Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Suami Baru Mamaku (Last Part) Tagur hari ke 80

#tantanganGuruSiana

Om Anton berdiri di depanku. Baju kaus lengan pendek dan celana selutut membuat dia nampak lebih muda. Di tangannya ada nampan gelas berisi susu coklat hangat. Laki-laki itu tersenyum ramah padaku.

“Rindu.... Ini Om buatkan susu coklat hangat buatmu. Biar tambah semangat belajarnya.” Om Anton berkata sambil meletakan gelas berisi susu hangat itu di meja yang ada di depanku.

Aku cuma diam. Mataku tidak lepas dari televisi. Aku tidak nyaman dengan kedatangannya. Siapa yang minta dibuatkan susu, batinku.

“Rindu.... Sudah lama Om mau bicara berdua saja denganmu. Tapi kamu selalu menghindar dari Om.” Om Anton berkata pelan.

Aku masih diam. Om Anton mengambil remote yang terletak di meja. Televisi yang sedang menyala dimatikan oleh laki-laki itu. Tindakannya membuatku kesal.

“Apa an sich Om, mengganggu kesenangan orang saja.” Aku memprotes kelakuannya.

“Bisa nggak kamu menghargai orang yang lagi bicara.” Om Anton berkata dengan suara yang lembut.

“Aku tidak suka dengan Om. Aku malas berbicara dengan Om.” Aku berkata sinis.

“Kamu tidak boleh seperti itu Rindu. Sekarang aku ini suami mamamu. Jadi kamu harus menghargai aku.” Suara Om Anton terdengar agak keras.

Aku bergidik. Jujur aku agak gentar juga mendengar suaranya. Tapi aku tidak mau memperlihatkan ketakutanku di depannya. Aku menatap wajahnya garang.

“Apa sich yang membuat kamu memusuhi, Om?” Laki-laki itu menatapku.

“Aku rasa Om sudah tahu jawabannya. Om bisa membohongi mamaku, tapi aku tidak. Aku tahu semua kelakuan Om. Aku tahu semua kebusukan Om.” Aku menjawab sinis.

“Tidak adil kalau kamu hanya mendengar penjelasan Karina sepihak, Rindu. Kamu juga harus mendengar penjelasan Om.” Laki-laki itu berkata dengan intonasi suara yang lembut seperti semula.

Kami berdua diam. Tidak ada suara yang terdengar diantara kami. Om Anton menatapku. Aku menghindar dari tatapannya. Rasa benci dan jijik di hatiku masih membara untuknya.

“Karina itu putri salah seorang anak buah Om. Bapaknya melarikan uang Om. Bapaknya hobbi main perempuan. Dia terlilit utang. Karina dijual oleh bapaknya ke sebuah rumah pelacuran. Om menyelamatkan gadis itu. Om menebus Karina dari tempat pelacuran tersebut.” Om Anton bercerita.

“Karina merasa berhutang budi kepada Om. Karina tahu kalau istri Om sakit dan tidak bisa memberikan nafkah batin kepada Om. Karina menawarkan diri jadi istri Om. Om menikahi Karina diusianya ke tujuh belas belas tahun, waktu dia kelas dua SMA. Kami menikah siri, tidak banyak yang mengetahuinya. Pernikahan kami dirahasiakan. Karena Om tidak mau menyakiti hati istri dan anak-anak Om, disamping itu Om juga masih ingin Karina tetap menamatkan SMAnya.” Om Anton berhenti bercerita.

“Om memperlakukan Karina dengan baik. Om sadar masa depannya masih panjang. Dia tidak cocok jadi istri Om. Makanya setelah istri Om meninggal, Om menalak dia. Tapi Om sudah membekali Karina supaya hidupnya terjamin. Apa Om salah, Rindu?” Om Anton menatapku.

“Mamamu dan Om sudah lama kenal. Kami dulu adalah sepasang kekasih. Kemiskinan Om membuat Om ditolak oleh orang tua mamamu. Papamu adalah laki-laki pilihan nenek dan kakekmu. Mamamu menikah dengan papamu tanpa rasa cinta. Mamamu menikahi papamu hanya karena bakti mamamu kepada orang tuanya.” Om Anton berhenti sesaat. Ada sedih tergambar di wajahnya.

“Berjumpa kembali dengan Om membuat cinta kami bersemi kembali. Om dan mamamu masih saling mencintai. Kematian pasangan kami mungkin itu jalan dari Allah agar kami bersatu kembali. Apa kamu tidak melihat raut kebahagian di wajah mamamu setelah menikah dengan Om ?” Om Anton bertanya kepadaku.

“Rindu.... kalau kau tidak terima Om sebagai suami mamamu, Om tidak akan memaksa. Tapi janganlah lihatkan wajah permusuhanmu kepada Om di depan mamamu. Kelakuanmu membuat mamamu sedih. Apa kamu tidak kasihan kepada mamamu. Om tahu, mamamu sangat menyayangimu. Makanya dia tidak mau pindah dari rumah ini, padahal Om sudah belikan rumah untuk dia.” Lanjut Om Anton.

“Tidurlah.... sudah malam. Besok kamu kan ujian. O, ya satu lagi Rindu. Om tidak pernah menyukai gadis-gadis seusiamu dan Karina. Gadis-gadis itu yang mengejar-ngejar Om. Gadis-gadis yang mau menyerahkan dirinya kepada pria sebaya Om demi uang. Om tidak munafik, kelakuan mereka yang selalu menggoda kadang-kadang membuat Om lupa diri. Om hanya laki-laki biasa, Rindu. Om tahu itu salah.” Om A nton berkata dengan wajah menyesal.

“Karina sebenarnya tidak mau Om talak. Tapi itu harus Om lakukan karena Om tidak pernah mencintainya. Om merasa berdosa kalau tetap menjadikan dia istri Om. Masa depannya masih panjang. Om rasa cerita Om dapat menghilangkan kebencianmu pada Om.” Laki-laki itu kembali berkata sebelum dia berlalu hadapanku.

*****

Di kamarku aku termenung sendirian. Cerita Om Anton tadi masih terngiang-ngiang di telingaku. Cerita dari Karina juga masih tersimpan di memoriku. Aku tidak tahu siapa yang benar diantara mereka apakah Karina sahabatku atau Om Anton suami baru mamaku.

Tiba-tiba aku ingat perubahan sifat mamaku semenjak menikah dengan Om Anton. Jujur aku mengakui, mamaku kelihatan sangat bahagia sekarang. Wajahnya jauh lebih muda dibandingkan dulu masih menjadi istri almarhum papaku.

Aku tidak pernah melihat mama sebahagia sekarang waktu papaku masih hidup. Tapi sekarang mama berbeda. Apakah Om Anton benar, bahwa mamaku menikah dengan papaku karena terpaksa? Apakah benar pernikahan mereka tanpa ada rasa cinta? Aku tertidur dengan membawa banyak tanya di pikiranku.

*****

Mobil Om Anton yang parkir di garasi sore itu menandakan laki-laki itu sudah di rumah sore ini. Tumben laki-laki itu pulang cepat, batinku.

Pelan-pelan aku masuk ke dalam rumah. Suara mama yang riang terdengar dari taman belakang. Aku mengintip dari jendela dapur. Mama dan Om Anton nampak bercerita di taman belakang. Mama nampak semangat menceritakan hasil survey anak perusahaan barunya. Om Anton mendengarkan dengan penuh perhatian.

Tiba-tiba tangan Om Anton menarik mama ke pelukannya. Dua pasangan yang tidak muda itu lagi berpelukan. Aku melihat mama sangat senang. Mama terlihat sangat bahagia.

Ada yang menghangat dihatiku melihat pemandangan itu. Aneh, aku tidak marah lagi melihat kelakuan mereka. Walaupun belum sepenuhnya aku menerima Om Anton sebagai papaku, setidaknya melihat mamaku bahagia aku cukup senang.

Dua puluh tahun hidup dengan papaku tanpa ada rasa cinta adalah waktu yang lama. Mama mengabdikan waktunya untukku dan papa. Mama juga berhak hidup bahagia.

Aku akan berdamai dengan hatiku minimal buat kebahagian mamaku. Aku belajar menerimanmu sebagai suami baru mamaku Om Anton, batinku. Dengan langkah perlahan takut mengganggu dua sejoli yang sedang bermesraan itu aku beranjak menuju kamarku.

Tamat

Dumai, 17-06-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post