Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jadilah Anakku, Daffa (Part 1) tagur hari ke 81

#TantanganGurusiana

Mataku berkeliling memandang musala tempatku biasa salat. Ruangannya selalu bersih dan harum membuatku betah berlama-lama di sini. Musala ini tidak terlalu besar berukuran sekitar 4 x 6 meter. Kaca-kaca jendela nampak mengkilat, tidak ada debu yang menempel di kaca. Semenjak pindah tugas ke kantor ini dua bulan lalu musala ini adalah tempat yang paling aku sukai.

Netraku menatap seorang remaja tanggung yang sedang salat. Aku ingat anak itulah yang selalu membersihkan musala ini. Seorang remaja laki-laki yang berumur sekitar lima belas tahun. Kerjanya sangat bersih dan rapi.

Setiap siang aku selalu menjumpainya di sini. Membersihkan musala dan setelah pekerjaanya selesai dia akan Salat Asyar sebelum pulang.

Aku memperhatikan dirinya salat dari tempatku duduk. Salat yang dilakukannya terlihat sangat khusyuk. Selesai salat dia nampak lama sekali menengadahkan tangan kepada Sang Khalik. Pemandangan yang membuat sejuk mataku melihatnya. Entah mengapa setiap gerakan yang dilakukannya dalam salat sampai berdoa membuatku terpesona.

Seolah tahu kalau aku memperhatikannya dia menoleh kearahku. Sebuah senyuman tulus nampak tersungging di bibirnya. Wajahnya yang bersih dan sikapnya yang sopan membuat hatiku terpikat. Dengan isyarat tangan aku memanggilnya dan menyuruh duduk di depanku.

“Nama kamu siapa ?” aku bertanya pelan kepadanya.

“Nama saya Daffa, Pak.” Dia menjawab dengan sangat sopan.

Aku memperkenalkan diriku. Sikap dia yang ramah dan santun membuat aku suka bercerita dengannya. Dari ceritanya aku mengetahui bahwa sebenarnya dulu yang membersihkan musala ini adalah bapaknya. Setelah bapaknya meninggal dia dan ibunya yang membersihkan musala ini. Tetapi sekarang ibunya tidak ikut karena ibunya menjadi ART untuk menambah penghasilan mereka.

Daffa membersihkan musala setelah pulang sekolah. Siangnya dia belajar di sebuah SMP dekat kantor ini. Setelah pulang dari musala biasanya dia langsung ke rumah Pak Sandi salah seorang rekan kerjaku. Daffa mengajar mengaji putranya Pak Sandi.

Aku kagum pada anak ini. Di saat anak seusianya sibuk main tapi dia harus berjuang membantu ibunya mencari nafkah. Hatiku terenyuh.

Aku terbayang almarhum anak laki-lakiku. Reynald anak laki-lakiku yang sudah meninggal satu tahun yang lalu. Reynald anak laki-lakiku satu-satunya meninggal dalam arena balapan gelap dengan teman-teman seusianya. Sangat tragis.

Kematian Reynald hampir membuat aku dan istriku hampir gila. Kami berdua tidak menyangka hadiah motor Kawasaki Ninja yang kami berikan sebagai hadiah ulang tahun merenggut nyawanya.

Istriku sangat terpukul sekali. Alasan itulah yang membuatku pindah ke kota ini. Kota dan tempat tinggal kami sebelumnya meninggalkan banyak kenangan yang mengingatkanku kepada almarhum anakku. Mengingat itu lagi membuat ada yang pedih di ulu hatiku.

“Bapak kenapa bersedih?” Pertanyaan Daffa mengagetkanku.

“Kamu mengingatkan saya ke almarhum anak laki-laki saya, Daffa. Usianya tidak jauh beda dengan kamu.” Aku menjawab pelan.

“Maafkan saya Pak. Saya sudah membuat Bapak sedih.” Wajah anak itu tampak menyesal.

“Kamu tidak salah Daffa.” Aku menatapnya tersenyum.

“O, Ya. Kalau kamu tidak keberatan, saya juga mau minta tolong kamu mengajari putri saya mengaji. Kamu mau, Daffa?”

“Tapi saya hanya biasa setelah Maghrib, Pak. Karena habis mengajari putranya Pak Sandi saya juga harus membersihkan rumah beliau.” Daffa menjawab.

“Tidak masalah. Kapan kamu sempat. “ Aku berkata sambil menyerahkan nomor handphoneku pada remaja itu.

“Maaf, Pak. Saya tidak punya handphone.” Anak itu menjawab malu.

Lagi aku kaget. Di saat anak seusianya gila main game dari gadget atau android mereka anak ini malah tidak memilikinya. Aku semakin simpati kepada anak ini.

Aku memberikan alamatku pada Daffa. Dia berjanji akan mulai mengajari putriku keesokan harinya.

*****

Sudah seminggu ini Daffa mengajari putriku mengaji. Suaranya yang bagus membuat aku dan istri suka mendengarnya mengajari Syifa putri semata wayangku. Syifapun nampak senang belajar dengan Daffa. Sama dengan kami, kehilangan abangnya membuat Syifa nampak shock. Kehadiran Daffa bisa mengobati sedikit hati Syifa, putri kami. Daffapun nampak menyayangi putri kami seperti adiknya.

Setelah mengajari Syifa mengaji Daffa membantu mengerjakan PR Syifa. Aku terkadang melarangnya. Karena aku tahu dia juga harus belajar.

Kami pernah berkunjung ke rumah Daffa sebuah rumah yang jauh dari kata layak. Ibunya seorang perempuan yang sangat penyabar. Mereka orang susah tapi mereka tidak mau meminta-minta. Mereka merasa lebih terhormat mendapatkan sesuatu dengan bekerja. Suatu sikap yang membuatku kagum pada mereka.

*****

Berita kelulusan Daffa dari SMPnya membuatku ikut senang. Nilainya yang bagus membuatku kagum. Daffa anak yang pintar. Sejumlah uang aku berika kepada Daffa untuk mebantu dia melanjutkan ke SMA. Daffa keras menolak. Tapi karena aku dan istriku memaksa dia terpaksa menerima.

Daffa diterima di sebuah sekolah favorit di kota. Sebuah handphone diberikan oleh istriku untuknya. Tapi kembali Daffa menolaknya. Istriku beralasan biar kami gampang menghubunginya. Tapi Daffa tetap menolak. Kebaikan keluargaku membuat dia segan.

Aku sangat beruntung berjumpa dengan Daffa, setidaknya kerinduanku atas kematian Reynald terobat melihat Daffa. Aku dan istriku pernah menawari dia dan ibunya tinggal di rumah kami, tapi mereka nampak segan.

*****

Ketidakdatangan Daffa ke rumahku beberapa hari ini membuatku heran. Ada apa dengan, Daffa? Batinku. Istriku juga merasa kehilangan.

Sore itu kami mampir ke rumah Daffa. Kami kaget sesampai di sana. Rumah tempat Daffa tinggal sudah dirobohkan. Material bangunan nampak teronggok di sana. Kenapa rumah Daffa dirobohkan ? Kemana Daffa dan ibunya? Berjuta tanya bergayut di pikiran kami.

Bersambung

Dumai, 18-06-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post