Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Pengorbanan Yang Sia-Sia (Part 2) Tagur hari ke 90

#TantanganGuruSiana

Semua kaget melihat kedatangan Rena di acara arisan keluarga sore itu. Mereka tak menyangka kalau Rena akan hadir. Sudah lama Rena tidak kumpul-kumpul dengan keluarga besar mereka.

Mereka menatap ke arah Rena. Rena heran dengan tatapan keluarga besar suaminya. Rena merasa ada yang lain dari tatapan itu. Ada apa ini ? batin Rena.

“Kak Rena apa khabarnya? Sudah lama kakak tak kumpul dengan kami. Sandra kangen sama kakak.” Sandra yang datang dari arah kamarnya menyalami dan memeluk Rena. “Diva udah besar ya. Cantiknya ponakan tante.” Sandra beralih memeluk Diva yang berdiri di samping Rena.

“Sandra, kakak kok merasa ada yang aneh di ruangan ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa sepertinya semua menatap lain ke arah kakak ?” Rena bertanya tiba-tiba kepada adik iparnya itu.

Pertanyaan Rena membuat Sandra kaget. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Mata Rena yang menatap tajam ke arahnya membuat dia salah tingkah. Sandra hanya menunduk. Sikap Sandra membuat rasa ingin tahu Rena jadi tambah besar.

“Itu hanya perasaan kamu saja Rena. Mungkin karena kamu sudah lama tak berkumpul dengan kami, jadi keluarga besarku kangen kepadamu.” Mas Seno yang berada disampingnya menjawab pertanyaan Rena.

“Ya Rena, silahkan duduk. Kami tadi terpana aja melihatmu. Karena kita sudah lama tak bertemu. Kamu tambah cantik sekarang.” Bude Narsih adik bungsu mertua Rena menimpali.

Rena merasa jawaban Bude Narsih tidak jujur. Ada yang ditutupi dari suaranya. Rena tersenyum hambar, jauh dihatinya yang paling dalam Rena merasa ada yang disembunyikan keluarga besar suaminya. Rena duduk tidak jauh dari Mas Seno.

Suasana dalam ruangan itu hening. Beberapa orang keluarga besar mereka nampak memainkan gawai yang ada di tangan mereka masing-masing. Tidak ada suara yang terdengar.

Kemunculan Mbak Wiwit dan putra bungsunya memecahkan keheningan di ruangan itu. Panji yang berada dibelakang Mbak Wiwit berlari ke arah Mas Seno.

“Papa, kok lama sekali datangnya. Dari tadi Panji nungguin lho.” Bocah kecil itu berteriak dan memeluk Mas Seno. Dia nampak begitu gembira melihat Mas Seno.

Semua mendadak diam melihat tingkah Panji. Rena yang mendengar Panji berteriak memanggil dengan sebutan Papa ke suaminya sangat kaget.

“Ada apa ini, Mas? Kenapa anaknya Mbak Wiwit memanggilmu, Papa?” Mata Rena menatap Mas Seno tajam.

“Mas tolong jelaskan, ada apa ini sebenarnya?” Rena kembali mengulangi pertanyaanya.

Mas Seno nampak sangat gugup. Panji yang berada dipangkuannya memeluknya erat. Mbak Wiwit berusaha membujuk putranya agar melepaskan pelukan dari Mas Seno. Anak kecil itu menangis, dia tidak mau melepaskan tangannya dari pelukan laki-laki yang dipanggilnya papa itu.

Rena melihat adegan di depannya dengan tanda tanya. Netranya menatap Mbak Wiwit meminta jawaban, tapi perempuan itu tidak membalas tatapannya. Perempuan cantik itu nampak menghindari Rena, dia hanya menundukkan wajahnya. Sikap Mbak Wiwit membuat Rena tambah heran?

“Mas Seno, tolong jelaskan Mas, ini ada apa, Mas ?” Kembali Rena bertanya kepada suaminya.

Suasana diruangan itu tampak tegang. Sandra membujuk Diva dan ponakan-ponakannya yang lain agar main ke taman di belakang rumah. Sandra khawatir jika pertengkaran terjadi nanti jadi tontonan anak-anak.

“Mbak Sulis, saya rasa kita tak boleh menyembunyikan ini dari Rena. Rena harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Suara Paklik Salim adik laki-laki mamanya Mas Seno terdengar.

Rena memandang Paklik Salim. Laki-laki paruh baya itu menatap iba kepada Rena.

“Paklik, ada apa sebenarnya, Paklik? Ceritakan ke Rena, Paklik.” Rena berkata kepada laki-laki itu.

Paklik menatap mertua Rena. Ibu Sulis, mama mertuanya nampak gugup. Dia hanya diam. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Seno sudah menikahi Wiwit, Rena. Wiwit sekarang adalah kakak madumu.” Terdengar datar suara Paklik Salim.

Penjelasan Paklim Salim bagaikan petir di telinga Rena. Mas Sena menikahi Mbak Wiwit? Kapan mereka menikah ? Kenapa dia tidak tahu selama ini? Rena merasa hatinya sangat hancur. Rena tidak menyangka Mas Sena tega membohonginya selama ini.

“Mas, apa itu benar Mas? Kenapa kamu tega mengkhianati aku, Mas?” Rena tak kuasa menahan air matanya. Rena tergugu. Badannya hampir saja terjatuh kalau Sandra tidak menahannya. Dia nampak terpukul sekali.

“Maafkan Mas, Rena. Kamu kan masih ingat, sebelum Mas Satrio meninggal beliau meminta Mas menjaga Mbak Wiwit dan anaknya. Mas tidak bisa menolak. Mas Satrio sangat berjasa buat kami. Mas Satrio lah yang menyekolahkan dan membiayai kami setelah papa meninggal.” Mas Seno memegang bahu Rena.

Rena menepis kasar tangan laki-laki itu. Matanya menatap Mas Seno. Ada kilat kemarahan di mata itu.

“Mas, Mas Satrio itu meminta kamu menjaga istri dan anaknya, Mas. Bukan menikahinya.Kenapa kamu menikahinya ?” Rena nampak sangat emosi.

Mata Rena beralih menatap ibu mertuanya. Dia melangkan mendekati perempuan itu.

“Mama, mama kenapa tega membiarkan ini terjadi. Mama kan perempuan seperti aku. Dimana letak perasaan Mama? Kenapa Mama menyembunyikannya dari aku? Atau jangan-jangan mama berada dibalik semua ini?” Rena menuding Ibu Sulis, mertuanya. Perempuan itu hanya diam. Mulutnya seakan terkunci.

“Kak Rena, jangan bicara seperti itu kepada mamaku!” Sakira adiknya perempuan Mas Seno yang dari tadi diam bersuara.

“Kak Rena yang salah dalam hal ini. Pernikahan ini tak akan terjadi kalau Kak Rena bisa beri cucu buat mamaku.” Sakira berkata kasar.

“Kak Rena harus rela diduakan Mas Seno, itu resiko perempuan mandul seperti Kak Rena.” Sintia ikut menimpali ucapan kakaknya, Sakira.

“Apa kalian bilang? Aku mandul? Mas sampaikan ke adik-adikmu apa sebenarnya yang terjadi. Kalian berdua dengar ya, yang mandul itu bukan aku. Tapi Mas Seno, abang kalian ini yang mandul. Mas kamu jangan diam saja. Sampaikan kepada keluargamu apa sebenarnya yang terjadi.” Rena betul-betul emosi mendengar tuduhan adik iparnya.

Mas Seno hanya diam. Dia menundukan kepalanya. Rena benci sekali melihat sikap Mas Seno seperti itu. Mas Seno tampak tidak berkutik di depan keluarga besarnya.

“Lagian Mbak juga, jadi istri tahunya menghabiskan uang Mas Seno saja. Kepada kamipun Mbak sangat pelit.” Sintia berkata ketus.

“Sintia, jaga mulutmu. Apa kamu kira aku membeli semua keperluanku dengan uang kakakmu? Masmu cuma karyawan biasa. Mana bisa gajinya untuk membeli tas, sepatu dan perhiasanku. Gajinya untuk biaya makan sebulan aja tidak cukup.” Rena bekata sinis.

“Kau bilang aku pelit, Sintia? Kau tahu pesta pernikahanmu yang mewah di hotel tahun kemarin itu pakai uang siapa ? Itu uang aku, Sintia. Mamamu dan Sandra berangkat umroh tahun kemarin, itu pakai uang siapa? Itu uang aku. Kalian merenovasi rumah ini pakai uang siapa ? Itu uang aku. Kau menuduh aku pelit? Mas katakan kepada adikmu yang sombong itu. Kau jangan diam saja.”

Rena betul-betul sangat emosi. Matanya nampak seperti mau menerkam Sintia. Mas Seno masih bungkam. Sikapnya betul-betul menyulut amarah di dada Rena.

“Dan kalian berdua, “ Rena menunjuk mama mertuanya dan Mbak Wiwit dengan tangannya. “Setiap bulan aku yang mentransfer biaya hidup kalian, tapi kalian betul-betul tidak tahu balas budi. Aku sudah bekorban banyak untuk kalian semua. Kalian mengkhianatiku. Aku benci kalian semua.” Rena berteriak.Sandra berusaha menenangkan kakak iparnya.

“Sandra bawa Diva ke sini.” Rena meminta Sandra menjemput Diva yang lagi main di belakang. Gadis itu berlari ke taman belakang menjemput Diva dan menyerahkannya ke Rena.

“Mas, kau tahu kan aku paling benci pengkhianatan . Kau talak aku atau aku akan menggugat cerai padamu!.” Tegas suara Rena.

“Rena aku tidak mau kita bercerai. Aku tidak akan menceraikanmu.” Mas Seno berkata sambil memegang tangan Rena. Rena menepis kasar tangan laki-laki itu.

“Mana kunci mobilku? Bawa kesini !” kasar suara Rena.

Mas Seno menyerahkan kunci mobil disaku celananya kepada Rena. Kunci itu berpindah cepat ke tangan Rena.

“Ayo Diva kita pulang sayang.” Rena mengajak Diva meninggalkan rumah mertuanya itu. Mas Seno berusaha mengahalangi. Rena tak mempedulikan suaminya. Dia betul-betul muak melihat sikap suaminya. Rena mengunci pintu mobil dan melaju cepat dari tempat itu.

*****

Suara ketukan Mas Seno di pintu kamar tidak lagi terdengar. Rena betul-betul sakit hati oleh perlakuan Mas Seno dan keluarganya. Rena tak habis pikir, sudah begitu banyak pengorbanan Rena buat suaminya tapi laki-laki itu tega menduakannya. Hati Rena pedih. Apalagi keluarga suaminya mendukung pernikahan itu dan menyembunyikan dari dirinya. Rena sedih sekali. Rena sakit hati dikhianati Mas Seno.dan keluarganya.

Rena tiba-tiba teringat putrinya. Sepulang dari rumah Mas Seno tadi, Diva dititipkannya kepada Mbak Ratna, ART mereka. Rena kangen pada Diva. Diva lah kekuatan Rena saat ini. Pelan dia membuka pintu kamarnya. Rena mau melihat Diva.

Mas Seno nampak tertidur di ruang tamu. Rena menatap laki-laki yang sudah menghancurkan hatinya itu. Pedih dan perih yang terasa oleh Rena.

Rena menuju kamar Diva. Diva nampak tertidur nyenyak. Rena menyelimuti putrinya. Mengecup keningnya dan memandang lama wajah putrinya. Setelah mengecup kening Diva sekali lagi Rena meninggalkan kamar Diva.

“Rena.... Aku mau bicara. Kamu belum mendengar penjelasanku.” Mas Seno mencegat Rena waktu melewati laki-laki itu.

“Tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Mas. Aku mau kita berpisah. Kamu bisa hidup tenang dengan Mbak Wiwit.” Rena berkata dengan suara datar.

“Tapi kamu harus tahu. Kenapa aku menikahi Wiwit. “ Mas Seno berkata. “Sebentar saja Rena,” Mas seno berkata pelan.

“Aku tidak tertarik mendengar ceritamu. Aku mau tidur.” Rena menjawab kasar.

“Aku mohon Rena, dengar penjelasanku. Habis itu aku janji tak akan menganggumu.” Laki-laki itu memohon kepada Rena.

“Cepat kamu bercerita, mataku mengantuk. Apapun ceritamu tidak mempengaruhi niatku untuk berpisah darimu.” Rena berkata ketus.

//

Bersambung....

Dumai, 27-06-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post