Pengorbanan Yang Sia-Sia (Last Part) Tagur hari ke 91
#TantanganGuruSiana
Seno paham betul sifat istrinya. Tiga tahun menjadi bawahan Rena dan hampir sepuluh tahun menjadi suaminya, Seno sangat tahu siapa Rena. Dibalik sifatnya yang keras, Rena punya sifat yang baik, dia penolong dan punya rasa peduli terhadap orang lain.
Satu yang tidak disukai istrinya adalah pengkhianatan. Seno merasa sangat bersalah telah mengkhianati perempuan yang sudah mendampinginya selama ini. Reno tidak yakin apakah setelah bercerita nanti Rena mau memaafkan dirinya.
Seno tidak tahu apakah Rena mau membatalkan niatnya untuk berpisah dengannya. Reno tidak mau berharap, dimaafkan Rena saja Seno sudah sangat berstukur.
“Rena sekali lagi aku mohon maaf, karena aku menikahi Wiwit tanpa izin darimu. Aku tahu kamu pasti tidak akan mengizinkan kalau aku minta persetujuanmu.” Seno berkata pelan.
“Ya jelas aku tidak mengizinkan, Mas. Kamu kan tahu aku tidak suka dipoligami,” Rena menjawab cepat.
“Karena itulah aku menikahi Wiwit tanpa izin darimu. Aku terpaksa Rena. Kalau aku tidak menikahi Wiwit, Wiwit akan pergi meninggalkan rumah mamaku. Karena ada laki-laki yang mau menikahinya.” Seno diam sesaat.
Rena hanya diam menunggu laki-laki di depannya melanjutkan ceritanya.
“Mama tidak keberatan Wiwit menikah lagi, tapi kedua anak alm Mas Satrio tidak boleh dibawa. Wiwit tak mau. Kamu kan tahu mama sangat menyayangi anak-anaknya Mas Satrio. Mama tidak mengizinkan cucu beliau dibawa pergi.” Laki-laki itu diam lagi.
“Tanpa sepengetahuanmu aku sering mampir ke rumah mama. Hal ini membuat Fara dan Panji jadi dekat denganku. Fara tidak mau memanggilku om, tapi memanggilku papa. Karena katanya aku mirip papanya. Panji juga ikutan memanggil Papa juga. Aku sudah melarang tapi anak-anak itu tidak mau mendengar.” Seno diam lagi.
“Karena melihat anak-anak Mas Satrio dekat denganku, Mama meminta aku menikahi Wiwit. Mama takut kehilangan cucu-cucunya jika Wiwit menikah dengan orang lain. Wiwit sudah menolak. Dia tidak mau menyakitimu. Tapi mama memaksa. Bahkan mama mengancam Wiwit, tidak bisa jumpa lagi dengan anak-anaknya kalau tak mau menikah denganku. Akhirnya pernikahan itu terjadi. Maafkan aku Rena.” Seno mencoba memegang jemari Rena.
Rena menjauhkan tangannya dari Reno. Hatinya sakit sekali. Dugaannya benar mama mertuanya berada dibalik semua ini. Rena tahu siapa Mbak Wiwit, kakak ipar yang sekarang jadi madunya.
Perempuan cantik itu hampir sebaya dengan Rena. Mas Satrio yang dulu punya jabatan bagus disebuah perusahaan terkenal sangat memanjakan istrinya. Merawat diri dan memakai pakaian bermerk adalah hobbi perempuan itu. Perempuan itu sangat penurut dan gampang dipengaruhi.
Mbak Wiwit sangat disayang oleh ibu Mas Seno. Mama mertua Rena sering membanggakan menantunya ini di depan teman-temannya. Rena tidak pernah iri karena Rena tahu Mbak Wiwit jauh lebih cantik darinya.
“Rena aku tidak mau menceraikanmu. Aku mencintaimu.” Seno berkata sambil berlutut di kaki Rena. “Maafkan aku Rena.” Laki-laki itu nampak sedih sekali.
“Aku tetap meminta cerai, Mas. Aku tidak mau dipoligami. Aku harap kamu menghargai keputusanku.” Rena berkata tegas.
Seno terdiam. Dia sangat menyesal telah melakukan tindakan ceroboh. Seno tidak bisa membayangkan kalau berpisah dengan Rena. Jabatan Seno hanya karyawan di kantor. Gaji yang diterima Seno tidak besar. Selama ini Seno nampak berkelas karena ditunjang finansial dari Rena.
Penghasilan dari tiga butik Rena dan beberapa kafe yang baru dirintisnya sangat besar. Rena sangat lihai mencari peluang untuk menghasilkan uang. Rena tidak pelit. Tak jarang untuk keperluan keluarganya Rena yang membiayai. Apa jadinya kalau mereka bercerai. Bagaimana untuk memenuhi kebutuhan Wiwit dan mamanya. Seno jadi bingung. Dia hanya diam dan menekurkan kepalanya.
Rena berdiri lalu masuk ke kamarnya. Seno mendengar pintu dikunci dari dalam.
****
Antrian yang panjang di sebuah supermarket membuat Seno, mamanya dan Wiwit menjadi malu. Sudah dua kartu kredit yang dicoba tapi tidak bisa diakses. Seno heran. Uang cash di dompetnya tidak cukup untuk membayar semua belanjaan yang ada di troli belanja mama dan istrinya. Dengan sangat terpaksa mereka meninggalkan semua belanjaan yang sudah dipilih. Tatapan mata pengunjung membuat mereka malu.
“Maafkan aku, Ma, Wit. Mungkin Rena menutup semua akses keuanganku.” Seno berkata pelan.
“Kenapa seperti itu, Mas. Nggak boleh gitu dong.” Wiwit protes.
“Aku tidak bisa apa-apa. karena memang semua uang yang ada itu punya Rena. Uang gajiku semua sudah aku berikan kepada mama.” Seno menjawab pelan.
“Kalau begitu kau tidak boleh bercerai dengan Rena, Seno. Kita bisa kekurangan uang kalau kau bercerai dengan Rena.” Mama Seno berkata cemas.
“Kita tidak akan kekurangan kalau mama dan menantu mama bisa berhemat. Gajiku cukup kok untuk makan kita.” Seno menjawab pelan.
Bu Sulis dan Wiwit terdiam. Terbiasa memegang uang banyak membuat mereka jadi takut kalau seandainya Seno bercerai dengan Rena. Seno dan Rena tak boleh bercerai, batin Bu Sulis.
******
Kedatangan mama mertua dan Mbak Wiwit ke rumah sore itu mengagetkan Rena. Sudah lama mama mertuanya tidak pernah berkunjung ke rumah Rena. Angin apa yang membawa mereka ke mari? Batin Rena.
Kedua orang itu masih berdiri di ruang tamu Rena yang megah. Mama mertua Rena nampak terpesona melihat rumah anaknya. Rumah Rena tidak seperti dulu, jauh lebih bagus dan indah.
“Silahkan duduk...!” Rena mempersilahkan dua orang di depannya untuk duduk. Rena bersikap biasa saja.
Wajah kedua orang itu nampak tegang. Sikap Rena yang nampak kurang bersahabat membuat mereka nampak agak kaku. Apalagi wajah Mbak Wiwit, kakak madu Rena. Perempuan itu nampak gugup berhadapan dengan Rena
“Ada keperluan apa kalian datang ke sini?” Rena bertanya datar. Rasa sakit hati kepada dua orang di depannya masih ada. Rasanya Rena mau mengusir mereka dari rumahnya. Tapi Rena masih berusaha mendamaikan hatinya.
“Mama ke sini meminta kamu untuk mempertimbangkan rencana gugatan cerai kamu kepada Seno. Kamu kan mencintai Seno. Apa tidak bisa diperbaiki hubungan kalian?” Mama mertua Rena berkata lembut.
“ Cintaku kepada anak anda sudah pudar setelah aku tahu dia mengkhianatiku. Tidak ada lagi yang perlu dipertimbangkan. Keputusanku sudah bulat. Besok sidang pertama kami.” Suara Rena terdengar dingin.
“Rena, Mbak minta maaf karena menikah dengan suamimu. Tapi Mbak rela mengalah Rena. Mbak tahu posisi mbak sebagai istri kedua. Mbak tidak akan menuntut apapun dari Mas Seno. Mbak cuma minta kamu berbagi sedikit waktu suamimu untuk anak-anak Mbak.” Mbak Wiwit berkata pelan.
“Maaf Mbak, aku tidak mau berbagi walau sedikitpun.” Sinis jawaban Rena.
“Jangan egois Rena!” mama mertua Rena berkata sedikit keras.
“Aku tidak pernah egois, Ibu Sulis. Bukti ketidak egoisanku aku menyerahkan sepenuhnya Seno Atmaji, putramu ke istri mudanya.” Rena berkata tajam.
Kedua orang itu nampak tersinggung oleh sikap Rena. Rena ketawa dalam hati melihat kelakuan kedua orang itu. Rena bukan anak kecil yang gampang dibohongi. Mereka jelas tidak mau Seno berpisah dari Rena, karena Rena banyak membantu keuangan mereka. Rena tersenyum. Tak sabar dia mau melihat kehidupan mereka setelah berpisah dari Seno nantinya.
*****
Rena termenung sambil memegang Akta cerai yang diterima dari pengadilan. Proses perceraian berlangsung lancar dan tidak berbelit-belit. Seno tidak menuntut pembagian harta gono-gini karena dia sadar bahwa semua harta yang mereka milki adalah jerih payah Rena. Jam 10.00 WIB pagi tadi resmilah Rena menjadi janda.
Rena tersenyum miris. Dia tidak menyangka nasib pernikahannya seperti ini. Selama ini dia sudah banyak berkorban untuk Mas Seno, tapi Mas Seno membalas semua pengorbananya dengan pengkhianatan.
“Kamu harus menutup semua kisah lama kamu, Rena. Hadapi jalan ke depan. Kamu harus kuat. Mama percaya kamu bisa melewati semuanya ini. Mama tahu, anak mama adalah perempuan yang hebat. “ Mama Rena menguatkan dan memberi semangat kepada Rena.
“Lagian kami bersyukur kamu berpisah dengan Seno, Nak. Laki-laki yang tidak bisa memberi kamu keturunan. Papa jadi punya harapan kamu bisa melanjutkan silsilah keluarga kita. Kamu anak kami satu-satunya.” Papa Rena ikut bicara.
“Papa yakin kamu akan mendapatkan pengganti Seno yang lebih segala-galanya dari dia.” Lanjutlaki-laki itu.
“Rena sedih saja, Pa. Semua pengorbanan Rena buat Mas Seno sia-sia. Mas Seno membalas dengan pengkhianatan.” Rena berkata lirih.
“Usah diingat yang berlalu Rena. Yang lalau biarlah berlalu. Pengorbanan kamu sekarang berpisah dengan Reno tidak sia-sia Nak. Kalau Seno masih menjadi suamimu dan meninggalkan Wiwit, kamu akan membuat dia melawan ke mamanya. Dia bisa jadi anak durhaka. Kamu juga akan berdosa. Papa rasa ini adalah jalan terbaik. Dan kamu juga sudah berbuat baik dengan mencarikan ayah buat anak yatim.” Papa Rena menghibur putrinya.
Rena tersenyum. Dia memeluk mama dan papanya. Dukungan dari mereka berdua sangat bermanfaat buat Rena. Rena berjanji akan menatap masa depannya tanpa menoleh ke belakang.
*****
Pertemuan tak sengaja Rena dan keluarga Seno terjadi sore itu di rumah sakit. Semua mata tertuju ke perut Rena. Mereka nampak heran melihat perut Rena yang membesar. Rena lagi hamil tua. Kedatangan Rena dan Diva ke rumah sakit sore itu untuk menjumpai suaminya sekalian mencek kehamilannya. Bu Sulis , Sakira dan Sintia menatap tak berkedip ke perut Rena.
“ Senang berjumpa kalian di sini, kenapa kalian heran melihat perutku ? Aku lagi hamil. Ini Mas Sebastian suamiku. ” Rena mengenalkan suaminya kepada mantan mertua dan adik iparnya. Sebastian tersenyum dan menyalami keluarga mantan suami istrinya.
Semua kaget mendengar Rena menyebutkan Sebastian suaminya. Mereka tahu bahwa rumah sakit megah tempat mereka berobat ini adalah milik Sebastian, Sebastian suaminya Rena ? Rena beruntung sekali, pikir mereka
Rena berlalu dari hadapan keluarga Seno. Mereka tersenyum kecut melihat Rena dan Diva meninggalkan mereka digandeng mesra oleh Sebastian. Mereka kelihatan bahagia sekali. Seno dan keluarganya hanya menelan ludah. Semoga kamu selalu bahagia Rena, batin Seno.
//
tamat
Dumai, 28-06-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan