Pengorbanan yang Sia-Sia (Tagur hari ke 89)
#Tantangangurusian
Pandangan mata Rena tertuju kepada pasangan yang sedang memilih buah-buahan segar di sebuah lorong supermarket. Dada Rena berdegup dengan kencang. Pasangan yang sedang memilih buah-buahan itu adalah orang yang sangat dikenal Rena. Suaminya dan Mbak Witri istri almarhum Mas Satrio, abang iparnya.
Rena mengucek matanya, berharap apa yang dilihatnya salah. Tapi harapan Rena tidak terujud. Berkali-kali Rena mengucek matanya tapi tetap saja laki-laki yang bersama Mbak Witri itu adalah Mas Seno, suaminya. Kemeja biru yang dipakai Mas Seno adalah kemeja yang disediakan Rena tadi pagi untuk suaminya. Rena yakin itu adalah Mas Seno, suaminya.
Kenapa Mbak Witri belanja harus didampingi Mas Seno, suamiku? Kenapa gerak-gerik mereka seperti suami istri? Ada apa dengan mereka? Tubuh Rena rasanya lemah tak bertulang melihat Mas Seno dan Mbak Witri. Kepalanya tiba-tiba berdenyut.
“Mama kenapa ? Mama sakit ?,” pertanyaan Diva mengagetkan Rena.
Rena memandang putrinya. Diva tidak boleh melihat pemandangan ini, batin Rena. Pasti ini akan memberikan dampak psikologis yang tidak baik buat Diva. Apalagi putrinya yang baru berumur enam tahun ini sangat cerdas. Pasti nanti akan banyak pertanyaan mengalir dari mulutnya. Buru-buru Rena manarik tangan Diva menjauhi lorong buah-buahan segar itu.
“Tapi kita kan belum ambil buah-buahan, Mama.” Diva protes waktu Rena menarik tangannya menjauhi lorong buah-buahan itu.
“Lain kali saja, kepala Mama rasanya sangat sakit. Kita pulang saja ya, Nak” Rena berkata membujuk Diva.
Jujur sebenarya Rena tida tega mengajak Diva pulang. Menemani Diva berbelanja adalah moment yang langka bagi Rena. Sudah lama Diva minta ditemani ke supermarket. Baru hari ini Rena bisa mengabulkan permintaan putrinya itu. Kesibukan Rena di butik membuatnya tidak ada waktu buat putri kecilnya. Tapi pemandangan yang dilihatnya tadi membuat Rena jadi lemas.
Diva yang melihat mamanya nampak sedikit pucat tidak bertanya lagi. Bergegas Diva mengikuti mamanya ke arah kasir. Pengunjung supermarket sore itu yang tidak terlalu ramai membuat mereka tidak perlu antri berlama-lama.
*****
Rena langsung menuju kamarnya sesampai di rumah. Rena duduk dipinggir tempat tidur. Pikirannya melayang mengingat kejadian barusan di supermarket.
Berjuta pertanyaan menari-nari di kepalanya. Ada hubungan apa Mas Seno dengan Mbak Wiwit? Kenapa mereka nampak akrab sekali ? Kenapa harus suamiku yang menemani Mbak Wiwit belanja di supermarket ?
Pertanyaan-pertenyaan yang membuat Rena pusing. Apakah aku tanyakan saja nanti kepada Mas Seno ? batin Rena. Rena merasa letih sekali. Rencananya mau mengunjungi salah satu butiknya sore ini terpaksa dibatalkannya.
*****
Suara mobil Mas Seno terdengar berhenti di halaman rumah. Rena membukakan pintu buat suaminya. Seno nampak sedikit kaget melihat Rena menyambut kedatangannya. Rena mencium tangan suaminya dan membawakan tas kerja Mas Seno.
Mas Seno bekerja sebagai karyawan di sebuah kantor property. Sebelum menjadi istri Mas Seno, Rena bekerja dikantor yang sama dengan suaminya. Rena dulu adalah atasan Mas Seno. Aturan perusahaan yang tidak membolehkan suami istri bekerja di kantor yang sama membuat Rena memilih mengalah untuk resign dari perusahaan. Padahal waktu itu karir Rena sedang bagus-bagusnya. Tapi demi suaminya Rena rela melepaskan semuanya.
Setelah resign dari perusahaan Rena membuka butik pakaian wanita. Relasi yang banyak dan kemampuan Rena yang baik dalam marketing membuat butik Rena jadi berkembang. Bahkan sekarang Rena sudah memililiki tiga buah cabang butik.
Mas Seno laki-laki yang baik. Laki-laki itu sangat sayang kepada Rena. Sejak mereka menikah sepuluh tahun yang lalu tidak pernah ada masalah dalam rumah tangga mereka. Kepada keluarga Rena pun laki-laki itu cukup baik. Rasanya Rena tidak yakin kalau Mas Seno ada main dengan kakak iparnya.
“Mas mohon maaf ya, Rena. Mas pulangnya malam. Kamu kenapa sudah ada di rumah ? Bukankah kamu sudah minta izin sama Mas mau pulang telat?” Laki-laki bertanya sambil mengecup kening Rena lembut.
Rena ingat tadi pagi dia sudah minta izin pada suaminya akan pulang terlambat. Karena sore hari tadi rencananya dia mau meninjau cabang butiknya yang baru dibuka.
“Aku kurang enak badan, Mas. Aku membatalkan rencanaku mau mengunjungi cabang butikku.” Rena menjawab pelan. “Mas mau makan?” lanjut Rena.
“Aku sudah makan di luar tadi. Aku kira kamu belum pulang. Aku mau istirahat saja. Aku capek sekali.” Laki-laki itu berlalu dari hadapan Rena.
Rena beranjak menuju kamar putrinya. Pelan dikecupnya kening Diva. Setiap memandang Diva hati rena bagai tercabik. Walaupun Mas Seno laki-laki yang baik, tetapi Seno tidak pernah nampak menyayangi Diva. Ya, Diva adalah putri mereka yang tidak lahir dari rahim Rena. Diva adalah anak yang mereka ambil dari panti asuhan sejak berusia satu tahun. Keputusan untuk mengambil Diva mereka ambil karena sudah lima tahun pernikahan mereka tapi belum juga dikarunia anak.
Pemeriksaan dari dokter menunjukan bahwa ada kelainan dengan sperma Mas Seno. Sperma Mas Seno tidak bisa membuahi sel telur. Ide mengambil anak dari panti asuhan berasal dari Mas Seno. Tapi Rena heran, Mas Seno nampak kurang peduli dengan anak ini.
Setelah menyelimuti tubuh Diva, Rena keluar dari kamar putrinya. Rena menuju kamarnya. Mas Seno nampak merebahkan badannya di tempat tidur. Netranya melihat Rena sewaktu masuk kamar . Melihat wajah suaminya yang sangat letih Rena tidak sampai hati menanyakan kejadian sore tadi di supermarket. Rena mencoba bersabar. Rena akan mencari waktu yang tepat untuk menanyakan ke Mas Seno.
*****
“Mas, nanti sore ada arisan keluarga di rumah ibu. Aku mau ikut. Sudah lama aku tidak ikut arisan keluarga.” Rena berkata kepada Mas Seno pagi itu di meja makan.
Seno nampak sedikit terkejut tapi cepat disembunyikannya. Kepalanya mengangguk tanda memberi persetujuan kepada Rena.
Arisan keluarga Mas Seno diadakan sekali sebulan. Arisan itu diikuti oleh keluarga Mas Seno. Ibu Mas Seno adalah anak tertua. Tiga orang adik ibunya Mas Seno beserta anak memantunya ikut dalam arisan. Tempat pelaksanaan arisan sering berganti-ganti. Sudah lebih satu tahun Rena tidak ikut arisan keluarga Mas Seno. Kesibukan di butik sangat menyita waktunya. Entah kenapa hari ini dia pingin menghadiri arisan keluarga itu.
“Nanti Mas perginya bareng aku ya?” Rena menatap suaminya. Reno menganggukan kepala untuk kedua kalinya.
*****
Rumah orang tua Seno tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Hanya sekitar 10 kilometer. Mas Seno memarkir mobilnya di depan rumah yang cukup besar itu. Beberapa mobil sudah nampak terpakir di depan rumah. Mobil adik-adiknya Mas Seno dan kerabat mereka. Mas Seno adalah putra kedua. Mas Seno memilki tiga orang adik lagi. Ketiga-tiganya perempuan. Dua orang sudah menikah sedangkan yang bungsu masih kuliah.
Kedua adik perempuan Mas Seno tinggal di rumah mereka masing-masing. Rumah besar ini hanya ditempati oleh ibu Mas seno, Sandra adik bungsunya, Mbak Witri dan dua orang anaknya.
Rena sebenarnya kurang nyaman berada di antara keluarga suaminya. Mulut adik-adik iparnya sangat tajam. Adik-adik iparnya selama ini beranggapan bahwa tidak adanya anak diantara Rena dan abangnya disebabkan Rena yang mandul.
Rena pernah berusaha untuk menjelaskan tapi Mas Seno melarang. Demi menghargai perasaan suaminya Rena memilih diam. Hanya Sandra adik iparnya yang paling bungsu yang selalu baik kepada Rena.
Kebiasaan Rena menggunakan perhiasan, baju-baju dan tas yang mahal juga sering jadi masalah. Padahal Rena tidak pernah menggunakan uang dari Mas Seno untuk membelinya. Penghasilan dari tiga buah butiknya per bulan lebih besar dari gaji Mas Seno. Tapi keduanya selalu beranggapan bahwa Rena menghabiskan uang abang mereka.
Ibu mertuanya juga nampak tidak terlalu menyukai Rena. Pada awalnya perempuan itu menyayangi Rena. Tapi setelah Rena belum juga memberikan cucu untuknya sikap perempuan itu mulai berubah. Apalagi setelah Rena mangambil anak angkat dari panti asuhan. Aura tidak bersahabat selalu ditampakkan kepada Rena .
Semua kaget melihat Rena hadir di arisan keluarga sore itu. Mata mereka memandang Rena dengan heran. Rena tidak mengerti kenapa semua memandang dia seperti melihat hantu.
//
Bersambung
Dumai, 26/06/2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan