Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Persahabatan Yang Tulus (Last Part) Tagur hari ke 75

#TantanganGuruSiana

 

Langkah kaki Inayah mengantarkannya ke sebuah rumah yang agak jauh dari sekolah. Panas yang cukup terik siang itu tidak dipedulikannya. Rasa kangen kepada Dinda membuat dia memutuskan untuk menjumpai Dinda ke rumahnya.

Inayah mengetuk pelan rumah itu. Salam yang diucapkan Inayah tidak dijawab. Kenapa rumah Dinda kosong ? batin Inayah.  Karena capek Inayah duduk di kursi yang ada di depan pintu.

Suara motor berhenti mengegetkan Inayah. Ibu Siska wali kelasnya turun tergesa. Wajahnya nampak khawatir.

“Inayah, kamu kenapa tidak beritahu mama kamu kalau mau ke sini. Mama kamu mengkhawatirkan kamu,” ibu Siska menatap Inayah lembut. Dia mengambil gawai di tasnya. Dia berbicara pelan di telepon. Inayah bisa mendengar, ibu Siska memberitahu mamanya kalau dia bersama ibu Siska sekarng.

“Ibu tahu kamu kangen dengan  Dinda. Ibu sudah dapat khabar mengenai Dinda. Bundanya dirawat di rumah sakit. Jadi Dinda menjaga bundanya. Ini ibu mau ke rumah sakit. Kamu mau ikut?” ibu Siska bertanya kepada Inayah. Inayah mengangguk cepat. Ibu Siska kembali menelpon bunda memberitahu kalau Inayah ikut dengannya ke rumah sakit yang ada di kota.

*****

Ibu Siska mengajak Inayah berhenti di sebuah rumah makan. Perut Inayah yang lapar dari tadi membuat dia makan sangat lahap. Ibu Siska tersenyum. Dia kagum melihat persahabatan Inayah dan Dinda.

Selesai makan siang mereka menuju rumah sakit. Inayah memeluk Dinda erat seakan tidak mau melepaskan sahabatnya itu.

“Maaf ya ibu Siska, saya tidak punya telepon jadi tidak bisa beri khabar ke ibu,” Dinda manatap bu Siska dengan rasa bersalah. “Dari mana ibu tahu kalau bunda saya sakit?” lanjutnya.

“Tadi sebelum menjemput Inayah ke rumahmu ibu mampir di rumah ketua RT tempat tinggalmu, istri ketua RT memberi tahu ibu kalau bundamu dirawat di sini,” jawab ibu Siska.

“Kamu tadi ke rumahku Nay?” Dinda menatap Inayah. Inayah tersenyum dia menganggukan kepala sambil tersenyum.

Ruang tempat bundanya Dinda di rawat adalah sebuah ruangan agak besar dengan enam tempat tidur. Hanya ada bundanya Dinda di ruangan ini.  Menurut cerita Dinda dua pasien tadi  siang barusan pulang. Bunda Dinda nampak tertidur lelap. Dua sahabat itu bercerita melepaskan kangen. Ibu Siska nampak bercerita dengan dokter jaga yang sedang memeriksa bundanya Dinda. Wjah ibu siska nampak cemas.

*****

Hari ini Dinda sudah masuk sekolah. Wajahnya nampak cerah. Teman-teman semua menghampiri Dinda. Teman-teman banyak yang mendoakan agar bunda Dinda cepat sembuh.

Inayah senang Dinda sudah sekolah. Menurut Dinda ibunya sudah agak baikan, sekarang ada adik ibunya yang datang dari luar kota untuk menunggui. Dinda sangat senang karena ada bibinya yang menemani merawat bundanya.

Kedatangan ibu kepala sekolah mengagetkan anak-anak yang sedang belajar dengan ibu Siska. Ibu Siska berbicara dengan ibu kepala sekolah. Wajah Ibu Siska nampak kaget dan sedih. Ibu Siska menuju meja Inayah dan Dinda.

“Dinda, kamu ikuti Ibu Kepala Sekolah, ya,” ibu Siska berbicara pelan dengan  Dinda. Dinda mengemasi tasnya dan menjumpai ibu kepala sekolah yang sudah menunggunya dari tadi.

Inayah dan teman-teman yang lain heran kenapa Dinda dijemput ibu kepala sekolah.

“Anak-anak tadi Dinda dijemput karena kondisi bundanya kritis. Mari kita berdoa bersama semoga Bundanya Dinda kondisinya membaik.” Ajakan ibu Siska menjawab keheranan Inayah dan teman-temannya.

Semua anak-anak menundukan kepala, mereka berdoa dengan khusuk untuk kesembuhan bunda Dinda.

*****

Berita yang datang ke sekolah siang itu mengagetkan Inayah dan teman-temannya. Bunda Dinda tidak dapat  diselamatkan. Semua teman-teman sekelas ikut bersedih atas meninggalnya bunda Dinda. Ibu Siska mengajak teman-teman sekelas ke rumah Dinda untuk takziah.

Dinda nampak sangat bersedih. Air mata tak henti-hentinya mengalir di wajahnya yang kurus. Inayah sangat sedih sekali melihat kondisi sahabatnya. Inayah dan teman-teman menghibur Dinda.

*****

Lima hari setelah kepergian bundanya, Dinda datang ke sekolah. Inayah sangat  rindu dengan sahabatnya itu. Tapi kedatangan Dinda hari itu untuk yang terakhir kalinya. Dinda mohon pamit karena dia harus mengikuti bibinya. Kematian bunda membuat Dinda tidak memiliki oarng yang akan merawatnya.

Semua teman-teman sekelas bersedih. Beberapa orang anak nampak menangis. Mereka akan kehilangan seorang teman yang sangat baik dan pintar. Dinda mengajak Inayah ke samping sekolah ketemapat mereka berdua sering duduk.

“Nay, kalau kau kangen sama aku datanglah kesini. Lihatlah ukiran nama kita yang ada dekat pohon itu, smeoga nanti kita bisa bertemu lagi y , Nay. Kamu adalah sahabat terbaik yang penah aku punya,” Dinda berkata sambil memeluk erat Inayah.

“Iya Dinda. Aku akan sering datang ke sini jika aku rindu kepadamu.” Inayah membalas pelukan sahabatnya.

*****

Dua belas tahun telah berlalu. Nasib membawa Inayah diangkat jadi guru di SD tempat dia pernah menimba ilmu. Pohon ketapang yang disamping sekolah masih ada. Hari ini Inayah berdiri kembali di bawah pohon ketapang ini. Inayah teringat Dinda, sahabat masa kecilnya. Dimanakah kamu sekarang, Dinda? batin Inayah. Inayah tidak melihat lagi goresan nama mereka yang pernah dibuat Dinda.

“Ibu guru Inayah?” sebuah suara mengagetkan Inayah. Inayah menoleh ke arah asal suara. Seorang polisi wanita yang sagat cantik berdiri dihadapannya. Inayah kaget bercampur gugup, kenapa ada polisi yang mencariku? cemas Inayah.

“Kamu lupa denganku Nay?” suara dan panggilan yang rasanya pernah dikenal Inayah. Tapi dimana? Inayah berpikir keras.

“Aku Dinda, Nay. Sahabat kamu. Tadi aku ke rumahmu, Mueza mengantarku ke sini.” Dinda berkata sambil menujuk Mueza, adik Inayah. Inayah menatap kearah yang ditunjuk Dinda. Mueza tersenyum. Inayah senang sekali barusan dia kangen dengan Dinda, ternyata Allah mengirirm Dinda ke sini.

Dua sahabat itu berpelukan erat. Berpuluh tahun tidak berjumpa tetapi rasa persahabatan diantara mereka tidak pernah hilang. Terima kasih Tuhan, batin Inayah.

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post