Ketukan Tengah Malam (Last Part) Tagur hari ke 72
#tantangangurusiana
Mata perempuan itu memerintahkan agar aku melihat dinding keramik yang berada di bawah tangga. Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Hawa ruangan terasa dingin. Aku mencium bau yang tidak enak di ruangan ini. Bau yang sangat anyir. Aku ingin bertanya pada perempuan itu. Tapi tiada kata yang terucap dari bibir ini. Lidah ini terasa kelu.
Perempuan muda itu kembali menatapku dengan tatapan sedih dan penuh harap. Ya matanya... mata itu seakan berharap kepadaku agar aku menolongnya. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa padanya.
Tiba-tiba aku terkejut dan kaget luar biasa. Perempuan itu berjalan menuju ke dinding keramik. Tubuhnya menembus dinding itu. Tanganku ingin bergerak mau menahannya tapi tangan ini tidak bisa digerakan. Mulutku mau berteriak memanggil tapi tidak ada suara yang keluar.
Aku menunggu tapi perempuan itu tidak keluar dari dalam dinding itu. Tak lama aku mendengar suara rintihan dari dalam dinding. Suara yang sangat memilukan hati. Aku kembali merinding. Lampu di ruang tiba-tiba padam. Suasana sangat gelap. Aku sangat takut . Aku teringat suamiku. Aku berteriak memanggilnya.
“Mas Wahyu....!” aku berteriak sekuat tenaga. Berkali-kali aku berteriak sekuat-kuatnya. Tetapi tidak ada yang mendengar teriakanku.
“Dek... bangun.” Aku merasa seseorang mengguncang bahuku. Aku membuka mata. Mas Wahyu suamiku berada di depanku. Aku menggigit bibirku. Rasa sakit menandakan aku tidak bermimpi. Aku menatap jam di dinding. Pukul 5.30 WIB.
Aku peluk sumaiku erat. Aku menagis di pelukanya. Terbata-bata aku ceritakan kejadian yang menimpaku dalam mimpi. Mas wahyu menenangkanku. Setelah aku agak tenang Mas Wahyu menyuruhku sholat subuh.
Selesai sholat Mas Wahyu bercerita, sesampai dari bandara dia langsung pulang. Mas Wahyu mengetuk pintu dan memanggilku. Tapi aku tidak mendengar. Malahan Mas wahyu mendengar aku menjerit-jerit. Teriakan aku yang berulang-ulang membuat dia khawatir. Dengan kunci cadangan yang ada padanya dia membuka pintu dan membangunkanku.
*****
Selesai sarapan pagi Mas Wahyu mengajakku bercerita kembali mengenai mimpiku tadi malam. Aku begitu kaget. Ternyata Mas Wahyu juga pernah mengalami mimpi yang sama denganku. Bahkan sudah dua kali. Semua kejadiannya persis sama. Tapi Mas Wahyu tak mau menceritakan kepadaku, karena beliau tahu aku penakut.
Berjumpa dengan Bu Sulis di kedai pagi itu membuat aku teringat dengan mimpi yang aku alami. Aku mengajak bu Sulis mampir ke rumah. Wanita itu nampak enggan. Setelah aku katakan aku mau menceritakan kejadian aneh tentang rumah kosong matanya membesar. Dia menyetujui ajakanku untuk mampir.
Matanya tidak berkedip mendengar ceritaku. Tangannya merogoh gawai di koceknya. Aku tidak tahu apa yang diutak atik di gawainya. Aku diam memperhatikannya.
“Mbak..., photo perempuan itu mirip ini nggak?” Bu Sulis memperlihatkan sebuah photo yang ada di media sosialnya.
Aku terbelalak. Photonya sangat mirip. Tidak salah lagi. Perempuan yang ada di mimpiku adalah perempuan yang ada di gawai Bu Sulis.
“Benar, Bu Sulis. Itulah perempuannya.” Jawabku yakin.
“Persis dugaanku.” Wajah Bu Sulis nampak sangat marah. “Ternyata dugaanku benar.” Bu Sulis kembali menguman.
“Ada apa sih, Bu Sulis. Ada apa sebenarnya?” Aku penasaran.
Bu Sulis tidak menjawab. Dia buru-buru pamit
“Mbak, makasi ceritanya. Aku mau ke kantor polisi. Nanti aku ceritakan ke, Mbak apa yang terjadi.” Bu Sulis buru-buru meninggalkan rumahku.
Aku mengantar Bu Sulis sampai kedepan rumah. Kepulangannya yang buru-buru mengundang seribu tanya di benakku. Ada apa sebenarnya. Aku masuk ke rumah. Sekilas pandanganku melihat rumah kosong sebelahku.
Aku kaget bulu kudukku berdiri. Jantungku terasa mau copot. Sosok perempuan tadi malam nampak tegak di depan pintu. Wajah itu tersenyum menatapku . Aku sangat takut. Berlari aku masuk ke dalam rumah.
*****
Suara ramai-ramai di rumah sebelah sore itu memancingku untuk mengintip dari jendela kamar. Aku kaget . Bu Sulis, Pak R T dan beberapa warga berkumpul di depan rumah kosong . Mas Wahyu suamiku nampak berada diantara mereka.
Bu Sulis yang bercerita dengan Pak RT menunjuk ke arah rumahku. Seorang laki-laki yang disebelah Pak RT nampak marah kepada Bu Sulis.
Suara ketukan di pintu mengagetkanku. Bergegas aku membuka pintu. Ternyata Mas Wahyu suamiku. Beliau mengajak agar aku ikut bergabung ke sana. Mas Wahyu memintaku agar menceritakan mimpi yang aku alami.
Semua terdiam mendengar mimpiku. Mas Wahyu juga menyampaikan bahwa dia juga sudah dua kali mengalami mimpi yang sama sepertiku. Bu Sulis meminta agar dinding yang dikeramik itu dibongkar.
Dari cerita mereka aku mengetahui bahwa perempuan yang mengetuk pintu rumahku malam-malam itu adalah keponakan Bu Sulis. Namanya Marni. Marni sudah lama tinggal dengan Bu Sulis. Dia tidak punya orang tua lagi.
Wajahnya yang manis membuat Ardi putra Pak Setyo pemilik pertama rumah ini menyukai gadis itu. Istri Pak Setyo tidak menyukai Marni. Tapi karena putranya sangat mencintai Marni, mereka terpaksa menerima Marni jadi menantu.
Kehilangan Marni secara misterius dua tahun yang lalu membuat heran seluruh warga komplek. Keluarga Pak Setyo mengatakan bahwa Marni pergi merantau ke luar daerah dengan suaminya.
Bu Sulis merasa cerita keluarga Pak Setyo ada yang janggal. Alamat dan nomor kontak Marni dan Ardi yang diminta Bu Sulis tidak pernah mereka beri. Bu Sulis sudah curiga bahwa mereka membunuh Marni. Tapi kecurigaannya yang tidak ada bukti membuat Bu Sulis tidak bisa berbuat apa-apa.
Tak berapa lama setelah itu keluarga Pak Setyo pindah dari komplek ini. Rumah ini dijual kepada Pak Handoko. Pak Handoko pemilik rumah ini yang tadi marah mendengar cerita Bu Sulis.
Kecurigaan Bu Sulis bahwa di bawah tangga itu ada jasad Marni membuat dia marah. Pak Handoko keberatan dinding keramik itu dirusak. Dia tidak percaya ada jasad di balik dinding itu. Tapi Bu Sulis tetap ngotot untuk membongkarnya.
Setelah berunding akhirnya diputuskan dinding keramik itu dibongkar. Kalau seandainya tidak ada jasad dibalik dinding tersebut semua kerusakan ditanggung oleh Bu Sulis.
Beberapa orang warga diminta oleh Pak RT untuk membongkar dinding itu. Semua menunggu dengan deg-degan. Suara warga di luar yang meminta masuk terdengar sangat berisik. Petugas keamanan komplek berusaha menenangkan warga.
Semua mata terbelalak setelah dinding dirobohkan. Ternyata dugaan Bu Sulis benar. Sesosok jasad yang sudah tinggal kerangka ditemukan di balik dinding tersebut. Bu Sulis mendekat.
Bu Sulis menangis. Ternyata selama ini dugaanya benar. Marni dibunuh dan jasadnya disembunyikan di ruang bawah tangga. Agar jangan ada yang curiga ruang bawah tangga itu di beri dinding .
Pak RT tidak membolehkan semua orang memegang kerangka tersebut. Semua menunggu kedatangan polisi. Polisi yang datang segera memasukan kerangka ke kantung jenazah. Semua dipersilahkan ke luar rumah. Beberapa orang ditanya polisi. Polisi memasang police line untuk memudahkan penyelidikan.
*****
Suara ketukan di pintu sore itu terdengar sewaktu aku meletakan teh buat Mas Wahyu. Aku bergerak membuka pintu. Bu Sulis ditemani oleh seorang anak laki-laki tegak di depan pintu. Bu Sulis yang langsung memelukku.
“Makasi ya, Mbak. Berkat cerita Mbak semuanya bisa terungkap.” Nampak lega di wajah Bu Sulis.
Dari cerita Bu Sulis aku mengetahi kalau pelaku pembunuhan terhadap Marni adalah pak Setyo dan istrinya dibantu oleh seorang anak perempuannya. Mereka membunuh Marni dengan meracunnya. Mayat Marni mereka letakan di ruang bawah tangga tersebut dan ruang itu merek dinding dengan keramik.
Ardi suami Marni mengetahui peritiwa itu setelah Marni mereka bunuh. Kekecewaannya karena istrinya dibunuh membuat dia pergi meninggalkan keluarganya. Laki-laki itu sampai sekarang tidak diketahui dimana rimbanya. Polisi sekarang melacak dimana keberadaan Ardi. Bagaimanapun juga tindakan dia tidak melaporkan pembunuhan yang dilakukan keluarganya tidak bisa dibenarkan.
Bu Sulis dan anaknya pamit setelah selesai bercerita. Aku dan Mas Wahyu mengantar sampai ke halaman. Aku dan Mas Wahyu melihat ke rumah kosong. Lampu yang terang dipasang Pak Handoko membuat rumah itu tidak menakutan lagi seperti malam-malam sebelumnya. Police line masih terpasang.
Aku terpaku melihat Marni tegak di teras itu. Wajahnya nampak cerah. Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Aku membalas lambaian tangannya. Bayangan Marni menghilang setelah aku membalas lambaian tangannya. Selamat beristirahat Marni. Semoga kamu tenang di alam sana. Mas Wahyu yang berada di sampingku menggamit tanganku mengajak masuk.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan