Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jadilah Anakku, Daffa (Part 2, Last part) tagur hari ke 82

#Tantangangurusiana

Sore itu aku dan istriku mampir ke rumah Daffa. Kami kaget sesampai di sana. Rumah tempat Daffa tinggal sudah dirobohkan. Material bangunan nampak teronggok di sana. Kenapa rumah Daffa dirobohkan ? Kemana Daffa dan ibunya? Berjuta tanya bergayut di pikiran kami.

“Bapak dan ibu mau cari siapa?” teguran dari seseorang mengagetkan aku dan istriku.

Di depan kami berdiri seorang laki-laki paruh baya. Dia menatap keheranan kepada kami karena berdiri di depan bangunan yangsudah dirobohkan.

“Saya mau mencari anak yang tinggal disini, Pak.” Saya menjawab pertanyaan laki-laki itu.

“Daffa dan ibunya?” laki-laki bertanya kembali kepada kami. Aku dan istriku serentak menganggukan kepala.

Laki-laki itu kelihatan sedih. Pandangannya jauh ke depan. Dia tidak menjawab pertanyaan kami. Dia menekurkan kepalanya. Tingkahnya membuat aku dan istriku heran.

“Rumah yang ditempati Daffa ini punya Juragan Sastro, Pak. Rumah ini sudah diminta oleh Juragan. Daffa dan ibunya terpaksa harus meninggakkan rumah ini. Saya sudah menawarkan mereka berdua agar tinggal di rumah saya. Tapi mereka menolak. Saya tidak tahu kemana perginya. Kasihan mereka.” Bapak itu nampak sangat sedih.

Penjelasan bapak ini membuat aku dan istriku kaget. Selama ini kami mengira ini rumah mereka ternyata mereka menumpang mendirikan rumah di tanah orang lain.

“Mereka tidak punya saudara di kota ini. Entah dimana mereka tinggak sekarang.” Lanjut laki-laki itu.

Kami semua diam. Aku dan istriku pamit pada lelaki itu. Aku meningglakan nomor handphone berharap laki-laki itu mengabari aku kalau ada berita mengenai Daffa.

*****

Terasa ada yang hilang dihatiku semenjak Daffa tidak pernah menampakan batang hidungnya. Setiap salat ke musala aku selalu berharap dapat menjumpai anak itu. Tapi harapanku tidak pernah terwujud.

Istri dan putriku juga sering menanyakannya. Mereka juga merasa kehilangan. Aku hanya berdoa semoga Allah mempertemukan aku lagi dengan anak itu.

*****

Kedatangan Daffa ke rumahku sore itu mengagetkan aku dan istriku. Sudah lebih satu bulan tidak berjumpa dengan anak itu banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. badannya nampak kruus dengan kulit yang sedikit pucat. Aku heran melihat perubahan pada dirinya.

“Kamu kemana saja selama ini, Daffa?” Aku bertanya setelah mempersilahlan dia masuk.

Wajahnya tiba-tiba nampak sedih. Dia menundukan wajahnya menatap lantai. Pelan dia mulai bercerita. Daffa menceritakan setelah disuruh pindah oleh yang punya rumah mereka tidak memiliki tempat tinggal. Dengan sedikit uang di tangan mereka mengontrak sebuah kamar kos.

Seminggu tinggal di sana ibu Daffa sakit dan harus opname. Hampir satu bulan ibunya diopname di rumah sakit. Daffa yang mengurus ibunya selama di sana. Tapi takdir berkehendak lain Ibu Daffa meninggal dunia dua hari yang lalu. Ceritanya yang sedih membuat aku menitikan air mata. Istriku sampai terisak.

“Kenapa kamu tidak mengabari saya, Daffa? Saya kan bisa bantu kamu.” Aku bertanya kepada anak itu.

“Maafkan saya,Pak. Saya tidak teringat waktu itu.” Anak itu menjawab pelan.

“Kalau kamu mau menerima handphone yang ibu berikan tentu kami bisa menghubungimu.” Istriku menimpali.

Anak itu hanya terdiam. Wajahnya nampak sangat lelah. aku kasihan melihatnya. Anak sekecil itu sudah harus berjuang sendiri menghadapi kerasnya kehidupan.

“Daffa, bagaimana untuk selanjutnya kamu tinggal saja di rumah saya. Kamu maukan jadi anak saya ? Saya akan biayai sekolahmu sampai kamu berhasil.” Aku bertanya sambilmenatap anak itu.

“Maafkan saya, Pak. Saya berterima kasih atas niat baik Bapak. Tapi....” Anak itu berhenti bercerita. Matanya menantapku sedih.

“Sebelum ibu menininggal, ibu menyuruh saya menjumpai nenek dan kakek. Saya baru tahu kalau saya masih punya nenek dan kakek dari pihak bapak. Saya sudah berjanji kepada almarhum ibu saya, Pak. Saya datang ke sini hanya mau pamit kepada Bapak dan Ibu” Lanjut anak itu.

“Kamu tahu alamatnya?” Istriku bertanya

“Tahu Bu. Sebelum ibu saya meninggal, ibu memberikan alamat itu. Besok saya akan ke sana.” Anak itu menjawab pasti.

“Baiklah Daffa. Kamu tidur malam ini di rumah Bapak. Besok pagi saya antar kamu ke terminal.” Aku minta Daffa menginap di rumahku. Anak itu menyetujui.

Aku menyuruh anak itu istirahat tapi dia menolak. Daffa memilih membatu putriku Syifa belajar. Melihat mereka berdua hatiku terharu. Syifa nampak sangat senang sekali dibantu Daffa belajar. Andai Daffa mau meneriman tawaranku untuk tinggal di rumahku, aku akan sangat senang sekali. Aku akan anggap dia sebagai anakku pengganti Reynald. Tapi sayang anak itu menolaknya.

*****

Pagi itu aku mengantar Daffa ke terminal. Sejumlah uang aku berikan buat bekal untuknya. Anak itu menerima dengan terharu. Dia memeluku erat. Aku melihat ada butir bening di sudut matanya. tatapan terima kasih terlihat di wajah nya.

“Kalau kehadiranmu tidak diterima oleh keluraga bapakmu, kamu kembali ke rumah Bapak ya Daffa. Bapak akan jadikan kamu anak Bapak.” Aku berkata sambil mengusap kepalanya.

Aku melepas kepergian anak itu dengan perasaan sedih. Selamat jalan Daffa, semoga Allah selalu melindungimu Nak, batinku. Setelah bus yang membawanya pergi aku meninggalkan terminal itu.

*****

Aku menatap Syifa putri semata wayangku yang sedang mambantu mamanya di dapur. Semenjak selesai wisuda Syifa memilih mengabdikan diri menjadi guru honorer di salah satu SMA di kota ini. Syifa cantik mewarisi wajah istriku. Tapi aku sedikit risau karena aku tidak pernah melihat dia dekat dengan teman laki-lakinya. Padahal umurnya sudah pantas untuk bekeluarga.

“Papa ngapain sih dari tadi kok melamun terus ?” Anak gadisku tiba-tiba sudah berdiri dihadapanku.

Aku tersenyum dan tidak menjawab pertanyaanya. Karena aku tahu Syifa akan sedih kalau ditanyakan kapan dia akan menikah.

“Siapa bilang papa melamun. Papa hanya agak capek. Tadi di kantor ada Sertijab Ketua Pengadilan Negeri di kantor papa. “ Aku mencoba menutupi lamunanku.

“Udah diganti ya, Pak Ketua PN di kantor, Papa?” Syifa bertanya sambil menatapku.

“Sudah ... Bos papa yang sekarang masih sangat muda. Orangnya juga baik” Aku menjawab. “Pak Santoso ketua PN yang lama di promosikan ke provinsi.” Jawabku.

*****

Suara mobil terdengar berhenti di halaman rumah pagi itu. Aku membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Seorang laki-laki keluar dari mobil. Aku terpana. Laki-laki yang keluar adalah Pak Affandi, Ketua PN di tempatku bekerja. Ketua PN yang semalam baru bertugas di kantorku. Kenapa pimpinan datang ke rumahku pagi-pagi, aku membatin.

Pak Affandi mengucapkan salam. Aku mempersilahkan pimpinanku masuk. Aku sedikit gugup karena Pak Affandi datang mendadak.

Istriku meletakan minuman dan ikut duduk dengan kami. Aku memperhatian dari tadi istriku memandang Pak Affandi tidak berkedip. Aku heran kenapa istriku nampak begitu terpana oleh kehadiran pimpinanku.

“Mohon maaf saya mendadak datang ke sini.” Pak Affandi membuka keheningan di antara kami.

“Tidak apa-apa Pak. Saya senang Bapak singgah ke rumah saya. Suatu kehormatan bagi saya, Bapak mau singgah.” Jawabku berbasa-basi.

“Saya datang ke sini, mau menanyakan tentang tawaran Bapak yang dulu.” Pak Affandi menjawab.

Jawaban Pak Affandi membuatku bingung. Penawaran apa? Rasanya aku tidak pernah menawari beliau. Berjumpa aja baru sekarang, pikirku.

“Delapan belas tahun yang lalu, Bapak pernah menawari saya jadi anak Bapak. Bapak masih ingat?” Pak Affandi berkata sambil tersenyum. Aku mencoba mengingat-ngingat. Tapi memori otakku tidak mampu mengingat. Mungkin karena usiaku yang sudah mau memasuki masa pensiun.

“Kamu Daffa?” istriku menebak. Aku kaget mendengar pertenyaan istriku. Ingatanku melayang delapan belas tahun silam. Daffa, seorang remaja kecil yang sempat mencuri hatiku. Remaja yang sempat aku tawari jadi anakku karena orang tuanya sudah meninggalkannya.

Pak Affnadi menganggukan kepala. Aku dan istriku kaget, kami tidak menyangka yang duduk di depan kami sekarang adalah Daffa yang dulu bekerja di musala kantor tempat kerjaku yang lama. Delapan belas tahun tidak berjumpa membuat kami tidak menegnali dirinya lagi. Dia nampak gagah sekarang.

“Benar saya Daffa, Pak. Nama lengkap saya Affandi Ahmad. Tapi ibu dan bapak memnaggil saya Daffa. Saya sudah lama mencari keberadaan Bapak. Saya sudah ke tempat kerja Bapak yang lama, tapi Bapak sudah pindah. Kebetulan jabatan Ketua PN di sini kosong. Saya di promosikan untuk jabatan itu. Saya menerimanya. Waktu sertijab kemarin saya melihat Bapak. Tapi saya ragu. Data pegawai menyakinkan saya kalau Bapak adalah orang yang saya cari.” Pak Affandi menjelaskan.

“Bagaimana, Pak? Kalau Bapak keberatan jadi anak, bolehkan saya melamar jadi menantu Bapak?” Pak Affandi menatapku serius. “Saya mau melamar Syiffa jadi istri saya, Pak.” Lanjutnya.

Aku dan istriku lebih kaget lagi mendengar permintaanya. Aku memanggil Syifa. Seperti ibunya, Syifa kaget melihat Pak Affandi. Syifa senang sekali berjumpa dengan Daffa. Pak Affandi mengutarakan keinginannya langsung pada Syifa. Putriku tidak menjawab, sekilas aku melihat ada binar di mata anakku.

*****

Ternyata keinginanku untuk menjadikan Daffa sebagai anak delapan belas tahun yang lalu terkabul sekarang. Daffa menjadi anakku. Menjadi suami dari putriku. Aku tersenyum melihat mereka berdua di pelaminan. Daffa dan Syifa nampak sangat cocok sekali. Mereka nampak sangat bahagia. Semoga pernikahan kalian Sakinah Mawadah dan Warahmah Nak, doaku buat mereka berdua.

Tamat

Dumai, 19-06-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post