Ketukan tengah Malam (Tagur hari ke 70)
#tatangangurusiana
Rumah bulatan yang ada di sebelah rumahku sudah lama kosong. Semenjak kami pindah ke rumah yang kami tempati sekarang tidak ada yang mengontrak di sana. Padahal rumahnya cukup bagus. Seluruh lantai full keramik. Model rumahnya yang minimalis juga sangat menarik. Tapi entah kenapa tidak ada yang tertarik untuk menempatinya. Sewa yang dipatok oleh pemilik rumah juga tidak terlalu mahal.
Dulu sewaktu kami baru pindah ke rumah ini ada tiga orang mahasiswa yang mengontrak di sana tapi keesokan harinya kami tidak melihat mahasiswa-mahasiswa itu. Mereka pindah mendadak padahal sudah bayar kontrakan tiga bulan ke depan.
Seorang ibu-ibu yang lagi belanja di warung menegurku. Kami berkenalan. Namanya bu Sulis. Usianya nya lebih tua dariku. Pertanyaan bu Sulis mengenai rumah kosong di sebelah rumahku membuat aku kaget. Bu Sulis menanyakan apakah aku pernah mendengar yang aneh-aneh dari rumah kosong di sebelah rumahku. Aku menjawab tidak pernah.
Kata bu Sulis di rumah kosong itu sering ada penampakan-penampakan aneh. Suara-suara menyeramkan juga sering terdengar.
Pengontrak yang tinggal di sana tak ada yang bertahan lama. Mereka akan pindah setelah mengalami kejadian aneh di rumah itu. Ceritanya sempat membuatku merinding. Kalau tahu sebelumnya pasti aku tidak mau membeli rumah ini.
Mas Wahyu suamiku menenangkanku waktu aku ceritakan masalah rumah kosong itu. Kata suamiku tidak perlu risau karena TKP nya kan tidak di rumah kita tetapi di rumah sebelah. Dan sudah dua bulan ditempati tidak ada kejadian aneh yang dijumpai. Ucapan Mas Wahyu membuatku tenang.
*****
Rumah yang kami tempati ini dulunya adalah milik teman sekerja suamiku. Setelah memasuki masa pensiun teman suamiku dan keluarganya pindah ke daerah asal mereka. Rumahnya di jual kepada kami. Harganya yang terjangkau dengan tabungan kami membuat aku tertarik membeli rumah ini.
Rumahnya cukup besar dengan tiga kamar tidur. Dua kamar tidur bersebelahan dengan lapangan futsal tempat anak-anak bermain di sore hari. Kamar tidur utama bersebelahan dengan rumah kosong tersebut.
Aku dan suamiku hanya tinggal berdua di rumah ini karena kedua orang putraku mondok di pesantren. Kesibukan suamiku di kantor terkadang mengharuskan beliau balik tengah malam. Tak jarang pula beliau harus ke luar kota ditugaskan kantornya.
Kalau Mas Wahyu keluar kota aku tidak berani tinggal sendirian. Untuk menemaniku biasanya aku mengajak adik Mas Wahyu menginap di sini. Hari ini sudah tiga hari Mas Wahyu ke luar kota. Sudah tiga hari pula Wenni adik iparku menemani di sini. Hari ini jam lima sore pesawatnya akan mendarat, dan biasanya jam enam sore Mas Wahyu sudah berada di rumah. Dari bandara ke rumahku perlu waktu sekitar tiga puluh menit.
Karena hari ini Mas Wahyu pulang Wenni adik iparku minta izin pulang siang tadi. Aku mengizinkan Wenni pulang ke rumah orang tua Mas Wahyu.
Jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan malam. Tidak ada nampak tanda-tanda Mas Bayu mau pulang. Kontaknya dari tadi aku hubungi tapi tidak aktif-aktif. Hatiku risau bukan main. Aku berusaha bersikap tenang. Doa-doa mohon keselamatan untuk suamiku ku lafazkan tiada bosan.
Suara panggilan di gawaiku mengagetkan. Nomor panggilan yang tidak aku kenal tertera di sana. Aku menerima panggilan itu dengan heran.
“Dek, Mas nggak bisa balik malam ini. Penerbangan dibatalkan. Mas berangkat besok dengan pesawat jam empat pagi.” suara Mas Bayu terdengar dari seberang sana. “Handphone mas hilang mungkin terjatuh atau tertinggal di taksi.” Lanjut Mas Wahyu.
Pantasan aku dari tadi tidak bisa menghubungi nomor suamiku. Ternyata handphonenya hilang.
“Kamu dengan siapa di rumah?” Mas Wahyu bertanya.
“Sendiri, Mas. Wenni sudah pulang tadi karena Mas mau pulang hari ini.” jawabku.
“Berani sendiri Dek?” suara Mas Wahyu terdengar agak cemas.
“Insha Allah, berani Mas.” Aku menjawab yakin.
Jujur sebenarnya aku takut. Tapi aku tidak mau Mas Wahyu mengkhawatirkanku. Mas Wahyu tahu kalau aku penakut. Kalau handphonenya tidak hilang aku yakin dia pasti sudah menelpon adiknya untuk menemaniku.
“Kalau tidak berani ajak lagi Wenni tidur di rumah.” Laki-laki itu menyuruh adiknya untuk menemaniku lagi.
Mas wahyu menutup telepon setelah aku menyakinkan beliau kalau aku berani sendiri.
Jarak antara rumahku dengan rumah orang tua Mas Wahyu agak jauh. Aku mengkhawatirkan Wenni malam-malam sendiri ke sini.
*****
Setelah semua pintu aku kunci rapat semuanya aku masuk ke kamar tidur. Lampu ruang tengah dan dapur aku biarkan menyala.
Aku duduk di atas pembaringan. Mata ini tidak bisa terpejam. Suasana malam yang hening membuat aku jadi bergidik. Aku paling takut dengan keheningan. Ingatanku mengenai rumah kosong di sebelah rumah membuat rasa takutku berlipat ganda.
Suara ketukan dari arah dapur membuatku gemetar. Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini ? Dari arah dapur lagi. Ketukannya terdengar pelan. Tapi karena malam yang hening ketukannya terdengar keras.
Aku berjalan pelan ke ruang tengah. Ketukan terdengar lebih keras. Detak jantungkupun berpacu lebih kencang.
“Mbak buka pintunya.” Suara seorang perempuan membuatku hampir pingsan. Aku diam. Tubuhku mengejang. Aku mau berteriak tetapi suara ini seakan tersekat dikerongkongan.
Suara ketukan terdengar lagi. Lebih keras dan lebih lama. Badanku menggigil. Berbagai ayat pendek dan ayat kursi aku coba lafazkan berulang-ulang. Ketukan di pintu tidak juga berhenti.
“Buka pintunya Mbak. Buka pintunya, Mbak.” Suara seorang perempuan terdengar lagi.
“Siapa kamu bertamu malam-malam. Kenapa lewat pintu dapur?” suaraku keluar dengan tersendat. Tidak terdengar sahutan. Suasana hening dan mencekam. Ketukan tidak terdengar lagi.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan