya.” Mas Bima berkata sedih.
“Kamu menerima perjanjian itu, Mas? Lalu bagaimana dengan Kayla?” Nadya bertanya dengan napas sesak. Dia tak menyangka Gayatri selicik itu.
“Aku terpaksa Nadya. Aku tak sanggup membayangkan nasib kalian semua kalau aku bangkrut. Bagaimana dengan ibuku nanti? Bimo dan Ayra masih kuliah. Biaya orang tua dan adikmu nanti juga akan terancam. Aku harap kamu mengalah Nadya. Aku harap kamu mau berkorban untuk kita semua. Kau masih bisa menjumpaiku di siang hari. Gayatri hanya melarang aku bermalam di rumahmu.” Mas Bima menjawab pelan.
“Kayla kalau rindu padaku, kamu bisa antarkan ke rumah Gayatri. Bahkan Gayatri tidak keberatan kalau Kayla tinggal bersama dia.” Mas Bima berkata lirih.
Jantung Nadya mengelegar menahan marah mendengar perkataan suaminya.
“Tidak aku izinkan anakku ke rumah perempuan itu.” suara Nadya terdengar bergetar.
“Kayla juga anakku, Nadya. Lagian disana kan ada ibu dan Ayra. Kayla akan aman di sana.” Bima berkata pelan.
“Kalian egois. Aku tahu istri mudamu mengizinkan putriku ke sana. Karena dia tidak bisa memberikan anak untukmu. Kamu jahat Mas. Tidak akan aku izinkan Kayla ke sana.” Nadya berteriak histeris.
.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan