Kenapa Pohonnya Ditebang, Mama ?
#tantangangurusiana
Suara tangisan Rania mengagetkanku yang lagi memasak di dapur. Tergopoh-gopoh aku menjumpai putri bungsu kesayanganku itu. Rania nampak menangis tersedu-sedu. Andika, abangnya nampak membujuk adiknya dengan susah payah.
“Adikmu kenapa, Andika?” aku bertanya kepada Andika.
Andika tersenyum netranya menunjuk pohon mangga di depan rumah. Pohon mangga yang tadi pagi sudah ditebang oleh Mas Dani, suamiku. Rania yang masih tertidur pagi itu tidak mengetahui kalau pohon mangga itu sudah ditebang.
“Mama dan papa sih, nebang pohon mangganyanya nggak kasi tahu Rania. Tuh Rania jadi marah.” Andika menjawab cenges-ngesan. Wajahnya yang usil nampak mengejek adiknya. Tangis Rania bertambah keras.
Aku melirik tajam kepada Andika. Putra tertuaku masuk ke dalam rumah dengan wajah menahan tawa. Sebenarnya aku pingin tersenyum melihat kelakuannya tapi aku tahan. Aku harus memasang wajah simpati biar putri cantikku tidak menangis lagi.
Aku menatap ke arah pohon mangga yang sekarang sudah dipotong sangat pendek. Aku merasa menyesal. Aku lupa kalau Rania sangat menyayangi pohon mangga itu. Setiap bangun pagi sejak kecil Rania pasti akan berlari ke halaman depan. Pohon mangga adalah yang pertama di halaman kami disapa Rania. Sekarang pohon mangga itu sudah tidak ada. Pantas Rania sangat sedih.
Kudekati putri cantikku itu. Kuusap perlahan rambutnya yang panjang. Tangisannya masih terdengar.
“Maafkan mama dan papa ya Nak. Tidak beritahu Rania pohonnya ditebang.” Aku berkata lembut.
“Kenapa ditebang, Mama ? Apa salah pohonnya kenapa ditebang ?” Anak kecil itu menatapku sedih.
“Batangnya terlalu besar Nak. Dan batangnya sudah banyak yang lapuk. Mama takut nanti membahayakan Rania kalau bermain di bawahnya.” Aku menjawab pelan. “Lagian kan tidak ada buahnya lagi, Rania.” Lanjutku.
“Tapi kan masih ada daunnya mama. Mama dulu kan pernah cerita, kalau daun pohon itu menghasilkan oksigen. Oksigen kan diperlukan makhluk hidup untuk bernapas.” Protesnya.
Aku kaget. Ternyata apa yang pernah aku ceritakan ke putriku dulu masih tersimpan di memori otaknya. Rania anak yang cerdas.
“Sekali lagi maafkan mama dan papa ya Nak.” Aku memeluk putriku hangat.
Rania tersenyum walau masih nampak sedih bergayut di matanya. Rania masuk ke dalam rumah. Aku melihat dia masuk kamar mandi. Semoga Rania tidak sedih lagi, batinku.
*****
Rania gadis kecilku yang masih berusia enam tahun. Jarak umurnya yang jauh dari abangnya-abangnya membuat kami sekeluarga sangat menyayanginya. Wajahnya yang cantik dan pintar membuat semua orang senang berteman dengannya. Sikapnya yang penyayang menambah sempurnanya bidadari kecilku ini.
Sore itu Rania duduk di halaman. Matanya masih menatap sedih ke arah batang pohon yang sekarang hanya tinggal potongan pendek. Mas Dani suamiku melihat putrinya dari dalam rumah. Wajahnya pun menyesal tidak memberitahu putrinya kalau pohon itu ditebang.
Aku juga menyesal. Mungkin karena dia masih kecil, terkadang kita lupa melibatkan dia dalam mengambil keputusan. Pelajaran buatku dan suami apa pun yang mau di putuskan menyangkut seluruh anggota keluarga harus dirundingkan dulu. Mungkin hal yang kecil dan sepele menurut kita tapi tidak bagi anak-anak. Maafkan mama Rania, batinku.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan