Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ketukan Tengah Malam (part 2) Tagur ke 71

#tantangangurusiana

 

Lama aku menunggu  jawaban tapi tidak juga terdengar.  Suara ketukan di pintu juga tidak ada lagi. Aku berjalan perlahan ke kamarku. Pintu kamar aku kunci dari dalam. Suasana yang mencekam seperti ini membuat semua yang ada nampak menjadi menakutkan. Kain gorden yang bergerak membuatku takut. Mataku selalu mengarah ke jendela yang bersebelahan dengan rumah kosong tersebut.

Aku merebahkan ragaku di tempat tidur. Selimut aku tarik menutupi seluruh tubuhku. Aku berusaha melelapkan mataku  yang tidak juga  kunjung  terpejam. Keheningan malam yang ditingkah suara jangkrik di kejauhan membuat malam ini  jadi semakin menakutkan bagiku. Kalau hari ini bisa berputar  aku mau malam ini cepat berlalu.

Sekitar jam dua aku merasa mulai mengantuk. Aku tertidur dalam ketakutan. Belum lama aku tertidur suara ketukan terdengar lagi. Sangat pelan. Aku mencari asal suara ketukan. Suara ketukan berasal dari jendela kamarku. Jendela kamar yang bersebelahan dengan rumah kosong. Jantungku berdebar-debar. Mau bersuara tidak bisa. Dengan langkah yang terseok aku berusaha keluar kamar. Pikiranku memerintahkan agar aku ke ruang tamu.

Aku duduk di ruang tamu. Kedua telingaku tutupi dengan kedua tanganku. Suara ketukan di jendela kamarku tidak terdengar lagi.

Lama tak terdengar suara ketukan. Aku berharap suara ketukan itu tidak ada lagi. Harapanku tidak terkabul. Suara ketukan terdengar lagi. Sekarang suaranya berasal dari pintu utama. Aku sangat cemas. Aku duduk diatas kursi tamu dengan dua kaki berlipat ke atas kursi. Aku menggigil ketakutan.  Suara ketukan masih terdengar terus.

“Buka..., Mbak.” Suara pelan terdengar. Suara seorang perempuan. Suara yang sama dengan perempuan yang mengetuk di pintu dapur tadi.

 Seperti ada yang menyuruh aku melangkah menuju ke arah pintu. Seakan-akan ada yang menghipnotis tanganku bergerak membuka pintu . Aneh... rasa takut yang dari tadi melanda mendadak hilang.

Seorang perempuan berdiri di depan pintu sewaktu pintu aku buka. Perempuan muda berumur sekitar dua puluh lima tahu. Wajahnya cukup manis. Ada tahi lalat di sudut bibir kanan sebelah atas. Rambutnya dipotong pendek. Kulitnya putih. Dia tidak terlalu tinggi. Tubuhnya mungi serasi dengan tingginya.

Dia tersenyum kepadaku. Senyum yang nampak bersahabat. Sekilas aku melihat  dia bukan orang jahat. Rasa takutku berangsur hilang.

“Kamu siapa? Kenapa bertamu malam-malam?” aku bertanya  pada perempuan muda itu.

Dia tak menjawab pertanyaanku. Hanya tersenyum saja. Aku menunggu dia berbicara. Tapi tiada akasra yang terucap. Diamnya membuat aku berpikir kalau dia bisu. Tapi tak mungkin.  Tadi suaranya jelas  menyuruhku membuka pintu. Suara siapa tadi ?  batinku.

Perempuan itu masih menatapku. Tatapannya sekan menyuruhku untuk diam. Ntah kenapa aku jadi patuh. Tiada niat dihatiku untuk bertanya lagi. Dia mengangkat tangan kanannya dan melambai ke arahku seakan mengisyaratkan  agar aku mengikutinya.

Dia melangkah meninggalkan teras rumahku. Aku mengikuti dari belakang. Langkah kakinya mengarah menuju rumah kosong. Sesampai di depan rumah kosong itu lampu dalam rumah tiba-tiba menyala. Aku heran.  Siapa yang menyalakan, batinku. Tapi aku  cuma diam. Tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutku. Mulutku seperti di gembok. Otakku hanya diperintahkan untuk mengikuti perempuan  itu.

Perempuan muda itu membuka pintu. Dia menoleh kepadaku dan tersenyum. Isyarat matanya menyuruh agar aku mengikutinya.  Daun pintu dibukanya lebar agar aku gampang masuk.

Ruangan yang pertama kali aku  jumpai adalah ruangan tamu. Ruangan tamunya tidak terlalu besar.  Perabotan yang ada di dalam ruangan tidak banyak tetapi tertata dengan rapi. Memberi kesan ruangannya jadi luas. Sepasang sofa terletak di ruang tamu. Lukisan sepasang burung di dinding seakan menyambut kedatangaku.  Sebuah lemari kaca mungil yang berisi pajangan-pajangan  dari keramik terletak di dinding sebelah kanan.

Perempuan itu melangkah keruang tengah. Aku seperti kerbau yang di cucuk hidungnya tetap mengekorinya. Ruang tengah ini merupakan ruang keluarga merangkap ruang makan makan karena aku melihat ada sebuah meja makan mungil dari kaca.  Di ruangan ini terdapat sebuah televisi yang cukup besar. Sebuah lemari buku terletak di ruangan itu. Ruangan ini nampak lebih luas.

Perempuan itu melangkah terus menuju ruangan bagian belakang rumah. Aku merasa suasana agak lain di sini.  Berbeda dengan ruangan  yang aku masuki tadi. Suasana di ruangan ini tersa dingin. Aku merasa agak merinding.  Mataku  menatap ke seluruh ruangan.  Ruangan belakang ini berfungsi sebagai ruangan dapur.

Tempat masak, kompor dan peralatan memasak tersusun rapi. Ada sebuah meja dan beberapa kursildekat tempat memasak. Meja dan kursi yang berada di ruangan dapur mengingatkan seperti meja dan kursi yang berada di bar.

Di sisi sebelah kiri aku melihat sebuah pintu. Aku mengira itu adalah kamar mandi karena di depan pintu aku melihat mesin cuci kecil berada di sana.

Perempuan itu menatapku.  Dia mengisyaratkan agar aku mengikuti pandangannya. Seakan terhipnotis mataku mengikuti arah pandangannya.  Di sisi sebelah kanan ada sebuah tangga. Tangga semen yang dilantai  keramik. Tangga mengarah ke bagian atap rumah. Aku berpikir mungkin tangga ini menuju ke tempat menjemur pakaian.

 Ruangan bawah tangga di dinding dengan keramik. Aku merasa sedikit aneh dengan ruangan dibawah tangga kenapa harus di keramik ? .  Kan ruangan bawah tangga bisa dimanfaatkan, pikirku. Aku teringat di rumah Mas Wisnu ruangan seperti ini dijadikan lemari tempat pecah belah oleh ibu mertuaku.

Perempuan itu berdiri pas di depan ruangan  bawah tangga. Kembali dia menatapku.  Wajahnya yang tadi tersenyum berubah sendu. Air mata tiba-tiba mengalir dari matanya yang bening. Tiada suara yang terdengar.  Aku bingung harus bagaimana. 

Matanya  memerintahkan agar aku melihat dinding keramik yang berada di bawah tangga. Bulu kudukku tiba-tiba merinding.  Hawa ruangan terasa dingin.  Aku   mencium bau yang tidak enak di ruangan ini.  Bau yang sangat anyir.  Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Aku ingin bertanya. Tapi tiada kata yang terucap dari bibir ini. Lidah ini terasa kelu.

Bersambung

Dumai, **(censored)**

Besok part terakhir ya sobat...

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post