Suami Baru Mamaku (part 2 ) tagur ke 79
#Tantangangurusiana
Wajah Karina yang dingin menyambutku pagi itu di kampus. Karina seakan menghindar dariku. Biasanya kami duduk berdekatan dalam ruangan tapi kali ini tidak. Karina duduk menjauh dariku. Sikap Karina menjadi tanda tanya bagiku.
Jam istirahat aku membuntuti sahabatku yang cantik itu ke kantin. Tapi tatapan matanya yang tidak bersahabat membuatku jadi ragu. Ada apa dengan Karina ? batinku.
“Karina.... Ada apa an sich, loe kok kayak menghindar gitu dari gue? Ada apa Karin? “ Rasa penasaranku membuatku mencegat perempuan cantik itu.
“Mobil loe, mana Rindu?” Karina tidak menjawab pertanyaanku.
“Gue naik taksol. Mobil gue di bengkel.” Jawabku.
Karina membukakan pintu mobilnya buatku. Isyarat matanya menyuruhku naik. Aku duduk di samping gadis itu. Mobil melaju membelah jalan raya. Kami berdua diam dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang bersuara. Karina mau membawaku kemana? Aku enggan bertanya.pada Karina. Aku akan ikut saja kemana sahabatku itu membawaku.
Mobil berhenti di sebuah rumah sakit jiwa. Karina turun aku mengikuti dia dari belakang. Beberapa orang suster rumah sakit nampak menganggukan kepala kepada Karina. Sepertinya Karina sudah sering datang kemari, pikirku.
Di sebuah lorong Karina berhenti. Seorang perempuan cantik sebaya mamaku nampak duduk melamun di sana. Wajahnya mirip sekali dengan Karina. Dia kaget melihat kedatangann kami. Tapi kemudian dia berteriak mengusir kami. Yang aku tidak mengerti perempuan itu menuduh kami merebut suaminya.
Teriakan histeris perempuan itu memancing beberapa suster untuk datang menenangkannya. Suster membawa perempuan itu ke ruangan yang berada di samping lorong. Karina duduk di kursi panjang yang ada di lorong. Aku ikut duduk di sampingnya. Netraku melihat gadis cantik itu ada bening yang menggulir di sudut matanya.
“Itu mama loe, Karin ?” Aku mencoba mencairkan suasana.
Karina menganggukan kepala. Dia menatapku. Belum ada suara yang terdengar. Aku bersabar menunggu dia bicara.
“Rindu, gue perlu uang banyak untuk merawat bunda gue di sini. Bunda gue sudah lama jadi pasien di sini. Tindakan kekerasan dan pengkhianatan yang dilakukan bapak gue membuat bunda jadi gila. Sekarang laki-laki brengsek itu tidak peduli pada kami. Gue perlu untuk biaya hidup dan kuliah gue. Loe mau menghancurkan hidup gue?” Karina bertanya matanya menatapku tajam
Aku tak mengerti arah pembicaraan Karina. Apa maksud Karina? Batinku.
“Tindakan loe menjumpakan gue dengan Om Anton bisa berakibat fatal dengan hidup gue, Rindu.” Karina yang melihat keherananku mencoba menjelaskan.
“Loe kan tahu, semua yang gue dapatkan sekarang adalah pemberian dari Om Anton. Kalau loe menyuruh gue buka belang Om Anton di depan mama loe, itu akan membuat Om Anton murka ke gue. Tidak susah baginya mengambil kembali semua pemberiannya. Gue harus hidup bagaimana Rindu? Loe mau menanggung semua biaya gue dan bunda gue? “ Karina bicara tajam kepadaku.
“Aku menceritakan siapa Om Anton kepada loe, karena gue kasihan pada loe. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada loe. Biar loe bisa jaga diri. Tapi jangan libatkan gue langsung dalam masalah ini, Rindu. Gue bersyukur bisa lepas dari laki-laki itu. Dua tahun gue hidup sebagai pemuas syahwatnya. Jadi sugar baby itu tidak enak Rindu. Yang diberikannya kepada gue sepadan dengan yang didapatkannya dari gue. Gue tidak mau berurusan dengan laki-laki itu lagi, Rindu. ” Karina bicara dengan suara bergetar.
“Mulai besok kita tak bisa jumpa lagi Rindu. Gue pindah kampus. Om Anton mengancam gue kalau masih berjumpa dengan loe. Aku tahu siapa Om Anton. Dia tidak main-main dengan ancamannya.” Karina berkata lirih.
Perkataan Karina mengagetkankanku. Kenapa Karina harus pindah kampus. Om Anton memang licik, aku tahu alasannya. Om Anton takut semua kebobrokannya akan terkuak lewat Karina.
“Loe harus bisa jaga diri baik-baik. Loe masih sahabat gue. Tapi kita tak bisa bertemu lagi. Loe masih bisa menelpon gue kalau ada yang mau diceritakan. Om Anton punya banyak mata-mata yang mengawasi kita.” Karina berkata pelan, kemudian dia memelukku erat. “Yuk gue antar loe pulang,” lanjutnya.
*****
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi jumpa Karina di kampus. Sahabatku itu sudah pindah ke kampus lain. Dugaanku benar. Karina disuruh Om Anton pindah agar jangan berhubungan lagi denganku. Waktu aku ceritakan kepada mama kalau Karina pindah disuruh Om Anton mamaku tidak percaya. Mama malah menasehatiku panjang lebar agar jangan selalu berpikiran negtif pada laki-laki itu.
Mama malah senang Karina pindah kampus. Karina bisa memberi pengaruh buruk padaku, kata mama. Lagi-lagi Om Anton sudah duluan mencuci otak mamaku.
*****
Pernikahan mama dan Om Anton berlangsung meriah di sebuah hotel berbintang. Banyak tamu-tamu penting yang hadir. Semuanya adalah relasi mamaku dan Om Anton. Anak-anak Om Anton dari istri pertamanya semua hadir. Mereka bisa menerima kehadiran mamaku. Mama sempat menyindirku, mama membandingkan sikapku dengan anak almarhum istri om Anton.
Setelah menikah mama lebih memilih tinggal di rumah kami dibandingkan dengan di rumah Om Anton. Om Anton sudah berusaha membujuk mama untuk tinggal di rumahnya. Mamaku menolak. Mama beralasan karena di sana masih ada dua orang anak gadis Om Anton yang belum menikah. Mama tidak enak hati dengan mereka. Om Anton tidak memaksa mama. Dihati kecilku sebenarnya aku keberatan Om Anton tinggal di rumahku. Rumah yang dibeli oleh almarhum papaku.
Kemesraan mama dan Om Anton sebagai pengantin baru terkadang membuatku risih. Mereka berdua seolah tidak menyadari ada aku diantara mereka. Mereka berdua seakan lupa akan umur. Aku berusaha untuk memakluminya.
Terkadang aku merasa seakan Om Anton pamer kemesraan di depanku. Mamaku yang tampaknya lugu tidak sadar bahwa suaminya sengaja memanasiku anak gadisnya. Percuma kalau aku katakan ke mama sikap ganjil suaminya. Mama tidak akan percaya. Cinta sudah membuat mamaku buta.
Cerita mengenai dirinya dari Karina masih tersimpan di memoriku. Pesan Karina agar aku berhati-hati terhadap Om Anton masih aku ingat. Aku selalu berada dalam kewaspadaan jika dekat dengan laki-laki ini.
*****
Pagi itu kami bertiga sarapan bersama. Kegiatan rutin di rumah ini yang sebenarnya malas aku ikuti. Mamaku sudah bersiap mau ke kantor. Om Anton juga sudah rapi. Kami makan dalam hening. Suasana yang aneh pagi ini. Biasanya mama dan Om Anton suka bercanda dan bersikap mesra di meja makan. Tumben pagi ini suasana lain, batinku. Tapi aku suka suasana seperti ini daripada melihat kemesraan mereka yang tampak lebay bagiku.
“Rindu, mama nanti siang mau ke luar kota. Mau meninjau anak perusahaan yang ada di sana. Lusa mungkin mama baru balik” Suara mama memecahkan keheningan acara makan pagi itu.
Aku menganggukan kepala. Dari kecil aku sudah terbiasa ditinggalkan mama. Kalau almarhum papa pergi ke luar kota mama sering mendampingi. Terlahir sebagai anak tungal tidak membuatku manja. Papa mengajariku mandiri. Perempuan tidak boleh lemah, dia harus bisa mengurus dan melindungi dirinya, nasehat papa yang selalu ku ingat.
Setelah mama dan Om Anton pergi aku juga bersiap untuk kuliah. Hari ini adalah hari pertama ujian semester di kampusku. Ujian perdana yang akan aku alami setelah menyandang status mahasiswa. Aku tidak ingin terlambat.
*****
Suara mobil Om Anton mengagetkanku yang sedang menonton TV di ruang tengah. Buku Pengantar Ekonomi Mikro mata kuliah yang akan diujikan besok masih berada di tanganku. Kenapa laki-laki itu ke sini? Mama kan tidak di rumah, aku membatin dalam hati.
Suara notifikasi masuk di gawaiku. Chat dari mama. Mama mengatakan kalau Om Anton menginap di rumah, karena mama khawatir aku sendiri di rumah. Mama yang meminta Om Anton menjagaku. Mama terlalu berlebihan, batinku. Lagian aku tak sendiri masih ada si Mbok dan Pak Parmin asisten rumah tangga kami.
Laki-laki itu menegurku . Aku menjawab tegurannya tanpa mengalihkan mata dari sebuah acara talk show malam di salah satu stasiun TV. Acara hiburan yang merupakan acara favoritku.
Sebuah langkah kaki terdengar berhenti di sampingku. Aku menatap kearah suara kaki itu. Netraku menatap tak berkedip.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan