Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Adikku Sayang (tagur ke 112)

#Tantangangurusiana

Jam di dinding sudah menunjukan pukul 23.00 WIB. Resty sudah beberapa kali menguap menahan kantuk tapi belum nampak tanda-tanda Winda akan pulang. Resty sudah mulai gelisah. Nomor handphone Winda dari tadi sudah berpuluh kali dihubunginya tapi tidak diangkat. Kakak mana yang tak risau adik perempuan sudah pukul segini belum juga pulang.

“Kak Resty tidurlah dulu. Biar Dodi yang nungguin Kak Winda pulang”. Dodi si adik bungsu duduk di samping Resty.

“Besok kamu harus sekolah. Kamu saja yang tidur sana, biar Kakak yang tungguin Winda.” Resty menolak tawaran adiknya.

“Kakak juga perlu istirahat. Kakak sudah seharian di toko. Besok kakak harus sudah bangun pagi-pagi lagi menyiapkan kue-kue. Nanti Kak Resty sakit, kalau Dodi kan anak laki-laki”. Dodi membujuk kakaknya.

Dodi masih memaksa kakaknya agar dia yang menunggu Winda pulang tapi Resty bersikeras menyuruh Dodi tidur. Akhirnya remaja itu melangkah meninggalkan Resty sendirian di ruang tamu.

Resty duduk sambil membuka-buka gawai di tangannya. Dia berselancar melacak keberadaan Winda di media sosial sahabat-sahabat adiknya itu. tapi usahanya sia-sia. Kemana Winda ? batin Resti.

Kelakuan Winda akhir-akhir ini memang sangat membuat pusing kepala Resty. Anak itu sering pulang malam. Informasi dari Rara teman satu kampus dan satu jurusan Winda menyebutkan beberapa kali anak itu tidak masuk kuliah. Padahal berangkat dari rumah pamitnya kuliah. Resty tak habis pikir ada apa dengan Winda ?

Resty jadi sedih. Sebagai kakak dia gagal menjaga amanah bunda untuk menjaga kedua adiknya. Mengingat Bunda hati Resty kembali pilu. Bunda adalah sosok yang hebat di mata Resty.

Bunda membesarkan mereka bertiga setelah bapak yang menyebabkan mereka lahir pergi entah kemana. Peristiwa yang sudah lama terjadi kembali bermain di memori Resty. Bapak pergi meninggalkan Bunda sewaktu dia sudah kelas 1 dan Resty masih berusia tiga tahun. Dodi masih di kandungan bunda. Bahkan Bapak tidak tahu kalau bunda hamil sewaktu dia meninggalkan bunda.

Bunda tidak mau lagi menikah. Bunda memilih membesarkan mereka bertiga sambil merintis usaha toko kue. Usaha keras bunda membuahkan hasil. Toko kue bunda berkembang pesat. Toko inilah yang dilanjutkan oleh Resty setelah Bunda meninggal mereka untuk selamnya.

Kepergian bunda tidak lama setelah kelulusan SMA, mengubur keinginan Resty untuk kuliah. Dia harus melanjutkan usaha yang sudah dirintis bunda. Semuanya demi memenuhi kebutuhan sehai-hari dan biaya sekolah adik-adiknya. Toko inilah yang menjadi penopang hidup tiga orang adik beradik itu.

Saudara yang lain ? Mereka tidak punya. Bunda dulu dibesarkan di panti asuhan. Resty cuma tahu Ibu Asiyah pengurus panti, Ibu Aisyah sama-sama dibesarkan di panti dengan bunda. Ibu Aisyah sudah dianggap saudara oleh almarhum bunda. Beliaulah tempat Resty mengadu setelah bunda tiada.

Sungguh sangat berat perjuangan Resty untuk membesarkan adik-adiknya. Menjamurnya toko-toko kue membuat toko kue Resty harus bersaing keras. Resty harus memutar otak bagaimana usahanya bisa bersaing.

Di usia yang sudah memasuki dua puluh delapan tahun tidak pernah terpikir olehnya untuk menikah. Yang dia tahu hanya kerja dan kerja. Bagaimana bisa mengumpulkan uang buat biaya sekolah adik-adiknya.

Suara mobil berhenti membuyarkan lamunan Resty, bergegas dia menuju pintu depan. Gorden disibaknya untuk melihat siapa yang datang. Pintu mobil terbuka, Winda keluar dari sebuah mobil mewah. Anak itu melambaikan tangan kepada pemilik mobil. Di tangan sebelah krinya banyak paper bag yang entah berisi apa.

Resty membuka pintu. Winda kaget melihat kakanya sudah menunggu.

“Aku bawa kunci cadangan, Kakak tidak perlu menunggu aku pulang.” Winda berkata dengan suara pelan kepada kakaknya.

“Winda ini sudah tengah malam, sudah hampir pukul 12.00, kamu kenapa baru pulang ? Kamu kemana saja ? Dari tadi kakak berusaha menghubungimu, tapi kamu tak mengangkat handphonemu.” Resty bicara dengan tenang nampak dia berusaha mengontrol emosi di dadanya.

“Winda itu sudah besar Kak Resty. Sudah hampir dua puluh tiga tahun. Kak Resty tidak perlu mengkhawatirkan Winda.” Winda bicara ketus.

“Jelas kakak khawatir, Winda. Selagi kamu belum menikah, kamu tanggung jawab kakak. Karena Bunda meminta Kakak untuk menjaga kalian berdua.” Resty bicara dengan suara pelan.

“Kalau begitu aku akan menikah. Biar kakak jangan khawatir lagi.” Winda menjawab cepat.

“Winda selesaikan kuliah kamu dulu, Dek. Kakak tak pernah melarang kamu menikah tapi setelah kamu wisuda.” Tegas suara Resty.

“Kakak, akukan sudah bilang, aku tidak mau kuliah. Kepalaku sakit kalau harus memikirkan tugas-tugas kuliah. Aku tak sanggup kakak. Kenapa tak kakak saja yang kuliah. Percuma kakak menguliahkan aku.” Winda bicara keras.

Resty terdiam. Hatinya sakit dan sedih sekali. Winda yang diharapkan bisa kuliah agar jangan seperti dirinya yang hanya tamatan SMA, ternyata tidak mau kuliah. Resty teringat pesan bunda bahwa dia harus menyekolahkan adik-adiknya. Pesan yang membuat Resty kerja keras agar tersedia biaya buat adik-adiknya.

“Ini kakak ada surat dari kampus. Tadi Rara yang mengasihkan ke aku. Kakak baca aja sendiri." Winda menyerahkan amplop berwarna coklat sambil berlalu dari hadapan Resty.

Tergesa Resty membuka amplop itu. Badannya bergetar dan tangannya mengigil. Tubuh kurus itu terduduk lemas di kursi. Ya Allah kenapa Engkau uji aku dengan cobaan ini, batin Resty.

bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post